25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 24, 2024
in Cerpen
Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

MASALAH, seperti bisul atau jerawat, sewaktu-waktu akan meledak. Aku bukanlah pendusta, maka percayalah: semua orang memiliki kusir nakal yang kelak akan mengantar kita pada alamat sesat; kusir yang kelak membacakan sihir paling ampuh untuk membuat kita luluh pada keinginannya. Aku ingin mengutuk—bila benar kita lahir karena kehendak para Dewa—Dewa-Dewa. Para Dewa menitip makhluk asing penghasut itu dalam kepala kita. Keparat! Keparat besar!

Cerita tak pernah menyenangkan bila dikisahkan seperti laju kendaraan di jalur bebas hambatan! Lagi pula, kau adalah salah satu orang yang mau tahu ceritaku. Mungkin aku akan sedikit berbelit-belit. Bukanlah hal yang mudah bagiku untuk menceritakan semua petaka ini. Ya… kuharap kau memahamiku. Kita baru saja berkenalan. Tapi, aku tak akan menanyakan umurmu. Bagi beberapa orang, umur adalah angka keramat, sakral, tentu sebaiknya tak ditanyakan. Maka aku akan mengingatkanmu tanpa menanyakan umurmu. Jadi, jika kau belum pernah memimpikan seseorang yang membuat celanamu basah pada pagi hari, maka segeralah tutup halaman ini, percakapan kita cukupkan sampai di sini!

Aku pun tak akan menyesali pendapatmu. Aku hanya ingin bercerita. Aku hanya ingin mengeluarkan kebusukan Si Kusir. Aku tahu, kau juga mengenalnya. Mulai sekarang, kuharap kau lebih berhati-hati padanya.

***

Ketika aku masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, guru memanggilku, menyuruhku duduk di sofa tua ruangan mereka. Aku ingat, ruangan itu penuh aroma keringat, parfum murahan, dan aroma kertas-kertas tua. Tentu saja aku paham, aku adalah pesakitan bagi mereka. Maksudku, mereka membuatku merasa begitu. Aku kelas tiga waktu itu. Aku ingat betul, dipanggil karena seorang gadis yang posturnya lebih tinggi dariku. Monik bukanlah gadis tercantik di kelas, tapi dia satu-satunya gadis yang memiliki sesuatu yang mendesak bajunya. Benda itu mengingatkanku pada ibu, meskipun dia tak mirip ibu—tentu ibuku lebih cantik daripada dia. Aku ingin memuji, tapi ia berteriak, menangis, dan tentu saja, dengan senang hati, teman-teman kelas melaporkan tingkahku pada guru karena telah menyentuh dada gadis itu.

Salah seorang guru duduk di sebelahku. Mungkin ia bermaksud baik, tapi aku merasa sesuatu telah menekan dadaku, tepat ketika guru itu meletakkan segelas air putih di atas meja. Ia menatapku, dan guru-guru lain sibuk di mejanya masing-masing, sesekali melirik ke arah kami. Guru olah raga yang mendekatiku ini dikenal sebagai makhluk paling galak di sekolah dan aku menunduk ketika ia bicara tapi ia membenci caraku. Aku tahu, ada sesuatu yang sedang menggodaku, sebab ketika aku menatap wajahnya, sebuah gambar muncul dalam kepalaku: kuambil gelas yang ada di atas meja, lalu kulempar air ke wajah guru yang tulang pipinya menonjol seperti tanduk bayi sapi itu. Tentu aku akan mendapat masalah lain. Aku tahu, tapi dadaku terasa semakin berat, dan air mataku mengalir.

Keluar dari ruang guru, teman-teman mengataiku alien mesum. Begitulah mereka menyebutku karena kepalaku yang tampak lebih besar daripada kepala mereka, dan tentu saja mereka menerjemahkan tingkahku pada Monik. Waktu itu, aku begitu lugu dan tak tahu banyak tentang kepala dan isinya. Aku merasa sesuatu menusuk dadaku setiap mereka mengataiku demikian, lalu air mengalir di mataku, dan mereka akan semakin semangat, lalu mereka mengataiku alien banci sambil tertawa-tawa. Sialan. Begitu mudah bagi para pembenci memberi kita nama. Jika saja saat ini mereka mengataiku demikian, aku ingin mengatakan kata-kata paling busuk, lalu meludahi mulut mereka satu-satu.

“Siapa pun akan menjerit bila gunungnya kau sentuh,” kata ibu lembut.

“Bulan! Benda itu seperti bulan, Bu,” kataku. Aku hanya seorang bocah umur empat belas, tentu aku tak berpikir untuk berkata yang tidak sebenarnya. Tapi ibu tetap diam, tersenyum, lalu menyulut rokoknya. Ia tetap lembut, seperti kepulan asap yang keluar dari mulutnya. “Sesuatu berbisik di kepalaku, mengatakan benda yang ada di dadanya sama dengan milikmu,” balasku menunduk. 

