24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mandeg | Cerpen Devy Gita

Devy Gita by Devy Gita
February 4, 2023
in Cerpen
Mandeg | Cerpen Devy Gita

Ilustrasi tatkala.co | Pandit

BAYANGKAN, aku sudah duduk di café ini sejak pagi, saat mereka baru saja meletakkan papan menu spesial hari ini di depan pintu. Pelayan mempersilakanku masuk dengan ramah, lalu aku memesan segelas kopi dan roti bakar paket hemat seharga 20 ribu rupiah.

Kubuka laptop dengan riang sambil berharap dengan bekerja di tempat yang lebih terlihat mahal dibandingkan dengan ruang kerja rumahku yang sumpek penuh barang di sana sini, bisa membuka dan menerangi jalur imajinasiku yang gelap gulita. Bukan lagi pemadaman bergilir yang melanda tapi hampir pemadaman permanen.

Karena sekarang sudah lewat tengah hari, telah pula tandas tiga paket hemat dan sebungkus rokok, layar laptop masih seputih kulit Putri Salju. Gawat ini gawat.

Ke mana perginya kata-kata? Entah pikiran ini sedang kosong atau malah terlalu banyak narasi yang berebut ingin dituliskan. Perlombaan yang tidak dimenangkan oleh cerita manapun kali ini kurasa. Karena tak satu pun di antara mereka yang memperlihatkan dirinya di layar.

Alunan musik jazz dan beberapa orang di sampingku terlihat begitu sibuk dengan laptop masing-masing. Sesekali mereka meneguk minuman pesanan di atas meja. Aku pun setia berkutat dengan laptopku sendiri, juga secangkir kopi dan roti bakar paket hemat yang kupesan lagi.. Kupandangi layar yang masih putih di hadapanku.

Terlalu banyak yang terjadi membuat imajinasi seperti mengurungkan niatnya muncul. Ia memilih menyembunyikan diri di balik tumpukan kejadian yang terekam acak di dalam otak. Biasanya, ia dengan jemawa menyombongkan diri dan menghasilkan fiksi yang membuat pembacanya larut.

Apakah beberapa waktu ini ia menjadi pemalu karena realita jauh lebih fiksi dari imajinasi itu sendiri?

Aku rasa begitu, banyak yang dirasakan tubuh ini. Saking tak terhitungnya, mata dan telinga memilih untuk pingsan sementara. Namun, otak enggan rehat dan memilih meneruskan kegiatannya memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipusingkan. Memaksa mata terbuka dengan malas. Rasa tak suka ditunjukkan dengan perih yang teramat sangat hingga air mata menyeruak di sudutnya.

Sial, pikirku. Perdebatan otak dan kepala yang tidak terelakkan membuat rasa kopi susu manis ini hambar. Begitu pula jari-jari yang biasanya menari dengan liarnya di atas papan huruf seketika kaku. Ia lebih semangat menyulut rokok, mengarahkannya ke bibir untuk mengepulkan asap beraroma mint segar. Berharap dari asap itu, imajinasi mendapatkan sedikit keberanian untuk memunculkan entah ujung rambut atau melongokkan sedikit kepalanya.

“Kau sedang menulis apa?”

Wawan, seorang teman sesama penulis mengintip layarku penasaran. Sedari tadi ia cekatan mengetik ratusan bahkan ribuan kata di sebelahku. Imajinasinya berhamburan di atas layar.

“Kosong?” tanyanya heran sembari memandangiku yang sedang menyalakkan sebatang rokok lagi.

 “Kepalaku buntu. Otakku semrawut,” jawabku singkat. Menoleh sedikit ke layar laptop Wawan yang penuh tulisan, aku meringis.

Nutrisi otak Wawan lebih berkualitas dariku. Ia memberi asupan yang bergizi dengan membaca banyak buku dan jurnal penuh ilmu. Segala isi buku dikunyahnya lahap. Ia mampu mengingat hal-hal menarik dari huruf-huruf yang ia baca. Aku iri. Sedangkan aku, aku tak pernah mengingat hal penting dari dalam buku.

Aku lemah dalam menelaah filsafat maupun topik dengan isu yang berat. Berpikir mendalam bukan kapasitasku, hanya cerita fantasi dan fiksi ringan yang ku nikmati dengan senang hati. Isi kepalaku terlalu rumit untuk hal sederhana tapi terlalu sederhana untuk hal rumit.

Aku bersandar dan memandang langit-langit café sambil memilah ingatan yang mungkin cukup menarik untuk diceritakan ditambah racikan bumbu di sana sini. Kejadian demi kejadian silam satu per satu mulai berputar pelan namun kusut. Sial. Kucari ujungnya, kutarik perlahan. Berharap jika kulakukan tidak terburu-buru, kecarutmarutan ini bisa lepas dan lega. Mungkin kisah-kisah itu tumpang tindih, saling gelut, saling ikat hingga terlalu sulit menemukan ujung dan mulai mengurainya kembali. Bahkan jika aku salah menarik ujungnya, bisa-bisa carut marut itu makin terkunci dan membuatku menjadi gila.

Sudah tidak produktif, gila pula. Kurang apa lagi? Bagaimana bisa kusebut diriku penulis jika otakku berbuat semaunya?

