7 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
September 20, 2019
in Opini
Demam Peraturan dan Kooptasi Ruang Publik Kita

Sikap romantik terhadap masa silam dan belenggu kultur yang mengelilinginya harus diimbangi dengan keberanian menatap masa depan dan merebut peran lebih baik. Agar generasi ini tidak menjadi generasi hana-tan hana—yang ada karena pernah hidup pada suatu masa tetapi sesungguhnya tidak pernah ada! — (Arya Suharja, 1992)

____

Pertengahan Juli 2019, saya menghadiri sebuah Dharma Pangasraman sebuah organisasi mahasiswa Hindu, tempat dimana dulu saya pernah menjadi anggotanya. Kurang lebih empat hari, mahasiswa Hindu yang ikut serta akan diberikan materi dan pembuka wawasan tentang nilai-nilai Hindu dan dinamika umat Hindu kontemporer. Sebagai kegiatan penerimaan anggota baru, kegiatan ini diharapkan mampu untuk menanamkan nilai-nilai Hindu dan karakter yang kuat bagi mahasiswa.

Namun, salah satu hal penting dari mulai saya ikut serta dalam Dharma Pangasraman di tahun 1999 hingga kini di tahun 2019, selalu saja generasi muda Hindu kebingungan dan seolah kurang percaya diri untuk berkiprah. Kebingungan tersebut mengacu pada menganalisis situasi yang perlu disikapi, termasuk dalam hal ini adalah mengkontekstualisasikan nilai-nilai Hindu untuk menerangi permasalahan kontemporer. Pada titik ini, intelektual muda Hindu selalu saja ketinggalaan kereta, gagap, dan terkesan milu-milu tuwung (ikut-ikutan).

Kurang percaya diri bagi saya terlihat jelas dari (seolah) “keengganan” untuk menunjukkan diri dan pemikiran dalam konteks nasional dan global. Salah satu sebabnya saya rasa adalah terlalu nyamannya generasi muda Hindu berkiprah “ke dalam”. Konteks ini mengacu kepada sikap mementingkan diri sendiri dan seolah-olah Bali adalah segala-galanya. Maksud saya, pikiran ini melandaskan nalarnya bahwa Bali seolah-olah steril dari pengaruh luar dan kepentingan global. Hal ini tentu saja keliru karena Bali adalah etalase berbagai kepentingan dari kuasa investasi (pariwisata) global yang mencengkramnya.

Situasi seperti itulah yang mengakibatkan seakan-akan potret generasi muda Bali adalah hanya yang “berbudaya dan berkesenian”. Karena menjadi etalase kuasa pariwisata global, cengkraman cara berpikir dan berperilaku harus tunduk dengan mesin pembentuk karakter manusia Bali ini (baca: pariwisata). Hal ini terang saja berdampak kepada cara berpikir, menganalisis, dan penentuan sikap dalam menyikapi Bali dan dunia global yang terus berubah. 

Saru Gremeng

Saya masih ingat betul suatu saat (alm) Prof. I Gusti Ngurah Bagus pernah mengungkapkan bahwa masyarakat Bali dan kalangan budayawan dan pakar-pakarnya terkait dan terbenam pada konsep lama kebudayaan yaitu yang melihat kebudayaan sebagai pedoman, panutan, dan norma. Hal ini berakibat fatal karena menganggap masyarakat pendukung kebudayaan yang ada hidup dibatasi oleh nilai-nilai budaya tersebut (Bagus, 2011; Atmaja, 2018). Hal ini terang saja sesat pikir yang fatal.

Perspektif berpikir seperti ini berdampak serius saat memandang dunia global yang terus berlari. Keterbukaan-keterbukaan pandangan untuk menginisiasi pemikiran yang kontekstual sangatlah penting. Hanya dengan pemikiran tersebutlah akan terbuka peluang-peluang ke depan untuk menafsirkan Bali yang lebih kontekstual. Kontestual maksud saya adalah yang melampaui pengentalan politik identitas yang terjadi selama ini—termasuk di dalamnya adalah Ajeg Bali dan pembentengan adat budaya.                  

Dalam kompleksitas Bali kontemporer inilah semestinya generasi muda Hindu berkontribusi. Kegelisahan yang dikemukakan Suharja (1992) jauh-jauh hari masih penad dalam konteks kini. Sungguh menyesakkan memang mendengar sekaligus meresapi pernyataan itu. Tapi itulah kenyataan yang tidak mungkin tertutupi.

Pergolakan pemikiran intelektual muda Hindu seolah tidak terdengar, saru gremeng. Kalaupun terdengar, kemungkinan berkubang pada sikap romantik dan dalam tempurung ke-Balian. Tempurung ke-Balian yang saya maksudkan adalah wacana yang diberbincangkan hanya Bali dan problematikanya. Tidak jauh daripada itu.

Permasalahannya semakin serius saat Bali berubah cepat. Respon menghadapi perubahan tentu saja memerlukan keluasan pengetahuan. Jika tidak demikian kita, generasi intelektual Hindu akan terjerumus menjadi picik, berpikiran sempit, dan hanya berwawasan “ke dalam”. Salah satu tantangan masyarakat Bali adalah merespon perubahan tersebut. Jika berorientasi “ke dalam”, maka cara merespon perubahan adalah dengan menciptakan gerakan membentengi diri (identitas) dan kebudayaan yang dibayangkan akan hilang.

