25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Ketut Wisana Ariyanto: Guru Muda Pelukis Naturalis

Jaswanto by Jaswanto
June 24, 2023
in Persona
I Ketut Wisana Ariyanto: Guru Muda Pelukis Naturalis

I Ketut Wisana Ariyanto | Foto: Dok. Tatkala.co

SAAT KUAS di tangan I Ketut Wisana Ariyanto, kanvas lukis terasa bagaikan panggung sulap. Ilusinya membuat lukisan tampak sederhana, tetapi amat rumit bagi seorang amatir.

Pria kelahiran Gobleg, 19 Oktober 1987, itu memang tampak begitu akrab dengan kanvas, kuas, cat, palet, dan semua hal yang berkaitan dengan seni lukis lainnya—ia mengenal seni lukis sama akrabnya dengan mengenal dirinya sendiri.

Dan wajar memang, mengingat, pria yang saat ini berprofesi sebagai guru Seni Budaya di SMP Negeri 2 Banjar itu, adalah seorang sarjanan Pendidikan Seni Rupa, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali, dua belas tahun yang lalu.

I Ketut Wisana Ariyanto berpose di depan dua lukisan karyanya yang dipajang di Pameran Seni Rupa “Politik Titik Titik” Tatkala May May May 2023 / Foto: Dok. Tatkala.co

Ya, sekadar menengok masa lalu, Kota Singaraja, dalam hal kesenirupaan—khususnya setelah kemerdekaan—, memang menjadi tempat pertama berdirinya lembaga pendidikan formal seni rupa di Bali yang bernama sekolah Rupa Datu, sekolah seni yang berdiri pada tahun 1957.

Dari dulu, Buleleng memang memiliki banyak pelukis akademis maupun non akademis. Pelukis akademis dari Buleleng telah muncul tahun 1970-an. Ada tokoh bernama I Nyoman Tusan. Dalam katalog Suryakanta, Hardiman—tokoh pelukis akademis Undiksha, dosen Wisana Ariyanto—mengatakan bahwa I Nyoman Tusan sebagai pelukis akademis pertama di Bali.

Dan Wisana Ariyanto, pelukis generasi baru, seperti kebanyakan seniman, juga memiliki niat menggambar sejak kecil. “Niat untuk menggambar sebenarnya sudah dari kecil, tapi karena nggak ada wadah, jadi niat itu luntur,” katanya kepada Tatkala.co, Jumat (24/6/2/23) siang.

Lukisan karya I Ketut Wisana Ariyanto / Foto: Dok. Wisana Ariyanto

Guru seni budaya yang tinggal di Banjar Dinas Jembong, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, itu mengaku mulai menekuni seni rupa sejak ia menjadi siswa di SMA Negeri 1 Singaraja. Di sekolah inilah, ia mulai menggali bakat, mengasah skill, berusaha mendekatkan diri dengan tinta, kanvas, dan teori-teori seputar lukisan. “Saya menentukan sikap ya waktu sekolah di SMANSA Singaraja, di sana saya belajar gambar teknik,” tutur Ariyanto.

Setelah tamat dari SMA tahun 2006, Ariyanto sempat ingin melanjutkan pendidikan, kuliah, dan mengambil jurusan arsitek, tetapi karena pertimbangan banyak hal, akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan ke Undiksha dan memilih jurusan seni rupa. “Karena waktu itu uangnya kurang untuk masuk artisek,” katanya sambil tertawa.

Ariyanto terdaftar sebagai mahasiswa Seni Rupa, Undiksha, pada tahun 2006 dan lulus lima tahun setelahnya.

Belajar dari nol

Menjadi mahasiswa seni rupa barangkali adalah titik awal Ariyanto menjadi seperti sekarang—walaupun hal itu tentu juga dipengaruhi pengetahuan dan pengalamannya sejak kecil. Ia mengaku belajar dari nol di Undiksha. Mengingat, jurusan Pendidikan Seni Rupa ternyata tidak hanya mengajarkan mahasiswanya belajar melukis saja, tapi juga mengajarkan banyak hal tentang seni rupa. “Kami diajari tentang kayu, keramik, tekstil, kerajinan, lukisan, patung—banyak, deh,” ujarnya.

Saat menjadi mahasiswa, Ariyanto mengaku banyak belajar dari salah satu dosennya, I Wayan Sudiarta, namanya. Dosen yang mengajarinya tentang menggambar anatomi plastis, prasimologi, perencanaan pembelajaran, belajar dan pembelajaran, wawasan kependidikan, dan seminar itu, menurutnya tak hanya mampu menjadi dosen, tapi juga mampu menjadi seorang bapak, saudara, dan teman dekat.

