23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Habis Gelap Belum Juga Terang

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 21, 2024
in Opini
Habis Gelap Belum Juga Terang

RA Kartini

TULISAN saya berjudul “Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran” di Tatkala (31/8/2023) mengaitkan ketokohan Chairil Anwar dengan R.A. Kartini. Keduanya memang memiliki kesamaan, sama-sama mati muda. Chairil lahir 26 Juli 1922 dan wafat  pada 28 April 1949 dalam usia 27 tahun, sedangkan R.A. Kartini lahir 21 April 1879 wafat  17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Selain itu, keduanya juga  sama-sama mendobrak.

Chairil Anwar mendobrak dunia perpuisian Indonesia melepaskan diri dari belenggu Pujangga Baru. Ia ingin bebas merdeka dari segala termasuk memerdekakan bangsanya dengan pena runcing yang diasah terus-menerus menyerap elan nafas tokoh  pejuang kemerdekaan. Demikian juga R.A. Kartini mendobrak belenggu feodalisme Jawa berkat pendidikan yang membuka mata telinganya terhadap kemajuan dunia luar. Ia menolak dipingit  sebagai wanita dan ingin bebas merdeka sebagaimana kaum laki-laki melakoni. Perjuangan mewujudkan kesetaraan gender melekatkan R.A. Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita Indonesia.

Kesamaan berikutnya adalah keduanya menolak adanya bangsawan oesoel yang lahir dari warisan orang tuanya. Mereka sama-sama memperjuangkan bangsawan pikiran. Bahkan, R.A. Kartini memperkenalkan dua macam kebangsawanan, bangsawan jiwa dan bangsawan budi. “Bagi saya hanya dua macam kebangsawanan : bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Pada pikiran saya tidak ada yang lebih gila, lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut “keturunan bangsawan” itu ( R.A. Kartini, 2018:11).

Kesamaan lain dari Chairil Anwar dan R.A. Kartini adalah sama-sama kutu buku. Buku telah membukakan jendela dunia bagi keduanya. Berkat keliteratannya, keduanya menemukan titik kulminasi perjuangan memberaksarakan rakyatnya. Merekalah duta literasi pada zamannya tanpa selempang bertuliskan “Duta Literasi”. Tanpa selempang itu, mereka menjadi literat sejati yang memproduksi puisi dan narasi sebagai candi pustaka warisan untuk generasi kini. 

Dari titik inilah mereka memasuki ruang batin bangsanya, mendengar dan merasakan nafas bangsa yang ditulis dengan tinta emas. Korespondensi R.A. Kartini dengan sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda pertanda R.A. Kartini adalah pembelajar sejati yang membuka diri dengan kemajuan Barat. “Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai kaum perempuan dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki”, tulis Kartini dalam bukunya, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pernyataan  itu menandakan Kartini adalah perempuan otonom menentukan nasib kaumnya. Ia adalah perempuan yang mandiri dan ingin merdeka dari pingitan, sekalipun dia berada dalam sangkar emas. Semangat itu adalah bentuk sindiran buat bangsanya yang memingit dan kaum penjajah  yang membelenggu. Hanya perempuan cerdas seperti R.A. Kartini bisa membuat pukulan bernas, sekali pukul membukam dua  sasaran.

Jika menelisik sejarah, R.A. Kartini  selain sebagai tokoh emansipasi wanita, ia juga sebagai tokoh pendidikan Indonesia jauh sebelum Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa, 3 Juli 1922. Tercatat R.A. Kartini mendirikan Sekolah  untuk anak perempuan yang diberi nama Sekolah Kartini pada 1903.  Mengapa sekolah perempuan ? Ia ingin memerdekakan kaumnya untuk bisa mandiri sebagaimana layaknya laki-laki tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita yang kelak akan menjadi ibu.

Istimewanya, Sekolah Kartini menjadi inklusif  karena  menerima siswa dari kaum ningrat, kelas menengah biasa, dan  membantu kaum miskin. Baginya, wanita tidak hanya menjadi pajangan kaum laki-laki yang mengurus dapur, sumur, dan kasur. Demokratisasi pendidikan nyatanya sudah diperjuangkan Kartini setara dengan perjuangan paedagog Brasil Paulo Freire. Kini ketika Program Sekolah Penggerak (PSP) digulirkan Mendikbud Ristek Nadiem Makarim, nyaris tanpa pernah menyebut kepeloporan Kartini tampaknya kurang adil. R.A. Kartini adalah pelopor sekolah penggerak perempuan yang tercatat dalam sejarah perjuangan emansipasi wanita.

Setelah lebih dari 120 tahun perjuangan emansipasi Kartini, kaum wanita Indonesia tampak makin maju pendidikannya. Jabatan untuk kaum wanita pun makin moncer. Namun harus diakui, perjuangan kaum perempuan Indonesia masih sering dijegal kaum laki-laki. Dalam sejarah Reformasi Indonesia (1998) misalnya, kemenangan Megawati Soekarno Putri sudah di depan mata. Namun, berkat kelihaian Amien Rais (laki-laki) membentuk poros tengah  melahirkan Abdul Rachman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden dan Megawati sebagai wakilnya. Alasannya pun dicari-cari untuk membendung Megawati sebagai presiden dan terkesan bias gender. Walaupun pada akhirnya Megawati mencapai jabatan puncak sebagai Presiden RI menggantikan Gus Dur, tahtanya tidak utuh diperoleh gegara diakali laki-laki.

Kuota 30 % perempuan untuk merebut kursi DPR sejak Pemilu Langsung (2004)  juga tidak pernah tercapai. Di Kabinet Indonesia Maju (2019-2024) keterwakilan perempuan juga belum mencapai kuota 30%. Padahal sejak memasuki gerbang 2000 berdasarkan pengalaman, para juara siswa di sekolah  didominasi oleh kaum perempuan. Demikian pula, saat wisuda Indeks Prestasi tertinggi dan lulus tercepat dominan diraih  kaum perempuan. Bahkan  seorang futurolog Amerika, Alvin Toffler meramalkan abad ke-21 adalah abad kepemimpinan perempuan. Namun, sejauh ini tanda-tanda belum terbukti dalam sejarah kontemporer Indonesia. 

Siaran pers Komnas Perempuan tentang kekerasan terhadap perempuan tahun 2023 sebanyak 289.111 kasus mengalami penurunan 55.920 kasus dibandingkan tahun 2022. Data itu yang dilaporkan, yang tidak dilaporkan bisa jadi lebih daripada itu.  Pelaku kekerasan terhadap perempuan umumnya adalah mereka yang  memiliki kuasa (politik, struktural,pendidikan, agama). Relasi kuasa ini menempatkan perempuan pada posisi yang lemah. Tidak berlebihan bila perempuan disebut benoa gelap, dark continent oleh Sigmun Freud. Walaupun emansipasi wanita telah diperjuangkan  oleh R.A. Kartini lebih dari seabad melalui karyanya terkenal, Door Duisternis Tot Licht ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, sampai kini  masih samar-samar. Habis Gelap Belumlah Terang! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 
Deyana, Devita dan Novita: Kartini-kartini Muda Kebanggaan Buleleng Dalam Pelestarian Gong Kebyar Bali Utara
Perempuan Dalam Politik Indonesia
Tags: Chairil AnwarHari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Koster, Giri Prasta, dan Tebar Pesona Elit PDIP Bali Demi Rebut Rekomendasi

Next Post

Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co