14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hatimu Sebotol Brandi || Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
December 27, 2020
in Cerpen
Hatimu Sebotol Brandi || Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi Ida Bagus Pandit Parastu

Di teras rumah, Jhoni dan Sam sibuk berbincang sambil merokok. Di tengah-tengah mereka terdapat sebuah meja bundar yang tak terlalu besar menyekat mereka, di atas meja itu ada sebuah botol minuman besar yang mereka minum bergantian setelah menghisap rokok.

Beberapa menit berlalu, perbincangan itu tiba-tiba lenyap sesaat, sunyi seperti mengadu mereka kembali.

“Siapa setelah ini?” celetuk Jhoni.

Sam tidak menjawab sama sekali, ia langsung mengambil botol itu lalu diminumnya isi di dalamnya.

“Kau tau orang-orang di pos ronda di depan gang itu, Sam? Mereka hanya berpura-pura gila saat mereka mabuk!”

“Kita juga sama, Jhoni. Hanya saja kita tidak mau pamer,” jawab Sam dengan muka masam.

“Siapa selanjutnya?” tanya Jhoni kembali.

Sam mengambil botol itu, lalu diminumnya kembali isi botol itu. Jhoni memandang Sam lalu memandangi langit kemerahan, sementara Sam hanya terpaku pada gadis cantik di ujung gang, anak seorang konglomerat yang rumahnya memang di gang itu.

Suara musik terus terdengar dari sejak siang tadi. Suara itu berasal dari pos ronda, di ujung gang. Anak-anak muda sedang menikmati hidupnya.

“Ini sudah sore, apa kau tidak mau pulang saja, Sam?” tanya Jhoni.

“Siapa gantinya?” Sam.tak menjawab. Ia justru bertanya.

Jhoni juga tidak mau menjawab. Ia tampak kesal pertanyaannya tidak dijawab.

Sam kembali meminum isi di dalam botol itu.

“Sudah berapa kali?” tanya Jhoni sedikit kesal.

“Sekali!”

“Setelah kau, selanjutnya aku?” tanya Jhoni kembali.

“Tidak, aku setelah kau,” jawab Sam.

“Tadi siapa? Aku?” sambil memegang botol itu yang masih terisi setengahya.

“Aku..” jawab Sam kembali sembari menghidupkan rokoknya.

Jhoni kembali menaruh botol itu di atas meja. Sam kembali meminum isi di dalam botol itu. Mereka lantas saling menerka, siapa yang akan menenggak minuman itu lagi. Hening sebentar.

Tak lama berselang, lemparan kursi pertama melayang ke arah Jhoni, begitu pula sebaliknya kembali ke arah Sam. Mereka saling beradu pukulan, tidak ada yang tahu kebisingan di rumah itu. Suara kursi yang terlempar k earah pagar dari teras rumah itu kalah jauh dengan suara music dari depan gang.

***

Motor Triumph Clasic melaju dengan sangat kencang. Suara musik hardcore yang sejak tadi didengar olehnya mengalahkan suara motor itu. Jhoni pulang dari pekerjaannya yang sangat rumit, bahkan lebih rumit dari permasalahan rumah tangga dengan suami istri yang saling membenci. Di dalam tas punggungnya, terdapat sebuah botol mansion berukuran sedang. Ia membawanya setiap pulang bekerja. Pernah ia membeli sebotol arak di sebuah rumah milik temannya, esoknya ia mengalami masalah peerncernaan dan tidak masuk kerja selama seminggu. Sejak saat itu, Jhoni tidak lagi berani meminum arak, walau hanya setenggak. Ia juga tidak ingin muntah dan tidur di pos ronda depan gang itu.

Setelah sampai di rumah, Jhoni melihat seseorang yang duduk di teras rumahnya. Seorang pria, berambut panjang setengah ikal yang diikat ke belakang, celana yang sedikit robek dan baju punk rock sembilan puluhan. Tidak salah lagi, itu Sam!

“Sam!” sapa Jhoni dari kejauhan.

“Yoo, Jhoni! Apa kabar?” sapa Sam kembali sembari menghampiri Jhoni.

“Kapan datang? Sudah lama sekali.”

“Baru saja, aku sengaja datang ke sini dulu sebelum pulang ke rumah.”

Mereka duduk berdua di teras itu sambil berbincang tentang masa lalu. Sam juga baru datang dari tempat peraduannya. Menjadi seniman jalanan bukanlah hal yang mudah bagi Sam. Ia menceritakan semuanya kepada Jhoni.

***

Hari sudah semakin gelap. Suara bising dari ujung gang masih terdengar, tak luput juga suara teriakan mereka berdua yang sejak sore tadi tak ada habis-habisnya. Mereka masih saja bergulat, kadang saling memisahkan diri lalu memuntahkan sisa minuman itu dari mulut mereka lalu kembali bergulat di teras itu.

“Kau melihatnya kan sejak tadi?” Jhoni bertanya geram.

“Ya! Mana mungkin aku memalingkan perhatian pada wanita secantik itu,” sahut Sam bersiap memukul Jhoni.

“Bangsat!” Jhoni memukul wajah Sam dengan sekuat tenaganya.

 Selang beberapa saat, mereka berdua sepertinya sudah lelah. Keringat mereka bercucuran membasahi lantai dan sekujur tubuh mereka, darah berkucuran dari muka hingga ke dada mereka, pun luka-luka memar. Jhoni bangun perlahan lalu berjalan dan sesekali tersungkur saat menuju pintu rumah. Sam tergeletak di depan teras tak sadarkan diri. Setelah berhasil membuka pintu rumahnya, Jhoni lantas menghampiri Sam dan merangkulnya hingga ke dalam rumah.

