26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Dudik Ariawan: Melukis di Atas Lontar dan Mengubah Hobi Menjadi Profesi

Jaswanto by Jaswanto
July 8, 2023
in Persona
Putu Dudik Ariawan: Melukis di Atas Lontar dan Mengubah Hobi Menjadi Profesi

Putu Dudik Ariawan berpose dengan salah satu karyanya | Foto: Dok. Dudik

MELUKIS itu tampak gampang di mata tapi sulit di tangan. Dan kalau melukis di kanvas saja sulit, apalagi, misalnya, melukis di atas lontar. Tapi, yang sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Nyatanya, sosok pelukis muda yang satu ini cincai-cincai saja saat melakukannya.

Melukis (menggambar) di atas lontar (seni lukis prasi) tentu bukan sesuatu yang baru. Seni yang dikerjakan dengan pengrupak—pisau khusus khas Bali—itu memang sudah dilakukan leluhur Nusantara dulu—di Bali bahkan masih dilestarikan sampai hari ini. Tetapi, di zaman sekarang, tampaknya seni lukis di atas lontar ini belum cukup mendapat perhatian.

Adalah Putu Dudik Ariawan, pelukis kelahiran Kaliasem, 24 Juni 1996, itu termasuk sedikit seniman yang banyak mengeksplorasi daun lontar. Menurutnya, nilai-nilai lontar memiliki aura mistis-magis, kuno, dan sakral.

Dudik—panggilan akrabnya—tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat—sampai memasuki ruang-ruang terkecil kehidupan manusia—dan hal ini memiliki pengaruh besar terhadap caranya memandang lontar.

Ia merasa bahwa banyak orang memandang lontar sebagai benda mistis dan tidak tersentuh, padahal lontar adalah sebuah jembatan untuk mengakses pengetahuan, catatan sejarah, sampai karya seni. “Melalui seni lukis, saya ingin memaknai ulang daun-daun yang dianggap sakral tersebut,” ujarnya kepada Tatkala.co, Kamis (6/7/2023) siang.

Tetapi,seperti umumnya seniman lukis, Dudik, pelukis muda dari Banjar Dinas Lebah, Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Sigaraja, Bali, itu sebelum tertarik dengan seni lukis prasi, ia mengaku menekuni seni lukis aliran realis dan melukis di kanvas terlebih dahulu—ia melukis wajah seseorang dan peristiwa sama bagusnya dengan hasil foto kamera keluaran terbaru.

Lukisan karya Dudik Ariawan / Foto: Dok. Dudik

Dilansir dari Invaluable, seni lukis realis adalah gerakan seni modern pertama yang dimulai di Perancis sekitar tahun 1840. Realisme adalah aliran seni lukis yang melukiskan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari seperti aslinya dan tampak nyata. Tokoh seni lukis beraliran realisme adalah Andrew Wyeth, Edward Hopper, Thomas Eakins, Gustave Courbet, Adolphe Bougeureau, Ivan Kramskot, Gustove Corbet, Adolph Menzel, dan Jean-Francois Millet.

“Awalnya tetap melukis di kanvas. Saya melukis di kanvas sejak SMA. Dan gaya saya dari dulu—dari SMK—memang realis, walau sekarang agak bercampur dengan surealis,” kata Dudik sambil tertawa.

Lukisan karya Dudik Ariawan / Foto: Dok. Dudik

Seniman yang baru saja menjadi seorang ayah itu, mengaku menyukai seni gambar sejak SD. Ia menggambar nyaris di semua buku pelajaran. “Hobi saya memang menggambar, sejak SD, dan sering ikut lomba menggambar waktu itu. Dan SMP saya ikut ekstra lukis, SMK mulai mendalaminya,” ujar perupa alumni jurusan Seni Lukis SMKN 1 Sukasada itu.

Sebagai seorang pelukis, Dudik bisa dikatakan seniman yang berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang diperolehnya, seperti penghargaan Karya Cat Air Terbaik I pada Workshop “Water Colour” 2015, juara II Lomba Melukis Buleleng Bali Dive Festival “BBDF” 2015, juara I Lomba Melukis Buleleng Bali Dive Festival “BBDF” 2016, juara 1 Drawing Contest UN International Day of Peace 2019, dan sebagai Finalist Titian Prize 2020.

Pada tahun 2019, dalam Pameran “Kata Rupa” di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Center Denpasar, Dudik pernah mencoba mengakutualisasi puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Pemacu Ombak—puisi yang terhimpun dalam buku Lagu Pemacu Ombak (1978)—ke dalam sebuah lukisan.

Lukisan karya Dudik Ariawan merespon puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Pemacu Ombak / Foto: Dok. Dudik

“Merespon karya penyair sebenarnya di luar kebiasaan saya dalam berkarya, tapi itulah tantangannya. Waktu itu saya mesti mencari geografi Sutan Takdir untuk menebak pesan apa yang ingin disampaikan dalam puisinya itu,” ujar Dudik.