Ibu tak akan marah padaku. Aku tahu itu. Tapi setiap ibu memberiku pertanyaan bertubi-tubi, duduk di hadapanku dengan cara apa pun, lalu tersenyum tanpa sedikit pun berpaling, kepalaku selalu terasa berat. Mungkin ketika kita memikirkan banyak hal, sesuatu masuk dalam kepala sehingga menjadi berat. 

“Semua orang memiliki kusir di kepalanya. Jika dia ingin kau melakukan sesuatu, kau harus memilih yang baik,” kata ibu sambil mengembuskan asap ke wajahku, lalu memelukku. “Bulan tak ada di dada wanita mana pun. Bulan ada pada mata mereka.”

Mungkin kusir yang dimaksud ibu memang ingin aku memuji wajah Monik, sebab orang yang memiliki wajah bulat tentu tidak terlalu baik. Tak satu pun lelaki di kelasku memuji kecantikan Monik. Tapi, aku suka bentuk wajah itu, lebih-lebih dadanya yang sempurna seperti purnama. Seperti kata ibu, Dewi Bulan punya wajah bulat, bercahaya, tapi mungkin ibu lupa jika Dewi Bulan juga punya dada bulat yang sempurna. Aku tahu itu dari salah satu teman ibu. Lelaki itu terlalu banyak bicara, tapi aku lupa namanya karena ibu punya beberapa teman lelaki yang senang datang ke rumah. 

“Semua orang dewasa tahu tentang Dewi Bulan. Dia cantik,” katanya padaku ketika kutanya tentang cerita ibu. 

“Apa dia seperti ibu?” balasku.

“Mungkin. Wajahnya, dadanya. Ah…” balasnya.

“Juga bulat? Mirip gantungan kunci ini?” tanyaku sambil mengangkat kunci mobil lelaki itu.

Teman ibu memang baik. Ia melepas gantungan kunci bulat berwarna emas yang buram itu, lalu memberikan benda itu padaku. Sampai kapan pun, gantungan kunci ini akan tetap kugantung di kamar. Dan gantungan kunci emas dengan sesuatu yang menonjol di tengah ini akan membuatku ingat pada Dewi Bulan. Dewi Bulan pastilah orang baik yang bisa membuat semua orang luluh setiap dimarah guru, seperti ibu, dan dada ibu yang selalu membuatku lupa pada hal-hal menyebalkan. 

Ibu tak pernah melarangku menyusu. Tapi, ia berkata, jika ayah masih hidup, ayah pasti marah karena aku menyusu di umur remaja. Aku tak mengenal ayah. Kata ibu, ayah meninggal karena tidak kuat menahan sakit yang selalu menyerang kepalanya. Tapi aku tak berharap mengenal ayah jika tugasnya hanya melarangku menyusu. 

Pesan ibu selalu kuingat ketika Si Kusir keparat berbisik. Tapi, semakin lama, sakit yang luar biasa menyerang kepalaku jika tidak mengikuti pesan Si Kusir. Sialnya, jika aku mengikuti keinginannya, bola lembut akan mendorong-dorong bagian bawah perut, dan rasanya selalu sama: ingin buang air kecil. “Jika dia menyuruhku melakukan hal buruk, aku harus menolak,” gumamku. Tapi, dia kusir tangguh yang bisa memecutku seperti kuda untuk berjalan ke arah yang dia inginkan. Karena itu, berkali-kali, guru memanggilku. 

Sekolah adalah tempat yang menyeramkan. Teman kelas kerap meludah di wajahku. Jika aku ingin ketemu teman kecil untuk meludahi mereka, maka aku ingin ketemu teman sekolah untuk menggantung lehernya di batang pohon kamboja lapangan sekolah—tempat mereka mengikatku lalu meludah hingga bajuku basah seperti tikus yang tenggelam di selokan. Kadang, kusir nakal memperlihatkan gambar-gambar itu padaku.

Satu pagi, setelah jam olahraga selesai, guru menyuruhku meletakkan kembali bola basket ke ruang penyimpanan. Bola-bola berserak di lapangan kering berdebu—jika aku yang bertugas, maka teman-teman lain akan menjauh. Sialnya, setiap mengambil bola, dadaku mulai berdebar, tenggorokanku rasanya tiba-tiba kering meski baru saja minum air. Ini bukan karena lelah. Aku tahu bedanya. 

Ruang penyimpanan begitu gelap dan sunyi. Debu tak setebal di lapangan. Anak-anak nakal tentu tak akan datang ke tempat ini, karena ruangan penyimpanan berimpit dengan ruang guru. Pintu pelahan kututup. Segaris cahaya masuk memberi arah jalan. Aku bersimpuh di balik lipatan meja tenis. Aku yakin, tubuhku tak akan terlihat meski seseorang tiba-tiba masuk. Aku menoleh sekali lagi ke arah celah pintu, mengeluarkan sebuah bola basket dari jaring, melorotkan celana, lalu memijit-mijit bola itu. 

