22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebaya | Cerpen Ikrom F.

Ikrom F. by Ikrom F.
February 18, 2023
in Cerpen
Kebaya | Cerpen Ikrom F.

Ilustrasi tatkala.co | IB Pandit

BAHKAN AIR HUJAN pun tidak bisa mengubah takdir anakku.

“Tapi, ia bisa mengenakan baju kebayamu, bukan?” Begitu kata ibu di telepon. “Jadi bagaimana? Sore ini kau ada di rumah, ya?”

Demi meyakinkan ia bahwa aku menyetujui tawarannya, maka kukatakan, “Ya.”

Sore itu hujan cukup deras, nyaris aku tak mendengar ketukan di pintu. Seperti apa dia sekarang? Sudah lima bulan kami tak bertegur sapa. Mau bagaimana lagi? Perselisihan itu demikian hebatnya. Aku mengikuti keinginan anakku dan ibu tak setuju. Ternyata begitulah; sebagai makhluk dengan banyak dimensi, ibu tahu tentang banyak hal tentang rahasia dunia. Termasuk kebohonganku dan kebiasaan buruk anakku. Dan ia tak bisa mengatakan kepada anaknya yang tetap saja menjalani pilihan hidupnya. Ia terus bertengkar dengan dirinya demi masalah sepele; Ia tak mengijinkan cucunya untuk meninggalkan sifat perempuan desa.

“Aku sudah hidup sebelum waktu berubah!” Begitu keluhnya, “Baru kali ini aku harus menghadapi persoalan seberat ini.” Lalu ia berdecak. “Sudahlah.”

Dan kini ia berdiri di depan pintuku. Air menetes dari rambut yang terurai panjang, dan sebagian celananya tampak basah. Jarak dari tempat ia memakir mobil ke rumahku (aku tak punya garasi) cukup membuatnya basah kuyub dan ibu tidak pernah bergegas. Ia ada sepanjang masa dan tentunya abadi. Untuk apa ia bergegas?

Sebenarnya kami tak akan pernah tahu lagi alasan mengapa kami dulu bertengkar; setidaknya aku merasa tak seharusnya bertindak seperti itu. Ibuku kembali ke wujud aslinya dalam kehidupan sehari-hari, kalau ia tidak sedang bertugas, ia lebih suka tenggelam dalam televisi dan dapur. Ia sungguh menyukai sinetron.

Kalau sudah begitu, seluruh dunia seperti harus menunggu perhatian darinya. Ia tak pernah memperhatikan apa pun ketika tenggelam dalam sinetron di layar televisi. Di televisi misalnya, tentulah ia tidak mencari drama asmara remaja; seperti halnya orang lain, ia menyukai tayangan soal masalah pertengkaran, kejahatan dan perselingkuhan.

Ada kebiasaan ibu yang kusuka tiap kali ia selesai menonton sinetron, terutama masalah film yang ia cintai. Ia akan menyorongkan bibir bawahnya ke depan, mencibir, lalu menggumam.

“Huh. Kenapa dia tak berani melawan? Dan mengapa harus menangis? Jika aku sendiri yang mengalami, pastilah aku pukul orang itu, sampai babak belur kalau perlu.”

Ia sendiri tak pernah mau banyak bicara soal pekerjaannya. Sejak ayah meninggal, ia tak pernah bercerita, apalagi kepada anak satu-satunya.

“Urusan menyiapkan makanan dari dapur dan mencuci baju itu hanya sebagian kecil dari pekerjaanku!” Begitu ia pernah berkata dengan emak-emak saat sedang berkumpul di teras rumah, jauh sebelum pertengkaran tentang kelakuan buruk cucunya. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan serbet, yang sebetulnya untuk mengusap piring.

“Kalau kau ingin mau dianggap sebagai perempuan desa, maka kau hanya perlu meniru perilaku layaknya orang-orang desa pada umumnya.” Ia berkata sambil menunjuk sebuah baju kebaya yang tergantung di lemari dengan tangannya.  

“Supaya kau tidak terlihat seperti orang asing, maka kau memerlukan baju-baju khas orang desa yang terjual di pasar. Harganya murah. Dan aku yakin suatu saat, anak cucumu nanti akan menyukainya. Terutama suamimu. Karena itu lebih sopan dibandingkan yang lain.”

Ia lantas mengambil kebaya dari gantungan bajunya. “Ini.” Ia berkata sambil menatapku dengan pandangan yang cemas.

Dan ia hanya menghembuskan nafas.

Aku mengangkat bahu. Tingkah ibu selalu membuatku pusing.

Ibu lalu melanjutkan pekerjannya melipat baju.

“Nak, mungkin aku yang selalu merasa khawatir terhadap kehidupan keluargamu kelak. Aku tidak tahu sampai kapan hidup ini tak ada yang perlu dicemaskan. Ayahmu mungkin akan menertawakanku di sana. Bahwa ibumu belum bisa belajar menerima kenyataan. Jadi, ibu memang perlu memperhatikanmu lebih dalam lagi. Kita perlu membangun janji agar ibu bisa lega. Kehidupan ini selalu diisi oleh orang-orang yang penuh janji,” katanya.

“Barangkali ibumu benar, Da. Di masa depan, kita tidak tahu seperti apa wajah dunia,” kata emak yang lain ikut-ikutan menimpali pesan ibuku.

