25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

Runi Arumndari by Runi Arumndari
September 14, 2019
in Ulasan
Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

Film Dua Garis Biru (dok. Starvision Plus)

Ketika pertama kali menyaksikan trailer yang dibalut dengan lagu menyentuh berjudul Growing Up dari Daramuda, banyak orang yang mungkin akan teringat film Jenny, Juno (2005) atau Juno (2007), dan berpikir bahwa Dua Garis Biru tidak lebih dari sekadar adaptasi karya orang lain. Tetapi ketika Dara (Adhisty Zara) dan Bima (Angga Yunanda) diperkenalkan melalui sebuah adegan pembuka yang cerdas, kita akan sadar bahwa Gina S. Noer tidak membuat film ini untuk hiburan semata.

Film ini tidak memperkenalkan Dara dan Bima secara terpisah melalui adegan yang menunjukkan keseharian mereka masing-masing seperti yang dapat kita lihat pada Posesif (2017), dan bukan juga melalui narasi dari karakter itu sendiri seperti pada Dilan 1990 (2018). Mereka diperkenalkan secara bersamaan pada suatu adegan murid-murid yang sedang diabsen berdasarkan nilai ulangannya. Dara dan Bima memang duduk sebangku, namun mereka masing-masing mendapatkan nilai tertinggi dan terendah, yang secara tersirat menunjukkan bahwa mereka sepasang namun kontras. Dara jelas berada di atas Bima, dalam hal kecerdasan, ambisi, hingga status sosial keluarga.

Konsep mempersatukan dua hal kontras yang disiratkan melalui adegan pembuka tersebut mempunyai makna lebih dari sekadar tentang sepasang kekasih yang sangat bertolak-belakang dalam berbagai hal, tetapi juga tentang tidak mudahnya mempersatukan dua orang usia belia menjadi sepasang orangtua dalam satu kesatuan keluarga. Dara dan Bima boleh ‘duduk sebangku’, tetapi bahkan untuk perkara makan kerang saja mereka masih berdebat mana yang lebih layak dimakan antara kerang yang sudah terbuka atau masih tertutup. Mereka masih merupakan dua orang yang berbeda yang belum siap untuk hidup bersama dengan visi misi yang sama.

Mereka pikir mereka akan bisa melewati perkara apapun, termasuk kehamilan di luar nikah itu, asalkan mereka saling mencintai. Padahal mereka tidak tahu bahwa mereka butuh lebih dari sekadar rasa cinta untuk menjadi orangtua, bahwa menjadi orangtua tidaklah mudah dan merupakan ‘pekerjaan’ seumur hidup, seperti yang dikatakan oleh Ibu Dara (Lulu Tobing). Mereka tidak sadar bahwa kalimat “saya akan tanggung jawab” memiliki makna yang tidak se-ringan mengucapkannya.

Mungkin mereka adalah gambaran nyata dari kebanyakan remaja di jaman mudahnya-akses-internet ini. Remaja yang tahu terlalu banyak tetapi tidak banyak menaruh paham. Mereka mempunyai banyak akses untuk melihat beragam materi dewasa, tetapi apakah mereka paham mengenai seks itu sendiri? Apakah mereka mengerti akan adanya pencegahan kehamilan melalui alat kontrasepsi? Rasanya tidak. Dan, saya rasa lagi, kemarahan Dewi (Rachel Amanda) kepada Bima yang menyalahkan adiknya karena tidak googling terlebih dahulu sebelum berbuat, mungkin adalah penyesalan kita semua terhadap mereka yang nekad berbuat tanpa ilmu apa-apa.

Tetapi apakah hanya mereka yang dapat kita salahkan atas ketidaktahuan tersebut? Tidak adakah pihak lain yang ikut memberikan kontribusinya, sehingga ‘kepolosan’ mereka hanyalah sebuah produk gagal dari lingkaran orang-orang yang saling terkait? Hilang ke manakah peran orangtua yang seharusnya dapat mengubah topik yang tabu tersebut menjadi sesuatu yang harus mereka tahu? Lalu apakah sekolah tidak bisa menjadi tempat yang tidak hanya memberikan pendidikan berbau akademis tetapi juga pendidikan seks?

Gina S. Noer menggambarkan lingkaran orang-orang yang berkontribusi tersebut dalam satu adegan yang sangat menguras emosi, di mana kehamilan Dara pertama kali terbongkar. Semua pihak tersebut berkumpul dalam satu ruang UKS; ada Dara dan Bima sebagai remaja yang tiba-tiba harus menjadi dewasa namun tidak punya pengetahuan apa-apa tentangnya, kepala sekolah sebagai perwakilan pihak sekolah yang gagal memberikan siswanya pendidikan seks, dan ada orangtua Dara dan Bima yang begitu kecewa dan marah kepada anak mereka, namun juga merasa diri mereka tidak berguna. Dalam ruangan tertutup itu, setiap individu menyumbang kesalahan. Orangtua dan pihak sekolah hanya seperti poster alat reproduksi yang menghiasi dinding ruang UKS; ada namun tidak berhasil memberi ilmu yang berarti.