Ketertarikan terhadap lontar

Dudik mulai jatuh cinta terhadap seni prasi sejak menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Pada masa kuliah, ia tidak hanya mendapat berbagai teknik melukis di kelas, tetapi juga soal benturan wacana di lingkungan pergaulannya di kampus dan luar kampus.

Salah satu hal yang membuatnya tertarik dengan lukisan daun lontar adalah cara kerja melukis di daun lontar berbeda dengan melukis pada umumnya. Ia menyebut, melukis di atas daun lontar sebagai “seni melukai”.

Dalam dunia lukis pada umumnya, perupa bisa langsung melihat torehan garis yang ia buat. Tetapi pada daun lontar, garis tidak langsung terlihat. Sebab, melukis di daun lontar menggunakan alat-alat berupa pisau kecil yang disebut pengerupak dan kemiri yang sudah diolah.

Lukisan Dudik Ariawan di atas lontar / Foto: Dok. Dudik

“Pisau ditoreh untuk membuat garis demi garis dan pada proses ini, garis belum terlihat, baru setelah daun lontar dipoles dengan kemiri, hasilnya terlihat,” jelas Dudik.

Dalam proses mendekatkan diri dengan media lontar, Dudik mulai berkunjung ke Gedong Kirtya—museum yang mengoleksi lontar warisan lelulur—yang terletak di Kota Singaraja, Bali. Tak hanya itu, ia juga membaca dan mempelajari sebuah buku berjudul Mengenal Prasi (1979) yang ditulis oleh I Ketut Suwidja.

“Melukis di daun lontar atau seni prasi sesungguhnya sudah ada sejak lama, tapi sebagian besar berkisah tentang cerita pewayangan dan gambarnya per helai daun, mirip komik,” katanya.

Dudik memang belajar dari lontar yang sudah ada, tapi tidak terpaku pada gaya lama. Sebab, ia sadar betul bahwa pelukis dahulu dan dirinya memiliki cara pandang berbeda terhadap dunia.

Karya-karya Dudik di atas lontar banyak berbicara mengenai isu-isu terkini—dan itu adalah salah satu langkahnya untuk meruntuhkan tembok mistis, sakralitas lontar. Hal ini sekaligus jalan untuk mengajak banyak orang masuk pada substansi lontar dan tidak memandang lontar hanya sebagai benda eksotis semata.

Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni prasi mewarnai proses Dudik dalam berkarya, seperti Pameran Titian Prize 2020 di Titian Art Space, Ubud Bali;Pameran Prasi “Contemporary Palm Leaf Work in Soutsheast Asia” di Center for the book Sanfancisco Amerika Serikat tahun 2019; dan Pameran Prasi “(O)P(E)Rasi” di Santrian Gallery tahun 2018.

Lukisan Dudik Ariawan dalam Pameran “Politik Titik Titik” Tatkala May May May 2023 / Foto: Dok. Dudik

Tak hanya itu, soal pameran, dari mulai tahun 2014 sampai 2023, Dudik memang sudah memiliki banyak pengalaman, di antaranya, yang terbaru, Pameran “Politik Titik Titik” serangkaian Tatkala May May May 2023  di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Bali.

Dari hobi menjadi profesi

Tak seperti kebanyakan alumni Pendidikan Seni Rupa Undiksha, yang ketika lulus memilih jadi guru, Dudik memilih menjadi seniman. Ia percaya seni bisa menghidupinya dan keluarga kecilnya. Keyakinannya itu tumbuh sejak ia kuliah, tepatnya sejak ia mulai menghasilkan uang dari lukisannya. “Saya berusaha mengubah hobi menjadi profesi,” katanya.

Tak mudah memang, mengingat, Dudik hidup di tengah masyarakat yang masih memiliki pola pikir bahwa seni tak banyak menghasilkan materi.

Mayoritas masyarakat kita memang masih berpikir bahwa profesi seniman itu tak lebih baik daripada PNS, guru, dokter, pilot, polisi, tentara, dan profesi-profesi lain yang dinilai lebih mudah mendapatkan uang—profesi yang jelas-jelas saja.

Tetapi, Dudik percaya, bahwa hobinya, apa yang ia tekuni, juga bisa menghasilkan. Terbukti, sampai hari ini, ia masih banyak menerima pesanan lukisan. Dudik mengaku memasarkan lukisannya di media online. “Banyak pesanan dari hotel, perusahaan-perusahaan, dll,” pungkasnya.[T]

Pelukis Dudik Ariawan Merespon Puisi Sutan Takdir Alisyahbana
I Ketut Wisana Ariyanto: Guru Muda Pelukis Naturalis
Putu Bagus Sastra, Pelukis Cilik Itu Meraih Medali Emas Porsenijar Bali 2023
I Ketut Santosa, Pelukis Wayang Kaca yang Santun dan Sederhana Itu Telah Berpulang
Melawan Keterbatasan – Sosok Pelukis Gede Surya
Tags: lukisanlukisan watercolorSeni RupatokohTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Santi Dewi | Di Terik Akhir Juni

Next Post

Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co