3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hatimu Sebotol Brandi || Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
December 27, 2020
in Cerpen
Hatimu Sebotol Brandi || Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi Ida Bagus Pandit Parastu

Di teras rumah, Jhoni dan Sam sibuk berbincang sambil merokok. Di tengah-tengah mereka terdapat sebuah meja bundar yang tak terlalu besar menyekat mereka, di atas meja itu ada sebuah botol minuman besar yang mereka minum bergantian setelah menghisap rokok.

Beberapa menit berlalu, perbincangan itu tiba-tiba lenyap sesaat, sunyi seperti mengadu mereka kembali.

“Siapa setelah ini?” celetuk Jhoni.

Sam tidak menjawab sama sekali, ia langsung mengambil botol itu lalu diminumnya isi di dalamnya.

“Kau tau orang-orang di pos ronda di depan gang itu, Sam? Mereka hanya berpura-pura gila saat mereka mabuk!”

“Kita juga sama, Jhoni. Hanya saja kita tidak mau pamer,” jawab Sam dengan muka masam.

“Siapa selanjutnya?” tanya Jhoni kembali.

Sam mengambil botol itu, lalu diminumnya kembali isi botol itu. Jhoni memandang Sam lalu memandangi langit kemerahan, sementara Sam hanya terpaku pada gadis cantik di ujung gang, anak seorang konglomerat yang rumahnya memang di gang itu.

Suara musik terus terdengar dari sejak siang tadi. Suara itu berasal dari pos ronda, di ujung gang. Anak-anak muda sedang menikmati hidupnya.

“Ini sudah sore, apa kau tidak mau pulang saja, Sam?” tanya Jhoni.

“Siapa gantinya?” Sam.tak menjawab. Ia justru bertanya.

Jhoni juga tidak mau menjawab. Ia tampak kesal pertanyaannya tidak dijawab.

Sam kembali meminum isi di dalam botol itu.

“Sudah berapa kali?” tanya Jhoni sedikit kesal.

“Sekali!”

“Setelah kau, selanjutnya aku?” tanya Jhoni kembali.

“Tidak, aku setelah kau,” jawab Sam.

“Tadi siapa? Aku?” sambil memegang botol itu yang masih terisi setengahya.

“Aku..” jawab Sam kembali sembari menghidupkan rokoknya.

Jhoni kembali menaruh botol itu di atas meja. Sam kembali meminum isi di dalam botol itu. Mereka lantas saling menerka, siapa yang akan menenggak minuman itu lagi. Hening sebentar.

Tak lama berselang, lemparan kursi pertama melayang ke arah Jhoni, begitu pula sebaliknya kembali ke arah Sam. Mereka saling beradu pukulan, tidak ada yang tahu kebisingan di rumah itu. Suara kursi yang terlempar k earah pagar dari teras rumah itu kalah jauh dengan suara music dari depan gang.

***

Motor Triumph Clasic melaju dengan sangat kencang. Suara musik hardcore yang sejak tadi didengar olehnya mengalahkan suara motor itu. Jhoni pulang dari pekerjaannya yang sangat rumit, bahkan lebih rumit dari permasalahan rumah tangga dengan suami istri yang saling membenci. Di dalam tas punggungnya, terdapat sebuah botol mansion berukuran sedang. Ia membawanya setiap pulang bekerja. Pernah ia membeli sebotol arak di sebuah rumah milik temannya, esoknya ia mengalami masalah peerncernaan dan tidak masuk kerja selama seminggu. Sejak saat itu, Jhoni tidak lagi berani meminum arak, walau hanya setenggak. Ia juga tidak ingin muntah dan tidur di pos ronda depan gang itu.

Setelah sampai di rumah, Jhoni melihat seseorang yang duduk di teras rumahnya. Seorang pria, berambut panjang setengah ikal yang diikat ke belakang, celana yang sedikit robek dan baju punk rock sembilan puluhan. Tidak salah lagi, itu Sam!

“Sam!” sapa Jhoni dari kejauhan.

“Yoo, Jhoni! Apa kabar?” sapa Sam kembali sembari menghampiri Jhoni.

“Kapan datang? Sudah lama sekali.”

“Baru saja, aku sengaja datang ke sini dulu sebelum pulang ke rumah.”

Mereka duduk berdua di teras itu sambil berbincang tentang masa lalu. Sam juga baru datang dari tempat peraduannya. Menjadi seniman jalanan bukanlah hal yang mudah bagi Sam. Ia menceritakan semuanya kepada Jhoni.

***

Hari sudah semakin gelap. Suara bising dari ujung gang masih terdengar, tak luput juga suara teriakan mereka berdua yang sejak sore tadi tak ada habis-habisnya. Mereka masih saja bergulat, kadang saling memisahkan diri lalu memuntahkan sisa minuman itu dari mulut mereka lalu kembali bergulat di teras itu.

“Kau melihatnya kan sejak tadi?” Jhoni bertanya geram.

“Ya! Mana mungkin aku memalingkan perhatian pada wanita secantik itu,” sahut Sam bersiap memukul Jhoni.

“Bangsat!” Jhoni memukul wajah Sam dengan sekuat tenaganya.

 Selang beberapa saat, mereka berdua sepertinya sudah lelah. Keringat mereka bercucuran membasahi lantai dan sekujur tubuh mereka, darah berkucuran dari muka hingga ke dada mereka, pun luka-luka memar. Jhoni bangun perlahan lalu berjalan dan sesekali tersungkur saat menuju pintu rumah. Sam tergeletak di depan teras tak sadarkan diri. Setelah berhasil membuka pintu rumahnya, Jhoni lantas menghampiri Sam dan merangkulnya hingga ke dalam rumah.

