24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semarut | Cerpen Pilar Titiwangsa

Pilar Titiwangsa by Pilar Titiwangsa
January 28, 2023
in Cerpen
Semarut | Cerpen Pilar Titiwangsa

Ilustrasi tatkala.co

SEORANG LAKI-LAKI bertampang mesum bicara komat-kamit di layar kaca. Omongannya panjang dan sembari sesekali melirik kamera, ia tampak berusaha terlihat menyesal. Aku dan Risjad menontonnya dengan tidak serius-serius amat. Alasannya dua : setiap kata yang keluar dari mulut si pria kelihatan dibuat-buat dan eskpresi penyesalannya justru lebih mirip seseorang yang menahan buang air besar. Ia sedang melakukan klarifikasi dan penyangkalan atas tuduhan khalayak ramai tentang pelecehan seksual yang dilakukannya beberapa tahun lalu.

“Saat itu saya sedang mabuk dan benar-benar tidak sadar atas apapun yang saya lakukan,” ujarnya. Pendukungnya—yang sedari tadi  sigap mengoceh di kolom komentar—mengamini alasan si pria dan menyatakan pemakluman.

Aku melongo. Jika alkohol punya akal dan perasaan, tentu ia pun muak menjadi kambing hitam atas segala perilaku tidak senonoh umat manusia. Malahan, jika diingat-ingat, aku tidak kenal siapapun yang pernah menjadi mabuk lalu menggerayangi kemaluan perempuan. Risjad salah satu contoh akuratnya. Saat aku baru mengenal pria ini, sepuluh tahun lalu, ia menenggak minuman keras terlalu banyak dan melantur.

Kala itu, kami dan beberapa kawan menggelar tenda di pinggir sebuah pantai. Usai bermain kartu kira-kira dua puluh tiga ronde, Risjad nampak menatap kekosongan yang membentang seluas lautan di depannya sembari duduk memeluk kedua lutut. Aku yakin, ini bukan karena ia kalah secara konstan dalam keduapuluh tiga ronde tadi. Tiba-tiba, ia meneriakkan nama Tuhan.

Aku memeriksa empat botol kecil minuman keras, dan tentu saja Risjad telah menenggak hampir seluruhnya. Ia mabuk. Namun alih-alih mengajakku berbuat mesum, ia justru mengoceh tak tentu arah soal bagaimana Tuhan telah memberinya karunia kehidupan dan—tentu saja— merenungi perihal nikmat mana lagi yang ia dustakan. Kata-kata yang sangat sulit dipercaya, mengingat selama ini Risjad kerap mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Atheis—atau Agnostik, entahlah salah satu dari itu. Aku selalu kesulitan membedakan antara keduanya.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir Teknik Fisika, ia hanya menyembah dua entitas : Stephen Hawking dan Charles Darwin. Kombinasi yang sangat aneh tentu saja. Namun malam itu, ia berlagak layaknya frater muda yang sudah khatam mempelajari Alkitab dengan tekun seumur hidupnya. Atau memang seperti itukah ia sebenarnya?

Sembari mengawasi Risjad yang sedang berlari bolak-balik dari satu ujung pantai ke ujung lainnya, berkali-kali tanpa henti, aku teringat kata-kata seorang kawan. Saat mabuk, manusia cenderung melepaskan secuil bagian diri yang selama ini sanggup mereka sembunyikan, semata-mata hanya karena kontrol diri yang begitu hebat. Risjad, yang selama itu menolak semua ajaran agama dan menganggap Tuhan hanya halusinasi hebat para nabi dan semua penganut ajaran mereka, ternyata diam-diam berharap punya daya untuk percaya terhadap konsep keesaan. Belakangan, ia mengakui rasa irinya terhadap orang-orang beriman.

“Mereka punya tempat menggantungkan doa dan harapan, aku tidak,” ujarnya sembari merapikan kemeja yang sudah licin setengah mati. Ia tidak menatapku saking malunya. Risjad tersayang, folie à deux memang tidak pernah jadi penjelasan masuk akal untuk memuja Tuhan. Hampir saja kukatakan hal itu tanpa perasaan. Tapi sebagai teman yang baik aku hanya mengangguk mengerti dan persahabatan kami berlanjut hingga sekarang. Tiap kali ia mengajak mabuk-mabuk, aku mengemas sebuah rosario di tas kanvasku. Sekadar berjaga-jaga apabila kembali terjadi pertunjukkan kesalehan yang meledak-ledak.

Tapi aku bukannya tidak punya pengalaman buruk saat berurusan dengan hal-hal yang menimbulkan candu.

Saat mengalami patah hati berat beberapa tahun lalu, aku mengadopsi Aamir, seekor kucing kampung berbadan kekar. Rasa merana tingkat akut yang bercokol di dalam dada kucurahkan pada Aamir. Saat aku dilanda depresi dan enggan makan ataupun keluar kamar, Aamir muncul di jendela dengan seekor ikan bakar utuh yang entah dicurinya dari mana. Makanan lezat itu diletakkannya di dekat kakiku, lalu ia menyorongkan kepala mungilnya ke sana. Membelai tungkaiku dengan rasa yang kuyakini sebagai kasih.

