7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
September 20, 2019
in Opini
Demam Peraturan dan Kooptasi Ruang Publik Kita

Sikap romantik terhadap masa silam dan belenggu kultur yang mengelilinginya harus diimbangi dengan keberanian menatap masa depan dan merebut peran lebih baik. Agar generasi ini tidak menjadi generasi hana-tan hana—yang ada karena pernah hidup pada suatu masa tetapi sesungguhnya tidak pernah ada! — (Arya Suharja, 1992)

____

Pertengahan Juli 2019, saya menghadiri sebuah Dharma Pangasraman sebuah organisasi mahasiswa Hindu, tempat dimana dulu saya pernah menjadi anggotanya. Kurang lebih empat hari, mahasiswa Hindu yang ikut serta akan diberikan materi dan pembuka wawasan tentang nilai-nilai Hindu dan dinamika umat Hindu kontemporer. Sebagai kegiatan penerimaan anggota baru, kegiatan ini diharapkan mampu untuk menanamkan nilai-nilai Hindu dan karakter yang kuat bagi mahasiswa.

Namun, salah satu hal penting dari mulai saya ikut serta dalam Dharma Pangasraman di tahun 1999 hingga kini di tahun 2019, selalu saja generasi muda Hindu kebingungan dan seolah kurang percaya diri untuk berkiprah. Kebingungan tersebut mengacu pada menganalisis situasi yang perlu disikapi, termasuk dalam hal ini adalah mengkontekstualisasikan nilai-nilai Hindu untuk menerangi permasalahan kontemporer. Pada titik ini, intelektual muda Hindu selalu saja ketinggalaan kereta, gagap, dan terkesan milu-milu tuwung (ikut-ikutan).

Kurang percaya diri bagi saya terlihat jelas dari (seolah) “keengganan” untuk menunjukkan diri dan pemikiran dalam konteks nasional dan global. Salah satu sebabnya saya rasa adalah terlalu nyamannya generasi muda Hindu berkiprah “ke dalam”. Konteks ini mengacu kepada sikap mementingkan diri sendiri dan seolah-olah Bali adalah segala-galanya. Maksud saya, pikiran ini melandaskan nalarnya bahwa Bali seolah-olah steril dari pengaruh luar dan kepentingan global. Hal ini tentu saja keliru karena Bali adalah etalase berbagai kepentingan dari kuasa investasi (pariwisata) global yang mencengkramnya.

Situasi seperti itulah yang mengakibatkan seakan-akan potret generasi muda Bali adalah hanya yang “berbudaya dan berkesenian”. Karena menjadi etalase kuasa pariwisata global, cengkraman cara berpikir dan berperilaku harus tunduk dengan mesin pembentuk karakter manusia Bali ini (baca: pariwisata). Hal ini terang saja berdampak kepada cara berpikir, menganalisis, dan penentuan sikap dalam menyikapi Bali dan dunia global yang terus berubah. 

Saru Gremeng

Saya masih ingat betul suatu saat (alm) Prof. I Gusti Ngurah Bagus pernah mengungkapkan bahwa masyarakat Bali dan kalangan budayawan dan pakar-pakarnya terkait dan terbenam pada konsep lama kebudayaan yaitu yang melihat kebudayaan sebagai pedoman, panutan, dan norma. Hal ini berakibat fatal karena menganggap masyarakat pendukung kebudayaan yang ada hidup dibatasi oleh nilai-nilai budaya tersebut (Bagus, 2011; Atmaja, 2018). Hal ini terang saja sesat pikir yang fatal.

Perspektif berpikir seperti ini berdampak serius saat memandang dunia global yang terus berlari. Keterbukaan-keterbukaan pandangan untuk menginisiasi pemikiran yang kontekstual sangatlah penting. Hanya dengan pemikiran tersebutlah akan terbuka peluang-peluang ke depan untuk menafsirkan Bali yang lebih kontekstual. Kontestual maksud saya adalah yang melampaui pengentalan politik identitas yang terjadi selama ini—termasuk di dalamnya adalah Ajeg Bali dan pembentengan adat budaya.                  

Dalam kompleksitas Bali kontemporer inilah semestinya generasi muda Hindu berkontribusi. Kegelisahan yang dikemukakan Suharja (1992) jauh-jauh hari masih penad dalam konteks kini. Sungguh menyesakkan memang mendengar sekaligus meresapi pernyataan itu. Tapi itulah kenyataan yang tidak mungkin tertutupi.

Pergolakan pemikiran intelektual muda Hindu seolah tidak terdengar, saru gremeng. Kalaupun terdengar, kemungkinan berkubang pada sikap romantik dan dalam tempurung ke-Balian. Tempurung ke-Balian yang saya maksudkan adalah wacana yang diberbincangkan hanya Bali dan problematikanya. Tidak jauh daripada itu.

