1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
in Esai
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum, mudah menyapa, suka menolong, serta mampu menerima orang lain dengan penuh hormat telah menjadi bagian penting dari citra Bali, baik bagi masyarakat lokal maupun bagi dunia luar. Keramahan tersebut bahkan sering diperlakukan sebagai sesuatu yang melekat secara alamiah pada identitas orang Bali. Ketika wisatawan datang, mereka tidak hanya mencari pantai, pura, sawah, atau keindahan alam, tetapi juga mencari pengalaman sosial: sapaan, senyum, percakapan, pelayanan, dan perasaan diterima. Ketika muncul kesan bahwa “orang Bali tidak lagi ramah”, persoalannya sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar perubahan sikap seseorang terhadap orang lain. Pernyataan tersebut merupakan tanda adanya perubahan dalam cara masyarakat Bali membangun hubungan sosial di tengah perubahan ekonomi, budaya, demografi, teknologi, dan tekanan kehidupan yang semakin kompleks.

Pertanyaan “Bali tidak lagi ramah?”  tidak seharusnya dipahami sebagai tuduhan bahwa seluruh orang Bali telah kehilangan keramahan. Generalisasi semacam itu justru berbahaya karena mengabaikan kenyataan bahwa Bali masih memiliki banyak ruang sosial yang memperlihatkan kepedulian, gotong royong, solidaritas, dan penghormatan terhadap orang lain. Persoalannya terletak pada perubahan kualitas relasi sosial. Keramahan yang dahulu tumbuh dari kedekatan sosial dan rasa saling membutuhkan kini dalam sejumlah ruang kehidupan mulai digantikan oleh hubungan yang lebih transaksional. Orang tidak selalu berinteraksi karena merasa memiliki ikatan sosial, tetapi karena ada kepentingan tertentu yang mempertemukan mereka. Dalam situasi seperti ini, senyum dapat menjadi bagian dari pelayanan, sapaan dapat menjadi strategi bisnis, dan keramahan dapat berubah menjadi komoditas. Di sinilah pertanyaan tentang keramahan Bali menjadi relevan untuk dibicarakan secara lebih kritis.

Perubahan tersebut tampak paling jelas di wilayah-wilayah Bali yang mengalami perkembangan pariwisata dan urbanisasi secara cepat. Pertumbuhan ekonomi memang membawa lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, membuka akses terhadap pendidikan dan teknologi, serta mengubah pola konsumsi masyarakat. Namun, pertumbuhan ekonomi juga menciptakan tekanan baru. Harga tanah meningkat, ruang hidup semakin sempit, lalu lintas semakin padat, persaingan ekonomi semakin kuat, dan mobilitas penduduk semakin tinggi. Di tengah situasi tersebut, masyarakat tidak selalu mempunyai energi sosial yang sama untuk bersikap ramah kepada orang lain. Orang yang setiap hari berhadapan dengan kemacetan, tekanan pekerjaan, tuntutan ekonomi, dan perubahan lingkungan dapat menjadi lebih mudah marah, lebih individualistis, dan lebih selektif dalam membangun hubungan sosial. Dengan demikian, berkurangnya keramahan tidak dapat dilepaskan dari perubahan struktur kehidupan yang membentuk perilaku masyarakat.

Dahulu, dalam banyak komunitas Bali, hubungan sosial berlangsung dalam ruang yang relatif dekat. Tetangga bukan sekadar orang yang tinggal di sebelah rumah, tetapi bagian dari jaringan sosial yang saling mengenal. Ketika seseorang mengalami musibah, masyarakat datang membantu. Ketika ada kegiatan adat, warga terlibat bersama. Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, terdapat rasa sungkan untuk menolak karena hubungan sosial dibangun dalam jangka panjang. Dalam lingkungan semacam itu, keramahan bukan sekadar perilaku individual, melainkan mekanisme untuk mempertahankan keseimbangan sosial. Orang menyapa karena mereka mengenal satu sama lain. Orang membantu karena mereka memahami bahwa suatu saat mereka juga membutuhkan bantuan. Keramahan tumbuh sebagai bagian dari kehidupan bersama, bukan sebagai pertunjukan.

