2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Habis Gelap Belum Juga Terang

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 21, 2024
in Opini
Habis Gelap Belum Juga Terang

RA Kartini

TULISAN saya berjudul “Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran” di Tatkala (31/8/2023) mengaitkan ketokohan Chairil Anwar dengan R.A. Kartini. Keduanya memang memiliki kesamaan, sama-sama mati muda. Chairil lahir 26 Juli 1922 dan wafat  pada 28 April 1949 dalam usia 27 tahun, sedangkan R.A. Kartini lahir 21 April 1879 wafat  17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Selain itu, keduanya juga  sama-sama mendobrak.

Chairil Anwar mendobrak dunia perpuisian Indonesia melepaskan diri dari belenggu Pujangga Baru. Ia ingin bebas merdeka dari segala termasuk memerdekakan bangsanya dengan pena runcing yang diasah terus-menerus menyerap elan nafas tokoh  pejuang kemerdekaan. Demikian juga R.A. Kartini mendobrak belenggu feodalisme Jawa berkat pendidikan yang membuka mata telinganya terhadap kemajuan dunia luar. Ia menolak dipingit  sebagai wanita dan ingin bebas merdeka sebagaimana kaum laki-laki melakoni. Perjuangan mewujudkan kesetaraan gender melekatkan R.A. Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita Indonesia.

Kesamaan berikutnya adalah keduanya menolak adanya bangsawan oesoel yang lahir dari warisan orang tuanya. Mereka sama-sama memperjuangkan bangsawan pikiran. Bahkan, R.A. Kartini memperkenalkan dua macam kebangsawanan, bangsawan jiwa dan bangsawan budi. “Bagi saya hanya dua macam kebangsawanan : bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Pada pikiran saya tidak ada yang lebih gila, lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut “keturunan bangsawan” itu ( R.A. Kartini, 2018:11).

Kesamaan lain dari Chairil Anwar dan R.A. Kartini adalah sama-sama kutu buku. Buku telah membukakan jendela dunia bagi keduanya. Berkat keliteratannya, keduanya menemukan titik kulminasi perjuangan memberaksarakan rakyatnya. Merekalah duta literasi pada zamannya tanpa selempang bertuliskan “Duta Literasi”. Tanpa selempang itu, mereka menjadi literat sejati yang memproduksi puisi dan narasi sebagai candi pustaka warisan untuk generasi kini. 

Dari titik inilah mereka memasuki ruang batin bangsanya, mendengar dan merasakan nafas bangsa yang ditulis dengan tinta emas. Korespondensi R.A. Kartini dengan sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda pertanda R.A. Kartini adalah pembelajar sejati yang membuka diri dengan kemajuan Barat. “Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai kaum perempuan dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki”, tulis Kartini dalam bukunya, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pernyataan  itu menandakan Kartini adalah perempuan otonom menentukan nasib kaumnya. Ia adalah perempuan yang mandiri dan ingin merdeka dari pingitan, sekalipun dia berada dalam sangkar emas. Semangat itu adalah bentuk sindiran buat bangsanya yang memingit dan kaum penjajah  yang membelenggu. Hanya perempuan cerdas seperti R.A. Kartini bisa membuat pukulan bernas, sekali pukul membukam dua  sasaran.

Jika menelisik sejarah, R.A. Kartini  selain sebagai tokoh emansipasi wanita, ia juga sebagai tokoh pendidikan Indonesia jauh sebelum Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa, 3 Juli 1922. Tercatat R.A. Kartini mendirikan Sekolah  untuk anak perempuan yang diberi nama Sekolah Kartini pada 1903.  Mengapa sekolah perempuan ? Ia ingin memerdekakan kaumnya untuk bisa mandiri sebagaimana layaknya laki-laki tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita yang kelak akan menjadi ibu.

Istimewanya, Sekolah Kartini menjadi inklusif  karena  menerima siswa dari kaum ningrat, kelas menengah biasa, dan  membantu kaum miskin. Baginya, wanita tidak hanya menjadi pajangan kaum laki-laki yang mengurus dapur, sumur, dan kasur. Demokratisasi pendidikan nyatanya sudah diperjuangkan Kartini setara dengan perjuangan paedagog Brasil Paulo Freire. Kini ketika Program Sekolah Penggerak (PSP) digulirkan Mendikbud Ristek Nadiem Makarim, nyaris tanpa pernah menyebut kepeloporan Kartini tampaknya kurang adil. R.A. Kartini adalah pelopor sekolah penggerak perempuan yang tercatat dalam sejarah perjuangan emansipasi wanita.

Setelah lebih dari 120 tahun perjuangan emansipasi Kartini, kaum wanita Indonesia tampak makin maju pendidikannya. Jabatan untuk kaum wanita pun makin moncer. Namun harus diakui, perjuangan kaum perempuan Indonesia masih sering dijegal kaum laki-laki. Dalam sejarah Reformasi Indonesia (1998) misalnya, kemenangan Megawati Soekarno Putri sudah di depan mata. Namun, berkat kelihaian Amien Rais (laki-laki) membentuk poros tengah  melahirkan Abdul Rachman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden dan Megawati sebagai wakilnya. Alasannya pun dicari-cari untuk membendung Megawati sebagai presiden dan terkesan bias gender. Walaupun pada akhirnya Megawati mencapai jabatan puncak sebagai Presiden RI menggantikan Gus Dur, tahtanya tidak utuh diperoleh gegara diakali laki-laki.

Kuota 30 % perempuan untuk merebut kursi DPR sejak Pemilu Langsung (2004)  juga tidak pernah tercapai. Di Kabinet Indonesia Maju (2019-2024) keterwakilan perempuan juga belum mencapai kuota 30%. Padahal sejak memasuki gerbang 2000 berdasarkan pengalaman, para juara siswa di sekolah  didominasi oleh kaum perempuan. Demikian pula, saat wisuda Indeks Prestasi tertinggi dan lulus tercepat dominan diraih  kaum perempuan. Bahkan  seorang futurolog Amerika, Alvin Toffler meramalkan abad ke-21 adalah abad kepemimpinan perempuan. Namun, sejauh ini tanda-tanda belum terbukti dalam sejarah kontemporer Indonesia. 

Siaran pers Komnas Perempuan tentang kekerasan terhadap perempuan tahun 2023 sebanyak 289.111 kasus mengalami penurunan 55.920 kasus dibandingkan tahun 2022. Data itu yang dilaporkan, yang tidak dilaporkan bisa jadi lebih daripada itu.  Pelaku kekerasan terhadap perempuan umumnya adalah mereka yang  memiliki kuasa (politik, struktural,pendidikan, agama). Relasi kuasa ini menempatkan perempuan pada posisi yang lemah. Tidak berlebihan bila perempuan disebut benoa gelap, dark continent oleh Sigmun Freud. Walaupun emansipasi wanita telah diperjuangkan  oleh R.A. Kartini lebih dari seabad melalui karyanya terkenal, Door Duisternis Tot Licht ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, sampai kini  masih samar-samar. Habis Gelap Belumlah Terang! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 
Deyana, Devita dan Novita: Kartini-kartini Muda Kebanggaan Buleleng Dalam Pelestarian Gong Kebyar Bali Utara
Perempuan Dalam Politik Indonesia
Tags: Chairil AnwarHari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Koster, Giri Prasta, dan Tebar Pesona Elit PDIP Bali Demi Rebut Rekomendasi

Next Post

Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co