14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Habis Gelap Belum Juga Terang

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 21, 2024
in Opini
Habis Gelap Belum Juga Terang

RA Kartini

TULISAN saya berjudul “Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran” di Tatkala (31/8/2023) mengaitkan ketokohan Chairil Anwar dengan R.A. Kartini. Keduanya memang memiliki kesamaan, sama-sama mati muda. Chairil lahir 26 Juli 1922 dan wafat  pada 28 April 1949 dalam usia 27 tahun, sedangkan R.A. Kartini lahir 21 April 1879 wafat  17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Selain itu, keduanya juga  sama-sama mendobrak.

Chairil Anwar mendobrak dunia perpuisian Indonesia melepaskan diri dari belenggu Pujangga Baru. Ia ingin bebas merdeka dari segala termasuk memerdekakan bangsanya dengan pena runcing yang diasah terus-menerus menyerap elan nafas tokoh  pejuang kemerdekaan. Demikian juga R.A. Kartini mendobrak belenggu feodalisme Jawa berkat pendidikan yang membuka mata telinganya terhadap kemajuan dunia luar. Ia menolak dipingit  sebagai wanita dan ingin bebas merdeka sebagaimana kaum laki-laki melakoni. Perjuangan mewujudkan kesetaraan gender melekatkan R.A. Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita Indonesia.

Kesamaan berikutnya adalah keduanya menolak adanya bangsawan oesoel yang lahir dari warisan orang tuanya. Mereka sama-sama memperjuangkan bangsawan pikiran. Bahkan, R.A. Kartini memperkenalkan dua macam kebangsawanan, bangsawan jiwa dan bangsawan budi. “Bagi saya hanya dua macam kebangsawanan : bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Pada pikiran saya tidak ada yang lebih gila, lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut “keturunan bangsawan” itu ( R.A. Kartini, 2018:11).

Kesamaan lain dari Chairil Anwar dan R.A. Kartini adalah sama-sama kutu buku. Buku telah membukakan jendela dunia bagi keduanya. Berkat keliteratannya, keduanya menemukan titik kulminasi perjuangan memberaksarakan rakyatnya. Merekalah duta literasi pada zamannya tanpa selempang bertuliskan “Duta Literasi”. Tanpa selempang itu, mereka menjadi literat sejati yang memproduksi puisi dan narasi sebagai candi pustaka warisan untuk generasi kini. 

Dari titik inilah mereka memasuki ruang batin bangsanya, mendengar dan merasakan nafas bangsa yang ditulis dengan tinta emas. Korespondensi R.A. Kartini dengan sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda pertanda R.A. Kartini adalah pembelajar sejati yang membuka diri dengan kemajuan Barat. “Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai kaum perempuan dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki”, tulis Kartini dalam bukunya, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pernyataan  itu menandakan Kartini adalah perempuan otonom menentukan nasib kaumnya. Ia adalah perempuan yang mandiri dan ingin merdeka dari pingitan, sekalipun dia berada dalam sangkar emas. Semangat itu adalah bentuk sindiran buat bangsanya yang memingit dan kaum penjajah  yang membelenggu. Hanya perempuan cerdas seperti R.A. Kartini bisa membuat pukulan bernas, sekali pukul membukam dua  sasaran.

Jika menelisik sejarah, R.A. Kartini  selain sebagai tokoh emansipasi wanita, ia juga sebagai tokoh pendidikan Indonesia jauh sebelum Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa, 3 Juli 1922. Tercatat R.A. Kartini mendirikan Sekolah  untuk anak perempuan yang diberi nama Sekolah Kartini pada 1903.  Mengapa sekolah perempuan ? Ia ingin memerdekakan kaumnya untuk bisa mandiri sebagaimana layaknya laki-laki tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita yang kelak akan menjadi ibu.

Istimewanya, Sekolah Kartini menjadi inklusif  karena  menerima siswa dari kaum ningrat, kelas menengah biasa, dan  membantu kaum miskin. Baginya, wanita tidak hanya menjadi pajangan kaum laki-laki yang mengurus dapur, sumur, dan kasur. Demokratisasi pendidikan nyatanya sudah diperjuangkan Kartini setara dengan perjuangan paedagog Brasil Paulo Freire. Kini ketika Program Sekolah Penggerak (PSP) digulirkan Mendikbud Ristek Nadiem Makarim, nyaris tanpa pernah menyebut kepeloporan Kartini tampaknya kurang adil. R.A. Kartini adalah pelopor sekolah penggerak perempuan yang tercatat dalam sejarah perjuangan emansipasi wanita.

Setelah lebih dari 120 tahun perjuangan emansipasi Kartini, kaum wanita Indonesia tampak makin maju pendidikannya. Jabatan untuk kaum wanita pun makin moncer. Namun harus diakui, perjuangan kaum perempuan Indonesia masih sering dijegal kaum laki-laki. Dalam sejarah Reformasi Indonesia (1998) misalnya, kemenangan Megawati Soekarno Putri sudah di depan mata. Namun, berkat kelihaian Amien Rais (laki-laki) membentuk poros tengah  melahirkan Abdul Rachman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden dan Megawati sebagai wakilnya. Alasannya pun dicari-cari untuk membendung Megawati sebagai presiden dan terkesan bias gender. Walaupun pada akhirnya Megawati mencapai jabatan puncak sebagai Presiden RI menggantikan Gus Dur, tahtanya tidak utuh diperoleh gegara diakali laki-laki.

Kuota 30 % perempuan untuk merebut kursi DPR sejak Pemilu Langsung (2004)  juga tidak pernah tercapai. Di Kabinet Indonesia Maju (2019-2024) keterwakilan perempuan juga belum mencapai kuota 30%. Padahal sejak memasuki gerbang 2000 berdasarkan pengalaman, para juara siswa di sekolah  didominasi oleh kaum perempuan. Demikian pula, saat wisuda Indeks Prestasi tertinggi dan lulus tercepat dominan diraih  kaum perempuan. Bahkan  seorang futurolog Amerika, Alvin Toffler meramalkan abad ke-21 adalah abad kepemimpinan perempuan. Namun, sejauh ini tanda-tanda belum terbukti dalam sejarah kontemporer Indonesia. 

Siaran pers Komnas Perempuan tentang kekerasan terhadap perempuan tahun 2023 sebanyak 289.111 kasus mengalami penurunan 55.920 kasus dibandingkan tahun 2022. Data itu yang dilaporkan, yang tidak dilaporkan bisa jadi lebih daripada itu.  Pelaku kekerasan terhadap perempuan umumnya adalah mereka yang  memiliki kuasa (politik, struktural,pendidikan, agama). Relasi kuasa ini menempatkan perempuan pada posisi yang lemah. Tidak berlebihan bila perempuan disebut benoa gelap, dark continent oleh Sigmun Freud. Walaupun emansipasi wanita telah diperjuangkan  oleh R.A. Kartini lebih dari seabad melalui karyanya terkenal, Door Duisternis Tot Licht ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, sampai kini  masih samar-samar. Habis Gelap Belumlah Terang! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 
Deyana, Devita dan Novita: Kartini-kartini Muda Kebanggaan Buleleng Dalam Pelestarian Gong Kebyar Bali Utara
Perempuan Dalam Politik Indonesia
Tags: Chairil AnwarHari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Koster, Giri Prasta, dan Tebar Pesona Elit PDIP Bali Demi Rebut Rekomendasi

Next Post

Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co