***

Sam bercerita panjang lebar tentang perjalanannya, begitu juga Jhoni menceritakan keluh kesah tentang pekerjaannya di kota besar itu.

“Aku akan segera menikah,” kata Jhoni.

“Kau jangan bercanda. Pengaruh apa lagi ini, Jhoni? Anggur, brandi, bir, brugal, atau jangan-jangan…”

“Tidak, Sam!” potong Jhoni. “Kau tau aku sudah tidak minum arak lagi. Aku serius, Sam. Bulan depan tepatnya,” sambungnya.

“Dengan siapa? Kau tahu menjadi ayah itu merepotkan, Jhoni?”

“Dengan wanita yang berada di rumah yang paling besar itu, Sam.”

“Sebentar…..” sembari mengendus “Ini bau Mansion!”

“Hidungmu masih sama saja, Sam. Hahaha!”

Mereka berdua kembali berbincang. Jhoni mengeluarkan Mansion itu dari dalam tasnya. Mereka lantas berbincang mengenai apa pun hingga minuman itu habis nantinya.

***

Jhoni lantas melempar Sam ke arah sofa, Jhoni lantas berbaring di atas sofa sebelahnya. Mereka berdua tertidur pulas. Kesekian kalinya, rumah itu kacau karena mereka berdua. Kalau saja mereka serumah, mungkin saja mereka akan mengganti rumah setiap minggu karena kekacauan yang mereka buat sendiri.

Di tengah-tengah kemeriahan pesta yang terjadi di depan gang itu, mereka berdua menyepi seperti tidak tejadi apa-apa sesaat yang lalu.

Dari kejauhan, terdengar suara teriakan dimana-mana. Dari ujung gang tepat di pos ronda dan ujung gang lainnya. Terjadi kekacauan di gang itu. Rumah-rumah terlihat dibakar. Pos ronda itupun sudah ambruk sejak tadi, orang-orang di sana sudah habis berlumuran darah. Jhoni dan Sam masih tidak sadarkan diri. Orang-orang berlarian ke sana kemari menyelamatkan diri. Jhoni lantas tersadar beberapa saat setelahnya. Ia menengok keluar karena suara keriuhan yang terjadi tepat tengah malam. Ia menyesal, sungguh menyesal. Pembantaian di mana-mana, pembakaran rumah dan penjarahan. Orang-orang yang melakukannya tidak lain beberapa orang yang sedang berpesta di ujung gang tadi siang.

Jhoni tak berpikir panjang, ia merangkul Sam menuju belakang rumah. Sebelum ia dibantai bersama Sam dalam keadaan tidak sadarkan diri karena Mansion, lebih baik ia segera lari menuju belakang rumah lalu bersembunyi. Jhoni melompati tembok rumahnya setelah melemparkan Sam terlebih dahulu. Seseorang melihat ia melompati tembok lantas mengejarnya. Jhoni hanya berlari sembari membawa Sam di punggungnya, lalu hilang di tengah semak-semak.

Jhoni terlihat memuntahkan semuanya, Sam masih tak terlihat tak sadarkan diri. Ia memukul Sam karena kesal harus merangkulnya dan berbau alkohol. Napasnya tak beraturan lalu tak sadarkan diri di tengah semak-semak.

Sam terbangun dan terekejut, ia berada di tengah semak belukar yang entah di mana. Ia hanya ingat sedang meminum Mansion bersama Jhoni di depan teras rumahnya. Beberapa saat kemudian, Jhoni terbangun dan secara tidak sengaja memukul Sam.

“Di mana kita?” tanya Sam kebingungan.

“Kau ingat orang-orang di depan gang itu? Mereka membakar dan menjarah seluruh rumah di gang!”

“Yang benar saja! Apa yang mereka pikirkan?”

“Sepertinya beberapa orang itu adalah orang bayaran, Sam.”

“Bayaran? Untuk apa? Untuk membunuh calon mertuamu itu?”

“Bukan. Untuk membunuhku.”

“Membunuhmu? Memangnya kau salah apa?”

“Mungkin aku tidak sengaja membunuh bos mereka.”

“Kenapa kau membunuh, Jhoni? Untuk apa?”

“Karena itu pekerjaanku, Sam.”

“Bajingan kau, Jhoni! Karena kau semua or….”

“Sudahlah, Sam!” potong Jhoni. “Aku bawa sebotol Brandi saat aku kabur sambil membawamu kemari.” sambungnya sambil mengambil botol itu.

“Kapan kau punya Brandi, Jhoni? Kenapa tidak kau keluarkan kemarin?”

“Ini kusimpan, untuk di acara pernikahanku. Tapi, seperitnya wanita itu sudah terbunuh.”

“Sudahlah, Sam,” sahut Jhoni kembali. “Kita diam di sini dulu sambil menghabiskan minuman ini. Nanti kita mencari rumah baru untuk kita tinggali lagi.”

Mereka berdua lantas bergantian menenggak minuman itu. Sampai hari menjelang sore kembali,  mereka memulai pertengkaran mereka, lalu tidur tanpa sadarkan diri. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Still We Rise | Balinese Women Movements: 2 Empowering Projects, 21 Inspiring Women

Next Post

Masker = Pakaian Dalam?

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Masker = Pakaian Dalam?

Masker = Pakaian Dalam?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co