14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semur Jengkol | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
July 13, 2024
in Cerpen
Semur Jengkol | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

MENJELANG Maghrib Pak Karyamin telah rapi. Pria itu mengenakan baju terbaiknya kemeja safari empat saku yang telah disetika rapi dan disemprot dengan air rendaman daun suji yang dibiarkan semalaman. Tidak lupa ia juga mengenakan sarung kesayangannya yang hanya ia pakai pada bulan puasa saja. Setelah berpakaian rapi ia pergi mematut-matutkan dirinya di depan kaca lemari pakaian di dalam kamarnya. Rambut dan kumisnya sama-sama klimis. Ia sedang melihat orang lain di dalam dirinya sendiri.

Tidak lupa ia pamit kepada istrinya, Bu Bariyah, yang selama tiga hari ini cuti tidak berjualan rujak cingur karena demi menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Kepada perempuan asli Madura itu, Pak Karyamin hendak berpamitan untuk menghadiri acara buka puasa bersama di rumah dua orang teman lamanya, Pak Mustajab dan Pak Sabari. Istrinya merelakan suaminya pergi meskipun dengan setengah merepet-repet karena tak diajak serta. Bu Bariyah baru diam setelah Pak Karyamin membujuknya nanti akan membawakannya sebungkus semur jengkol. Lalu, Bu Bariyah melanjutkan aktivitasnya, memasak untuk keluarganya yang sebentar lagi akan berbuka puasa.

Di tengah jalan. Orang-orang kampung yang lagi ‘Ngabuburit’ atau habis mencari kerang di laut menyapa Pak Karyamin yang berjalan macam Pak Carik.

“Hendak pergi kemana, Pak?” tanya salah seorang warga.

“Kondangan buka puasa,” jawab Pak Karyamin.

“Ngurangi jatah di rumah Pak?” celetuk salah seorang warga.

“Ya ndaklah. Kalau perutku diisi, burungku juga harus makan dong.”

Warga tergelak menahan sakit perut.

Di hadapan warga kampung, Pak Karyamin dikenal sebagai orang yang humoris. Bahkan di usianya yang menginjak kepala tujuh, ubannya masih sedikit. Selain itu, ia juga masih kuat menebang pohon kelapa atau mangga. Pria itu jarang mengeluhkan sakit tulang karena nyeri. Kalau berjalan masih tegap dan cepat. Tidak ada pantangan makanan tertentu. Padahal, teman masa kecilnya dulu kini cuma tinggal namanya di batu nisan.

“Mau kondangan, ya Pak?”

“Bukan mau memancing. Kalau pakai baju ini yam au kondangan dong.”

“Romantis nih Pak Karyamin.”

“Kondangan kok romantis?”

“Iyalah, Pak, rokok, makan gratis.”

“Ah, kalian ini ada-ada saja.”

“Kalau boleh disisain, Pak.”

“Boleh, tapi piringnya ya?”

“Sekalian sama kulkasnya.”

***

Kalau boleh dibilang di antara teman-temannya, Pak Karyamin paling tidak beruntung nasibnya. Sejak kecil, Pak Karyamin sudah terbiasa hidup susah. Ayahnya bekerja sebagai penjual tapai singkong keliling. Jadi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari, ayahnya Pak Karyamin menjajakan tapai singkong dari pagi sampai sore dengan berkeliling ke kampung-kampung. Adalah yang paling menyedihkan saat tapai itu kalau hanya laku sampai lima bungkus. Apalagi hidup di zaman itu masih sulit meskipun harga beras hanya lima ratus perak. Dan itu pun bukan beras premium yang saat ini bahkan orang miskin pun mampu membelinya. Dengan pendapatan yang tak seberapa, Pak Karyamin dan keluarganya rela dengan memakan nasi jagung atau beras dari Bulog yang kadang masih banyak kutunya. Biasalah, pada zaman itu beras sering ditimbun oleh pemerintah. Jika dagangan ayahnya Pak Karyamin banyak yang laku, maka mereka sekeluarga bisa makan enak. Makan enak menurut ukuran ekonomi keluarga rakyat jelata seperti keluarga Pak Karyamin bukanlah makan enak macam orang-orang gedongan yang tinggal di kota-kota, melainkan makan yang jarang dimakan, yaitu ikan asin dan kuah kelor.

Pernah suatu ketika Pak Karyamin ikut keliling menjajakan tapai singkong dagangan ayahnya, di kampung sebelah ada sebuah acara pernikahan dua keluarga kaya. Kata ayahnya kalau yang lagi menikah itu adalah anak dari seorang pejabat daerah dari partai bergambar pohon angker yang ada di kuburan. Dia menikahi seorang putri konglomerat yang sudah puluhan tahun mengkorup uang rakyat. Meskipun sudah jelas-jelas mengembat uang rakyat, namun tak seorang polisi pun yang berani menyentuhnya apalagi menjebloskannya ke dalam penjara.

