10 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
in Esai
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum, mudah menyapa, suka menolong, serta mampu menerima orang lain dengan penuh hormat telah menjadi bagian penting dari citra Bali, baik bagi masyarakat lokal maupun bagi dunia luar. Keramahan tersebut bahkan sering diperlakukan sebagai sesuatu yang melekat secara alamiah pada identitas orang Bali. Ketika wisatawan datang, mereka tidak hanya mencari pantai, pura, sawah, atau keindahan alam, tetapi juga mencari pengalaman sosial: sapaan, senyum, percakapan, pelayanan, dan perasaan diterima. Ketika muncul kesan bahwa “orang Bali tidak lagi ramah”, persoalannya sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar perubahan sikap seseorang terhadap orang lain. Pernyataan tersebut merupakan tanda adanya perubahan dalam cara masyarakat Bali membangun hubungan sosial di tengah perubahan ekonomi, budaya, demografi, teknologi, dan tekanan kehidupan yang semakin kompleks.

Pertanyaan “Bali tidak lagi ramah?”  tidak seharusnya dipahami sebagai tuduhan bahwa seluruh orang Bali telah kehilangan keramahan. Generalisasi semacam itu justru berbahaya karena mengabaikan kenyataan bahwa Bali masih memiliki banyak ruang sosial yang memperlihatkan kepedulian, gotong royong, solidaritas, dan penghormatan terhadap orang lain. Persoalannya terletak pada perubahan kualitas relasi sosial. Keramahan yang dahulu tumbuh dari kedekatan sosial dan rasa saling membutuhkan kini dalam sejumlah ruang kehidupan mulai digantikan oleh hubungan yang lebih transaksional. Orang tidak selalu berinteraksi karena merasa memiliki ikatan sosial, tetapi karena ada kepentingan tertentu yang mempertemukan mereka. Dalam situasi seperti ini, senyum dapat menjadi bagian dari pelayanan, sapaan dapat menjadi strategi bisnis, dan keramahan dapat berubah menjadi komoditas. Di sinilah pertanyaan tentang keramahan Bali menjadi relevan untuk dibicarakan secara lebih kritis.

Perubahan tersebut tampak paling jelas di wilayah-wilayah Bali yang mengalami perkembangan pariwisata dan urbanisasi secara cepat. Pertumbuhan ekonomi memang membawa lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, membuka akses terhadap pendidikan dan teknologi, serta mengubah pola konsumsi masyarakat. Namun, pertumbuhan ekonomi juga menciptakan tekanan baru. Harga tanah meningkat, ruang hidup semakin sempit, lalu lintas semakin padat, persaingan ekonomi semakin kuat, dan mobilitas penduduk semakin tinggi. Di tengah situasi tersebut, masyarakat tidak selalu mempunyai energi sosial yang sama untuk bersikap ramah kepada orang lain. Orang yang setiap hari berhadapan dengan kemacetan, tekanan pekerjaan, tuntutan ekonomi, dan perubahan lingkungan dapat menjadi lebih mudah marah, lebih individualistis, dan lebih selektif dalam membangun hubungan sosial. Dengan demikian, berkurangnya keramahan tidak dapat dilepaskan dari perubahan struktur kehidupan yang membentuk perilaku masyarakat.

Dahulu, dalam banyak komunitas Bali, hubungan sosial berlangsung dalam ruang yang relatif dekat. Tetangga bukan sekadar orang yang tinggal di sebelah rumah, tetapi bagian dari jaringan sosial yang saling mengenal. Ketika seseorang mengalami musibah, masyarakat datang membantu. Ketika ada kegiatan adat, warga terlibat bersama. Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, terdapat rasa sungkan untuk menolak karena hubungan sosial dibangun dalam jangka panjang. Dalam lingkungan semacam itu, keramahan bukan sekadar perilaku individual, melainkan mekanisme untuk mempertahankan keseimbangan sosial. Orang menyapa karena mereka mengenal satu sama lain. Orang membantu karena mereka memahami bahwa suatu saat mereka juga membutuhkan bantuan. Keramahan tumbuh sebagai bagian dari kehidupan bersama, bukan sebagai pertunjukan.

