3 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
September 20, 2019
in Opini
Demam Peraturan dan Kooptasi Ruang Publik Kita

Sikap romantik terhadap masa silam dan belenggu kultur yang mengelilinginya harus diimbangi dengan keberanian menatap masa depan dan merebut peran lebih baik. Agar generasi ini tidak menjadi generasi hana-tan hana—yang ada karena pernah hidup pada suatu masa tetapi sesungguhnya tidak pernah ada! — (Arya Suharja, 1992)

____

Pertengahan Juli 2019, saya menghadiri sebuah Dharma Pangasraman sebuah organisasi mahasiswa Hindu, tempat dimana dulu saya pernah menjadi anggotanya. Kurang lebih empat hari, mahasiswa Hindu yang ikut serta akan diberikan materi dan pembuka wawasan tentang nilai-nilai Hindu dan dinamika umat Hindu kontemporer. Sebagai kegiatan penerimaan anggota baru, kegiatan ini diharapkan mampu untuk menanamkan nilai-nilai Hindu dan karakter yang kuat bagi mahasiswa.

Namun, salah satu hal penting dari mulai saya ikut serta dalam Dharma Pangasraman di tahun 1999 hingga kini di tahun 2019, selalu saja generasi muda Hindu kebingungan dan seolah kurang percaya diri untuk berkiprah. Kebingungan tersebut mengacu pada menganalisis situasi yang perlu disikapi, termasuk dalam hal ini adalah mengkontekstualisasikan nilai-nilai Hindu untuk menerangi permasalahan kontemporer. Pada titik ini, intelektual muda Hindu selalu saja ketinggalaan kereta, gagap, dan terkesan milu-milu tuwung (ikut-ikutan).

Kurang percaya diri bagi saya terlihat jelas dari (seolah) “keengganan” untuk menunjukkan diri dan pemikiran dalam konteks nasional dan global. Salah satu sebabnya saya rasa adalah terlalu nyamannya generasi muda Hindu berkiprah “ke dalam”. Konteks ini mengacu kepada sikap mementingkan diri sendiri dan seolah-olah Bali adalah segala-galanya. Maksud saya, pikiran ini melandaskan nalarnya bahwa Bali seolah-olah steril dari pengaruh luar dan kepentingan global. Hal ini tentu saja keliru karena Bali adalah etalase berbagai kepentingan dari kuasa investasi (pariwisata) global yang mencengkramnya.

Situasi seperti itulah yang mengakibatkan seakan-akan potret generasi muda Bali adalah hanya yang “berbudaya dan berkesenian”. Karena menjadi etalase kuasa pariwisata global, cengkraman cara berpikir dan berperilaku harus tunduk dengan mesin pembentuk karakter manusia Bali ini (baca: pariwisata). Hal ini terang saja berdampak kepada cara berpikir, menganalisis, dan penentuan sikap dalam menyikapi Bali dan dunia global yang terus berubah. 

Saru Gremeng

Saya masih ingat betul suatu saat (alm) Prof. I Gusti Ngurah Bagus pernah mengungkapkan bahwa masyarakat Bali dan kalangan budayawan dan pakar-pakarnya terkait dan terbenam pada konsep lama kebudayaan yaitu yang melihat kebudayaan sebagai pedoman, panutan, dan norma. Hal ini berakibat fatal karena menganggap masyarakat pendukung kebudayaan yang ada hidup dibatasi oleh nilai-nilai budaya tersebut (Bagus, 2011; Atmaja, 2018). Hal ini terang saja sesat pikir yang fatal.

Perspektif berpikir seperti ini berdampak serius saat memandang dunia global yang terus berlari. Keterbukaan-keterbukaan pandangan untuk menginisiasi pemikiran yang kontekstual sangatlah penting. Hanya dengan pemikiran tersebutlah akan terbuka peluang-peluang ke depan untuk menafsirkan Bali yang lebih kontekstual. Kontestual maksud saya adalah yang melampaui pengentalan politik identitas yang terjadi selama ini—termasuk di dalamnya adalah Ajeg Bali dan pembentengan adat budaya.                  

Dalam kompleksitas Bali kontemporer inilah semestinya generasi muda Hindu berkontribusi. Kegelisahan yang dikemukakan Suharja (1992) jauh-jauh hari masih penad dalam konteks kini. Sungguh menyesakkan memang mendengar sekaligus meresapi pernyataan itu. Tapi itulah kenyataan yang tidak mungkin tertutupi.

Pergolakan pemikiran intelektual muda Hindu seolah tidak terdengar, saru gremeng. Kalaupun terdengar, kemungkinan berkubang pada sikap romantik dan dalam tempurung ke-Balian. Tempurung ke-Balian yang saya maksudkan adalah wacana yang diberbincangkan hanya Bali dan problematikanya. Tidak jauh daripada itu.

Permasalahannya semakin serius saat Bali berubah cepat. Respon menghadapi perubahan tentu saja memerlukan keluasan pengetahuan. Jika tidak demikian kita, generasi intelektual Hindu akan terjerumus menjadi picik, berpikiran sempit, dan hanya berwawasan “ke dalam”. Salah satu tantangan masyarakat Bali adalah merespon perubahan tersebut. Jika berorientasi “ke dalam”, maka cara merespon perubahan adalah dengan menciptakan gerakan membentengi diri (identitas) dan kebudayaan yang dibayangkan akan hilang.

