13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semur Jengkol | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
July 13, 2024
in Cerpen
Semur Jengkol | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

MENJELANG Maghrib Pak Karyamin telah rapi. Pria itu mengenakan baju terbaiknya kemeja safari empat saku yang telah disetika rapi dan disemprot dengan air rendaman daun suji yang dibiarkan semalaman. Tidak lupa ia juga mengenakan sarung kesayangannya yang hanya ia pakai pada bulan puasa saja. Setelah berpakaian rapi ia pergi mematut-matutkan dirinya di depan kaca lemari pakaian di dalam kamarnya. Rambut dan kumisnya sama-sama klimis. Ia sedang melihat orang lain di dalam dirinya sendiri.

Tidak lupa ia pamit kepada istrinya, Bu Bariyah, yang selama tiga hari ini cuti tidak berjualan rujak cingur karena demi menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Kepada perempuan asli Madura itu, Pak Karyamin hendak berpamitan untuk menghadiri acara buka puasa bersama di rumah dua orang teman lamanya, Pak Mustajab dan Pak Sabari. Istrinya merelakan suaminya pergi meskipun dengan setengah merepet-repet karena tak diajak serta. Bu Bariyah baru diam setelah Pak Karyamin membujuknya nanti akan membawakannya sebungkus semur jengkol. Lalu, Bu Bariyah melanjutkan aktivitasnya, memasak untuk keluarganya yang sebentar lagi akan berbuka puasa.

Di tengah jalan. Orang-orang kampung yang lagi ‘Ngabuburit’ atau habis mencari kerang di laut menyapa Pak Karyamin yang berjalan macam Pak Carik.

“Hendak pergi kemana, Pak?” tanya salah seorang warga.

“Kondangan buka puasa,” jawab Pak Karyamin.

“Ngurangi jatah di rumah Pak?” celetuk salah seorang warga.

“Ya ndaklah. Kalau perutku diisi, burungku juga harus makan dong.”

Warga tergelak menahan sakit perut.

Di hadapan warga kampung, Pak Karyamin dikenal sebagai orang yang humoris. Bahkan di usianya yang menginjak kepala tujuh, ubannya masih sedikit. Selain itu, ia juga masih kuat menebang pohon kelapa atau mangga. Pria itu jarang mengeluhkan sakit tulang karena nyeri. Kalau berjalan masih tegap dan cepat. Tidak ada pantangan makanan tertentu. Padahal, teman masa kecilnya dulu kini cuma tinggal namanya di batu nisan.

“Mau kondangan, ya Pak?”

“Bukan mau memancing. Kalau pakai baju ini yam au kondangan dong.”

“Romantis nih Pak Karyamin.”

“Kondangan kok romantis?”

“Iyalah, Pak, rokok, makan gratis.”

“Ah, kalian ini ada-ada saja.”

“Kalau boleh disisain, Pak.”

“Boleh, tapi piringnya ya?”

“Sekalian sama kulkasnya.”

***

Kalau boleh dibilang di antara teman-temannya, Pak Karyamin paling tidak beruntung nasibnya. Sejak kecil, Pak Karyamin sudah terbiasa hidup susah. Ayahnya bekerja sebagai penjual tapai singkong keliling. Jadi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari, ayahnya Pak Karyamin menjajakan tapai singkong dari pagi sampai sore dengan berkeliling ke kampung-kampung. Adalah yang paling menyedihkan saat tapai itu kalau hanya laku sampai lima bungkus. Apalagi hidup di zaman itu masih sulit meskipun harga beras hanya lima ratus perak. Dan itu pun bukan beras premium yang saat ini bahkan orang miskin pun mampu membelinya. Dengan pendapatan yang tak seberapa, Pak Karyamin dan keluarganya rela dengan memakan nasi jagung atau beras dari Bulog yang kadang masih banyak kutunya. Biasalah, pada zaman itu beras sering ditimbun oleh pemerintah. Jika dagangan ayahnya Pak Karyamin banyak yang laku, maka mereka sekeluarga bisa makan enak. Makan enak menurut ukuran ekonomi keluarga rakyat jelata seperti keluarga Pak Karyamin bukanlah makan enak macam orang-orang gedongan yang tinggal di kota-kota, melainkan makan yang jarang dimakan, yaitu ikan asin dan kuah kelor.

Pernah suatu ketika Pak Karyamin ikut keliling menjajakan tapai singkong dagangan ayahnya, di kampung sebelah ada sebuah acara pernikahan dua keluarga kaya. Kata ayahnya kalau yang lagi menikah itu adalah anak dari seorang pejabat daerah dari partai bergambar pohon angker yang ada di kuburan. Dia menikahi seorang putri konglomerat yang sudah puluhan tahun mengkorup uang rakyat. Meskipun sudah jelas-jelas mengembat uang rakyat, namun tak seorang polisi pun yang berani menyentuhnya apalagi menjebloskannya ke dalam penjara.

“Kita sangat beruntung dijadikan sebagai orang miskin,” kata ayahnya Pak Karyamin.