“Kita sangat beruntung dijadikan sebagai orang miskin,” kata ayahnya Pak Karyamin.

“Kenapa bisa begitu, Pak?” protes Pak Karyamin yang kala itu masih duduk di bangku kelas lima Sekolah Rakyat.

“Apakah kamu tahu, darimana asal kekayaan orang kaya itu?”

Pak Karyamin menggeleng. Jelas ia tidak habis pikir, kenapa ayahnya berkata seperti itu. Bukankah dengan menjadi orang miskin mereka selalu dremehkan oleh orang-orang? Tiap ada yang kecolongan mereka pasti akan dicurigai. Dan bukankah dengan menjadi orang yang serba ada, tinggal di rumah gedong, punya mobil, makan enak, dan bergelimang harta, orang-orang akan tunduk hormat?

“Semua harta yang dimilikinya berasal dari mengkorup uang rakyat. Pejabat yang seharusnya menjadi wakil rakyat justru memakan uang rakyat,” jawab ayahnya Pak Karyamin.

“Uang rakyat?”

“Ya, semua uang bantuan yang semestinya disalurkan dan diberikan kepada rakyat miskin dikorupnya untuk memperkaya diri. Dan apakah kamu tahu semur jengkol yang mereka makan? Makan itu juga berasal dari uang rakyat. Haram apabila dimakan karena berasal dari perbuatan tidak benar.”

“Semur jengkol?”

***

Selama di dalam perjalanan, yang muncul di dalam otak Pak Karyamin adalah semur jengkol dan semur rending yang akan menjadi menu utama dalam buka puasa bersama nanti. Sambil mendayung sampannya, Pak Karyamin membayangkan bagaimana rasanya semur jengkol. Jika membayangkannya saja bisa bikin ngiler, apalagi sampai memakannya. Petai jengkol yang kata orang makruh jika dimakan, dimasak sampai empuk, lalu ditumbuk, lalu dimasukkan ke dalam kuali bersama bumbu semur. Aromanya menggoda selera. Setelah itu dimakan dengan nasi panas dan lauk bebek goreng. Pak Karyamin semakin bersemangat ketika membayangkan makanan itu. Ia makin mempercepat laju sampannya agar segera sampai di tempat tujuan yang berada di Hulu. Rumah Pak Mustajab ada di Hulu Sungai. Ia akan menjadi orang pertama yang sampai dalam acara itu.

Tapi, ketika sampai di pertengahan jalan, bayangan semur daging rending segera menyita otak kepala orang itu. Ia pernah melihat makana itu di etalase sebuah rumah makan ampera. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya daging sapi yang direbus sampai empuk, lalu daging itu dilumuri dengan bumbu rempah-rempah pilihan yang diracik oleh tangan perempuan-perempuan asli Bukit Tinggi, lalu dimasak sampai bumbu-bumbu tadi meresap ke dalam daging. Apalagi kalau dimakan dengan nasi panas. Semur jengkol dan semur rending, sebuah kombinasi makanan yang sama-sama lezatnya bukan?

Akhirnya Pak Karyamin dilema. Manakah tempat yang harus ia datangi terlebih dulu? Rumah Pak Mustajab dengan masakan semur jengkolnya, atau rumah Pak Sabari yang terkenal dengan semur rendangnya? Ia tidak bisa memilih salah satunya sebab ia sama-sama menginginkan kedua masakan itu.

“Yang mana ya?” Pak Karyamin menggaruk kepalanya.

“Di Hilir semur rendang, di Hulu semur jengkol.”

“Apa aku harus pergi ke Hulu dulu ya? Siapa tahu aku bisa makan semur jengkol? Lalu, aku akan pergi ke Hilir untuk mencicipi semur rendang.”

“Ah, tidak, tidak, aku harus mencicipi semur rendang dulu, baru semur jengkol.”

Sampai matahari tumbang di kaki barat, Pak Karyamin masih bergeming di tempatnya. Pria itu masih bingung dengan pilihannya. Tak lama kemudian azan Magrib berkumandang, tanda buka puasa. Lalu Pak Karyamin pergi ke Hulu, namun sesampai di sana orang-orang sudah pulang dalam keadaan perut kenyang. Lalu, Pak Karyamin berbalik ke Hilir, ia mendayung sampannya dengan sekuat tenaga. Namun ketika sampai, acara buka puasa bersama telah usai. Orang-orang pulang sambil mencangking berkat kenduri.

Pak Karyamin pulang dengan tangan kosong. Ia tidak sempat mencicipi semur jengkol apalagi semur rendang. Ia sangat kecewa dan marah. Ia pun pulang ke rumahnya dan makan bersama keluarganya. Karena diduga telah berbuka puasa dengan semur jengkol, istrinya hanya menyisakan tempe dan tahu penyet sisa anaknya. Sungguh malang nian nasib Pak Karyamin. [T[

Probolinggo, Maret 2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Farras Pradana | Bukan Hukuman

Next Post

Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co