***

Sam bercerita panjang lebar tentang perjalanannya, begitu juga Jhoni menceritakan keluh kesah tentang pekerjaannya di kota besar itu.

“Aku akan segera menikah,” kata Jhoni.

“Kau jangan bercanda. Pengaruh apa lagi ini, Jhoni? Anggur, brandi, bir, brugal, atau jangan-jangan…”

“Tidak, Sam!” potong Jhoni. “Kau tau aku sudah tidak minum arak lagi. Aku serius, Sam. Bulan depan tepatnya,” sambungnya.

“Dengan siapa? Kau tahu menjadi ayah itu merepotkan, Jhoni?”

“Dengan wanita yang berada di rumah yang paling besar itu, Sam.”

“Sebentar…..” sembari mengendus “Ini bau Mansion!”

“Hidungmu masih sama saja, Sam. Hahaha!”

Mereka berdua kembali berbincang. Jhoni mengeluarkan Mansion itu dari dalam tasnya. Mereka lantas berbincang mengenai apa pun hingga minuman itu habis nantinya.

***

Jhoni lantas melempar Sam ke arah sofa, Jhoni lantas berbaring di atas sofa sebelahnya. Mereka berdua tertidur pulas. Kesekian kalinya, rumah itu kacau karena mereka berdua. Kalau saja mereka serumah, mungkin saja mereka akan mengganti rumah setiap minggu karena kekacauan yang mereka buat sendiri.

Di tengah-tengah kemeriahan pesta yang terjadi di depan gang itu, mereka berdua menyepi seperti tidak tejadi apa-apa sesaat yang lalu.

Dari kejauhan, terdengar suara teriakan dimana-mana. Dari ujung gang tepat di pos ronda dan ujung gang lainnya. Terjadi kekacauan di gang itu. Rumah-rumah terlihat dibakar. Pos ronda itupun sudah ambruk sejak tadi, orang-orang di sana sudah habis berlumuran darah. Jhoni dan Sam masih tidak sadarkan diri. Orang-orang berlarian ke sana kemari menyelamatkan diri. Jhoni lantas tersadar beberapa saat setelahnya. Ia menengok keluar karena suara keriuhan yang terjadi tepat tengah malam. Ia menyesal, sungguh menyesal. Pembantaian di mana-mana, pembakaran rumah dan penjarahan. Orang-orang yang melakukannya tidak lain beberapa orang yang sedang berpesta di ujung gang tadi siang.

Jhoni tak berpikir panjang, ia merangkul Sam menuju belakang rumah. Sebelum ia dibantai bersama Sam dalam keadaan tidak sadarkan diri karena Mansion, lebih baik ia segera lari menuju belakang rumah lalu bersembunyi. Jhoni melompati tembok rumahnya setelah melemparkan Sam terlebih dahulu. Seseorang melihat ia melompati tembok lantas mengejarnya. Jhoni hanya berlari sembari membawa Sam di punggungnya, lalu hilang di tengah semak-semak.

Jhoni terlihat memuntahkan semuanya, Sam masih tak terlihat tak sadarkan diri. Ia memukul Sam karena kesal harus merangkulnya dan berbau alkohol. Napasnya tak beraturan lalu tak sadarkan diri di tengah semak-semak.

Sam terbangun dan terekejut, ia berada di tengah semak belukar yang entah di mana. Ia hanya ingat sedang meminum Mansion bersama Jhoni di depan teras rumahnya. Beberapa saat kemudian, Jhoni terbangun dan secara tidak sengaja memukul Sam.

“Di mana kita?” tanya Sam kebingungan.

“Kau ingat orang-orang di depan gang itu? Mereka membakar dan menjarah seluruh rumah di gang!”

“Yang benar saja! Apa yang mereka pikirkan?”

“Sepertinya beberapa orang itu adalah orang bayaran, Sam.”

“Bayaran? Untuk apa? Untuk membunuh calon mertuamu itu?”

“Bukan. Untuk membunuhku.”

“Membunuhmu? Memangnya kau salah apa?”

“Mungkin aku tidak sengaja membunuh bos mereka.”

“Kenapa kau membunuh, Jhoni? Untuk apa?”

“Karena itu pekerjaanku, Sam.”

“Bajingan kau, Jhoni! Karena kau semua or….”

“Sudahlah, Sam!” potong Jhoni. “Aku bawa sebotol Brandi saat aku kabur sambil membawamu kemari.” sambungnya sambil mengambil botol itu.

“Kapan kau punya Brandi, Jhoni? Kenapa tidak kau keluarkan kemarin?”

“Ini kusimpan, untuk di acara pernikahanku. Tapi, seperitnya wanita itu sudah terbunuh.”

“Sudahlah, Sam,” sahut Jhoni kembali. “Kita diam di sini dulu sambil menghabiskan minuman ini. Nanti kita mencari rumah baru untuk kita tinggali lagi.”

Mereka berdua lantas bergantian menenggak minuman itu. Sampai hari menjelang sore kembali,  mereka memulai pertengkaran mereka, lalu tidur tanpa sadarkan diri. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Still We Rise | Balinese Women Movements: 2 Empowering Projects, 21 Inspiring Women

Next Post

Masker = Pakaian Dalam?

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Masker = Pakaian Dalam?

Masker = Pakaian Dalam?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co