2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Son Lomri by Son Lomri
April 21, 2024
in Opini
Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Ilustrasi tatkala.co

DISADARI atau tidak, fenomena kalimat syukur yang terucap setelah melewati kejadian-kejadian mengerikan, itu biasanya sangat mudah keluar dari mulut seseorang. Semisal, “Syukur hanya tersenggol truk, bukan tertabrak!”. “Syukur anakmu hanya jatuh ke empang, bukan ke laut!” Atau, “Syukur kamu hanya tidak dapat THR, bukan dipecat!”

Padahal hidupnya nyaris celaka. Tapi kalimat-kalimat seperti itu, seakan ternormalisasikan begitu saja dalam kehidupan sehari-hari, dan dianggap sopan tanpa mesti dipertanyakan siapa yang salah? Atau mengapa bisa begitu?

Bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan itu barangkali itu kurang enak didengar. Tapi, jika itu tak ditanyakan, setidaknya itu jadi renungan.

Tentang kalimat syukur, bagi temanku, justru dirasakan sebagai derita panjang.  Peristiwa yang berisi kata syukur itu, setahun lalu, meninggalkan begitu dalam trauma dan kebencian kepada dirinya hingga sekarang. Sehingga ia kadang mengganti kalimat syukur menjadi kalimat umpatan di tahun itu—pula sampai sekarang.

Cerita berawal setelah M, temanku, selesai bekerja di salah satu warung serba seafood yang bernuansa kaki lima—tapi harga dan rasa hampir sama dengan restoran ala-ala Cina. Mahal tapi enak. Sehingga setiap hari warung itu tak pernah sepi. Dari sore hingga malam selalu ramai. Tidak terbayang berapa untungnya usaha restoran berkedok lesehan, dan tentu sebuah teknik yang bagus barangkali untuk terhindar dari pajak? Tapi gaji pelit!

Dari jam tiga siang M bekerja, hingga jam dua pagi dini hari barulah warung ditutup. Ia lakukan aktivitas itu seminggu penuh. Memang hari yang sangat berat. Tapi M lakukan dengan suka cita, sebab, pikirnya, sebentar lagi hari raya, sebentar lagi dirinya akan punya cukup uang untuk merayakan Idul Fitri bersama teman-temannya waktu itu.

Setelah seminggu bekerja dan lusa sudah masuk hari raya, diupahlah M temanku sekitar dua ratus ribu. Dengan dingin tangannya menerima uang. Satu hari setelahnya, curhatlah ia kepada teman yang membawanya bekerja setengah mati tersebut, “Kleng! Cuman segini aku dapat!” tulisnya melalui pesan WA.

“Haha..” kelakar temannya membalas pesan.

“Syukuri itu. Kan lumayan buat beli amer, kau, wkwk..” lanjutnya.

“Naskleengg!” umpatnya dengan perasaan kecewa.

Tak hanya itu. Rasa dilema juga datang dari cerita temanku yang lain, tapi dua tahun yang lalu, F, di Banten. Ketika itu lima ratus buruh kontrak terkena PHK secara bertahap di salah satu pabrik di sana. PHK dilakukan secara sepihak oleh perusahaan atas dasar aturan outsourcing.

Lebih kecutnya, temanku F masuk dalam catatan orang-orang yang akan dipecat tanpa pesangon tersebut. Sebelum tanggal tujuh belas Agustus tahun 2022, nasibnya ambyar bersama dengan buruh kontrak lainnya di tengah persiapan pesta bangsanya sendiri.

Padahal, ia termasuk orang yang serius dalam bekerja, seperti datang tepat waktu dan senang berbagi kewarasan ke sesama buruh. Bahkan sesekali ikut di barisan para pendemo untuk menyuarakan nasibnya dan nasib teman-temannya agar dinaikannya upah, dan diberikan THR jika hari raya menjelang. Walau selalu nihil hasilnya itu, tapi setidaknya ia telah berdedikasi kepada bangsa ini: memberi perhatian yang lebih pada pekerja kontrak melalui protes, adalah sebuah bentuk nasionalisme. Walaupun tak pernah dimengerti oleh para pejabat.

Hingga ketika nasibnya sudah di ujung tanduk itu pun, ia masih peduli untuk masuk ke dalam barisan para pendemo—meminta keadilan agar kembali bisa bekerja. Tapi nasib buruk tetaplah nasib buruk. Perusahaan tidak mau tahu. Pemerintah juga tidak mau peduli. Hingga kiamat minor bernama PHK itu tetap saja datang kepadanya dan teman-temannya yang lain.

“Kami menepi dari lautan massa kemudian!” Begitu kata F. Wajahnya begitu muram—berpasrah ketika itu. “Kami memutuskan pergi saja untuk pulang, keluar dari barisan massa, dan nongkrong sebentar melepas penat di tempat biasa kami lakukan jika sore!”

