16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Dudik Ariawan: Melukis di Atas Lontar dan Mengubah Hobi Menjadi Profesi

Jaswanto by Jaswanto
July 8, 2023
in Persona
Putu Dudik Ariawan: Melukis di Atas Lontar dan Mengubah Hobi Menjadi Profesi

Putu Dudik Ariawan berpose dengan salah satu karyanya | Foto: Dok. Dudik

MELUKIS itu tampak gampang di mata tapi sulit di tangan. Dan kalau melukis di kanvas saja sulit, apalagi, misalnya, melukis di atas lontar. Tapi, yang sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Nyatanya, sosok pelukis muda yang satu ini cincai-cincai saja saat melakukannya.

Melukis (menggambar) di atas lontar (seni lukis prasi) tentu bukan sesuatu yang baru. Seni yang dikerjakan dengan pengrupak—pisau khusus khas Bali—itu memang sudah dilakukan leluhur Nusantara dulu—di Bali bahkan masih dilestarikan sampai hari ini. Tetapi, di zaman sekarang, tampaknya seni lukis di atas lontar ini belum cukup mendapat perhatian.

Adalah Putu Dudik Ariawan, pelukis kelahiran Kaliasem, 24 Juni 1996, itu termasuk sedikit seniman yang banyak mengeksplorasi daun lontar. Menurutnya, nilai-nilai lontar memiliki aura mistis-magis, kuno, dan sakral.

Dudik—panggilan akrabnya—tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat—sampai memasuki ruang-ruang terkecil kehidupan manusia—dan hal ini memiliki pengaruh besar terhadap caranya memandang lontar.

Ia merasa bahwa banyak orang memandang lontar sebagai benda mistis dan tidak tersentuh, padahal lontar adalah sebuah jembatan untuk mengakses pengetahuan, catatan sejarah, sampai karya seni. “Melalui seni lukis, saya ingin memaknai ulang daun-daun yang dianggap sakral tersebut,” ujarnya kepada Tatkala.co, Kamis (6/7/2023) siang.

Tetapi,seperti umumnya seniman lukis, Dudik, pelukis muda dari Banjar Dinas Lebah, Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Sigaraja, Bali, itu sebelum tertarik dengan seni lukis prasi, ia mengaku menekuni seni lukis aliran realis dan melukis di kanvas terlebih dahulu—ia melukis wajah seseorang dan peristiwa sama bagusnya dengan hasil foto kamera keluaran terbaru.

Lukisan karya Dudik Ariawan / Foto: Dok. Dudik

Dilansir dari Invaluable, seni lukis realis adalah gerakan seni modern pertama yang dimulai di Perancis sekitar tahun 1840. Realisme adalah aliran seni lukis yang melukiskan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari seperti aslinya dan tampak nyata. Tokoh seni lukis beraliran realisme adalah Andrew Wyeth, Edward Hopper, Thomas Eakins, Gustave Courbet, Adolphe Bougeureau, Ivan Kramskot, Gustove Corbet, Adolph Menzel, dan Jean-Francois Millet.

“Awalnya tetap melukis di kanvas. Saya melukis di kanvas sejak SMA. Dan gaya saya dari dulu—dari SMK—memang realis, walau sekarang agak bercampur dengan surealis,” kata Dudik sambil tertawa.

Lukisan karya Dudik Ariawan / Foto: Dok. Dudik

Seniman yang baru saja menjadi seorang ayah itu, mengaku menyukai seni gambar sejak SD. Ia menggambar nyaris di semua buku pelajaran. “Hobi saya memang menggambar, sejak SD, dan sering ikut lomba menggambar waktu itu. Dan SMP saya ikut ekstra lukis, SMK mulai mendalaminya,” ujar perupa alumni jurusan Seni Lukis SMKN 1 Sukasada itu.

Sebagai seorang pelukis, Dudik bisa dikatakan seniman yang berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang diperolehnya, seperti penghargaan Karya Cat Air Terbaik I pada Workshop “Water Colour” 2015, juara II Lomba Melukis Buleleng Bali Dive Festival “BBDF” 2015, juara I Lomba Melukis Buleleng Bali Dive Festival “BBDF” 2016, juara 1 Drawing Contest UN International Day of Peace 2019, dan sebagai Finalist Titian Prize 2020.

Pada tahun 2019, dalam Pameran “Kata Rupa” di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Center Denpasar, Dudik pernah mencoba mengakutualisasi puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Pemacu Ombak—puisi yang terhimpun dalam buku Lagu Pemacu Ombak (1978)—ke dalam sebuah lukisan.

Lukisan karya Dudik Ariawan merespon puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Pemacu Ombak / Foto: Dok. Dudik

“Merespon karya penyair sebenarnya di luar kebiasaan saya dalam berkarya, tapi itulah tantangannya. Waktu itu saya mesti mencari geografi Sutan Takdir untuk menebak pesan apa yang ingin disampaikan dalam puisinya itu,” ujar Dudik.