Film ini nampaknya memang menghadirkan apa yang menjadi gambaran kenyataan. Tidak seperti Juno atau Jenny, Juno di mana respon orangtua terhadap perbuatan putra putrinya terkesan santai-santai saja yang rasanya agak tidak mungkin terjadi, di film ini respon tersebut tampak begitu nyata dan emosional. Kemarahan dan kekecewaan mereka terhadap putra putrinya yang keluar dalam bentuk tamparan hingga pengusiran dari rumah sendiri. Kepanikan mereka akan kenyataan bahwa anaknya mungkin tidak bisa lanjut sekolah. Kebingungan mereka akan bagaimana anak mereka akan menanggung semua bebannya. Menyerukan kepada mereka sebuah pernyataan yang begitu menggambarkan kehancuran, kekecewaan, dan kemarahan baik kepada Dara dan Bima maupun diri sendiri sebagai orangtua; “kamu pikir gampang jadi orang tua? Saya aja gagal jadi orang tua.”

Konsep dua hal yang kontras kembali digunakan untuk menggambarkan realita pandangan dan sikap orang terhadap kehamilan di luar nikah. Ada yang bersikeras menyalahkan pihak laki-laki seperti yang dilakukan Ibu Dara, dan ada juga yang melihatnya dengan lebih ‘netral’ seperti Ibu Bima (Cut Mini), yang membalas tuduhan Ibu Dara bahwa anaknya lah yang bersalah, dengan meneriakkan “anak kita!”, sebagai bentuk penegasan bahwa perempuan juga menyumbang kesalahan yang sama dengan laki-laki.

Rantaian konsekuensi yang harus ditanggung pun diceritakan dengan tidak tanggung-tanggung. Tidak hanya Dara dan Bima sendiri yang harus menanggung konsekuensi atas perbuatan mereka dalam wujud mental, fisik, dan finansial, tetapi keluarga mereka juga ikut menanggung bebannya. Beban yang hadir dalam bentuk penanggungan rasa kecewa dan malu, pengorbanan, hingga pertaruhan harga diri.

Setiap konsekuensi hadir sebagai edukasi yang memperingatkan betapa tidak sepele-nya kehamilan di luar nikah tersebut, terutama di usia muda seperti yang terjadi pada Dara. Setiap dialog pun hadir sebagai edukasi yang memberitahu banyak hal; mulai dari hal-hal kecil mengenai pekerjaan menjadi orangtua, peristiwa pembuahan itu sendiri yang hadir melalui pelajaran Biologi di kelas, penggunaan alat pengaman yang muncul secara natural saat Dewi mengungkapkan kemarahannya pada Bima, hingga hal-hal berbau medis yang disampaikan tanpa kesan ‘berat’ oleh dr. Fiza Hatta (Ligwina Hananto).

Pada akhirnya, kehadiran seorang calon bayi yang dikandung Dara tanpa proses pernikahan tidak lantas menjadi sebuah mukjizat yang kemudian mempertegas makna cinta diantara mereka, apalagi menjadi momentum untuk belajar tentang mencintai dan dicintai, yang sudah pernah kita lihat dalam Juno. Tidakjuga seperti Jenny, Juno di mana kehadiran calon bayi itu pada akhirnya hanya menjadi momen selebrasi cinta mereka, tanpa edukasi apa-apa. Dalam Dua Garis Biru, Gina S. Noer menjadikan kehamilan Dara sebagai momen edukasi, yang diceritakan dengan penuh emosi.

Dua Garis Biru adalah sebuah gambaran nyata tentang apa saja yang akan terjadi sebagai akibat dari kehamilan di luar nikah pada usia muda, serta tentang kehamilan itu sendiri. Film ini berusaha mengambil peran sebagai media sex education, karena entah sampai kapan seks akan dilihat sebagai hal yang tabu di tengah masyarakat yang sudah serba tahu ini. [T]

Tags: edukasifilmFilm Dua Garis BiruFilm Indonesiafilm layar lebarPendidikansekolah
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

“Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu

Next Post

Perjumpaan dengan Bayangan yang Hilang

Runi Arumndari

Runi Arumndari

Seorang dokter yang juga senang menulis dan melihat film tidak hanya sebagai media seni dan hiburan. Pernah menulis beberapa kali di sebuah koran. Pernah pula aktif menulis tentang film walau hanya dalam blog pribadi. Blog/website: msgretagarbo.tumblr.com dan phrasingcinema.blogspot.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Perjumpaan dengan Bayangan yang Hilang

Perjumpaan dengan Bayangan yang Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co