Dan kini ia berdiri di depanku. Matanya sekilas berkilat merah seperti batu rubi, tapi kemudian kembali menjadi mata manusia biasa. Di tangannya ia meneteng kantong besar warna merah berisi kebaya.

Ia mengangkat kantong besar itu dan menyeringai bahagia.

“Dinda,” katanya, lirih dan hangat. Ini terasa seperti kalau engkau meminum segelas teh panas sesudah hujan-hujanan.

Ia memelukku erat. Dan aku pun sebaliknya. Sudah lima bulan. Aku tidak abadi, aku akan mati seperti manusia lain, itu pun kalau kematianku wajar (dan sialan, ibu tak mau memberitahuku perihal itu); aku akan mati karena usia tua, karena setiap organ dalam tubuhku gagal berfungsi. Lima bulan bagiku adalah waktu yang lama, tapi juga sebentar rasanya. Kadang lebih sebentar lagi jika aku berada bersama anakku yang kini entah di mana.

Sedangkan bagi ibuku lima bulan atau lima puluh bulan sudah tak berarti lagi. Aku tak tahu bagaimana rasanya hidup sepanjang masa.

“Percayalah, kau tak akan mau hidup selamanya.” Begitu ibuku kerap berkata padaku.

Soal keabadian bisa dibahas nanti. Kini tentu saja aku senang bahwa ibu datang. Tiba-tiba kusadari bahwa aku merindukannya dan ingin menceritakan kepadanya banyak hal.

Tapi pertama-tama tentu saja yang kudengar adalah suara terbahak-bahak ibu ketika ia masuk dan melihat kebaya yang lusuh seperti lama tak terpakai. Ada warna hitam kemerah-merahan yang pudar disetiap corak kebaya itu.

 “Kau benar-benar rindu ya,” katanya setelah tawanya reda.

Aku mengangguk. Ya, aku rindu, dan egoku sudah menghalang-halangi diriku untuk memanggilnya. Dan akhirnya, ketika seluruh duniaku seperti runtuh habis-habisan tadi malam, maka aku memanggil ibu. Apa yang akan kuceritakan padanya? Ibu pernah menghadiahi aku sebuah kebaya Jawa peninggalan nenek.

“Karena engkau harus mengenakannya sendiri,” katanya.

“Apapun itu. Aku bisa saja mendandanimu. Karena kau tak bisa bertata rias sebagaimana perempuan-perempuan desa. Sungguh beruntung nenekmu; ada yang masih menjaga kebiasaan keluarganya. Engkau dan anakmu, tak akan pernah seperti itu. Cobalah kau kenakan kebaya itu sekarang, aku ingin lihat.”

Dan tadi malam, kebaya yang sudah tersimpan di antara lemari lain itu aku cari-cari. Aku obrak-abrik seluruh kamarku. Aku jungkirbalikkan semua laci. Aku tak pernah membuang kebaya itu. Semua pemberiannya tak pernah kubuang, juga setelah kami bertengkar hebat tentang anakku.

Beberapa jam tentu saja kutemukan kebaya peninggalan nenek itu. Ia sudah lusuh dan berdebu. Warnanya pun sudah mulai pudar. Malah lebih pudar dengan punyaku juga anakku. Lalu aku seperti bisa mengerti bagaimana menjadi perempuan desa.

Aku baru ingat ketika pertama kali melihat ibu mengenakan kebaya.

“Cantik sekali. Di mana aku bisa mengenakannya, Bu?” Begitu tanyaku karena kebaya yang dipakainya sangat sesuai dengan fisiknya.

“Nanti ibu akan belikan di pasar. Sabar ya,” katanya.

Maka seperti anak kecil yang baru saja dapat baju lebaran, kebaya itu selalu dipandanginya dengan takjub. Sambil menunggu hari esok, ia mulai merenung dan sulit untuk beranjak tidur. Tidak sabar akan suatu hari di mana ia dilihat oleh orang-orang. Termasuk kecantikannya saat mengenakan baju kebaya.

Kini setelah aku mengenakannya kembali, aku tampak seperti gadis. Gila, sulit rasanya menemukan sesuatu yang baru dariku. Lalu kupanggil ibu dan rupanya ia tersenyum. Tapi matanya tetap cemas. Aku pun merasakan yang sama dengan ibu.

“Seandainya anakmu bisa melihat ini, Nak. Mungkin dia tidak akan sepeti itu jadinya,” katanya

Baru kali ini aku setuju dengan ibu. Ya, keburukan anakku adalah ia lebih memilih gaya yang disukainya daripada warisan keluarga. Bahkan air hujan pun tak bisa mengubah takdir anakku. Aku mengangguk dan mulai bercerita,

“Semuanya karena masa depan, Bu. Masa depan adalah wajah suram dan petaka bagi kita.” [T]

Lubangsa, 20 Desember 2022

BACA cerpen-cerpen lain

Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole
Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Redika | Pohon Airlangga, Alamat Bapa, Luka Jayadhrata

Next Post

Menjamin Hak Pilih Disabilitas Intelektual pada Pemilu 2024

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Menjamin Hak Pilih Disabilitas Intelektual pada Pemilu 2024

Menjamin Hak Pilih Disabilitas Intelektual pada Pemilu 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co