Ketertarikan terhadap lontar

Dudik mulai jatuh cinta terhadap seni prasi sejak menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Pada masa kuliah, ia tidak hanya mendapat berbagai teknik melukis di kelas, tetapi juga soal benturan wacana di lingkungan pergaulannya di kampus dan luar kampus.

Salah satu hal yang membuatnya tertarik dengan lukisan daun lontar adalah cara kerja melukis di daun lontar berbeda dengan melukis pada umumnya. Ia menyebut, melukis di atas daun lontar sebagai “seni melukai”.

Dalam dunia lukis pada umumnya, perupa bisa langsung melihat torehan garis yang ia buat. Tetapi pada daun lontar, garis tidak langsung terlihat. Sebab, melukis di daun lontar menggunakan alat-alat berupa pisau kecil yang disebut pengerupak dan kemiri yang sudah diolah.

Lukisan Dudik Ariawan di atas lontar / Foto: Dok. Dudik

“Pisau ditoreh untuk membuat garis demi garis dan pada proses ini, garis belum terlihat, baru setelah daun lontar dipoles dengan kemiri, hasilnya terlihat,” jelas Dudik.

Dalam proses mendekatkan diri dengan media lontar, Dudik mulai berkunjung ke Gedong Kirtya—museum yang mengoleksi lontar warisan lelulur—yang terletak di Kota Singaraja, Bali. Tak hanya itu, ia juga membaca dan mempelajari sebuah buku berjudul Mengenal Prasi (1979) yang ditulis oleh I Ketut Suwidja.

“Melukis di daun lontar atau seni prasi sesungguhnya sudah ada sejak lama, tapi sebagian besar berkisah tentang cerita pewayangan dan gambarnya per helai daun, mirip komik,” katanya.

Dudik memang belajar dari lontar yang sudah ada, tapi tidak terpaku pada gaya lama. Sebab, ia sadar betul bahwa pelukis dahulu dan dirinya memiliki cara pandang berbeda terhadap dunia.

Karya-karya Dudik di atas lontar banyak berbicara mengenai isu-isu terkini—dan itu adalah salah satu langkahnya untuk meruntuhkan tembok mistis, sakralitas lontar. Hal ini sekaligus jalan untuk mengajak banyak orang masuk pada substansi lontar dan tidak memandang lontar hanya sebagai benda eksotis semata.

Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni prasi mewarnai proses Dudik dalam berkarya, seperti Pameran Titian Prize 2020 di Titian Art Space, Ubud Bali;Pameran Prasi “Contemporary Palm Leaf Work in Soutsheast Asia” di Center for the book Sanfancisco Amerika Serikat tahun 2019; dan Pameran Prasi “(O)P(E)Rasi” di Santrian Gallery tahun 2018.

Lukisan Dudik Ariawan dalam Pameran “Politik Titik Titik” Tatkala May May May 2023 / Foto: Dok. Dudik

Tak hanya itu, soal pameran, dari mulai tahun 2014 sampai 2023, Dudik memang sudah memiliki banyak pengalaman, di antaranya, yang terbaru, Pameran “Politik Titik Titik” serangkaian Tatkala May May May 2023  di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Bali.

Dari hobi menjadi profesi

Tak seperti kebanyakan alumni Pendidikan Seni Rupa Undiksha, yang ketika lulus memilih jadi guru, Dudik memilih menjadi seniman. Ia percaya seni bisa menghidupinya dan keluarga kecilnya. Keyakinannya itu tumbuh sejak ia kuliah, tepatnya sejak ia mulai menghasilkan uang dari lukisannya. “Saya berusaha mengubah hobi menjadi profesi,” katanya.

Tak mudah memang, mengingat, Dudik hidup di tengah masyarakat yang masih memiliki pola pikir bahwa seni tak banyak menghasilkan materi.

Mayoritas masyarakat kita memang masih berpikir bahwa profesi seniman itu tak lebih baik daripada PNS, guru, dokter, pilot, polisi, tentara, dan profesi-profesi lain yang dinilai lebih mudah mendapatkan uang—profesi yang jelas-jelas saja.

Tetapi, Dudik percaya, bahwa hobinya, apa yang ia tekuni, juga bisa menghasilkan. Terbukti, sampai hari ini, ia masih banyak menerima pesanan lukisan. Dudik mengaku memasarkan lukisannya di media online. “Banyak pesanan dari hotel, perusahaan-perusahaan, dll,” pungkasnya.[T]

Pelukis Dudik Ariawan Merespon Puisi Sutan Takdir Alisyahbana
I Ketut Wisana Ariyanto: Guru Muda Pelukis Naturalis
Putu Bagus Sastra, Pelukis Cilik Itu Meraih Medali Emas Porsenijar Bali 2023
I Ketut Santosa, Pelukis Wayang Kaca yang Santun dan Sederhana Itu Telah Berpulang
Melawan Keterbatasan – Sosok Pelukis Gede Surya
Tags: lukisanlukisan watercolorSeni RupatokohTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Santi Dewi | Di Terik Akhir Juni

Next Post

Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co