Generasi (intelektual) muda Hindu apakah betul “antara ada dan tiada”? Jikapun mereka ada dan bersuara, suaranya masih dalam tempurung Bali. Begitukah?

Prof. Ngurah Bagus mendorong cendekiawan Bali untuk menghadapi dunia dengan keterbukaan pikiran yang kritis, dan bukan mengandalkan sikap yang statis dan berwawasan ke dalam. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi cendekiwan (Hindu) Bali adalah mengembangkan suatu gagasan yang lebih dinamis tentang kebudayaannya yang menawarkan ruang bagi hibriditas dan dimensi-dimensi transnasional (Nordholt, 2010: 101).              

“Melampaui Bali”?

Salah satu tantangan terbesar intelektual muda Hindu adalah melampaui romantisme ke-Balian atau yang lebih luas adalah ke-Hinduan itu sendiri. Sekali lagi yang dilampaui itu adalah cara berpikir romantisme, bukan spirit Bali dan Hindu itu sendiri. Bisakah kita merumuskan Bali dan Hindu itu adalah spirit bukan benda mati yang kita terlajur telah kita jadikan sebagai hak milik?

Romantisme dan penguatan “ke dalam” pastinya akan melahirkan sikap defensive (bertahan) dan berani membela (nindihin) Bali yang dibayangkan sebagai pertaruhan terakhirnya. Cara berpikir seperti inilah yang melahirkan gerakan-gerakan penguatan identitas dan kebudayaan dalam rentang panjang kebudayaan Bali. Baliseering (Balinisasi), dan Ajeg Bali menjadi salah dua contohnya.

Romantisme tentu adalah problem cara berpikir. Cara berpikir dipengaruhi oleh keluasan meresapi (menginternalisasi) pengalaman-pengalaman hidup yang panjang. Di dalamnya sentuhan interaksi manusia dengan sesamanya dan akumulasi pengetahuan menjadi moda utamanya. Oleh sebab itulah, gerakan perubahan senantiasa dimulai dari kegelisahan menanggapi situasi sekitar.

Cara merespon perubahan dan nasib dari dunia yang kita pijak ada beragam. Saya terusik dengan narasi yang diungkapkan oleh Dharma Palguna (2007) dengan mengutip kisah tiga ekor ikan dalam cerita Tantri.

Ketiga ekor ikan tersebut mempunyai sikapnya masing-masing merespon bencana yang akan datang menimpanya. Ikan pertama teguh mempertahankan hidup. Ia tidak terikat oleh tempat dan kenangan di tempat itu. Ia mampu memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Ia menganut faham kebebasan. Tanpa kebebasan tidak mungkin ia punya semangat hidup. Kebebasan itu ia cari walau akan menempuh perjalanan panjang meninggalkan rumah asal. Ikan pertama itu bernama Anangga Widuta yang berarti “ia yang memikirkan dan tahu apa yang akan terjadi”.

Ikan kedua berpikir bertahan dengan apa yang ada, dan bila sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, barulah mencari kehidupan baru. Sangat pragmatis. Nikmati apa yang ada. Dan bila sudah tidak ada lagi yang bisa dinikmati, barulah nanti berpikir mencari jalan keluarnya. Ikan kedua bernama Predyumnati yang artinya “ia yang cekatan dan tangkas”.

Ikan ketiga justru merasa masa bodoh dengan ancaman masa depan. Ia berpikir lebih baik mati daripada meninggalkan tempat kelahiran. Tempat kelahiran, kenangan, baginya jauh lebih penting dari pada nyawa. Ia tidak hendak memecahkan masalah tetapi memilih untuk mati bersama masalah tersebut (Dharma Palguna, 2007: 128). Dari ketiga sikap tersebut, ada satu pertanyaan penting. Bagaimana nasib telaga selanjutnya yang menjadi tempat kehidupan ketiga ikan tersebut? Jika telaga tersebut kita andaikan sebagai Pulau Bali, bagaimana kita sebaiknya memperhatikan pulau yang mulai ringkih ini?

Pertanyaannya, bisakah kita berpikir “melampaui Bali” sekaligus juga tanpa mempedulikan tempat kita lahir, dibesarkan, dan (mungkin) menghembuskan nafas terakhir? [T]


SELANJUTNYA BACA:

  • Bli Ngurah, Kami Mungkin Sedang Terpesona! – [Tanggapan atas Tulisan “Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu]
  • Apa dan Siapa Intelektual Muda Hindu yang Dimaksud Ngurah Suryawan?


Tags: balihinduintelektualintelektual hindupemudaPendidikan
Share211TweetSendShareSend
Previous Post

“Masabatan Endut”, Keteguhan Hati Daha Tenganan Pegringsingan

Next Post

Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post
Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Ruang Komunitas, Masa Depan Sastra Jakarta Bertumbuh — Membaca Festival Sastra Jakarta 2026 sebagai Gerakan Pembinaan dan Regenerasi Kebudayaan
Khas

Dari Ruang Komunitas, Masa Depan Sastra Jakarta Bertumbuh — Membaca Festival Sastra Jakarta 2026 sebagai Gerakan Pembinaan dan Regenerasi Kebudayaan

SEBUAH kota tidak cukup hanya memiliki sejarah sastra, nama-nama besar, atau gedung-gedung yang sesekali menjadi tempat berlangsungnya perhelatan kebudayaan. Kota...

by Emi Suy
November 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co