25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hatimu Sebotol Brandi || Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
December 27, 2020
in Cerpen
Hatimu Sebotol Brandi || Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi Ida Bagus Pandit Parastu

Di teras rumah, Jhoni dan Sam sibuk berbincang sambil merokok. Di tengah-tengah mereka terdapat sebuah meja bundar yang tak terlalu besar menyekat mereka, di atas meja itu ada sebuah botol minuman besar yang mereka minum bergantian setelah menghisap rokok.

Beberapa menit berlalu, perbincangan itu tiba-tiba lenyap sesaat, sunyi seperti mengadu mereka kembali.

“Siapa setelah ini?” celetuk Jhoni.

Sam tidak menjawab sama sekali, ia langsung mengambil botol itu lalu diminumnya isi di dalamnya.

“Kau tau orang-orang di pos ronda di depan gang itu, Sam? Mereka hanya berpura-pura gila saat mereka mabuk!”

“Kita juga sama, Jhoni. Hanya saja kita tidak mau pamer,” jawab Sam dengan muka masam.

“Siapa selanjutnya?” tanya Jhoni kembali.

Sam mengambil botol itu, lalu diminumnya kembali isi botol itu. Jhoni memandang Sam lalu memandangi langit kemerahan, sementara Sam hanya terpaku pada gadis cantik di ujung gang, anak seorang konglomerat yang rumahnya memang di gang itu.

Suara musik terus terdengar dari sejak siang tadi. Suara itu berasal dari pos ronda, di ujung gang. Anak-anak muda sedang menikmati hidupnya.

“Ini sudah sore, apa kau tidak mau pulang saja, Sam?” tanya Jhoni.

“Siapa gantinya?” Sam.tak menjawab. Ia justru bertanya.

Jhoni juga tidak mau menjawab. Ia tampak kesal pertanyaannya tidak dijawab.

Sam kembali meminum isi di dalam botol itu.

“Sudah berapa kali?” tanya Jhoni sedikit kesal.

“Sekali!”

“Setelah kau, selanjutnya aku?” tanya Jhoni kembali.

“Tidak, aku setelah kau,” jawab Sam.

“Tadi siapa? Aku?” sambil memegang botol itu yang masih terisi setengahya.

“Aku..” jawab Sam kembali sembari menghidupkan rokoknya.

Jhoni kembali menaruh botol itu di atas meja. Sam kembali meminum isi di dalam botol itu. Mereka lantas saling menerka, siapa yang akan menenggak minuman itu lagi. Hening sebentar.

Tak lama berselang, lemparan kursi pertama melayang ke arah Jhoni, begitu pula sebaliknya kembali ke arah Sam. Mereka saling beradu pukulan, tidak ada yang tahu kebisingan di rumah itu. Suara kursi yang terlempar k earah pagar dari teras rumah itu kalah jauh dengan suara music dari depan gang.

***

Motor Triumph Clasic melaju dengan sangat kencang. Suara musik hardcore yang sejak tadi didengar olehnya mengalahkan suara motor itu. Jhoni pulang dari pekerjaannya yang sangat rumit, bahkan lebih rumit dari permasalahan rumah tangga dengan suami istri yang saling membenci. Di dalam tas punggungnya, terdapat sebuah botol mansion berukuran sedang. Ia membawanya setiap pulang bekerja. Pernah ia membeli sebotol arak di sebuah rumah milik temannya, esoknya ia mengalami masalah peerncernaan dan tidak masuk kerja selama seminggu. Sejak saat itu, Jhoni tidak lagi berani meminum arak, walau hanya setenggak. Ia juga tidak ingin muntah dan tidur di pos ronda depan gang itu.

Setelah sampai di rumah, Jhoni melihat seseorang yang duduk di teras rumahnya. Seorang pria, berambut panjang setengah ikal yang diikat ke belakang, celana yang sedikit robek dan baju punk rock sembilan puluhan. Tidak salah lagi, itu Sam!

“Sam!” sapa Jhoni dari kejauhan.

“Yoo, Jhoni! Apa kabar?” sapa Sam kembali sembari menghampiri Jhoni.

“Kapan datang? Sudah lama sekali.”

“Baru saja, aku sengaja datang ke sini dulu sebelum pulang ke rumah.”

Mereka duduk berdua di teras itu sambil berbincang tentang masa lalu. Sam juga baru datang dari tempat peraduannya. Menjadi seniman jalanan bukanlah hal yang mudah bagi Sam. Ia menceritakan semuanya kepada Jhoni.

***

Hari sudah semakin gelap. Suara bising dari ujung gang masih terdengar, tak luput juga suara teriakan mereka berdua yang sejak sore tadi tak ada habis-habisnya. Mereka masih saja bergulat, kadang saling memisahkan diri lalu memuntahkan sisa minuman itu dari mulut mereka lalu kembali bergulat di teras itu.

“Kau melihatnya kan sejak tadi?” Jhoni bertanya geram.

“Ya! Mana mungkin aku memalingkan perhatian pada wanita secantik itu,” sahut Sam bersiap memukul Jhoni.

“Bangsat!” Jhoni memukul wajah Sam dengan sekuat tenaganya.

 Selang beberapa saat, mereka berdua sepertinya sudah lelah. Keringat mereka bercucuran membasahi lantai dan sekujur tubuh mereka, darah berkucuran dari muka hingga ke dada mereka, pun luka-luka memar. Jhoni bangun perlahan lalu berjalan dan sesekali tersungkur saat menuju pintu rumah. Sam tergeletak di depan teras tak sadarkan diri. Setelah berhasil membuka pintu rumahnya, Jhoni lantas menghampiri Sam dan merangkulnya hingga ke dalam rumah.