Suatu hari, demi membayar pengabdiannya yang tanpa batas, aku membelikan sejumput catnip. Setelah menghabiskan tumbuhan beraroma aneh itu, Aamir menjadi pribadi yang sama sekali berbeda. Matanya membulat, lalu mengecil, lalu membulat, dan mengecil lagi. Ia menatap jendela dengan kekosongan yang mencurigakan. Lalu tanpa bisa kucegah, ia tiba-tiba berlari ke jalan raya dan melompat ke hadapan sebuah truk yang tengah melaju kencang. Kucingku mati dengan badan remuk dan bola mata melompat keluar.

Risjad berusaha meyakinkanku bahwa peristiwa bunuh diri ini sama sekali tak ada hubungannya denganku. Tapi aku berani bersumpah demi kura-kura Galapagos dan hal-hal abadi lainnya bahwa sebelum truk itu menyambar tubuh Aamir, ia menatap mataku lekat-lekat seakan ingin berkata : “Aku muak dengan ketololanmu soal asmara”.

Aku menutup mata dalam-dalam dan mengakhiri lamunan absurd soal Aamir. Sementara itu lelaki mesum di layar kaca masih sibuk dengan sederet pembelaan yang, menurutku, justru semakin membuat sisi bajingannnya terang benderang. Di satu poin, ia mengungkit kealpaan si korban untuk segera melapor ke polisi jika memang merasa dilecehkan. Seketika Risjad mendengus jijik.

“Yang benar saja, lapor polisi? Ingat kasus kakek mudamu, Ten?” ujarnya kepadaku.

Aku melirik Risjad sekilas sebelum tersenyum hambar. Aku punya seorang Opung jauh, yang usianya hanya terpaut 20 tahun lebih tua denganku dan dalam satu fase hidupnya pernah berstatus sebagai buronan. Kejahatannya tidak kecil, ia membunuh seorang pria. Hari itu adalah hari terpanas di Bandar Lampung tahun 1982, dan Opung terlibat perkelahian di pasar dengan salah satu preman muda yang menghina ibunya. Duel kelas teri ini mencapai puncaknya saat Opung, yang belum makan apa-apa sejak pagi selain sepotong tempe goreng dingin, mengeluarkan sebilah pisau lipat dan menusuk lawannya di perut bertubi-tubi. Preman muda itu terkapar tanpa nyawa. Seorang kerabat yang menjadi saksi langsung berlari ke kantor polisi terdekat melaporkan kejadian itu.

Diserang panik, Opung mendatangi rumah nenek, paman, kakak, hingga mantan pacarnya untuk mencari suaka. Semua menutup pintu rapat-rapat bagi si pesakitan. Dua jam kemudian Opung nekat naik bis terakhir ke Bakauheni dan lima jam setelahnya, ia sudah berada di Merak.

Polisi datang terlambat. Polisi selalu datang terlambat. Ada jeda dua puluh jam sebelum mereka mulai mencari Opung dan saat itu, si buronan sudah tiba di pedalaman Jawa Tengah tanpa seorang pun tahu keberadaannya. Bagaimana ia membangun kembali seluruh hidupnya dengan keringat dan darah adalah kisah lain. Namun singkat cerita, dua puluh tahun kemudian, Opung menikmati hidup nyaman dengan dua istri dan tujuh anak, menyandang gelar sarjana hukum dari universitas bergengsi, dan –ironis betul—menjabat sebagai Kepala Bagian Perlindungan Hukum sebuah lembaga pemerintahan. Ia bahkan tidak pernah mengganti nama.

Opung tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di Bandar Lampung. Orang tua si preman muda tidak pernah mendapat keadilan. Mereka tidak pernah menyaksikan si pembunuh masuk bui, atau paling tidak mati babak belur setelah ditendangi massa. Dua dekade bukan waktu yang singkat dan seluruh keluarga itu tak sudi lagi percaya pada polisi. Sebuah langkah yang diikuti oleh Risjad bertahun-tahun kemudian saat anjingnya, Bordeaux, hilang diculik penjual tongseng haram dan laporannya ditertawakan polisi setempat. Setelahnya, Risjad mengunci diri di dalam kamar berhari-hari, sebelum dengan lantang mendeklarasikan vendeta pada lapo-lapo asu di seluruh kota. Sejauh ini, ia berhasil menumbangkan dua. Prestasi besar.

Aku melirik ke arah laptop. Si lelaki mesum baru saja mengakhiri pembelaan panjangnya dengan kalimat “Hanya itu yang ingin saya sampaikan, semoga dengan menempuh jalur hukum masalah ini bisa segera diselesaikan”.  Aku mengumpat. Sebuah imaji terbentuk kasar dalam benakku : si mesum keluar sebagai pemenang atas kasus pelecehan yang dibawanya ke meja hijau, dan senyum puas mengembang di wajah itu. Perutku mulas, melilit membayangkan hal ini. Wajah Aamir dan Bordeaux kemudian muncul di hadapanku, berputar-putar, menjadi cair hingga menyatu, lalu menjelma paras renta Opung dan raut tentram yang menghiasinya. [T]

Bogor, Juni 2021

[][][]

BACA cerpen-cerpen lain

Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Iprik Pucuk Merah | Cerpen Arnata Pakangraras
Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Abed Ilyas | Ombak Pasang, Di Timur Pulau

Next Post

Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia

Pilar Titiwangsa

Pilar Titiwangsa

Penulis lepas. Tengah singgah di Bogor bersama kucing-kucing.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia

Dunia Tak Selalu Hitam-Putih, Bisa Juga Hijau-Pink | Ulasan Pertunjukan Maas Theater en Dans di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co