“Kenapa bisa begitu, Pak?” protes Pak Karyamin yang kala itu masih duduk di bangku kelas lima Sekolah Rakyat.

“Apakah kamu tahu, darimana asal kekayaan orang kaya itu?”

Pak Karyamin menggeleng. Jelas ia tidak habis pikir, kenapa ayahnya berkata seperti itu. Bukankah dengan menjadi orang miskin mereka selalu dremehkan oleh orang-orang? Tiap ada yang kecolongan mereka pasti akan dicurigai. Dan bukankah dengan menjadi orang yang serba ada, tinggal di rumah gedong, punya mobil, makan enak, dan bergelimang harta, orang-orang akan tunduk hormat?

“Semua harta yang dimilikinya berasal dari mengkorup uang rakyat. Pejabat yang seharusnya menjadi wakil rakyat justru memakan uang rakyat,” jawab ayahnya Pak Karyamin.

“Uang rakyat?”

“Ya, semua uang bantuan yang semestinya disalurkan dan diberikan kepada rakyat miskin dikorupnya untuk memperkaya diri. Dan apakah kamu tahu semur jengkol yang mereka makan? Makan itu juga berasal dari uang rakyat. Haram apabila dimakan karena berasal dari perbuatan tidak benar.”

“Semur jengkol?”

***

Selama di dalam perjalanan, yang muncul di dalam otak Pak Karyamin adalah semur jengkol dan semur rending yang akan menjadi menu utama dalam buka puasa bersama nanti. Sambil mendayung sampannya, Pak Karyamin membayangkan bagaimana rasanya semur jengkol. Jika membayangkannya saja bisa bikin ngiler, apalagi sampai memakannya. Petai jengkol yang kata orang makruh jika dimakan, dimasak sampai empuk, lalu ditumbuk, lalu dimasukkan ke dalam kuali bersama bumbu semur. Aromanya menggoda selera. Setelah itu dimakan dengan nasi panas dan lauk bebek goreng. Pak Karyamin semakin bersemangat ketika membayangkan makanan itu. Ia makin mempercepat laju sampannya agar segera sampai di tempat tujuan yang berada di Hulu. Rumah Pak Mustajab ada di Hulu Sungai. Ia akan menjadi orang pertama yang sampai dalam acara itu.

Tapi, ketika sampai di pertengahan jalan, bayangan semur daging rending segera menyita otak kepala orang itu. Ia pernah melihat makana itu di etalase sebuah rumah makan ampera. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya daging sapi yang direbus sampai empuk, lalu daging itu dilumuri dengan bumbu rempah-rempah pilihan yang diracik oleh tangan perempuan-perempuan asli Bukit Tinggi, lalu dimasak sampai bumbu-bumbu tadi meresap ke dalam daging. Apalagi kalau dimakan dengan nasi panas. Semur jengkol dan semur rending, sebuah kombinasi makanan yang sama-sama lezatnya bukan?

Akhirnya Pak Karyamin dilema. Manakah tempat yang harus ia datangi terlebih dulu? Rumah Pak Mustajab dengan masakan semur jengkolnya, atau rumah Pak Sabari yang terkenal dengan semur rendangnya? Ia tidak bisa memilih salah satunya sebab ia sama-sama menginginkan kedua masakan itu.

“Yang mana ya?” Pak Karyamin menggaruk kepalanya.

“Di Hilir semur rendang, di Hulu semur jengkol.”

“Apa aku harus pergi ke Hulu dulu ya? Siapa tahu aku bisa makan semur jengkol? Lalu, aku akan pergi ke Hilir untuk mencicipi semur rendang.”

“Ah, tidak, tidak, aku harus mencicipi semur rendang dulu, baru semur jengkol.”

Sampai matahari tumbang di kaki barat, Pak Karyamin masih bergeming di tempatnya. Pria itu masih bingung dengan pilihannya. Tak lama kemudian azan Magrib berkumandang, tanda buka puasa. Lalu Pak Karyamin pergi ke Hulu, namun sesampai di sana orang-orang sudah pulang dalam keadaan perut kenyang. Lalu, Pak Karyamin berbalik ke Hilir, ia mendayung sampannya dengan sekuat tenaga. Namun ketika sampai, acara buka puasa bersama telah usai. Orang-orang pulang sambil mencangking berkat kenduri.

Pak Karyamin pulang dengan tangan kosong. Ia tidak sempat mencicipi semur jengkol apalagi semur rendang. Ia sangat kecewa dan marah. Ia pun pulang ke rumahnya dan makan bersama keluarganya. Karena diduga telah berbuka puasa dengan semur jengkol, istrinya hanya menyisakan tempe dan tahu penyet sisa anaknya. Sungguh malang nian nasib Pak Karyamin. [T[

Probolinggo, Maret 2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Farras Pradana | Bukan Hukuman

Next Post

Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Night Market Chiang Mai: Surganya Makanan, Minuman, dan Souvenir di Thailand

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co