6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan by Depri Ajopan
March 23, 2024
in Cerpen
Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan

Ilustrasi tatkala.co

AKU memeluknya seperti boneka kecil, lalu mencium keningnya lembut. Semprotan air  yang terus ke luar dari shower  menerpa tubuh kami sengaja ia matikan pelan-pelan. Kemudian ia berbisik di telingaku, kata-katanya meruntuhkan ketulusanku.

“Jika kau perlakukan aku seperti ini, aku teringat pada Mas Refli, kau dan dia punya kekurangan dan kelebihan masing-masing dalam bercinta!”

Bayangkan sehancur apa hatiku. Aku tidak suka dibanding-bandingkan dengan siapapun, walaupun aku yang dimenangkan. Dengan segera aku melepas pelukan itu. Ketika aku dan istriku bercinta, malah ia mengingat lelaki lain, walaupun itu mantan suaminya yang sudah meninggal, tetap aku merasa cemburu.

Waktu kami pacaran dulu, ia sering membuat status yang menunjukkan ia belum bisa melupakan masa lalu itu. Membuat kegundahan tumbuh di hatiku, karena perasaan rindunya yang masih membuncah-buncah pada almarhum suami, dan aku bisa memaklumi, karena suaminya meninggal baru beberapa bulan waktu itu.

Contoh statusnya yang panjang dan menggunakan foto yang pernah dipostingnya  seperti ini:   

Malam ini akusengaja duduk di halte, sembari menunggu ojek online. Aku melihat begitu banyak orang yang berlalu lalang di depanku, tetapi aku menyadari satu hal, dari sekian banyak orang tersebut, ternyata aku tidak akan bisa melihatmu lagi.

Awalnya aku diam, tapi lama-lama aku tak tahan, kecemburuan dalam jiwaku terus memberontak, dan akhirnya membuatku tersakiti sendiri. Tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya melampiaskan kekesalanku lewat ketikan, dan kukirimkan untuknya pesan itu.

Pesan yang ditulis Resti untuk almarhum suaminya membuatku marah, sampai-sampai berniat meninggalkannya waktu itu. Dan dia membalasku yang kesal dengan kata-kata yang lembut pada pertemuan kami di rumah seseorang.

 “Sayang, tadi aku ulang lagi baca pesan kamu, dan ternyata di sini aku yang tidak menjaga perasaan kamu. Aku tidak bermaksud seperti itu, dan aku minta maaf. Sekarang aku tidak mau membahas hal yang berlalu. Intinya sekarang cukup aku dan kamu, dan cerita kita ke depannya. Aku ingin kita membahas tentang kita saja, dan aku janji hal seperti ini tidak terjadi lagi. Aku tidak mau kamu merasa masih ada hal lain di pikiran aku. Aku ke depannya hanya fokus ke kamu, karena kamulah yang ada di hidup aku sekarang, seperti yang pernah kubilang sebelumnya, Tuhan  mengambil sesuatu dari aku, tapi Tuhan juga menggantikan sesuatu itu dengan kehadiran kamu. Aku merasa memang kamulah teman hidup aku ke depannya. Aku harap seperti itu ya. Jadi jangan memikirkan apa-apa lagi. Kita fokus saja dengan cerita kita dan kehidupan kita. Tidak usah mengingat masa lalu yang telah usai!”

Ucapannya begitu santai dengan keyakinan penuh. Ia mampu menyihirku, dan memang ia berhasil membuatku terpesona.

Ternyata kata-katanya omong kosong belaka, dan tidak seharusnya aku percayai waktu itu. Kenyataannya ia menyimpan seseorang dalam hati. Apa benar kata-kata teman perempuanku dulu, rahasia perempuan yang sulit terungkap, ia bisa mencintai dua lelaki sekaligus dalam waktu bersamaan, dan yang buaya itu bukan saja lelaki macamnya. Aku merasakan itu sekarang, aku yang tulus mencintainya ia sia-siakan, dan aku sadar, cinta tak bisa dipaksakan. Aku sering melihat sinaran cinta di matanya, aku bahagia sekali. Tapi setelah aku tahu itu bukan untukku, aku pun remuk seperti sepotong kue yang digenggam, kemudian diperas sekuat-kuatnya, lalu dicampakkan.

