23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Krisna Aji by Krisna Aji
July 8, 2023
in Cerpen
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Ilustrasi tatkala.co

NOVEMBER. Matahari melintas di selatan garis katulistiwa. Sewajarnya rintik hujan menyambut pergantian tahun. Namun musim sering tak sesuai dengan pelajaran anak sekolah. Dan itu menyebalkan.

“Seharusnya sudah hujan,” kata Tony.

“Seharusnya kamu sudah ngurusin AC mobil,” sungut Rara.

Tony diam.

“Panas sekali. Aku tak perlu susah-susah diet. Terus saja jemput aku pakai mobil rongsokan ini. Aku pasti sudah kurus saat tahun baru.” Rara mengangkat kedua kakinya, berjongkok di jok, lalu membesarkan blower AC yang kering tanpa freon.

“Besok pagi aku ngantre di bengkel AC. Deket rumah.” Tony perlahan membuka kedua jendela depan, beberapa detik setelah berhenti di perempatan Gatot Subroto Denpasar. Tony menaruh tangan kanan di celah jendela mobil untuk menopang dagu sambil menunggu antrean kendaraan. Dua ratus meter dari perempatan yang padat merayap. Hampir melamun, Tony tersentak.

“Pak, minta, Pak.”

Seketika tangan kecil menyodorkan bungkus permen. Seketika pula, tangan kanan Tony melambai. Tangan kecil itu tidak berhenti. Tangan kecil itu memang tak akan berhenti sebelum lampu lalu-lintas mwnyala hijau.

Anak kecil pemilik tangan kecil itu tidak sendiri. Ia hanyalah satu di antara banyaknya pengemis yang lalu lalang di tiap perempatan macet kota ini.

“Kok tak dikasi?” tanya Rara sambil mengibaskan tangan ke arah muka yang basah keringat.

“Kamu sudah tahu faktanya, kan? Mereka sedang bekerja. Bukan mengemis.” Tony tetap fokus pada pedal gas dan kopling.

“Aku memang dengar berita itu. Tapi, kan, kasihan. Seandainya mereka memang dipekerjakan oleh bos besar. Atau, mungkin, bos itu adalah orang tua mereka sendiri. Tetap saja kasihan, kan? Anak sekecil itu masih harus berpanas-panasan. Paling tidak, mereka sudah mengeluarkan tenaga untuk mencari makan. Mungkin saja, jika ada pilihan, siapa yang mau jadi seperti mereka?” Kibasan tangan Rara mulai berkurang akibat hembusan angin yang numpang lewat di antara mereka.

“Lalu, apakah mereka perlu ditolong?” Tony masih fokus dengan pedal kopling dan gas, kemudian memasang rem tangan saat lampu kembali merah.

“Tentu saja,” kata Rara.

“Dengan memberi mereka uang di terik panas seperti ini?” Tony menatap Rara.

“Paling tidak, itu cara paling nyata. Yang paling penting, tujuannya baik.”

Mata Tony menatap lampu lalu-lintas yang masih merah, lalu ia menatap Rara perlahan, Tony mulai berceramah,”Kamu pernah dengar tentang tikus di dalam labirin, nggak?”

***

Ada dua tikus laboratorium milik Tuan Skinner. Mereka berusia sama dan dibesarkan dengan cara yang sama. Diberi makan tiga kali sehari seperti manusia. Kebersihan terjaga, begitu juga kesehatannya. Pada suatu saat, Tuang Skinner, sang majikan hendak bermain-main dengan mereka. Majikan membuat labirin sederhana dan hanya ada satu jalan yang tembus sampai ujung. Tidak ada jalan buntu. Sangat sederhana.

Kedua tikus tidak diberi makan seharian. Setelah itu, kedua tikus dimasukkan ke dalam labirin dan diberi keju di pintu keluar labirin. Tidak hanya mendapat keju, tikus yang dapat keluar dari labirin juga akan dibebaskan ke alam liar. Tidak lagi terkurung di laboratorium yang membosankan.

Permainan dimulai dan tibalah waktu untuk tikus pertama. Ia mulai masuk dan menjelajah. Berkali-kali tikus menabrak dinding. Tetapi, dengan penciuman dan kegigihan, ia dapat menemukan jalur yang seharusnya. Karena, secara alami, tikus tidak akan menabrak dinding yang sama lebih dari sekali ataupun berbalik ke arah ia datang. Akhirnya, tikus pertama dapat keluar dari labirin, memakan keju, dan terbebas ke alam liar.

Berbeda dengan tikus pertama, tikus kedua tampak sedikit terhuyung setiap kali menabrak dinding labirin. Karena kasihan, sang majikan akhirnya memberikan remahan keju setiap kali tikus menabrak dinding dengan tujuan agar tikus memiliki tambahan tenaga untuk keluar dari labirin.

Tetapi, apa yang terjadi selanjutnya? Alih-alih mencari jalan lain agar bisa sampai di pintu keluar, tikus kedua akhirnya terus menabrakkan kepalanya ke dinding labirin yang sama demi mendapat hadiah instan. Ia tidak mengubah arah dan terjebak di dalam labirin.

***

“Gimana?”

***

Tony memasukan gigi satu dan menekan pedal gas pelan-pelan bersamaan dengan lampu hijau yang baru saja menyala. Jalanan macet di siang hari itu rasanya tidak berujung. Tepat di kiri mobil, tampak petugas Pamong Praja berkejaran dengan beberapa pengemis yang lari berhamburan.

Di antara kabut fatamorgana, pengemis wanita berusia belasan tiba-tiba terlihat membalikkan badan akibat benda pipih yang terjatuh dari kantongnya. Niatnya dibatalkan oleh petugas yang makin dekat. Berkilau memantulkan cahaya matahari, tampak tiga bulatan kameraserta lambang buah yang tergigit pada benda pipih yang mau tak mau ditinggalkan pemiliknya. Banyak orang setuju, benda pipih itu adalah lambang dari kekayaan, gengsi, dan harga diri. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putu Dudik Ariawan: Melukis di Atas Lontar dan Mengubah Hobi Menjadi Profesi

Next Post

Legong “Bapang Durga” Pernah Ditarikan Ni Polok

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Legong “Bapang Durga” Pernah Ditarikan Ni Polok

Legong “Bapang Durga” Pernah Ditarikan Ni Polok

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co