Generasi (intelektual) muda Hindu apakah betul “antara ada dan tiada”? Jikapun mereka ada dan bersuara, suaranya masih dalam tempurung Bali. Begitukah?

Prof. Ngurah Bagus mendorong cendekiawan Bali untuk menghadapi dunia dengan keterbukaan pikiran yang kritis, dan bukan mengandalkan sikap yang statis dan berwawasan ke dalam. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi cendekiwan (Hindu) Bali adalah mengembangkan suatu gagasan yang lebih dinamis tentang kebudayaannya yang menawarkan ruang bagi hibriditas dan dimensi-dimensi transnasional (Nordholt, 2010: 101).              

“Melampaui Bali”?

Salah satu tantangan terbesar intelektual muda Hindu adalah melampaui romantisme ke-Balian atau yang lebih luas adalah ke-Hinduan itu sendiri. Sekali lagi yang dilampaui itu adalah cara berpikir romantisme, bukan spirit Bali dan Hindu itu sendiri. Bisakah kita merumuskan Bali dan Hindu itu adalah spirit bukan benda mati yang kita terlajur telah kita jadikan sebagai hak milik?

Romantisme dan penguatan “ke dalam” pastinya akan melahirkan sikap defensive (bertahan) dan berani membela (nindihin) Bali yang dibayangkan sebagai pertaruhan terakhirnya. Cara berpikir seperti inilah yang melahirkan gerakan-gerakan penguatan identitas dan kebudayaan dalam rentang panjang kebudayaan Bali. Baliseering (Balinisasi), dan Ajeg Bali menjadi salah dua contohnya.

Romantisme tentu adalah problem cara berpikir. Cara berpikir dipengaruhi oleh keluasan meresapi (menginternalisasi) pengalaman-pengalaman hidup yang panjang. Di dalamnya sentuhan interaksi manusia dengan sesamanya dan akumulasi pengetahuan menjadi moda utamanya. Oleh sebab itulah, gerakan perubahan senantiasa dimulai dari kegelisahan menanggapi situasi sekitar.

Cara merespon perubahan dan nasib dari dunia yang kita pijak ada beragam. Saya terusik dengan narasi yang diungkapkan oleh Dharma Palguna (2007) dengan mengutip kisah tiga ekor ikan dalam cerita Tantri.

Ketiga ekor ikan tersebut mempunyai sikapnya masing-masing merespon bencana yang akan datang menimpanya. Ikan pertama teguh mempertahankan hidup. Ia tidak terikat oleh tempat dan kenangan di tempat itu. Ia mampu memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Ia menganut faham kebebasan. Tanpa kebebasan tidak mungkin ia punya semangat hidup. Kebebasan itu ia cari walau akan menempuh perjalanan panjang meninggalkan rumah asal. Ikan pertama itu bernama Anangga Widuta yang berarti “ia yang memikirkan dan tahu apa yang akan terjadi”.

Ikan kedua berpikir bertahan dengan apa yang ada, dan bila sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, barulah mencari kehidupan baru. Sangat pragmatis. Nikmati apa yang ada. Dan bila sudah tidak ada lagi yang bisa dinikmati, barulah nanti berpikir mencari jalan keluarnya. Ikan kedua bernama Predyumnati yang artinya “ia yang cekatan dan tangkas”.

Ikan ketiga justru merasa masa bodoh dengan ancaman masa depan. Ia berpikir lebih baik mati daripada meninggalkan tempat kelahiran. Tempat kelahiran, kenangan, baginya jauh lebih penting dari pada nyawa. Ia tidak hendak memecahkan masalah tetapi memilih untuk mati bersama masalah tersebut (Dharma Palguna, 2007: 128). Dari ketiga sikap tersebut, ada satu pertanyaan penting. Bagaimana nasib telaga selanjutnya yang menjadi tempat kehidupan ketiga ikan tersebut? Jika telaga tersebut kita andaikan sebagai Pulau Bali, bagaimana kita sebaiknya memperhatikan pulau yang mulai ringkih ini?

Pertanyaannya, bisakah kita berpikir “melampaui Bali” sekaligus juga tanpa mempedulikan tempat kita lahir, dibesarkan, dan (mungkin) menghembuskan nafas terakhir? [T]


SELANJUTNYA BACA:

  • Bli Ngurah, Kami Mungkin Sedang Terpesona! – [Tanggapan atas Tulisan “Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu]
  • Apa dan Siapa Intelektual Muda Hindu yang Dimaksud Ngurah Suryawan?


Tags: balihinduintelektualintelektual hindupemudaPendidikan
Share211TweetSendShareSend
Previous Post

“Masabatan Endut”, Keteguhan Hati Daha Tenganan Pegringsingan

Next Post

Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails
Next Post
Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja
Khas

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

by Gading Ganesha
May 2, 2026
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?
Opini

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi
Esai

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026
Pendidikan

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

SUASANA semarak terasa di ajang Confident 2026 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar (STAID) pada 26 April 2026. Kegiatan...

by Dede Putra Wiguna
May 2, 2026
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi
Esai

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
Guru Profesional Bekerja Proporsional
Esai

Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam
Esai

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

by Angga Wijaya
May 2, 2026
Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini
Budaya

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

by tatkala
May 1, 2026
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’
Khas

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya
Gaya

HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60...

by tatkala
May 1, 2026
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co