“Saya kagum sama beliau. Selain cara mengajarnya enak, beliau juga memiliki banyak pemikiran kreatif—ide-ide kreatifnya berlimpah,” kata Ariyawan.

Pengetahun dan pengalaman selama diajar oleh Wayan Sudiarta inilah, yang menjadi bekal saat ia memutuskan menjadi seorang pendidik, guru seni budaya.

Selain banyak belajar dari dosen, Ariyanto juga banyak belajar dari teman-temannya yang berasal dari Gianyar dan Denpasar—yang notabene memang sudah dekat dengan dunia seni rupa. Tetapi, menurut Ariyanto, mereka hanya menang diteknik, soal teori, konsep dan gagasan, ia tak kalah dengan mereka.

Sejak saat itulah, Ariyanto memiliki pandangan bahwa seni rupa bukan hanya sekadar lukisan, patung, ukiran, atau sekumpulan karya yang terdapat di galeri-galeri seni, tetapi juga soal instalasi di jalan, dekorasi-dekorasi, hingga berbagai macam perabot rumah juga termasuk karya seni rupa—di Indonesia, karya seni rupa meluber saking banyaknya.

Benar, sudah sejak zaman dulu sebenarnya (tepatnya mungkin pada masa zaman batu tua Phaleolitikum), manusia pra-aksara sudah menciptakan karya seni rupa berupa kapak batu kasar—waktu itu sepertinya tubuh manusia memang tinggi-tinggi dan besar-besar.

Dalam tulisan Melihat Indonesia Melalui Seni, Feby Anggraini mengatakan: “Seiring berkembangnya waktu manusia pra-aksara mulai mengenal karya seni lukis. Mereka melukis di dinding dan langit-langit gua. Hal tersebut membuktikan bahwa perkembangan zaman juga diikuti oleh perkembangan seni rupa.”

Di negara yang kita cintai ini, seni rupa mengalami perkembangan yang sangat pesat. Banyak orang “berlomba-lomba” menciptakan karya seni rupa, mulai dari seni pahat, seni lukis, seni patung, seni kriya, hingga seni desain dan media art. Begitu pula dengan Ariyanto yang mengaku tak membatasi dirinya terhadap seni rupa.

Dan dalam hal berkesenian, pria ini memang bisa dibilang memiliki segudang pengalaman. Pada 2007, misalnya, ia ikut serta melukis bersama dalam Festival Kesenian Indonesia ke-5 di Denpasar; ikut serta dalam Bigsale art di Taman kota Singaraja, Bali; dan memamerkan karyanya dalam pameran karya mandiri HUT Gamasera ke-21 di Singaraja, Bali.

Tak sampai di situ, pada 2009, karyanya tampil dalam performance art “Apa Ini Apa Itu”di Pantai Lepang, Klungkung, Bali; pameran “Membaca Bulian”di Museum Neka, Ubud, Bali; dan melukis bersama di HUT Gamasera ke-23, Taman Kota Singaraja, Bali.

Lukisan karya I Ketut Wisana Ariyanto / Foto: Dok. Wisana Ariyanto

Pada tahun 2010, Pameran Tugas Akhir “Self-Realization” di Museum Puri Lukisan, Ratna Wartha Ubud, Bali; Pameran Eksplo[ra]si Undiksha Singaraja dan Isi Denpasar di Hanna Artspace Ubud-Bali; dan Performance art ”Valentine” di Teater Awan Fakultas Ilmu Pendidikan, Undiksha Singaraja, Bali.

Tahun 2011 sampai 2013, ia pameran bersama Kelompok Perupa Buleleng “Hitam Putih”di Eks Pelabuhan Buleleng, Singaraja, Bali, 2011; pameran bersama opening “John Hardi Art Patio” 2012 di Lovina, Buleleng-Bali; pameran partisipasi HUT Kota Singaraja tahun 2012 di eks Pelabuhan Buleleng-Bali; pameran bersama Kelompok Perupa Buleleng “Golden Point(s)”di eks Pelabuhan Buleleng Bali;  Pameran bersama “Gradasi” di Art-House, Lovina, Singaraja, Bali; dan 2013, ia pameran bersama serangkaian Bulfest “Suryakanta” di rumah jabatan Bupati Buleleng.