Situasinya mulai berbeda ketika ruang sosial mengalami fragmentasi. Perumahan baru, kawasan komersial, apartemen, kos-kosan, vila, dan lingkungan urban menciptakan pola kehidupan yang lebih anonim. Seseorang dapat tinggal bertahun-tahun di sebuah lingkungan tanpa benar-benar mengenal siapa tetangganya. Pagar rumah semakin tinggi, pintu semakin tertutup, dan komunikasi semakin banyak berpindah ke layar telepon. Dalam ruang sosial seperti ini, hubungan antarmanusia menjadi lebih fungsional. Tetangga dapat berubah menjadi sekadar orang yang kebetulan tinggal bersebelahan. Ketika kedekatan sosial berkurang, kebutuhan untuk menyapa, berbincang, dan membantu juga dapat melemah. Bukan karena masyarakat secara tiba-tiba menjadi jahat, melainkan karena struktur kehidupan yang dahulu memproduksi kedekatan sosial perlahan mengalami perubahan.

Keramahan juga berhadapan dengan persoalan lain yang tidak kalah serius, yaitu meningkatnya orientasi ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Bali adalah ruang hidup sekaligus ruang ekonomi. Hampir setiap sudut memiliki kemungkinan untuk dikonversi menjadi nilai ekonomi. Tanah menjadi aset, rumah dapat menjadi vila, halaman dapat menjadi tempat usaha, jalan menjadi jalur distribusi wisatawan, dan bahkan budaya dapat dikemas menjadi produk yang memiliki nilai jual. Ketika logika ekonomi semakin dominan, hubungan sosial pun berisiko mengalami perubahan. Pertanyaan “apa manfaatnya bagi saya?” dapat secara perlahan menggantikan pertanyaan “apa yang dapat saya lakukan untuk orang lain?”. Jika orientasi semacam ini semakin kuat, keramahan yang bersifat spontan dan tanpa pamrih akan semakin sulit dipertahankan.

Dalam konteks pariwisata, persoalan tersebut menjadi semakin rumit. Bali menjual keramahan sebagai bagian dari pengalaman wisata. Senyum, sapaan, pelayanan, kesopanan, dan kemampuan berkomunikasi dengan wisatawan merupakan bagian dari industri jasa. Keramahan menjadi modal ekonomi. Namun, terdapat paradoks di dalamnya. Semakin keramahan dijadikan bagian dari pekerjaan, semakin sulit membedakan keramahan sebagai ekspresi ketulusan dengan keramahan sebagai tuntutan profesional. Seorang pekerja pariwisata mungkin tetap tersenyum meskipun sedang lelah, tetap melayani meskipun menghadapi pelanggan yang kasar, dan tetap menggunakan bahasa yang santun meskipun berada dalam tekanan. Di satu sisi, hal tersebut menunjukkan profesionalisme. Akan tetapi, di sisi lain, terdapat pertanyaan penting: apakah keramahan yang terus-menerus diproduksi sebagai bagian dari industri masih memiliki akar sosial yang kuat?

Masalah menjadi lebih tajam ketika masyarakat lokal sendiri merasa bahwa keramahan mereka sering dianggap sebagai sesuatu yang harus selalu tersedia. Wisatawan datang dengan ekspektasi bahwa masyarakat Bali harus tersenyum, harus melayani, harus sabar, dan harus menerima. Padahal, masyarakat Bali juga manusia yang memiliki batas kesabaran, persoalan ekonomi, konflik sosial, kelelahan, dan kebutuhan untuk dihormati. Keramahan tidak semestinya dipahami sebagai kewajiban sepihak. Hubungan antara pendatang dan masyarakat lokal seharusnya dibangun berdasarkan prinsip saling menghormati. Ketika wisatawan atau pendatang menuntut pelayanan tetapi tidak menunjukkan penghargaan terhadap norma lokal, keramahan dapat berubah menjadi ketegangan. Dalam situasi semacam itu, sikap yang dianggap “tidak ramah” bisa jadi merupakan bentuk resistensi terhadap perlakuan yang dianggap tidak adil.

