24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mandeg | Cerpen Devy Gita

Devy Gita by Devy Gita
February 4, 2023
in Cerpen
Mandeg | Cerpen Devy Gita

Ilustrasi tatkala.co | Pandit

BAYANGKAN, aku sudah duduk di café ini sejak pagi, saat mereka baru saja meletakkan papan menu spesial hari ini di depan pintu. Pelayan mempersilakanku masuk dengan ramah, lalu aku memesan segelas kopi dan roti bakar paket hemat seharga 20 ribu rupiah.

Kubuka laptop dengan riang sambil berharap dengan bekerja di tempat yang lebih terlihat mahal dibandingkan dengan ruang kerja rumahku yang sumpek penuh barang di sana sini, bisa membuka dan menerangi jalur imajinasiku yang gelap gulita. Bukan lagi pemadaman bergilir yang melanda tapi hampir pemadaman permanen.

Karena sekarang sudah lewat tengah hari, telah pula tandas tiga paket hemat dan sebungkus rokok, layar laptop masih seputih kulit Putri Salju. Gawat ini gawat.

Ke mana perginya kata-kata? Entah pikiran ini sedang kosong atau malah terlalu banyak narasi yang berebut ingin dituliskan. Perlombaan yang tidak dimenangkan oleh cerita manapun kali ini kurasa. Karena tak satu pun di antara mereka yang memperlihatkan dirinya di layar.

Alunan musik jazz dan beberapa orang di sampingku terlihat begitu sibuk dengan laptop masing-masing. Sesekali mereka meneguk minuman pesanan di atas meja. Aku pun setia berkutat dengan laptopku sendiri, juga secangkir kopi dan roti bakar paket hemat yang kupesan lagi.. Kupandangi layar yang masih putih di hadapanku.

Terlalu banyak yang terjadi membuat imajinasi seperti mengurungkan niatnya muncul. Ia memilih menyembunyikan diri di balik tumpukan kejadian yang terekam acak di dalam otak. Biasanya, ia dengan jemawa menyombongkan diri dan menghasilkan fiksi yang membuat pembacanya larut.

Apakah beberapa waktu ini ia menjadi pemalu karena realita jauh lebih fiksi dari imajinasi itu sendiri?

Aku rasa begitu, banyak yang dirasakan tubuh ini. Saking tak terhitungnya, mata dan telinga memilih untuk pingsan sementara. Namun, otak enggan rehat dan memilih meneruskan kegiatannya memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipusingkan. Memaksa mata terbuka dengan malas. Rasa tak suka ditunjukkan dengan perih yang teramat sangat hingga air mata menyeruak di sudutnya.

Sial, pikirku. Perdebatan otak dan kepala yang tidak terelakkan membuat rasa kopi susu manis ini hambar. Begitu pula jari-jari yang biasanya menari dengan liarnya di atas papan huruf seketika kaku. Ia lebih semangat menyulut rokok, mengarahkannya ke bibir untuk mengepulkan asap beraroma mint segar. Berharap dari asap itu, imajinasi mendapatkan sedikit keberanian untuk memunculkan entah ujung rambut atau melongokkan sedikit kepalanya.

“Kau sedang menulis apa?”

Wawan, seorang teman sesama penulis mengintip layarku penasaran. Sedari tadi ia cekatan mengetik ratusan bahkan ribuan kata di sebelahku. Imajinasinya berhamburan di atas layar.

“Kosong?” tanyanya heran sembari memandangiku yang sedang menyalakkan sebatang rokok lagi.

 “Kepalaku buntu. Otakku semrawut,” jawabku singkat. Menoleh sedikit ke layar laptop Wawan yang penuh tulisan, aku meringis.

Nutrisi otak Wawan lebih berkualitas dariku. Ia memberi asupan yang bergizi dengan membaca banyak buku dan jurnal penuh ilmu. Segala isi buku dikunyahnya lahap. Ia mampu mengingat hal-hal menarik dari huruf-huruf yang ia baca. Aku iri. Sedangkan aku, aku tak pernah mengingat hal penting dari dalam buku.

Aku lemah dalam menelaah filsafat maupun topik dengan isu yang berat. Berpikir mendalam bukan kapasitasku, hanya cerita fantasi dan fiksi ringan yang ku nikmati dengan senang hati. Isi kepalaku terlalu rumit untuk hal sederhana tapi terlalu sederhana untuk hal rumit.

Aku bersandar dan memandang langit-langit café sambil memilah ingatan yang mungkin cukup menarik untuk diceritakan ditambah racikan bumbu di sana sini. Kejadian demi kejadian silam satu per satu mulai berputar pelan namun kusut. Sial. Kucari ujungnya, kutarik perlahan. Berharap jika kulakukan tidak terburu-buru, kecarutmarutan ini bisa lepas dan lega. Mungkin kisah-kisah itu tumpang tindih, saling gelut, saling ikat hingga terlalu sulit menemukan ujung dan mulai mengurainya kembali. Bahkan jika aku salah menarik ujungnya, bisa-bisa carut marut itu makin terkunci dan membuatku menjadi gila.

Sudah tidak produktif, gila pula. Kurang apa lagi? Bagaimana bisa kusebut diriku penulis jika otakku berbuat semaunya?