Kecemasan mulai menghantui, kelak kala teman-teman sepenulisanku telah menerbitkan karya mereka di media nasional maupun internasional, menjadi pembicara di sana sini, bahkan jadi kritikus sastra, aku akan tetap begini-begini saja. Hanya menjadi penulis cerita pendek yang di-publish di blog sendiri dengan pembaca yang tidak seberapa.

Satu-satunya judul buku yang telah kuterbitkan hanya dibeli teman-teman yang kasihan karena tabunganku habis untuk biaya cetak. Sangat menyedihkan.

“Sudah makan? Mungkin kau butuh makanan untuk mengisi perutmu dan otakmu bisa bekerja lagi.” Wawan menawarkan semangkok penuh kentang goreng dengan asap mengepul di atasnya. Aroma gurih kentang begitu menggoda.

“Bagaimana kalau aku menulis tentang kentang goreng?” tanyaku antusias.

Wawan mengambil satu kentang lalu mengunyahnya lahap.

“Boweeh juhaa,” jawabnya di sela kunyahan kentang goreng yang panas.

Aku kembali menghadapi layar laptop dan papan huruf sambil memandangi sepiring kentang goreng hangat yang sedikit demi sedikit berkurang isinya, lahap dikunyah Wawan. Seandainya kehangatan itu bisa mencairkan perang yang sedang berlangsung di kepalaku. Perang dingin sudah berlangsung hampir seharian.

Ketika alunan musik berganti untuk yang entah keberapa kalinya, jari-jariku seperti kesurupan. Ternyata aroma kentang goreng dipiring Wawan akhirnya mampu menggugah imajinasi. Sambil mengetik dengan tergesa, mataku terpaku pada sepasang kekasih yang sedang bertengkar di meja pojok samping jendela.

Muka mereka sangat masam, aku teringat masamnya bau ketiak seorang pria yang pernah kukencani hanya selama dua hari. Jika lebih dari dua hari, aku takut tidak hanya kehilangan waktu tetapi juga indera penciumanku. Apa susahnya sih mandi dua kali sehari memakai sabun atau mengoleskan deodoran setelahnya? Otakku kembali mengingat hal yang tidak penting. Aku menepuk kedua pipiku untuk tetap fokus sebelum aroma kentang ini sepenuhnya bersemayam di dalam perut Wawan.

Masih memandangi pasangan itu dari kejauhan, kali ini si wanita menangis tanpa suara. Dia berusaha menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya dengan menutup mulut menggunakan kedua tangannya, tapi air mata terus mengalir dari kedua mata sembabnya.

Si pria dengan angkuhnya menyilangkan tangannya sambil menunjuk-nunjuk wajah si wanita. Jarakku tidak cukup dekat untuk menguping pembicaraan mereka yang amat dramatis itu.

Aku sangat penasaran, rasa ingin tahu malah membuat jariku semakin sulit dikendalikan. Huruf demi huruf tercetak di sana mengarang cerita tentang romantisme juga peliknya dilema pasangan di samping jendela itu, bagaimana mereka bertemu, mengapa mereka bertengkar, apakah bau badan si pria juga sama masamnya dengan laki-lakiku dulu. Aku tersenyum senang. Akhirnya aku bisa menulis lagi.

“Heiii Kauuu!”

Laki-laki di samping jendela berteriak dan mengacungkan jarinya padaku. Aku menoleh ke kanan, kiri, depan, dan belakang. Tidak ada orang lain, hanya diriku. Sudah jelas pria itu mengarahkan jarinya kepadaku. Tapi, ke mana Wawan? Mungkin aku tidak menyadari kepergian Wawan karena asyik mengetik.

“Hei! Hei!” teriaknya lagi, membuatku terlonjak mundur dan jatuh dari kursi.

Aku mencoba membuka mata dan berusaha bangkit dengan tergesa. Namun, badanku tertempel di lantai, kedua kaki ini menolak bergerak, begitu pula mata yang sedari tadi berusaha kubuka masih betah terpejam. Jantungku berdetak tak karuan. Begitu takut lelaki tadi akan mencercaku dengan kalimat makian.

Tanganku mulai menggapai-gapai udara. Ingin sekali berteriak meminta bantuan siapapun. Jangankan berteriak, mengeluarkan satu kata saja aku tidak mampu. Dalam kepanikan, samar terdengar panggilan yang memanggil namaku. Aneh, kenapa laki-laki itu tahu namaku?

“Hei! Bangun, Uning! Kemuning. Bangun!” kata seseorang.

Saat mata terbuka sepenuhnya, bukan laki-laki itu yang kulihat, melainkan Wawan dan pegawai café yang berjongkok di depanku.

“Hei, Uning. Café ini sudah mau tutup. Ayo bangun!” ucap Wawan sedikit berteriak sembari mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

“Tutup? Mana lelaki yang tadi berteriak padaku? Lalu perempuan yang menangis tadi?” tanyaku pada Wawan.

Wawan hanya menghela napas sambil menepuk pundakku. Aku memperhatikan sekeliling, café ini sudah sepi. Hanya tersisa kami bertiga dan layar laptopku yang masih kosong. [T]

[][][]

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Semarut | Cerpen Pilar Titiwangsa
Merpati Merah | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IGA Maya Kurnia | Rindu Cinta Matiku

Next Post

Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co