Perubahan juga ditemukan pada  cara orang berkomunikasi di ruang publik. Sapaan sederhana seperti “suksma”, “rahajeng”, atau pertanyaan kecil tentang keadaan seseorang dahulu dapat menjadi pembuka hubungan sosial. Kini, komunikasi semakin sering berlangsung secara singkat, langsung, dan berorientasi pada tujuan. Orang bertemu bukan untuk berbincang, tetapi untuk menyelesaikan urusan. Di tempat pelayanan publik, orang ingin segera dilayani. Di jalan raya, orang ingin segera sampai. Di tempat usaha, pelanggan ingin segera mendapatkan pelayanan. Di media sosial, orang ingin segera mendapatkan respons. Kecepatan menjadi nilai baru. Dalam budaya yang semakin menuntut kecepatan, percakapan yang tidak produktif secara ekonomi sering dianggap membuang waktu. Padahal, justru dari percakapan-percakapan kecil itulah rasa saling mengenal dan rasa memiliki sebagai komunitas dahulu dibangun.

Perubahan bahasa pergaulan juga memperlihatkan gejala yang serupa. Bahasa tidak hanya menjadi alat menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kualitas hubungan sosial. Ketika bentuk-bentuk sapaan yang menunjukkan penghormatan semakin jarang digunakan, hubungan sosial dapat kehilangan sebagian penandanya. Orang semakin terbiasa menggunakan bahasa yang pendek, spontan, bahkan kasar, terutama dalam komunikasi digital. Media sosial memberikan ruang bagi orang untuk mengatakan sesuatu tanpa harus berhadapan langsung dengan wajah lawan bicara. Akibatnya, kontrol sosial yang biasanya bekerja dalam interaksi tatap muka menjadi lebih lemah. Orang dapat menghina, menyindir, mencaci, atau merendahkan orang lain dengan relatif mudah. Kebiasaan komunikasi semacam itu kemudian berpotensi terbawa ke dalam kehidupan nyata.

Jalan raya di Bali juga menjadi ruang yang menarik untuk melihat perubahan keramahan sosial. Dahulu, memberi kesempatan kepada orang lain, mengalah di persimpangan, atau membantu seseorang yang mengalami kesulitan di jalan dapat dipandang sebagai bagian dari kepedulian sosial. Kini, tekanan mobilitas dan kepadatan lalu lintas membuat orang semakin mudah kehilangan kesabaran. Klakson, saling serobot, memotong jalur, dan kemarahan di jalan menjadi pemandangan yang semakin biasa di sejumlah kawasan. Perilaku tersebut memang tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat Bali telah kehilangan kesantunan. Namun, fenomena itu menunjukkan bahwa tekanan kehidupan modern dapat mengikis kemampuan seseorang untuk memberi ruang kepada orang lain. Keramahan pada akhirnya tidak hanya diuji ketika seseorang menerima tamu, tetapi juga ketika seseorang berada dalam situasi yang membuat dirinya tidak nyaman.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keramahan tidak cukup diukur dari senyum atau sapaan. Keramahan yang sesungguhnya terlihat ketika seseorang bersedia memberikan ruang bagi orang lain, menghargai perbedaan, tidak mengambil hak orang lain, dan mampu mengendalikan kepentingan pribadi demi kehidupan bersama.

Perubahan generasi juga perlu diperhatikan. Generasi muda Bali tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam dunia digital, mengenal budaya global, menggunakan bahasa yang lebih beragam, dan mempunyai orientasi mobilitas yang lebih tinggi. Mereka tidak selalu memiliki pengalaman sosial yang sama dengan generasi tua. Jika dahulu anak-anak belajar keramahan melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan banjar, kegiatan adat, lingkungan keluarga besar, dan interaksi dengan tetangga, kini sebagian proses pembelajaran sosial tersebut berlangsung melalui media digital. Persoalannya bukan bahwa teknologi pasti merusak keramahan, tetapi bahwa teknologi mengubah cara keramahan dipelajari dan dipraktikkan. Jika ruang sosial nyata semakin berkurang, maka pendidikan tentang empati, kesantunan, dan kepedulian juga menghadapi tantangan baru.

