6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Dudik Ariawan: Melukis di Atas Lontar dan Mengubah Hobi Menjadi Profesi

Jaswanto by Jaswanto
July 8, 2023
in Persona
Putu Dudik Ariawan: Melukis di Atas Lontar dan Mengubah Hobi Menjadi Profesi

Putu Dudik Ariawan berpose dengan salah satu karyanya | Foto: Dok. Dudik

MELUKIS itu tampak gampang di mata tapi sulit di tangan. Dan kalau melukis di kanvas saja sulit, apalagi, misalnya, melukis di atas lontar. Tapi, yang sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Nyatanya, sosok pelukis muda yang satu ini cincai-cincai saja saat melakukannya.

Melukis (menggambar) di atas lontar (seni lukis prasi) tentu bukan sesuatu yang baru. Seni yang dikerjakan dengan pengrupak—pisau khusus khas Bali—itu memang sudah dilakukan leluhur Nusantara dulu—di Bali bahkan masih dilestarikan sampai hari ini. Tetapi, di zaman sekarang, tampaknya seni lukis di atas lontar ini belum cukup mendapat perhatian.

Adalah Putu Dudik Ariawan, pelukis kelahiran Kaliasem, 24 Juni 1996, itu termasuk sedikit seniman yang banyak mengeksplorasi daun lontar. Menurutnya, nilai-nilai lontar memiliki aura mistis-magis, kuno, dan sakral.

Dudik—panggilan akrabnya—tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat—sampai memasuki ruang-ruang terkecil kehidupan manusia—dan hal ini memiliki pengaruh besar terhadap caranya memandang lontar.

Ia merasa bahwa banyak orang memandang lontar sebagai benda mistis dan tidak tersentuh, padahal lontar adalah sebuah jembatan untuk mengakses pengetahuan, catatan sejarah, sampai karya seni. “Melalui seni lukis, saya ingin memaknai ulang daun-daun yang dianggap sakral tersebut,” ujarnya kepada Tatkala.co, Kamis (6/7/2023) siang.

Tetapi,seperti umumnya seniman lukis, Dudik, pelukis muda dari Banjar Dinas Lebah, Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Sigaraja, Bali, itu sebelum tertarik dengan seni lukis prasi, ia mengaku menekuni seni lukis aliran realis dan melukis di kanvas terlebih dahulu—ia melukis wajah seseorang dan peristiwa sama bagusnya dengan hasil foto kamera keluaran terbaru.

Lukisan karya Dudik Ariawan / Foto: Dok. Dudik

Dilansir dari Invaluable, seni lukis realis adalah gerakan seni modern pertama yang dimulai di Perancis sekitar tahun 1840. Realisme adalah aliran seni lukis yang melukiskan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari seperti aslinya dan tampak nyata. Tokoh seni lukis beraliran realisme adalah Andrew Wyeth, Edward Hopper, Thomas Eakins, Gustave Courbet, Adolphe Bougeureau, Ivan Kramskot, Gustove Corbet, Adolph Menzel, dan Jean-Francois Millet.

“Awalnya tetap melukis di kanvas. Saya melukis di kanvas sejak SMA. Dan gaya saya dari dulu—dari SMK—memang realis, walau sekarang agak bercampur dengan surealis,” kata Dudik sambil tertawa.

Lukisan karya Dudik Ariawan / Foto: Dok. Dudik

Seniman yang baru saja menjadi seorang ayah itu, mengaku menyukai seni gambar sejak SD. Ia menggambar nyaris di semua buku pelajaran. “Hobi saya memang menggambar, sejak SD, dan sering ikut lomba menggambar waktu itu. Dan SMP saya ikut ekstra lukis, SMK mulai mendalaminya,” ujar perupa alumni jurusan Seni Lukis SMKN 1 Sukasada itu.

Sebagai seorang pelukis, Dudik bisa dikatakan seniman yang berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang diperolehnya, seperti penghargaan Karya Cat Air Terbaik I pada Workshop “Water Colour” 2015, juara II Lomba Melukis Buleleng Bali Dive Festival “BBDF” 2015, juara I Lomba Melukis Buleleng Bali Dive Festival “BBDF” 2016, juara 1 Drawing Contest UN International Day of Peace 2019, dan sebagai Finalist Titian Prize 2020.

Pada tahun 2019, dalam Pameran “Kata Rupa” di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Center Denpasar, Dudik pernah mencoba mengakutualisasi puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Pemacu Ombak—puisi yang terhimpun dalam buku Lagu Pemacu Ombak (1978)—ke dalam sebuah lukisan.

Lukisan karya Dudik Ariawan merespon puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Pemacu Ombak / Foto: Dok. Dudik

“Merespon karya penyair sebenarnya di luar kebiasaan saya dalam berkarya, tapi itulah tantangannya. Waktu itu saya mesti mencari geografi Sutan Takdir untuk menebak pesan apa yang ingin disampaikan dalam puisinya itu,” ujar Dudik.

