6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 24, 2024
in Cerpen
Kusir Keparat | Cerpen Agus Wiratama

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

MASALAH, seperti bisul atau jerawat, sewaktu-waktu akan meledak. Aku bukanlah pendusta, maka percayalah: semua orang memiliki kusir nakal yang kelak akan mengantar kita pada alamat sesat; kusir yang kelak membacakan sihir paling ampuh untuk membuat kita luluh pada keinginannya. Aku ingin mengutuk—bila benar kita lahir karena kehendak para Dewa—Dewa-Dewa. Para Dewa menitip makhluk asing penghasut itu dalam kepala kita. Keparat! Keparat besar!

Cerita tak pernah menyenangkan bila dikisahkan seperti laju kendaraan di jalur bebas hambatan! Lagi pula, kau adalah salah satu orang yang mau tahu ceritaku. Mungkin aku akan sedikit berbelit-belit. Bukanlah hal yang mudah bagiku untuk menceritakan semua petaka ini. Ya… kuharap kau memahamiku. Kita baru saja berkenalan. Tapi, aku tak akan menanyakan umurmu. Bagi beberapa orang, umur adalah angka keramat, sakral, tentu sebaiknya tak ditanyakan. Maka aku akan mengingatkanmu tanpa menanyakan umurmu. Jadi, jika kau belum pernah memimpikan seseorang yang membuat celanamu basah pada pagi hari, maka segeralah tutup halaman ini, percakapan kita cukupkan sampai di sini!

Aku pun tak akan menyesali pendapatmu. Aku hanya ingin bercerita. Aku hanya ingin mengeluarkan kebusukan Si Kusir. Aku tahu, kau juga mengenalnya. Mulai sekarang, kuharap kau lebih berhati-hati padanya.

***

Ketika aku masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, guru memanggilku, menyuruhku duduk di sofa tua ruangan mereka. Aku ingat, ruangan itu penuh aroma keringat, parfum murahan, dan aroma kertas-kertas tua. Tentu saja aku paham, aku adalah pesakitan bagi mereka. Maksudku, mereka membuatku merasa begitu. Aku kelas tiga waktu itu. Aku ingat betul, dipanggil karena seorang gadis yang posturnya lebih tinggi dariku. Monik bukanlah gadis tercantik di kelas, tapi dia satu-satunya gadis yang memiliki sesuatu yang mendesak bajunya. Benda itu mengingatkanku pada ibu, meskipun dia tak mirip ibu—tentu ibuku lebih cantik daripada dia. Aku ingin memuji, tapi ia berteriak, menangis, dan tentu saja, dengan senang hati, teman-teman kelas melaporkan tingkahku pada guru karena telah menyentuh dada gadis itu.

Salah seorang guru duduk di sebelahku. Mungkin ia bermaksud baik, tapi aku merasa sesuatu telah menekan dadaku, tepat ketika guru itu meletakkan segelas air putih di atas meja. Ia menatapku, dan guru-guru lain sibuk di mejanya masing-masing, sesekali melirik ke arah kami. Guru olah raga yang mendekatiku ini dikenal sebagai makhluk paling galak di sekolah dan aku menunduk ketika ia bicara tapi ia membenci caraku. Aku tahu, ada sesuatu yang sedang menggodaku, sebab ketika aku menatap wajahnya, sebuah gambar muncul dalam kepalaku: kuambil gelas yang ada di atas meja, lalu kulempar air ke wajah guru yang tulang pipinya menonjol seperti tanduk bayi sapi itu. Tentu aku akan mendapat masalah lain. Aku tahu, tapi dadaku terasa semakin berat, dan air mataku mengalir.

Keluar dari ruang guru, teman-teman mengataiku alien mesum. Begitulah mereka menyebutku karena kepalaku yang tampak lebih besar daripada kepala mereka, dan tentu saja mereka menerjemahkan tingkahku pada Monik. Waktu itu, aku begitu lugu dan tak tahu banyak tentang kepala dan isinya. Aku merasa sesuatu menusuk dadaku setiap mereka mengataiku demikian, lalu air mengalir di mataku, dan mereka akan semakin semangat, lalu mereka mengataiku alien banci sambil tertawa-tawa. Sialan. Begitu mudah bagi para pembenci memberi kita nama. Jika saja saat ini mereka mengataiku demikian, aku ingin mengatakan kata-kata paling busuk, lalu meludahi mulut mereka satu-satu.

“Siapa pun akan menjerit bila gunungnya kau sentuh,” kata ibu lembut.

“Bulan! Benda itu seperti bulan, Bu,” kataku. Aku hanya seorang bocah umur empat belas, tentu aku tak berpikir untuk berkata yang tidak sebenarnya. Tapi ibu tetap diam, tersenyum, lalu menyulut rokoknya. Ia tetap lembut, seperti kepulan asap yang keluar dari mulutnya. “Sesuatu berbisik di kepalaku, mengatakan benda yang ada di dadanya sama dengan milikmu,” balasku menunduk. 