Aku merasa benar-benar nyaman. Aha, jika pesan kusir kuikuti, ia akan mengantarku pada perasaan seperti itu, pikirku. Ya, betul-betul nyaman. Aku mengingat dada ibu, Monik, dan wajahnya yang bulat. Semua tampak seperti mimpi dan aku senang memijat-mijat bola itu sambil memijat-mijat penisku yang mengeras. Berkali-kali dan berulang-ulang. Seolah-olah, aku tak ingin kehilangan perasaan itu. Dan, keluarlah yang mestinya keluar. Celana dalamku basah. Tak ada cara lain, aku hanya bisa membiarkannya seperti itu, dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Lagi pula, warna celana olahraga yang gelap pasti menyamarkannya.

Kusir telah kalah, pikirku. Rasanya, ia benar-benar menghilang, seperti ketika aku menyusu pada ibu setiap mendapat masalah. Sialnya, teman-temanku masih menggunakan pakaian olahraga basah mereka, jingkrak-jingkrak di atas meja kelas, kejar-kejaran, dan serempak mengerubungiku begitu aku masuk kelas. Waktu itu, hanya laki-laki yang ada di sana. Mereka mengelilingiku sambil memulai teriakan aneh. Aku tahu, mereka akan berlaku buruk. Tapi aku yakin, itu bukan karena urusanku dengan Si Kusir dan bola-bola. Tiba-tiba, mereka memegang kuat tanganku, mengangkat tubuhku, lalu menarik celanaku hingga penisku terlihat. 

Orang-orang sialan itu tertawa-tawa! Mereka tertawa-tawa sambil menyentil penisku! Salah seorang dari mereka menyentuh cairan lengket itu, lalu dengan menyebalkan melempar celanaku ke luar kelas. Seolah punya ide cemerlang, seorang yang lain lari mengambil celanaku, kemudian memasangnya di kepalaku. 

Sejak itu, aku mendapat julukan lain: Alien Lendir! Sepulang sekolah, mereka menungguku di parkir, menyeretku ke kamboja, mengikatku, dan meludah. Mereka berkata bahwa lendir harus dibalas lendir. Tapi itu busuk, dadaku semakin sakit. Rasanya air mata tak bisa kutahan lagi. Mereka pun pergi.

***

Beberapa kali, sekuat tenaga, aku membenturkan kepala ke tembok kamar; berharap Kusir liar itu benar-benar hilang atau mati di sana. Tapi cara ini tak pernah bekerja dengan baik. Ketika aku menempuh cara itu, justru dunia ini berputar kencang, telinga mendengung. Kupikir, semua itu karena ulah si Kusir yang akan benar-benar kalah. Tapi ujung-ujungnya, yang keluar hanyalah cairan merah kental, dan dengan tingkah berlebihan, ibu memanggil tetangga, membawaku ke rumah sakit. Ibu adalah satu-satunya orang baik di dunia ini. 

Ketika aku masuk rumah sakit para petugas yang membongkar batok kepalaku telah berdusta. Mataku begitu berat. Sama halnya dengan mulutku. Tapi pelahan, aku mendengar pembicaraan mereka, persis seperti gerombolan lebah yang terusik sarangnya. Aroma alkohol menguar dan cahaya berlebih muncul dari langit-langit ruangan. Aku mulai bisa bicara meski sama samarnya dengan pendengaranku. Kukatakan pada mereka, “Keluarkan kusir itu dari kepalaku. Dia penghasut!” Aku tahu mereka tersenyum, tapi hanya orang jahat tersenyum ketika seseorang di depannya diganggu benda asing, bukan? Dan aku tahu, mereka membiarkan Kusir bersarang di kepalaku.

Sayangnya, kusir keparat itu tampaknya semakin tangguh, semakin paham cara memperdayaku. Seharusnya, siapa pun punya hak untuk saling tawar, tapi lama-lama, kusir ini seperti penyihir yang terus menerus mengutukku. Kini aku mulai sadar, Kusir keparat tak ada bedanya dengan karet celana dalam, semakin sering kau pakai, ia akan semakin longgar, seolah benda itu diciptakan untuk tubuh yang selalu tumbuh. 

Mungkin ia sedang hibernasi atau meditasi panjang. Ia mulai jarang muncul. Baru kali ini ia muncul dengan cambuk yang lebih kuat. Sialan! Terkutuklah kusir keparat! Ia tumbuh semakin kuat, semakin menyebalkan!

Maaf. Ini bagian yang paling sulit untuk diceritakan. Kau tahu, rasanya seluruh ingatanku tiba-tiba berbaur dengan perasaan buruk lainnya. Maaf. Bisa kau ambilkan segelas air untukku? Ah, keparat! Keparat bangsat! Dadaku berdebar. Tenggorokanku semakin kering. Jangan tatap aku dengan bola mata sempurnamu itu! [T]

BACA cerpen-cerpen lain

Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama
Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama
Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

Next Post

IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co