2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mandeg | Cerpen Devy Gita

Devy Gita by Devy Gita
February 4, 2023
in Cerpen
Mandeg | Cerpen Devy Gita

Ilustrasi tatkala.co | Pandit

BAYANGKAN, aku sudah duduk di café ini sejak pagi, saat mereka baru saja meletakkan papan menu spesial hari ini di depan pintu. Pelayan mempersilakanku masuk dengan ramah, lalu aku memesan segelas kopi dan roti bakar paket hemat seharga 20 ribu rupiah.

Kubuka laptop dengan riang sambil berharap dengan bekerja di tempat yang lebih terlihat mahal dibandingkan dengan ruang kerja rumahku yang sumpek penuh barang di sana sini, bisa membuka dan menerangi jalur imajinasiku yang gelap gulita. Bukan lagi pemadaman bergilir yang melanda tapi hampir pemadaman permanen.

Karena sekarang sudah lewat tengah hari, telah pula tandas tiga paket hemat dan sebungkus rokok, layar laptop masih seputih kulit Putri Salju. Gawat ini gawat.

Ke mana perginya kata-kata? Entah pikiran ini sedang kosong atau malah terlalu banyak narasi yang berebut ingin dituliskan. Perlombaan yang tidak dimenangkan oleh cerita manapun kali ini kurasa. Karena tak satu pun di antara mereka yang memperlihatkan dirinya di layar.

Alunan musik jazz dan beberapa orang di sampingku terlihat begitu sibuk dengan laptop masing-masing. Sesekali mereka meneguk minuman pesanan di atas meja. Aku pun setia berkutat dengan laptopku sendiri, juga secangkir kopi dan roti bakar paket hemat yang kupesan lagi.. Kupandangi layar yang masih putih di hadapanku.

Terlalu banyak yang terjadi membuat imajinasi seperti mengurungkan niatnya muncul. Ia memilih menyembunyikan diri di balik tumpukan kejadian yang terekam acak di dalam otak. Biasanya, ia dengan jemawa menyombongkan diri dan menghasilkan fiksi yang membuat pembacanya larut.

Apakah beberapa waktu ini ia menjadi pemalu karena realita jauh lebih fiksi dari imajinasi itu sendiri?

Aku rasa begitu, banyak yang dirasakan tubuh ini. Saking tak terhitungnya, mata dan telinga memilih untuk pingsan sementara. Namun, otak enggan rehat dan memilih meneruskan kegiatannya memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipusingkan. Memaksa mata terbuka dengan malas. Rasa tak suka ditunjukkan dengan perih yang teramat sangat hingga air mata menyeruak di sudutnya.

Sial, pikirku. Perdebatan otak dan kepala yang tidak terelakkan membuat rasa kopi susu manis ini hambar. Begitu pula jari-jari yang biasanya menari dengan liarnya di atas papan huruf seketika kaku. Ia lebih semangat menyulut rokok, mengarahkannya ke bibir untuk mengepulkan asap beraroma mint segar. Berharap dari asap itu, imajinasi mendapatkan sedikit keberanian untuk memunculkan entah ujung rambut atau melongokkan sedikit kepalanya.

“Kau sedang menulis apa?”

Wawan, seorang teman sesama penulis mengintip layarku penasaran. Sedari tadi ia cekatan mengetik ratusan bahkan ribuan kata di sebelahku. Imajinasinya berhamburan di atas layar.

“Kosong?” tanyanya heran sembari memandangiku yang sedang menyalakkan sebatang rokok lagi.

 “Kepalaku buntu. Otakku semrawut,” jawabku singkat. Menoleh sedikit ke layar laptop Wawan yang penuh tulisan, aku meringis.

Nutrisi otak Wawan lebih berkualitas dariku. Ia memberi asupan yang bergizi dengan membaca banyak buku dan jurnal penuh ilmu. Segala isi buku dikunyahnya lahap. Ia mampu mengingat hal-hal menarik dari huruf-huruf yang ia baca. Aku iri. Sedangkan aku, aku tak pernah mengingat hal penting dari dalam buku.

Aku lemah dalam menelaah filsafat maupun topik dengan isu yang berat. Berpikir mendalam bukan kapasitasku, hanya cerita fantasi dan fiksi ringan yang ku nikmati dengan senang hati. Isi kepalaku terlalu rumit untuk hal sederhana tapi terlalu sederhana untuk hal rumit.

Aku bersandar dan memandang langit-langit café sambil memilah ingatan yang mungkin cukup menarik untuk diceritakan ditambah racikan bumbu di sana sini. Kejadian demi kejadian silam satu per satu mulai berputar pelan namun kusut. Sial. Kucari ujungnya, kutarik perlahan. Berharap jika kulakukan tidak terburu-buru, kecarutmarutan ini bisa lepas dan lega. Mungkin kisah-kisah itu tumpang tindih, saling gelut, saling ikat hingga terlalu sulit menemukan ujung dan mulai mengurainya kembali. Bahkan jika aku salah menarik ujungnya, bisa-bisa carut marut itu makin terkunci dan membuatku menjadi gila.

Sudah tidak produktif, gila pula. Kurang apa lagi? Bagaimana bisa kusebut diriku penulis jika otakku berbuat semaunya?