Ibu tak akan marah padaku. Aku tahu itu. Tapi setiap ibu memberiku pertanyaan bertubi-tubi, duduk di hadapanku dengan cara apa pun, lalu tersenyum tanpa sedikit pun berpaling, kepalaku selalu terasa berat. Mungkin ketika kita memikirkan banyak hal, sesuatu masuk dalam kepala sehingga menjadi berat. 

“Semua orang memiliki kusir di kepalanya. Jika dia ingin kau melakukan sesuatu, kau harus memilih yang baik,” kata ibu sambil mengembuskan asap ke wajahku, lalu memelukku. “Bulan tak ada di dada wanita mana pun. Bulan ada pada mata mereka.”

Mungkin kusir yang dimaksud ibu memang ingin aku memuji wajah Monik, sebab orang yang memiliki wajah bulat tentu tidak terlalu baik. Tak satu pun lelaki di kelasku memuji kecantikan Monik. Tapi, aku suka bentuk wajah itu, lebih-lebih dadanya yang sempurna seperti purnama. Seperti kata ibu, Dewi Bulan punya wajah bulat, bercahaya, tapi mungkin ibu lupa jika Dewi Bulan juga punya dada bulat yang sempurna. Aku tahu itu dari salah satu teman ibu. Lelaki itu terlalu banyak bicara, tapi aku lupa namanya karena ibu punya beberapa teman lelaki yang senang datang ke rumah. 

“Semua orang dewasa tahu tentang Dewi Bulan. Dia cantik,” katanya padaku ketika kutanya tentang cerita ibu. 

“Apa dia seperti ibu?” balasku.

“Mungkin. Wajahnya, dadanya. Ah…” balasnya.

“Juga bulat? Mirip gantungan kunci ini?” tanyaku sambil mengangkat kunci mobil lelaki itu.

Teman ibu memang baik. Ia melepas gantungan kunci bulat berwarna emas yang buram itu, lalu memberikan benda itu padaku. Sampai kapan pun, gantungan kunci ini akan tetap kugantung di kamar. Dan gantungan kunci emas dengan sesuatu yang menonjol di tengah ini akan membuatku ingat pada Dewi Bulan. Dewi Bulan pastilah orang baik yang bisa membuat semua orang luluh setiap dimarah guru, seperti ibu, dan dada ibu yang selalu membuatku lupa pada hal-hal menyebalkan. 

Ibu tak pernah melarangku menyusu. Tapi, ia berkata, jika ayah masih hidup, ayah pasti marah karena aku menyusu di umur remaja. Aku tak mengenal ayah. Kata ibu, ayah meninggal karena tidak kuat menahan sakit yang selalu menyerang kepalanya. Tapi aku tak berharap mengenal ayah jika tugasnya hanya melarangku menyusu. 

Pesan ibu selalu kuingat ketika Si Kusir keparat berbisik. Tapi, semakin lama, sakit yang luar biasa menyerang kepalaku jika tidak mengikuti pesan Si Kusir. Sialnya, jika aku mengikuti keinginannya, bola lembut akan mendorong-dorong bagian bawah perut, dan rasanya selalu sama: ingin buang air kecil. “Jika dia menyuruhku melakukan hal buruk, aku harus menolak,” gumamku. Tapi, dia kusir tangguh yang bisa memecutku seperti kuda untuk berjalan ke arah yang dia inginkan. Karena itu, berkali-kali, guru memanggilku. 

Sekolah adalah tempat yang menyeramkan. Teman kelas kerap meludah di wajahku. Jika aku ingin ketemu teman kecil untuk meludahi mereka, maka aku ingin ketemu teman sekolah untuk menggantung lehernya di batang pohon kamboja lapangan sekolah—tempat mereka mengikatku lalu meludah hingga bajuku basah seperti tikus yang tenggelam di selokan. Kadang, kusir nakal memperlihatkan gambar-gambar itu padaku.

Satu pagi, setelah jam olahraga selesai, guru menyuruhku meletakkan kembali bola basket ke ruang penyimpanan. Bola-bola berserak di lapangan kering berdebu—jika aku yang bertugas, maka teman-teman lain akan menjauh. Sialnya, setiap mengambil bola, dadaku mulai berdebar, tenggorokanku rasanya tiba-tiba kering meski baru saja minum air. Ini bukan karena lelah. Aku tahu bedanya. 

Ruang penyimpanan begitu gelap dan sunyi. Debu tak setebal di lapangan. Anak-anak nakal tentu tak akan datang ke tempat ini, karena ruangan penyimpanan berimpit dengan ruang guru. Pintu pelahan kututup. Segaris cahaya masuk memberi arah jalan. Aku bersimpuh di balik lipatan meja tenis. Aku yakin, tubuhku tak akan terlihat meski seseorang tiba-tiba masuk. Aku menoleh sekali lagi ke arah celah pintu, mengeluarkan sebuah bola basket dari jaring, melorotkan celana, lalu memijit-mijit bola itu. 