Apa aku harus membalas keperihan yang di lemparnya untukku? Apa perlu aku bercerita tentang kisahku ketika aku berpacaran dengan perempuan Eropa itu? Lalu aku menyebut-menyebut nama perempuan itu  dengan lembut di depan istriku menunjukkan kerinduanku, biar dia cemburu seperti yang aku rasakan.

Dulu semasih pacaran, aku tidak berhak marah berlebihan, karena ia belum resmi jadi milikku. Sekarang dia istriku, dan aku ingin ia mencintaiku seorang saja, tidak boleh ada orang lain dalam pikirannya.

“Aku sudah bilang padamu dulu, aku seorang janda, dan tentu punya masa lalu. Bukan saja dengan almarhum, tapi juga dengan keluarganya!”

Aku yang berharap ia bisa menyingkirkan nama itu dariku setelah aku jadi suaminya, ternyata gagal. Masih sering nama itu disebut. Aku ingin, jika ia masih mengingatnya terus-terusan, cukup dalam kesendiriannya, jangan di dekatku. Apalagi sampai ia menyeret-nyeretku untuk bicara tentang itu, tapi ia tak pernah mengerti aku.

 “Makanya seseorang yang menikah dengan janda, adalah seorang yang harus bisa berlapang dada. Dan bisa jadi nanti kau mengalami hal yang lebih sulit dari ini. Misalnya kau dibanding-bandingkan nanti dengan almarhum suamiku oleh keluarganya, lalu mereka memburukkanmu!”

Ia terus memukulku, dan aku semakin tak tahan. Aku teringat pada gadis Eropa itu, kulitnya yang putih membuatku ingin memeluknya terus tanpa lepas. Tapi aku terpaksa menyuruh ia pulang, setelah ia mengakui ketulusan cintanya padaku. Ia mau mencopot keyakinannya lalu pindah agamaku. Tapi orang-orang di kampungku bilang, itu pasti bertahan sebentar, apalagi orang tuaku tak merestui walaupun perempuan Eropa itu sudah menyatakan mau tinggal di Indonesia bersamaku. Akhirnya ia pergi ke negaranya dengan perasaan hampa, dan aku memilih hidup bersama Resti.

 “Apa yang ingin kau katakan, katakan saja meskipun kau yakin itu membuatku marah!”

Istriku tahu, aku menyimpan sesuatu dalam pikiranku.

 “Kalau kau pernah punya pacar sebelum menikah denganku, itu hal yang wajar bagi seorang laki-laki, dan aku tidak kecewa karena itu!”

Sepertinya ia tahu apa isi dalam kepalaku. Perempuan Eropa belum hilang dalam ingatanku. Aku melihat ia ada di sini menyaksikan perseteruanku dengan istriku, dan ia tersenyum, lalu berkata singkat, Johan, itulah hukuman bagi laki-laki yang telah menyingkirkan ketulusan seorang perempuan, lalu kau terhempas pada pelukan yang salah. Aku merasakan rindu yang tak terbendung pada perempuan Eropa itu secara tiba-tiba setelah perang dengan istriku.

 “Aku sedang memikirkan perempuan Eropa itu!” Walaupun sekilas, ia memang tahu tentang perempuan itu.

 “Kenapa kau belum bisa melupakan dia? Kan sudah ada aku di sisimu.” Ia begitu egois. Semakin kuat keinginanku untuk menyakiti hati istriku.

 “Sama sepertimu, yang belum bisa melupakan Refli!”

Mendengar jawabanku, ia memalingkan wajah.

 “Selama kalian pacaran, apa kau pernah ke negaranya? Maksudku ke rumahnya langsung, bertemu dengan orang tuanya?” Ia menatapku kembali.

Aku mengangguk, membuat ia semakin kesal. Aku yang sengaja memanas-manasinya ingin tahu, bagaimana reaksinya menanggapi masa laluku dengan perempuan Eropa itu.