Situasinya mulai berbeda ketika ruang sosial mengalami fragmentasi. Perumahan baru, kawasan komersial, apartemen, kos-kosan, vila, dan lingkungan urban menciptakan pola kehidupan yang lebih anonim. Seseorang dapat tinggal bertahun-tahun di sebuah lingkungan tanpa benar-benar mengenal siapa tetangganya. Pagar rumah semakin tinggi, pintu semakin tertutup, dan komunikasi semakin banyak berpindah ke layar telepon. Dalam ruang sosial seperti ini, hubungan antarmanusia menjadi lebih fungsional. Tetangga dapat berubah menjadi sekadar orang yang kebetulan tinggal bersebelahan. Ketika kedekatan sosial berkurang, kebutuhan untuk menyapa, berbincang, dan membantu juga dapat melemah. Bukan karena masyarakat secara tiba-tiba menjadi jahat, melainkan karena struktur kehidupan yang dahulu memproduksi kedekatan sosial perlahan mengalami perubahan.

Keramahan juga berhadapan dengan persoalan lain yang tidak kalah serius, yaitu meningkatnya orientasi ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Bali adalah ruang hidup sekaligus ruang ekonomi. Hampir setiap sudut memiliki kemungkinan untuk dikonversi menjadi nilai ekonomi. Tanah menjadi aset, rumah dapat menjadi vila, halaman dapat menjadi tempat usaha, jalan menjadi jalur distribusi wisatawan, dan bahkan budaya dapat dikemas menjadi produk yang memiliki nilai jual. Ketika logika ekonomi semakin dominan, hubungan sosial pun berisiko mengalami perubahan. Pertanyaan “apa manfaatnya bagi saya?” dapat secara perlahan menggantikan pertanyaan “apa yang dapat saya lakukan untuk orang lain?”. Jika orientasi semacam ini semakin kuat, keramahan yang bersifat spontan dan tanpa pamrih akan semakin sulit dipertahankan.

Dalam konteks pariwisata, persoalan tersebut menjadi semakin rumit. Bali menjual keramahan sebagai bagian dari pengalaman wisata. Senyum, sapaan, pelayanan, kesopanan, dan kemampuan berkomunikasi dengan wisatawan merupakan bagian dari industri jasa. Keramahan menjadi modal ekonomi. Namun, terdapat paradoks di dalamnya. Semakin keramahan dijadikan bagian dari pekerjaan, semakin sulit membedakan keramahan sebagai ekspresi ketulusan dengan keramahan sebagai tuntutan profesional. Seorang pekerja pariwisata mungkin tetap tersenyum meskipun sedang lelah, tetap melayani meskipun menghadapi pelanggan yang kasar, dan tetap menggunakan bahasa yang santun meskipun berada dalam tekanan. Di satu sisi, hal tersebut menunjukkan profesionalisme. Akan tetapi, di sisi lain, terdapat pertanyaan penting: apakah keramahan yang terus-menerus diproduksi sebagai bagian dari industri masih memiliki akar sosial yang kuat?

Masalah menjadi lebih tajam ketika masyarakat lokal sendiri merasa bahwa keramahan mereka sering dianggap sebagai sesuatu yang harus selalu tersedia. Wisatawan datang dengan ekspektasi bahwa masyarakat Bali harus tersenyum, harus melayani, harus sabar, dan harus menerima. Padahal, masyarakat Bali juga manusia yang memiliki batas kesabaran, persoalan ekonomi, konflik sosial, kelelahan, dan kebutuhan untuk dihormati. Keramahan tidak semestinya dipahami sebagai kewajiban sepihak. Hubungan antara pendatang dan masyarakat lokal seharusnya dibangun berdasarkan prinsip saling menghormati. Ketika wisatawan atau pendatang menuntut pelayanan tetapi tidak menunjukkan penghargaan terhadap norma lokal, keramahan dapat berubah menjadi ketegangan. Dalam situasi semacam itu, sikap yang dianggap “tidak ramah” bisa jadi merupakan bentuk resistensi terhadap perlakuan yang dianggap tidak adil.