Dari ujung arah timur seorang teman penganggur datang. Aku masih ingat betul jika ia datang seperti biasa menenteng es cekik dan rokok eceran di tangan kanan jika kami sedang berkumpul. Karena tahu persoalan, berkicaulah dirinya dalam obrolan.

 “Halo! Kawanku (penganggur baru), selamat datang di dunia menganggur haha..” katanya setengah bercanda kepada F. “Kamu sih suka ikut tuntat-tuntut, tuntat-tuntut, haduuh.. sudah syukur bisa kerja aja. Dahlah, lain kali. Tak usah idealis-idealis jadi buruh!”

Aku tahu ia mengucapkan itu tak hanya sekadar bercanda, tapi juga sedikit serius. Sebab sudah lima tahun dia menganggur, dan menganggur itu tidak enak. Tapi seakan ada persamaan perasaan antara temanku itu dengan pemerintah melalui kebijakan outsourcing. Seolah-olah ingin memberi wejangan hidup yang sama seperti temanku yang menganggur—tentang sikap bersyukur: jika sudah dapat kerjaan itu, sebaiknya disyukuri saja, jangan demo-demo, dinikmati saja. Bila perlu teruslah, “Kerja, kerja, kerja,,,”.

Sepertinya, kebudayaan “mengucap syukur” di tengah hidup sedang jungkir balik—celaka, secara struktural telah terverifikasi centang biru. Etos kerja yang digaungkan pemerintah melalui kebijakan-kebijakan itu dirasa sangat berhasil—berdampak buruknya bagi buruh kita.

Bagaimana  rasa dan sikap kritis pada setiap buruh kontrak untuk mempertanyakan nasib: kapan ia harus berhenti bekerja karena sudah cukup atau terpenuhi hidup jangka panjangnya; aset, tabungan, dan lain-lain. Menjadi hal yang mustahil dapat ditanyakan mereka karena terhalang kebijakan yang  toxic itu. Sebelum bertanya, mungkin, mereka akan dipecat duluan.

Bahkan belum lama ini, kabar duka datang dari 249 Tenaga Kesehatan (Nakes) yang dipecat oleh seorang bupati atas dasar aturan yang sama; outsourcing. Nakes itu awalnya menuntut kenaikan gaji. Mereka yang dipecat itu tentu non Aparatur Sipil Negara (Non ASN). Yang kisaran gajinya hanya 400 ribu sampai 600 ribu per bulan itu. Alih-alih ditanggapi baik—diubahnya gaji dan nasib menjadi layak, justru gerakan tersebut menjadi petaka bagi mereka.

Bapak Bupati terhormat seakan tidak ingin tahu-menahu tentang kemalaratan nasib para nakesnya yang jika terus kerja kerja kerja itu bisa tipes atau stres.

Dapatlah kita bayangkan begitu horornya kebijakan outsourcing bagi mereka para penyandang pekerja kontrak. Sebab, jika rewel sedikit karena gaji tidak sesuai atau jam kerja yang tidak nyaman. Sang Pimpinan bisa gaskan memecat kapan saja. Tak peduli yang dipecat memiliki tanggungan anak kucing, anak ayam, atau anak manusia yang masih kecil sekakipun. Tetap tak peduli barangkali.

Pada persoalan-persoalan seperti ini pemerintah memang terkesan abai. Selaras dengan Penceramah—yang selalu mengajarkan rasa syukur kepada jemaahnya di samping dirinya memiliki rumah besar, dan seabrek mobil mewah dari berbagai merek. Tapi tidak pernah memikirkan alasan dasar, mengapa seseorang harus bersyukur dan menerima kemalaratan hidupnya begitu saja!?

Suasana dengan sistem kerja yang kian kapitalistik akhir-akhir ini tentu sangat berisiko menghilangkan harkat martabat manusia lain. Lebih-lebih kepada para buruh kontrak, yang rentan—terancam hidupnya tidak memiliki harga diri lagi sebagai manusia. Terjebak pada keadaan “kerja” yang tidak menyenangkan, karena menganggap tidak ada lagi dasar penghidupan yang lain. Harus diterima apa adanya.

Tentu, jika dikaitkan dengan sikap bersyukur: menelan syukur bagi mereka seperti menelan pil pahit tanpa air minum. Kebayang? [T]

  • BACA artikel opini lain dari penulis SONHAJI ABDULLAH
Relevansi Kritik Sosial Lagu “Didi Benjol” Karya Doel Sumbang Pada Era  Pasca Reformasi
Memikirkan Delik dan Hukum Jika Ganja Dipakai Campuran Perkedel, Soto, atau Sambal
Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya
Tags: buruh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Habis Gelap Belum Juga Terang

Next Post

Ketut Buderasih, 81 Tahun, Masih Baca Buku, Tuntaskan Tetralogi Pramudya dan Buku Seno

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Ketut Buderasih, 81 Tahun, Masih Baca Buku, Tuntaskan Tetralogi Pramudya dan Buku Seno

Ketut Buderasih, 81 Tahun, Masih Baca Buku, Tuntaskan Tetralogi Pramudya dan Buku Seno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co