Permasalahannya semakin serius saat Bali berubah cepat. Respon menghadapi perubahan tentu saja memerlukan keluasan pengetahuan. Jika tidak demikian kita, generasi intelektual Hindu akan terjerumus menjadi picik, berpikiran sempit, dan hanya berwawasan “ke dalam”. Salah satu tantangan masyarakat Bali adalah merespon perubahan tersebut. Jika berorientasi “ke dalam”, maka cara merespon perubahan adalah dengan menciptakan gerakan membentengi diri (identitas) dan kebudayaan yang dibayangkan akan hilang.

Generasi (intelektual) muda Hindu apakah betul “antara ada dan tiada”? Jikapun mereka ada dan bersuara, suaranya masih dalam tempurung Bali. Begitukah?

Prof. Ngurah Bagus mendorong cendekiawan Bali untuk menghadapi dunia dengan keterbukaan pikiran yang kritis, dan bukan mengandalkan sikap yang statis dan berwawasan ke dalam. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi cendekiwan (Hindu) Bali adalah mengembangkan suatu gagasan yang lebih dinamis tentang kebudayaannya yang menawarkan ruang bagi hibriditas dan dimensi-dimensi transnasional (Nordholt, 2010: 101).              

“Melampaui Bali”?

Salah satu tantangan terbesar intelektual muda Hindu adalah melampaui romantisme ke-Balian atau yang lebih luas adalah ke-Hinduan itu sendiri. Sekali lagi yang dilampaui itu adalah cara berpikir romantisme, bukan spirit Bali dan Hindu itu sendiri. Bisakah kita merumuskan Bali dan Hindu itu adalah spirit bukan benda mati yang kita terlajur telah kita jadikan sebagai hak milik?

Romantisme dan penguatan “ke dalam” pastinya akan melahirkan sikap defensive (bertahan) dan berani membela (nindihin) Bali yang dibayangkan sebagai pertaruhan terakhirnya. Cara berpikir seperti inilah yang melahirkan gerakan-gerakan penguatan identitas dan kebudayaan dalam rentang panjang kebudayaan Bali. Baliseering (Balinisasi), dan Ajeg Bali menjadi salah dua contohnya.

Romantisme tentu adalah problem cara berpikir. Cara berpikir dipengaruhi oleh keluasan meresapi (menginternalisasi) pengalaman-pengalaman hidup yang panjang. Di dalamnya sentuhan interaksi manusia dengan sesamanya dan akumulasi pengetahuan menjadi moda utamanya. Oleh sebab itulah, gerakan perubahan senantiasa dimulai dari kegelisahan menanggapi situasi sekitar.

Cara merespon perubahan dan nasib dari dunia yang kita pijak ada beragam. Saya terusik dengan narasi yang diungkapkan oleh Dharma Palguna (2007) dengan mengutip kisah tiga ekor ikan dalam cerita Tantri.

Ketiga ekor ikan tersebut mempunyai sikapnya masing-masing merespon bencana yang akan datang menimpanya. Ikan pertama teguh mempertahankan hidup. Ia tidak terikat oleh tempat dan kenangan di tempat itu. Ia mampu memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Ia menganut faham kebebasan. Tanpa kebebasan tidak mungkin ia punya semangat hidup. Kebebasan itu ia cari walau akan menempuh perjalanan panjang meninggalkan rumah asal. Ikan pertama itu bernama Anangga Widuta yang berarti “ia yang memikirkan dan tahu apa yang akan terjadi”.

Ikan kedua berpikir bertahan dengan apa yang ada, dan bila sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, barulah mencari kehidupan baru. Sangat pragmatis. Nikmati apa yang ada. Dan bila sudah tidak ada lagi yang bisa dinikmati, barulah nanti berpikir mencari jalan keluarnya. Ikan kedua bernama Predyumnati yang artinya “ia yang cekatan dan tangkas”.

Ikan ketiga justru merasa masa bodoh dengan ancaman masa depan. Ia berpikir lebih baik mati daripada meninggalkan tempat kelahiran. Tempat kelahiran, kenangan, baginya jauh lebih penting dari pada nyawa. Ia tidak hendak memecahkan masalah tetapi memilih untuk mati bersama masalah tersebut (Dharma Palguna, 2007: 128). Dari ketiga sikap tersebut, ada satu pertanyaan penting. Bagaimana nasib telaga selanjutnya yang menjadi tempat kehidupan ketiga ikan tersebut? Jika telaga tersebut kita andaikan sebagai Pulau Bali, bagaimana kita sebaiknya memperhatikan pulau yang mulai ringkih ini?

Pertanyaannya, bisakah kita berpikir “melampaui Bali” sekaligus juga tanpa mempedulikan tempat kita lahir, dibesarkan, dan (mungkin) menghembuskan nafas terakhir? [T]


SELANJUTNYA BACA:

  • Bli Ngurah, Kami Mungkin Sedang Terpesona! – [Tanggapan atas Tulisan “Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu]
  • Apa dan Siapa Intelektual Muda Hindu yang Dimaksud Ngurah Suryawan?


Tags: balihinduintelektualintelektual hindupemudaPendidikan
Share211TweetSendShareSend
Previous Post

“Masabatan Endut”, Keteguhan Hati Daha Tenganan Pegringsingan

Next Post

Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails
Next Post
Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co