Perubahan juga ditemukan pada  cara orang berkomunikasi di ruang publik. Sapaan sederhana seperti “suksma”, “rahajeng”, atau pertanyaan kecil tentang keadaan seseorang dahulu dapat menjadi pembuka hubungan sosial. Kini, komunikasi semakin sering berlangsung secara singkat, langsung, dan berorientasi pada tujuan. Orang bertemu bukan untuk berbincang, tetapi untuk menyelesaikan urusan. Di tempat pelayanan publik, orang ingin segera dilayani. Di jalan raya, orang ingin segera sampai. Di tempat usaha, pelanggan ingin segera mendapatkan pelayanan. Di media sosial, orang ingin segera mendapatkan respons. Kecepatan menjadi nilai baru. Dalam budaya yang semakin menuntut kecepatan, percakapan yang tidak produktif secara ekonomi sering dianggap membuang waktu. Padahal, justru dari percakapan-percakapan kecil itulah rasa saling mengenal dan rasa memiliki sebagai komunitas dahulu dibangun.

Perubahan bahasa pergaulan juga memperlihatkan gejala yang serupa. Bahasa tidak hanya menjadi alat menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kualitas hubungan sosial. Ketika bentuk-bentuk sapaan yang menunjukkan penghormatan semakin jarang digunakan, hubungan sosial dapat kehilangan sebagian penandanya. Orang semakin terbiasa menggunakan bahasa yang pendek, spontan, bahkan kasar, terutama dalam komunikasi digital. Media sosial memberikan ruang bagi orang untuk mengatakan sesuatu tanpa harus berhadapan langsung dengan wajah lawan bicara. Akibatnya, kontrol sosial yang biasanya bekerja dalam interaksi tatap muka menjadi lebih lemah. Orang dapat menghina, menyindir, mencaci, atau merendahkan orang lain dengan relatif mudah. Kebiasaan komunikasi semacam itu kemudian berpotensi terbawa ke dalam kehidupan nyata.

Jalan raya di Bali juga menjadi ruang yang menarik untuk melihat perubahan keramahan sosial. Dahulu, memberi kesempatan kepada orang lain, mengalah di persimpangan, atau membantu seseorang yang mengalami kesulitan di jalan dapat dipandang sebagai bagian dari kepedulian sosial. Kini, tekanan mobilitas dan kepadatan lalu lintas membuat orang semakin mudah kehilangan kesabaran. Klakson, saling serobot, memotong jalur, dan kemarahan di jalan menjadi pemandangan yang semakin biasa di sejumlah kawasan. Perilaku tersebut memang tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat Bali telah kehilangan kesantunan. Namun, fenomena itu menunjukkan bahwa tekanan kehidupan modern dapat mengikis kemampuan seseorang untuk memberi ruang kepada orang lain. Keramahan pada akhirnya tidak hanya diuji ketika seseorang menerima tamu, tetapi juga ketika seseorang berada dalam situasi yang membuat dirinya tidak nyaman.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keramahan tidak cukup diukur dari senyum atau sapaan. Keramahan yang sesungguhnya terlihat ketika seseorang bersedia memberikan ruang bagi orang lain, menghargai perbedaan, tidak mengambil hak orang lain, dan mampu mengendalikan kepentingan pribadi demi kehidupan bersama.

Perubahan generasi juga perlu diperhatikan. Generasi muda Bali tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam dunia digital, mengenal budaya global, menggunakan bahasa yang lebih beragam, dan mempunyai orientasi mobilitas yang lebih tinggi. Mereka tidak selalu memiliki pengalaman sosial yang sama dengan generasi tua. Jika dahulu anak-anak belajar keramahan melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan banjar, kegiatan adat, lingkungan keluarga besar, dan interaksi dengan tetangga, kini sebagian proses pembelajaran sosial tersebut berlangsung melalui media digital. Persoalannya bukan bahwa teknologi pasti merusak keramahan, tetapi bahwa teknologi mengubah cara keramahan dipelajari dan dipraktikkan. Jika ruang sosial nyata semakin berkurang, maka pendidikan tentang empati, kesantunan, dan kepedulian juga menghadapi tantangan baru.