Kecemasan mulai menghantui, kelak kala teman-teman sepenulisanku telah menerbitkan karya mereka di media nasional maupun internasional, menjadi pembicara di sana sini, bahkan jadi kritikus sastra, aku akan tetap begini-begini saja. Hanya menjadi penulis cerita pendek yang di-publish di blog sendiri dengan pembaca yang tidak seberapa.

Satu-satunya judul buku yang telah kuterbitkan hanya dibeli teman-teman yang kasihan karena tabunganku habis untuk biaya cetak. Sangat menyedihkan.

“Sudah makan? Mungkin kau butuh makanan untuk mengisi perutmu dan otakmu bisa bekerja lagi.” Wawan menawarkan semangkok penuh kentang goreng dengan asap mengepul di atasnya. Aroma gurih kentang begitu menggoda.

“Bagaimana kalau aku menulis tentang kentang goreng?” tanyaku antusias.

Wawan mengambil satu kentang lalu mengunyahnya lahap.

“Boweeh juhaa,” jawabnya di sela kunyahan kentang goreng yang panas.

Aku kembali menghadapi layar laptop dan papan huruf sambil memandangi sepiring kentang goreng hangat yang sedikit demi sedikit berkurang isinya, lahap dikunyah Wawan. Seandainya kehangatan itu bisa mencairkan perang yang sedang berlangsung di kepalaku. Perang dingin sudah berlangsung hampir seharian.

Ketika alunan musik berganti untuk yang entah keberapa kalinya, jari-jariku seperti kesurupan. Ternyata aroma kentang goreng dipiring Wawan akhirnya mampu menggugah imajinasi. Sambil mengetik dengan tergesa, mataku terpaku pada sepasang kekasih yang sedang bertengkar di meja pojok samping jendela.

Muka mereka sangat masam, aku teringat masamnya bau ketiak seorang pria yang pernah kukencani hanya selama dua hari. Jika lebih dari dua hari, aku takut tidak hanya kehilangan waktu tetapi juga indera penciumanku. Apa susahnya sih mandi dua kali sehari memakai sabun atau mengoleskan deodoran setelahnya? Otakku kembali mengingat hal yang tidak penting. Aku menepuk kedua pipiku untuk tetap fokus sebelum aroma kentang ini sepenuhnya bersemayam di dalam perut Wawan.

Masih memandangi pasangan itu dari kejauhan, kali ini si wanita menangis tanpa suara. Dia berusaha menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya dengan menutup mulut menggunakan kedua tangannya, tapi air mata terus mengalir dari kedua mata sembabnya.

Si pria dengan angkuhnya menyilangkan tangannya sambil menunjuk-nunjuk wajah si wanita. Jarakku tidak cukup dekat untuk menguping pembicaraan mereka yang amat dramatis itu.

Aku sangat penasaran, rasa ingin tahu malah membuat jariku semakin sulit dikendalikan. Huruf demi huruf tercetak di sana mengarang cerita tentang romantisme juga peliknya dilema pasangan di samping jendela itu, bagaimana mereka bertemu, mengapa mereka bertengkar, apakah bau badan si pria juga sama masamnya dengan laki-lakiku dulu. Aku tersenyum senang. Akhirnya aku bisa menulis lagi.

“Heiii Kauuu!”

Laki-laki di samping jendela berteriak dan mengacungkan jarinya padaku. Aku menoleh ke kanan, kiri, depan, dan belakang. Tidak ada orang lain, hanya diriku. Sudah jelas pria itu mengarahkan jarinya kepadaku. Tapi, ke mana Wawan? Mungkin aku tidak menyadari kepergian Wawan karena asyik mengetik.

“Hei! Hei!” teriaknya lagi, membuatku terlonjak mundur dan jatuh dari kursi.

Aku mencoba membuka mata dan berusaha bangkit dengan tergesa. Namun, badanku tertempel di lantai, kedua kaki ini menolak bergerak, begitu pula mata yang sedari tadi berusaha kubuka masih betah terpejam. Jantungku berdetak tak karuan. Begitu takut lelaki tadi akan mencercaku dengan kalimat makian.

Tanganku mulai menggapai-gapai udara. Ingin sekali berteriak meminta bantuan siapapun. Jangankan berteriak, mengeluarkan satu kata saja aku tidak mampu. Dalam kepanikan, samar terdengar panggilan yang memanggil namaku. Aneh, kenapa laki-laki itu tahu namaku?

“Hei! Bangun, Uning! Kemuning. Bangun!” kata seseorang.

Saat mata terbuka sepenuhnya, bukan laki-laki itu yang kulihat, melainkan Wawan dan pegawai café yang berjongkok di depanku.

“Hei, Uning. Café ini sudah mau tutup. Ayo bangun!” ucap Wawan sedikit berteriak sembari mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

“Tutup? Mana lelaki yang tadi berteriak padaku? Lalu perempuan yang menangis tadi?” tanyaku pada Wawan.

Wawan hanya menghela napas sambil menepuk pundakku. Aku memperhatikan sekeliling, café ini sudah sepi. Hanya tersisa kami bertiga dan layar laptopku yang masih kosong. [T]

[][][]

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Semarut | Cerpen Pilar Titiwangsa
Merpati Merah | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IGA Maya Kurnia | Rindu Cinta Matiku

Next Post

Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co