Kecemasan mulai menghantui, kelak kala teman-teman sepenulisanku telah menerbitkan karya mereka di media nasional maupun internasional, menjadi pembicara di sana sini, bahkan jadi kritikus sastra, aku akan tetap begini-begini saja. Hanya menjadi penulis cerita pendek yang di-publish di blog sendiri dengan pembaca yang tidak seberapa.

Satu-satunya judul buku yang telah kuterbitkan hanya dibeli teman-teman yang kasihan karena tabunganku habis untuk biaya cetak. Sangat menyedihkan.

“Sudah makan? Mungkin kau butuh makanan untuk mengisi perutmu dan otakmu bisa bekerja lagi.” Wawan menawarkan semangkok penuh kentang goreng dengan asap mengepul di atasnya. Aroma gurih kentang begitu menggoda.

“Bagaimana kalau aku menulis tentang kentang goreng?” tanyaku antusias.

Wawan mengambil satu kentang lalu mengunyahnya lahap.

“Boweeh juhaa,” jawabnya di sela kunyahan kentang goreng yang panas.

Aku kembali menghadapi layar laptop dan papan huruf sambil memandangi sepiring kentang goreng hangat yang sedikit demi sedikit berkurang isinya, lahap dikunyah Wawan. Seandainya kehangatan itu bisa mencairkan perang yang sedang berlangsung di kepalaku. Perang dingin sudah berlangsung hampir seharian.

Ketika alunan musik berganti untuk yang entah keberapa kalinya, jari-jariku seperti kesurupan. Ternyata aroma kentang goreng dipiring Wawan akhirnya mampu menggugah imajinasi. Sambil mengetik dengan tergesa, mataku terpaku pada sepasang kekasih yang sedang bertengkar di meja pojok samping jendela.

Muka mereka sangat masam, aku teringat masamnya bau ketiak seorang pria yang pernah kukencani hanya selama dua hari. Jika lebih dari dua hari, aku takut tidak hanya kehilangan waktu tetapi juga indera penciumanku. Apa susahnya sih mandi dua kali sehari memakai sabun atau mengoleskan deodoran setelahnya? Otakku kembali mengingat hal yang tidak penting. Aku menepuk kedua pipiku untuk tetap fokus sebelum aroma kentang ini sepenuhnya bersemayam di dalam perut Wawan.

Masih memandangi pasangan itu dari kejauhan, kali ini si wanita menangis tanpa suara. Dia berusaha menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya dengan menutup mulut menggunakan kedua tangannya, tapi air mata terus mengalir dari kedua mata sembabnya.

Si pria dengan angkuhnya menyilangkan tangannya sambil menunjuk-nunjuk wajah si wanita. Jarakku tidak cukup dekat untuk menguping pembicaraan mereka yang amat dramatis itu.

Aku sangat penasaran, rasa ingin tahu malah membuat jariku semakin sulit dikendalikan. Huruf demi huruf tercetak di sana mengarang cerita tentang romantisme juga peliknya dilema pasangan di samping jendela itu, bagaimana mereka bertemu, mengapa mereka bertengkar, apakah bau badan si pria juga sama masamnya dengan laki-lakiku dulu. Aku tersenyum senang. Akhirnya aku bisa menulis lagi.

“Heiii Kauuu!”

Laki-laki di samping jendela berteriak dan mengacungkan jarinya padaku. Aku menoleh ke kanan, kiri, depan, dan belakang. Tidak ada orang lain, hanya diriku. Sudah jelas pria itu mengarahkan jarinya kepadaku. Tapi, ke mana Wawan? Mungkin aku tidak menyadari kepergian Wawan karena asyik mengetik.

“Hei! Hei!” teriaknya lagi, membuatku terlonjak mundur dan jatuh dari kursi.

Aku mencoba membuka mata dan berusaha bangkit dengan tergesa. Namun, badanku tertempel di lantai, kedua kaki ini menolak bergerak, begitu pula mata yang sedari tadi berusaha kubuka masih betah terpejam. Jantungku berdetak tak karuan. Begitu takut lelaki tadi akan mencercaku dengan kalimat makian.

Tanganku mulai menggapai-gapai udara. Ingin sekali berteriak meminta bantuan siapapun. Jangankan berteriak, mengeluarkan satu kata saja aku tidak mampu. Dalam kepanikan, samar terdengar panggilan yang memanggil namaku. Aneh, kenapa laki-laki itu tahu namaku?

“Hei! Bangun, Uning! Kemuning. Bangun!” kata seseorang.

Saat mata terbuka sepenuhnya, bukan laki-laki itu yang kulihat, melainkan Wawan dan pegawai café yang berjongkok di depanku.

“Hei, Uning. Café ini sudah mau tutup. Ayo bangun!” ucap Wawan sedikit berteriak sembari mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

“Tutup? Mana lelaki yang tadi berteriak padaku? Lalu perempuan yang menangis tadi?” tanyaku pada Wawan.

Wawan hanya menghela napas sambil menepuk pundakku. Aku memperhatikan sekeliling, café ini sudah sepi. Hanya tersisa kami bertiga dan layar laptopku yang masih kosong. [T]

[][][]

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Semarut | Cerpen Pilar Titiwangsa
Merpati Merah | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IGA Maya Kurnia | Rindu Cinta Matiku

Next Post

Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co