***

Sam bercerita panjang lebar tentang perjalanannya, begitu juga Jhoni menceritakan keluh kesah tentang pekerjaannya di kota besar itu.

“Aku akan segera menikah,” kata Jhoni.

“Kau jangan bercanda. Pengaruh apa lagi ini, Jhoni? Anggur, brandi, bir, brugal, atau jangan-jangan…”

“Tidak, Sam!” potong Jhoni. “Kau tau aku sudah tidak minum arak lagi. Aku serius, Sam. Bulan depan tepatnya,” sambungnya.

“Dengan siapa? Kau tahu menjadi ayah itu merepotkan, Jhoni?”

“Dengan wanita yang berada di rumah yang paling besar itu, Sam.”

“Sebentar…..” sembari mengendus “Ini bau Mansion!”

“Hidungmu masih sama saja, Sam. Hahaha!”

Mereka berdua kembali berbincang. Jhoni mengeluarkan Mansion itu dari dalam tasnya. Mereka lantas berbincang mengenai apa pun hingga minuman itu habis nantinya.

***

Jhoni lantas melempar Sam ke arah sofa, Jhoni lantas berbaring di atas sofa sebelahnya. Mereka berdua tertidur pulas. Kesekian kalinya, rumah itu kacau karena mereka berdua. Kalau saja mereka serumah, mungkin saja mereka akan mengganti rumah setiap minggu karena kekacauan yang mereka buat sendiri.

Di tengah-tengah kemeriahan pesta yang terjadi di depan gang itu, mereka berdua menyepi seperti tidak tejadi apa-apa sesaat yang lalu.

Dari kejauhan, terdengar suara teriakan dimana-mana. Dari ujung gang tepat di pos ronda dan ujung gang lainnya. Terjadi kekacauan di gang itu. Rumah-rumah terlihat dibakar. Pos ronda itupun sudah ambruk sejak tadi, orang-orang di sana sudah habis berlumuran darah. Jhoni dan Sam masih tidak sadarkan diri. Orang-orang berlarian ke sana kemari menyelamatkan diri. Jhoni lantas tersadar beberapa saat setelahnya. Ia menengok keluar karena suara keriuhan yang terjadi tepat tengah malam. Ia menyesal, sungguh menyesal. Pembantaian di mana-mana, pembakaran rumah dan penjarahan. Orang-orang yang melakukannya tidak lain beberapa orang yang sedang berpesta di ujung gang tadi siang.

Jhoni tak berpikir panjang, ia merangkul Sam menuju belakang rumah. Sebelum ia dibantai bersama Sam dalam keadaan tidak sadarkan diri karena Mansion, lebih baik ia segera lari menuju belakang rumah lalu bersembunyi. Jhoni melompati tembok rumahnya setelah melemparkan Sam terlebih dahulu. Seseorang melihat ia melompati tembok lantas mengejarnya. Jhoni hanya berlari sembari membawa Sam di punggungnya, lalu hilang di tengah semak-semak.

Jhoni terlihat memuntahkan semuanya, Sam masih tak terlihat tak sadarkan diri. Ia memukul Sam karena kesal harus merangkulnya dan berbau alkohol. Napasnya tak beraturan lalu tak sadarkan diri di tengah semak-semak.

Sam terbangun dan terekejut, ia berada di tengah semak belukar yang entah di mana. Ia hanya ingat sedang meminum Mansion bersama Jhoni di depan teras rumahnya. Beberapa saat kemudian, Jhoni terbangun dan secara tidak sengaja memukul Sam.

“Di mana kita?” tanya Sam kebingungan.

“Kau ingat orang-orang di depan gang itu? Mereka membakar dan menjarah seluruh rumah di gang!”

“Yang benar saja! Apa yang mereka pikirkan?”

“Sepertinya beberapa orang itu adalah orang bayaran, Sam.”

“Bayaran? Untuk apa? Untuk membunuh calon mertuamu itu?”

“Bukan. Untuk membunuhku.”

“Membunuhmu? Memangnya kau salah apa?”

“Mungkin aku tidak sengaja membunuh bos mereka.”

“Kenapa kau membunuh, Jhoni? Untuk apa?”

“Karena itu pekerjaanku, Sam.”

“Bajingan kau, Jhoni! Karena kau semua or….”

“Sudahlah, Sam!” potong Jhoni. “Aku bawa sebotol Brandi saat aku kabur sambil membawamu kemari.” sambungnya sambil mengambil botol itu.

“Kapan kau punya Brandi, Jhoni? Kenapa tidak kau keluarkan kemarin?”

“Ini kusimpan, untuk di acara pernikahanku. Tapi, seperitnya wanita itu sudah terbunuh.”

“Sudahlah, Sam,” sahut Jhoni kembali. “Kita diam di sini dulu sambil menghabiskan minuman ini. Nanti kita mencari rumah baru untuk kita tinggali lagi.”

Mereka berdua lantas bergantian menenggak minuman itu. Sampai hari menjelang sore kembali,  mereka memulai pertengkaran mereka, lalu tidur tanpa sadarkan diri. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Still We Rise | Balinese Women Movements: 2 Empowering Projects, 21 Inspiring Women

Next Post

Masker = Pakaian Dalam?

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Masker = Pakaian Dalam?

Masker = Pakaian Dalam?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co