Menyalahkan generasi muda sebagai generasi yang tidak ramah merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana. Generasi muda hanya memantulkan dunia yang mereka warisi. Jika mereka hidup dalam lingkungan yang semakin kompetitif, individualistik, dan transaksional, maka perilaku mereka juga akan dibentuk oleh kondisi tersebut. Orang tua, sekolah, masyarakat adat, pemerintah, dan industri pariwisata memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan ekosistem sosial yang memungkinkan keramahan tetap tumbuh. Tidak adil meminta anak muda bersikap ramah apabila lingkungan sosial di sekitarnya justru mengajarkan bahwa keberhasilan terutama ditentukan oleh kemampuan bersaing dan memperoleh keuntungan.

Persoalan keramahan juga tidak dapat dipisahkan dari perubahan makna nilai-nilai lokal. Konsep menyama braya, misalnya, secara ideal mengandung gagasan tentang persaudaraan, kebersamaan, dan kesediaan memandang orang lain sebagai bagian dari kehidupan sosial. Namun, nilai tersebut tidak akan bertahan hanya karena terus disebut dalam pidato, slogan, atau dokumen kebudayaan. Nilai harus hadir dalam praktik. Di sinilah kritik terhadap “Bali yang tidak lagi ramah” seharusnya diarahkan: bukan kepada identitas orang Bali, melainkan kepada praktik sosial yang semakin menjauh dari nilai kebersamaan.

Keramahan Bali juga tidak boleh dipahami secara romantis. Ada kecenderungan untuk menganggap masa lalu selalu lebih baik: dahulu orang Bali ramah, sekarang tidak. Pandangan seperti itu perlu dikritisi karena masyarakat masa lalu juga tidak bebas dari konflik, diskriminasi, pertentangan, atau ketegangan sosial. Keramahan bukan sesuatu yang pernah sempurna lalu tiba-tiba hilang. Yang terjadi adalah perubahan bentuk, ruang, dan kondisi yang memengaruhinya. Tantangannya sekarang adalah bagaimana nilai keramahan dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan modern tanpa menjadikan tradisi sekadar ornamen.

Bali tidak membutuhkan keramahan yang dipoles hanya untuk menyenangkan wisatawan. Bali membutuhkan keramahan yang berakar pada penghormatan terhadap manusia dan lingkungan. Keramahan kepada wisatawan harus berjalan bersama keramahan kepada sesama warga. Keramahan kepada pendatang harus berjalan bersama penghormatan terhadap masyarakat lokal. Keramahan kepada pelanggan harus berjalan bersama penghormatan kepada pekerja. Bahkan keramahan kepada manusia harus diperluas menjadi keramahan terhadap alam. Tidak mungkin berbicara tentang Bali yang ramah apabila sungai dipenuhi sampah, ruang publik terus terdesak kepentingan komersial, dan lingkungan dikorbankan demi keuntungan jangka pendek. Keramahan sejatinya juga berarti memberi ruang hidup kepada makhluk lain dan generasi yang akan datang.

Maka, pertanyaan “Bali tidak lagi ramah?” seharusnya tidak dijawab dengan penolakan emosional ataupun pembelaan terhadap citra Bali. Pertanyaan tersebut justru perlu diterima sebagai cermin. Jika ada orang yang merasa diperlakukan kasar di Bali, jika ada masyarakat yang merasa semakin sulit mendapatkan kepedulian dari tetangganya, jika ada wisatawan yang merasa pelayanan semakin mekanis, atau jika ada warga lokal yang merasa semakin tidak dihargai di tanah sendiri, semua pengalaman tersebut layak didengar. Kritik bukan ancaman terhadap Bali. Kritik justru dapat menjadi cara untuk melihat bagian-bagian kehidupan sosial yang mulai retak.Pada akhirnya, keramahan tidak akan bertahan hanya karena Bali pernah dikenal sebagai pulau yang ramah. Identitas budaya bukan benda yang dapat disimpan di museum lalu otomatis diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia harus dipraktikkan setiap hari.[T]

Penulis: Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

Next Post

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails
Next Post
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co