Ketertarikan terhadap lontar

Dudik mulai jatuh cinta terhadap seni prasi sejak menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Pada masa kuliah, ia tidak hanya mendapat berbagai teknik melukis di kelas, tetapi juga soal benturan wacana di lingkungan pergaulannya di kampus dan luar kampus.

Salah satu hal yang membuatnya tertarik dengan lukisan daun lontar adalah cara kerja melukis di daun lontar berbeda dengan melukis pada umumnya. Ia menyebut, melukis di atas daun lontar sebagai “seni melukai”.

Dalam dunia lukis pada umumnya, perupa bisa langsung melihat torehan garis yang ia buat. Tetapi pada daun lontar, garis tidak langsung terlihat. Sebab, melukis di daun lontar menggunakan alat-alat berupa pisau kecil yang disebut pengerupak dan kemiri yang sudah diolah.

Lukisan Dudik Ariawan di atas lontar / Foto: Dok. Dudik

“Pisau ditoreh untuk membuat garis demi garis dan pada proses ini, garis belum terlihat, baru setelah daun lontar dipoles dengan kemiri, hasilnya terlihat,” jelas Dudik.

Dalam proses mendekatkan diri dengan media lontar, Dudik mulai berkunjung ke Gedong Kirtya—museum yang mengoleksi lontar warisan lelulur—yang terletak di Kota Singaraja, Bali. Tak hanya itu, ia juga membaca dan mempelajari sebuah buku berjudul Mengenal Prasi (1979) yang ditulis oleh I Ketut Suwidja.

“Melukis di daun lontar atau seni prasi sesungguhnya sudah ada sejak lama, tapi sebagian besar berkisah tentang cerita pewayangan dan gambarnya per helai daun, mirip komik,” katanya.

Dudik memang belajar dari lontar yang sudah ada, tapi tidak terpaku pada gaya lama. Sebab, ia sadar betul bahwa pelukis dahulu dan dirinya memiliki cara pandang berbeda terhadap dunia.

Karya-karya Dudik di atas lontar banyak berbicara mengenai isu-isu terkini—dan itu adalah salah satu langkahnya untuk meruntuhkan tembok mistis, sakralitas lontar. Hal ini sekaligus jalan untuk mengajak banyak orang masuk pada substansi lontar dan tidak memandang lontar hanya sebagai benda eksotis semata.

Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni prasi mewarnai proses Dudik dalam berkarya, seperti Pameran Titian Prize 2020 di Titian Art Space, Ubud Bali;Pameran Prasi “Contemporary Palm Leaf Work in Soutsheast Asia” di Center for the book Sanfancisco Amerika Serikat tahun 2019; dan Pameran Prasi “(O)P(E)Rasi” di Santrian Gallery tahun 2018.

Lukisan Dudik Ariawan dalam Pameran “Politik Titik Titik” Tatkala May May May 2023 / Foto: Dok. Dudik

Tak hanya itu, soal pameran, dari mulai tahun 2014 sampai 2023, Dudik memang sudah memiliki banyak pengalaman, di antaranya, yang terbaru, Pameran “Politik Titik Titik” serangkaian Tatkala May May May 2023  di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Bali.

Dari hobi menjadi profesi

Tak seperti kebanyakan alumni Pendidikan Seni Rupa Undiksha, yang ketika lulus memilih jadi guru, Dudik memilih menjadi seniman. Ia percaya seni bisa menghidupinya dan keluarga kecilnya. Keyakinannya itu tumbuh sejak ia kuliah, tepatnya sejak ia mulai menghasilkan uang dari lukisannya. “Saya berusaha mengubah hobi menjadi profesi,” katanya.

Tak mudah memang, mengingat, Dudik hidup di tengah masyarakat yang masih memiliki pola pikir bahwa seni tak banyak menghasilkan materi.

Mayoritas masyarakat kita memang masih berpikir bahwa profesi seniman itu tak lebih baik daripada PNS, guru, dokter, pilot, polisi, tentara, dan profesi-profesi lain yang dinilai lebih mudah mendapatkan uang—profesi yang jelas-jelas saja.

Tetapi, Dudik percaya, bahwa hobinya, apa yang ia tekuni, juga bisa menghasilkan. Terbukti, sampai hari ini, ia masih banyak menerima pesanan lukisan. Dudik mengaku memasarkan lukisannya di media online. “Banyak pesanan dari hotel, perusahaan-perusahaan, dll,” pungkasnya.[T]

Pelukis Dudik Ariawan Merespon Puisi Sutan Takdir Alisyahbana
I Ketut Wisana Ariyanto: Guru Muda Pelukis Naturalis
Putu Bagus Sastra, Pelukis Cilik Itu Meraih Medali Emas Porsenijar Bali 2023
I Ketut Santosa, Pelukis Wayang Kaca yang Santun dan Sederhana Itu Telah Berpulang
Melawan Keterbatasan – Sosok Pelukis Gede Surya
Tags: lukisanlukisan watercolorSeni RupatokohTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Santi Dewi | Di Terik Akhir Juni

Next Post

Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co