 “Itu sih masa lalumu, yang mungkin bisa terulang lagi, beda denganku. Walaupun aku cerita semesra apa tentang suamiku, itu tidak akan bisa terulang lagi, karena dia sudah mati!”

Ia menunjukkan sikapnya yang tak mau kalah, dan yang tak mengerti aku yang cemburu pada yang sudah mati itu, dan aku harus melawan pendapatnya.

 “Bisa saja kisahmu terulang di surga nanti!”

Mendengar ucapanku ia tertawa.

 “Pikiranmu terlalu jauh, lagian belum tentu aku dan Refli masuk surga!”

Ia tetap dalam pendiriannya, tak ada niat mengubah sikap agar ia jangan membuatku cemburu lagi. Saatnya aku beraksi untuk membuat ia benar-benar sakit hati.

 “Kalau ada reski dan kesempatan aku ingin ke Belanda untuk beberapa hari menemui perempuan Eropa itu, aku sangat merindukannya,” ucapku tegas.

Ia menggigit bibir, lalu meludah di atas lantai, kemudian ia keluar dari kamar mandi sambil membanting pintu.

Konflik yang terjadi antara aku dan dia, semakin hari membesar. Berhari-hari aku tak pernah menyentuhnya.

         ***

Istriku mendatangiku yang lagi duduk di teras rumah sambil baca buku, ia menangis dan meminta maaf. Tapi entah kenapa, aku pun tak tahu apa yang terjadi pada diriku, yang jelas hatiku masih keras. Menurutku tak pantas diberi ampun kesalahan istriku. Karena istri yang terus mengingat lelaki lain yang sudah mati, itu adalah bentuk perselingkuhan yang halus, dan apapun bentuk perselingkuhan tidak bisa diberi ampun.

 “Kau tidak salah apa-apa Resti. Kau boleh mengingatnya terus, dan juga mencintainya. Jejak hati pada seseorang yang sudah bisa membuat kita nyaman dalam kenangan, tidak akan bisa dihapus oleh orang lain!”

Airmatanya masih titik, ia belum berhenti menangis.  

 “Maafkan aku sayang, tolong maafkan aku.”

Aku sudah berpikir matang dalam beberapa hari ini. Kelakuannya yang menyebut-nyebut kemesraan dengan suaminya tak akan pernah ia tinggalkan. Jalan terbaik aku harus menceraikannya. Aku berusaha untuk tidak membencinya. Aku mengambil keputusan bulat ini, karena ingin menyelamatkan diriku dari perempuan yang mencintai dua orang laki-laki dalam waktu bersamaan. Aku tidak mau dicintai perempuan yang juga memikirkan lelaki lain, aplagi ia sudah mati. Bersaing dengan dia yang telah mati saja aku kalah, apalagi kalau ia hidup kembali, semakin tercecerlah aku yang tercela ini dibuatnya.  

 “Dalam bulan ini aku ke Belanda bertemu Aleid.” 

 “Terus bagaimana denganku?”

 “Aku tidak bisa mencintai perempuan yang isi kepalanya juga memikirkan lelaki lain.”

***

Bayangkanlah kemudian, aku sudah tiba di Belanda bertemu dengan Aleid yang sudah punya suami.

 “Percuma kau datang. Dulu kau mencampakkanku di Indonesia, sekarang aku yang menyuruhmu pergi dari negaraku. Lelaki yang tidak punya perasaan sepertimu, tidak pantas menginjakkan kaki di negeriku!” Akhirnya aku pulang membawa luka. [T]

BACA cerpen lain di rubrik CERPEN

Tukang Sulih Suara dan Presiden yang Kehilangan Suaranya | Cerpen Hasan Aspahani
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hakim Adalah Manusia Biasa

Next Post

Puisi-puisi Winar Ramelan | Nyepi Untuk Pulang ke Diri

Depri Ajopan

Depri Ajopan

Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Winar Ramelan | Nyepi Untuk Pulang ke Diri

Puisi-puisi Winar Ramelan | Nyepi Untuk Pulang ke Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co