2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Habis Gelap Belum Juga Terang

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 21, 2024
in Opini
Habis Gelap Belum Juga Terang

RA Kartini

TULISAN saya berjudul “Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran” di Tatkala (31/8/2023) mengaitkan ketokohan Chairil Anwar dengan R.A. Kartini. Keduanya memang memiliki kesamaan, sama-sama mati muda. Chairil lahir 26 Juli 1922 dan wafat  pada 28 April 1949 dalam usia 27 tahun, sedangkan R.A. Kartini lahir 21 April 1879 wafat  17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Selain itu, keduanya juga  sama-sama mendobrak.

Chairil Anwar mendobrak dunia perpuisian Indonesia melepaskan diri dari belenggu Pujangga Baru. Ia ingin bebas merdeka dari segala termasuk memerdekakan bangsanya dengan pena runcing yang diasah terus-menerus menyerap elan nafas tokoh  pejuang kemerdekaan. Demikian juga R.A. Kartini mendobrak belenggu feodalisme Jawa berkat pendidikan yang membuka mata telinganya terhadap kemajuan dunia luar. Ia menolak dipingit  sebagai wanita dan ingin bebas merdeka sebagaimana kaum laki-laki melakoni. Perjuangan mewujudkan kesetaraan gender melekatkan R.A. Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita Indonesia.

Kesamaan berikutnya adalah keduanya menolak adanya bangsawan oesoel yang lahir dari warisan orang tuanya. Mereka sama-sama memperjuangkan bangsawan pikiran. Bahkan, R.A. Kartini memperkenalkan dua macam kebangsawanan, bangsawan jiwa dan bangsawan budi. “Bagi saya hanya dua macam kebangsawanan : bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Pada pikiran saya tidak ada yang lebih gila, lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut “keturunan bangsawan” itu ( R.A. Kartini, 2018:11).

Kesamaan lain dari Chairil Anwar dan R.A. Kartini adalah sama-sama kutu buku. Buku telah membukakan jendela dunia bagi keduanya. Berkat keliteratannya, keduanya menemukan titik kulminasi perjuangan memberaksarakan rakyatnya. Merekalah duta literasi pada zamannya tanpa selempang bertuliskan “Duta Literasi”. Tanpa selempang itu, mereka menjadi literat sejati yang memproduksi puisi dan narasi sebagai candi pustaka warisan untuk generasi kini. 

Dari titik inilah mereka memasuki ruang batin bangsanya, mendengar dan merasakan nafas bangsa yang ditulis dengan tinta emas. Korespondensi R.A. Kartini dengan sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda pertanda R.A. Kartini adalah pembelajar sejati yang membuka diri dengan kemajuan Barat. “Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai kaum perempuan dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki”, tulis Kartini dalam bukunya, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pernyataan  itu menandakan Kartini adalah perempuan otonom menentukan nasib kaumnya. Ia adalah perempuan yang mandiri dan ingin merdeka dari pingitan, sekalipun dia berada dalam sangkar emas. Semangat itu adalah bentuk sindiran buat bangsanya yang memingit dan kaum penjajah  yang membelenggu. Hanya perempuan cerdas seperti R.A. Kartini bisa membuat pukulan bernas, sekali pukul membukam dua  sasaran.

Jika menelisik sejarah, R.A. Kartini  selain sebagai tokoh emansipasi wanita, ia juga sebagai tokoh pendidikan Indonesia jauh sebelum Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa, 3 Juli 1922. Tercatat R.A. Kartini mendirikan Sekolah  untuk anak perempuan yang diberi nama Sekolah Kartini pada 1903.  Mengapa sekolah perempuan ? Ia ingin memerdekakan kaumnya untuk bisa mandiri sebagaimana layaknya laki-laki tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita yang kelak akan menjadi ibu.

Istimewanya, Sekolah Kartini menjadi inklusif  karena  menerima siswa dari kaum ningrat, kelas menengah biasa, dan  membantu kaum miskin. Baginya, wanita tidak hanya menjadi pajangan kaum laki-laki yang mengurus dapur, sumur, dan kasur. Demokratisasi pendidikan nyatanya sudah diperjuangkan Kartini setara dengan perjuangan paedagog Brasil Paulo Freire. Kini ketika Program Sekolah Penggerak (PSP) digulirkan Mendikbud Ristek Nadiem Makarim, nyaris tanpa pernah menyebut kepeloporan Kartini tampaknya kurang adil. R.A. Kartini adalah pelopor sekolah penggerak perempuan yang tercatat dalam sejarah perjuangan emansipasi wanita.

Setelah lebih dari 120 tahun perjuangan emansipasi Kartini, kaum wanita Indonesia tampak makin maju pendidikannya. Jabatan untuk kaum wanita pun makin moncer. Namun harus diakui, perjuangan kaum perempuan Indonesia masih sering dijegal kaum laki-laki. Dalam sejarah Reformasi Indonesia (1998) misalnya, kemenangan Megawati Soekarno Putri sudah di depan mata. Namun, berkat kelihaian Amien Rais (laki-laki) membentuk poros tengah  melahirkan Abdul Rachman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden dan Megawati sebagai wakilnya. Alasannya pun dicari-cari untuk membendung Megawati sebagai presiden dan terkesan bias gender. Walaupun pada akhirnya Megawati mencapai jabatan puncak sebagai Presiden RI menggantikan Gus Dur, tahtanya tidak utuh diperoleh gegara diakali laki-laki.

Kuota 30 % perempuan untuk merebut kursi DPR sejak Pemilu Langsung (2004)  juga tidak pernah tercapai. Di Kabinet Indonesia Maju (2019-2024) keterwakilan perempuan juga belum mencapai kuota 30%. Padahal sejak memasuki gerbang 2000 berdasarkan pengalaman, para juara siswa di sekolah  didominasi oleh kaum perempuan. Demikian pula, saat wisuda Indeks Prestasi tertinggi dan lulus tercepat dominan diraih  kaum perempuan. Bahkan  seorang futurolog Amerika, Alvin Toffler meramalkan abad ke-21 adalah abad kepemimpinan perempuan. Namun, sejauh ini tanda-tanda belum terbukti dalam sejarah kontemporer Indonesia. 

Siaran pers Komnas Perempuan tentang kekerasan terhadap perempuan tahun 2023 sebanyak 289.111 kasus mengalami penurunan 55.920 kasus dibandingkan tahun 2022. Data itu yang dilaporkan, yang tidak dilaporkan bisa jadi lebih daripada itu.  Pelaku kekerasan terhadap perempuan umumnya adalah mereka yang  memiliki kuasa (politik, struktural,pendidikan, agama). Relasi kuasa ini menempatkan perempuan pada posisi yang lemah. Tidak berlebihan bila perempuan disebut benoa gelap, dark continent oleh Sigmun Freud. Walaupun emansipasi wanita telah diperjuangkan  oleh R.A. Kartini lebih dari seabad melalui karyanya terkenal, Door Duisternis Tot Licht ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, sampai kini  masih samar-samar. Habis Gelap Belumlah Terang! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 
Deyana, Devita dan Novita: Kartini-kartini Muda Kebanggaan Buleleng Dalam Pelestarian Gong Kebyar Bali Utara
Perempuan Dalam Politik Indonesia
Tags: Chairil AnwarHari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Koster, Giri Prasta, dan Tebar Pesona Elit PDIP Bali Demi Rebut Rekomendasi

Next Post

Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co