Menyalahkan generasi muda sebagai generasi yang tidak ramah merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana. Generasi muda hanya memantulkan dunia yang mereka warisi. Jika mereka hidup dalam lingkungan yang semakin kompetitif, individualistik, dan transaksional, maka perilaku mereka juga akan dibentuk oleh kondisi tersebut. Orang tua, sekolah, masyarakat adat, pemerintah, dan industri pariwisata memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan ekosistem sosial yang memungkinkan keramahan tetap tumbuh. Tidak adil meminta anak muda bersikap ramah apabila lingkungan sosial di sekitarnya justru mengajarkan bahwa keberhasilan terutama ditentukan oleh kemampuan bersaing dan memperoleh keuntungan.

Persoalan keramahan juga tidak dapat dipisahkan dari perubahan makna nilai-nilai lokal. Konsep menyama braya, misalnya, secara ideal mengandung gagasan tentang persaudaraan, kebersamaan, dan kesediaan memandang orang lain sebagai bagian dari kehidupan sosial. Namun, nilai tersebut tidak akan bertahan hanya karena terus disebut dalam pidato, slogan, atau dokumen kebudayaan. Nilai harus hadir dalam praktik. Di sinilah kritik terhadap “Bali yang tidak lagi ramah” seharusnya diarahkan: bukan kepada identitas orang Bali, melainkan kepada praktik sosial yang semakin menjauh dari nilai kebersamaan.

Keramahan Bali juga tidak boleh dipahami secara romantis. Ada kecenderungan untuk menganggap masa lalu selalu lebih baik: dahulu orang Bali ramah, sekarang tidak. Pandangan seperti itu perlu dikritisi karena masyarakat masa lalu juga tidak bebas dari konflik, diskriminasi, pertentangan, atau ketegangan sosial. Keramahan bukan sesuatu yang pernah sempurna lalu tiba-tiba hilang. Yang terjadi adalah perubahan bentuk, ruang, dan kondisi yang memengaruhinya. Tantangannya sekarang adalah bagaimana nilai keramahan dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan modern tanpa menjadikan tradisi sekadar ornamen.

Bali tidak membutuhkan keramahan yang dipoles hanya untuk menyenangkan wisatawan. Bali membutuhkan keramahan yang berakar pada penghormatan terhadap manusia dan lingkungan. Keramahan kepada wisatawan harus berjalan bersama keramahan kepada sesama warga. Keramahan kepada pendatang harus berjalan bersama penghormatan terhadap masyarakat lokal. Keramahan kepada pelanggan harus berjalan bersama penghormatan kepada pekerja. Bahkan keramahan kepada manusia harus diperluas menjadi keramahan terhadap alam. Tidak mungkin berbicara tentang Bali yang ramah apabila sungai dipenuhi sampah, ruang publik terus terdesak kepentingan komersial, dan lingkungan dikorbankan demi keuntungan jangka pendek. Keramahan sejatinya juga berarti memberi ruang hidup kepada makhluk lain dan generasi yang akan datang.

Maka, pertanyaan “Bali tidak lagi ramah?” seharusnya tidak dijawab dengan penolakan emosional ataupun pembelaan terhadap citra Bali. Pertanyaan tersebut justru perlu diterima sebagai cermin. Jika ada orang yang merasa diperlakukan kasar di Bali, jika ada masyarakat yang merasa semakin sulit mendapatkan kepedulian dari tetangganya, jika ada wisatawan yang merasa pelayanan semakin mekanis, atau jika ada warga lokal yang merasa semakin tidak dihargai di tanah sendiri, semua pengalaman tersebut layak didengar. Kritik bukan ancaman terhadap Bali. Kritik justru dapat menjadi cara untuk melihat bagian-bagian kehidupan sosial yang mulai retak.Pada akhirnya, keramahan tidak akan bertahan hanya karena Bali pernah dikenal sebagai pulau yang ramah. Identitas budaya bukan benda yang dapat disimpan di museum lalu otomatis diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia harus dipraktikkan setiap hari.[T]

Penulis: Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

Next Post

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails
Next Post
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co