24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
July 1, 2023
in Cerpen
Mahkota Cinta | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

AKU TAHU mahkota itu, aku melihatnya. Sebuah mahkota Wijaya Kusuma, putih terang dibingkai kuning emas berkilauan, mahkota kemenangan cinta kasih. Sebagai ibu aku ingin segera menyematkannya di atas kepalamu 

Tapi kau berkelit, selalu punya alasan untuk berkelit. 

“Hidup ini maya, aku tak ingin menjadi raja, Ibu.”

Kata-kata lirihmu memantul pada daun-daun pinus yang berwarna ungu diterpa matahari sore di  puncak gunung tertinggi itu. Tapi aku nendengarnya seperi lagu rock and roll yang menyentak berontak. 

Ahhh aku lupa, tentu yang kau impikan bukan tangan ibumu yang tua, letih  gemetar ini yang menyematkannya. Aku benar-benar lupa yang saat ini menyeruak keluar tak terbendung dari tubuhnya adalah sosok Karna, tokoh dalam Mahabartha yang merindukan Drupadi, perempuan suci yang terlahir dari api persembahan. Yang karena takdir tak kuasa kau miliki. 

“Takdir,  takdir… .. “

Suara itu bertalu-talu dalam telinganya dari jaman ke jaman, dari yuga ke yuga, dari kelahiran demi kelahiran. Kini ia telah terima takdirnya untuk terlahir kembali demi berbakti pada Ibu Kunti  yang bahkan telah membuangnya, untuk menutupi aib.

Saat hawa panas itu menaruh kakinya, menyedotnya dan menghempaskan ke dunia fana ini, ia bahkan tak sempat membuka mata dalam kekusyukan tapanya. 

“Ibu masih saja lugu, bodoh dan keras kepala sehingga mudah ditipu para Dewa dengan dalih menyelamatkan dunia. Seperti ayahku dulu menitipiku padamu, hanya untuk menambah peran antagonis yang mengundang rasa iba dalam kisah besar keluarga bharata,” gumamnya dalam diam.

Karena takdir bermasa-masa ia telah belajar dan berhasil melewati kata-kata kutukan yang kasar, juga sesalnya pada ibu bapanya. Ketulusan cintanya yang besar pada penerimaan takdir juga cintanya pada Drupadi telah membebaskannya. Menghadiahkannya mahkota WIjaya Kusuma bunga kemenangan cinta 

Dalam diri lelaki gagah itu ada Karna, putra tertua Pandawa, sakti mandraguna terdepan dalam memanah, tak ada satupun sasaran yang meleset dari bidikannya. Hanya Drupadi, hati wanita itu luput, selalu luput dari sasaran panahnya. Tidak saat raja Pancala mencarikan suami bagi putrinya Drupadi. Saat itu Karna yakin menang, sorot mata Drupadi juga menggungkapkan  cinta yang dalam dan tulus.

“Bukankah mata wanita sulit menipu?”

Drupadi wanita suci itu telah jatuh cinta, Karna yakin itu. Tapi Karna kecewa, sangat kecewa, nyaris dendam karena mata Drupadi tunduk pada status Karna yang dianggap bukan ksatria, dan tak berhak mengikuti sayembara. Harga diri Karna terhempas, ia merasa dipermalukan. Itu pertama kalinya putra Dewa Surya ini menelan kecewa. Sebagai ksatria tanpa tanding Karna berjanji pada dirinya untuk mendapatkan Drupadi, melalui kelahiran demi kelahiran, yuga demi yuga, dalam tapa brata dan pengekangan diri yang keras dan berat.

Kini Drupadi adalah takdirnya. Setelah kelahiran terakhir sebagai Bung Karno, Putra Fajar yang diberikan hak memimpin kerajaan Astina yang baru, nusantara, semesta telah mempermainkannya, menyembunyikan Drupadi dalam lipatan waktu. 

Karna nyaris tak percaya pada karma dan kebenaran dharma, karena perjuangan cintanya yang tulus di abad 8 tak mempertemukannya dengan Drupadi yang ada dalam diri Loro Longgrang.

Karma benar-benar marah, karena ayahnya Dewa Surya justru bersekutu dengan wanita yang dicintainya, untuk menggagalkannya mendapatkan Drupadi. Kemarahan yang besar telah membakar kecintaannya itu menjadi batu. Saat itu Karna yang ada dalam raga Bandung Bondowoso, benar-benar dalam puncak kemarahannya. Sehingga Dewa Surya menghiburnya memberikannya kerajaan demi kerajaan yang tak ia minati. 

Kini sungguh Karna juga sudah tak peduli,, dengan kerajaan maupun Drupadi. 

Saat bayangan perempuan cantik itu muncul dengan  mahkota wijaya kusuma di tangan, Karna tak juga membuka matanya  ia masih sibuk dengan lontar-lontarnya dan merakit kisahnya dalam arca -arca peninggalan arkeologi. 

Di pura itu, Karna terpana, nyaris tak percaya, mahkota itu disematkan oleh ibunya, bukan Drupadi seperti yang dijanjikan.

“Ibuku adalah Kunti bukan Drupadi, kecintaanku adalah Drupadi bukan Kunti.” Kecerdasan Karna tak mampu menembus teka-teki itu. Karna sedikit merasa lucu, saat ibunya nengerling genit. 

“Ingat ibu sudah tua, ingat umur,” ejek Karna yang membuat ibunya keki. 

“Ibu masih saja bodoh, lugu dan kepala batu, tugas anak hanya mengungatkan, diterima tidaknya terserah yang diingatkan, ” tandas Karna 

“Bukannya kamu yang mengutukku jadi batu dan  kepala batu?” Ibunya terkekeh. 

Mata Karna mengerjap ngerjap. Mahkota wijaya kusuma itu berpendar-pendar.

Sungguh ia ingin Drupadi, wanita muda dan cantik itu, yang menyematkannya dengan penuh rasa cinta. 

Sialan. [T]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Pernikahan Ketut Sujana | Cerpen Krisna Wiryasuta
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi GM Sukawidana | Rumah Warna Snerayuza

Next Post

Percumbuan Estetik Nawa-Sena

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Percumbuan Estetik Nawa-Sena

Percumbuan Estetik Nawa-Sena

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co