Aku merasa benar-benar nyaman. Aha, jika pesan kusir kuikuti, ia akan mengantarku pada perasaan seperti itu, pikirku. Ya, betul-betul nyaman. Aku mengingat dada ibu, Monik, dan wajahnya yang bulat. Semua tampak seperti mimpi dan aku senang memijat-mijat bola itu sambil memijat-mijat penisku yang mengeras. Berkali-kali dan berulang-ulang. Seolah-olah, aku tak ingin kehilangan perasaan itu. Dan, keluarlah yang mestinya keluar. Celana dalamku basah. Tak ada cara lain, aku hanya bisa membiarkannya seperti itu, dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Lagi pula, warna celana olahraga yang gelap pasti menyamarkannya.

Kusir telah kalah, pikirku. Rasanya, ia benar-benar menghilang, seperti ketika aku menyusu pada ibu setiap mendapat masalah. Sialnya, teman-temanku masih menggunakan pakaian olahraga basah mereka, jingkrak-jingkrak di atas meja kelas, kejar-kejaran, dan serempak mengerubungiku begitu aku masuk kelas. Waktu itu, hanya laki-laki yang ada di sana. Mereka mengelilingiku sambil memulai teriakan aneh. Aku tahu, mereka akan berlaku buruk. Tapi aku yakin, itu bukan karena urusanku dengan Si Kusir dan bola-bola. Tiba-tiba, mereka memegang kuat tanganku, mengangkat tubuhku, lalu menarik celanaku hingga penisku terlihat. 

Orang-orang sialan itu tertawa-tawa! Mereka tertawa-tawa sambil menyentil penisku! Salah seorang dari mereka menyentuh cairan lengket itu, lalu dengan menyebalkan melempar celanaku ke luar kelas. Seolah punya ide cemerlang, seorang yang lain lari mengambil celanaku, kemudian memasangnya di kepalaku. 

Sejak itu, aku mendapat julukan lain: Alien Lendir! Sepulang sekolah, mereka menungguku di parkir, menyeretku ke kamboja, mengikatku, dan meludah. Mereka berkata bahwa lendir harus dibalas lendir. Tapi itu busuk, dadaku semakin sakit. Rasanya air mata tak bisa kutahan lagi. Mereka pun pergi.

***

Beberapa kali, sekuat tenaga, aku membenturkan kepala ke tembok kamar; berharap Kusir liar itu benar-benar hilang atau mati di sana. Tapi cara ini tak pernah bekerja dengan baik. Ketika aku menempuh cara itu, justru dunia ini berputar kencang, telinga mendengung. Kupikir, semua itu karena ulah si Kusir yang akan benar-benar kalah. Tapi ujung-ujungnya, yang keluar hanyalah cairan merah kental, dan dengan tingkah berlebihan, ibu memanggil tetangga, membawaku ke rumah sakit. Ibu adalah satu-satunya orang baik di dunia ini. 

Ketika aku masuk rumah sakit para petugas yang membongkar batok kepalaku telah berdusta. Mataku begitu berat. Sama halnya dengan mulutku. Tapi pelahan, aku mendengar pembicaraan mereka, persis seperti gerombolan lebah yang terusik sarangnya. Aroma alkohol menguar dan cahaya berlebih muncul dari langit-langit ruangan. Aku mulai bisa bicara meski sama samarnya dengan pendengaranku. Kukatakan pada mereka, “Keluarkan kusir itu dari kepalaku. Dia penghasut!” Aku tahu mereka tersenyum, tapi hanya orang jahat tersenyum ketika seseorang di depannya diganggu benda asing, bukan? Dan aku tahu, mereka membiarkan Kusir bersarang di kepalaku.

Sayangnya, kusir keparat itu tampaknya semakin tangguh, semakin paham cara memperdayaku. Seharusnya, siapa pun punya hak untuk saling tawar, tapi lama-lama, kusir ini seperti penyihir yang terus menerus mengutukku. Kini aku mulai sadar, Kusir keparat tak ada bedanya dengan karet celana dalam, semakin sering kau pakai, ia akan semakin longgar, seolah benda itu diciptakan untuk tubuh yang selalu tumbuh. 

Mungkin ia sedang hibernasi atau meditasi panjang. Ia mulai jarang muncul. Baru kali ini ia muncul dengan cambuk yang lebih kuat. Sialan! Terkutuklah kusir keparat! Ia tumbuh semakin kuat, semakin menyebalkan!

Maaf. Ini bagian yang paling sulit untuk diceritakan. Kau tahu, rasanya seluruh ingatanku tiba-tiba berbaur dengan perasaan buruk lainnya. Maaf. Bisa kau ambilkan segelas air untukku? Ah, keparat! Keparat bangsat! Dadaku berdebar. Tenggorokanku semakin kering. Jangan tatap aku dengan bola mata sempurnamu itu! [T]

BACA cerpen-cerpen lain

Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama
Penulis Tua dan Mareta | Cerpen Wayan Agus Wiratama
Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Damay Ar-Rahman | Bukan untuk Rasa Sakit

Next Post

IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

IGA Darma Putra: Lontar Dharma Kauripan untuk Mengenal Alam Sebagai Penyuplai Bahan Banten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co