Sedangkan pada tahun 2014, pameran bersama dosen dan alumni Jurusan Pendidikan Seni Rupa Undiksha “Locomotion” di Museum seni Neka Ubud, Gianyar 2014;  pameran bersama “Meadonan”di Lingkar Art Space 2014; pameran bersama kartun internasional di Gedung Imaco Eks Pelabuhan Buleleng 2014 Serangkaian Gerakan Peduli Sampah #2 oleh Manik Bumi Foundation.

Sementara itu, pada tahun 2016 dan 2020, ia pameran bersama mahasiswa, dosen dan alumni “Kekerabatan”di ruang pameran FBS-Undiksha  dan mengikuti peragaan dan pagelaran seni virtual 2020 pada kegiatan Pesta Kesenian Bali ke-42.

Dan yang terbaru, Ariyanto memamerkan lukisannya dalam Pameran Seni Rupa “Politik Titik Titik” Tatkala May May May 2023 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja.

Pelukis naturalis

Saat diwawancarai Tatkala.co, dalam melukis, Ariyanto mengaku lebih cenderung menyukai aliran naturalis daripada aliran lain seperti misal ekspresionisme macam Affandi atau Vincent van Gogh, surealisme macam Salvador Dali dengan lukisannya “The Burning Giraffe” yang terkenal itu, atau abstrakisme macam Wassily Kandinsky.

“Saya menyukai air, batu, sungai, pemandangan. Menurutnya saya, ada sesuatu yang membuat saya tenang aja saat memandangi objek itu dan melukiskannya,” ujar Ariyanto sambil membenahi kacamatanya yang turun sampai pangkal hidung.

Sekadar informasi, naturalisme adalah aliran seni lukis yang bertemakan alam, yang penggambarannya alami atau sesuai dengan keadaan alam. Orang-orang penganut aliran ini melukis segala sesuatu yang berkaitan dengan alam nyata, sehingga perbandingan perspektif tekstur, atau warna serta gelap terang dibuat dengan seteliti mungkin—bahkan kadang lebih indah dari kenyataannya. Beberapa tokoh seniman beraliran naturalisme ialah Basuki Abdullah, Abdullah Suriosubroto, dan John Constable.

Lukisan karya I Ketut Wisana Ariyanto / Foto: Dok. Wisana Ariyanto

Berkembangnya aliran naturalisme tak lepas dari peran para pelukis yang memperkenalkannya dalam lukisannya. John Constable, seniman Inggris yang dikenal lewat lukisannya “The Hay Wain” (1821), dinilai menjadi pionir aliran ini  

Mengutip situs Art in Context, lukisan itu menggambarkan gerobak kuda yang menyeberangi sungai yang dikelilingi pemandangan rumah dan pertanian. Lukisan itu juga menggambarkan detail tentang pencahayaan matahari, pepohonan, dan juga awan.

Dan Wisana Ariyanto, guru muda pelukis naturalis yang pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Seni Rupa Undiksha periode 2007/2008 dan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha periode 2008/2009 itu, pada akhirnya, kini sudah jarang melukis—walaupun beberapa kali ia masih dipercaya sebagai tim juri lomba menggambar dan mewarnai di Singaraja. “Saya sudah sibuk di sekolah,” katanya.

Meski demikian, ia mengaku, jiwa seninya tetap ada dalam tubuhnya. Ariyanto memang sudah jarang melukis, tapi semangatnya dalam berkesenian, kini ia tularkan kepada siswa-siswanya di SMP Negeri 2 Banjar. Benar, selain menjadi guru seni budaya, ia juga menjadi pembina seni rupa.[T]

I Ketut Santosa, Pelukis Wayang Kaca yang Santun dan Sederhana Itu Telah Berpulang
Tiga Pelukis SDI Melukis Sembari Bernostalgia dalam Acara GKR Indonesia di Yogyakarta
Pelukis Dudik Ariawan Merespon Puisi Sutan Takdir Alisyahbana
Hardiman Selesaikan 120 Lukisan Saat Pandemi, Siap-siap Pameran Tunggal di Bandung
Tags: balibulelenglukisanSeni RupaSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pak Erick Semakin Dekat dengan Kursi Cawapres?

Next Post

Seniman-seniman Cilik Pilih Tanding dalam Lomba Gender Wayang

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails
Next Post
Seniman-seniman Cilik Pilih Tanding dalam Lomba Gender Wayang

Seniman-seniman Cilik Pilih Tanding dalam Lomba Gender Wayang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co