14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komitmen Prabowo dalam Pertarungan Melawan Korupsi: Antara Harapan Reformasi dan Bayang-bayang Oligarki

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
September 3, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

KETIKA Presiden Prabowo Subianto bersumpah di hadapan rakyat bahwa ia “tidak akan mundur” melawan mafia dan koruptor, kata-kata itu bukan sekadar gema politik. Ia adalah artikulasi krisis legitimasi yang tengah dihadapi republik ini. Janji itu lahir bukan di ruang hampa, melainkan dalam konteks sejarah panjang bangsa yang terus dirundung korupsi sistemik sejak era Orde Baru hingga reformasi. Sumpah itu, jika terbukti tulus dan konsisten, bisa menjadi fondasi baru tata kelola negara. Tetapi jika gagal, ia hanya akan menambah daftar panjang retorika tanpa realisasi yang mewarnai perjalanan demokrasi Indonesia.

Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh

Studi yang dilakukan oleh (Wasistha, 2025) menempatkan Indonesia di peringkat ke-115 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi (CPI). Angka ini menandakan bahwa meski telah lebih dari dua dekade reformasi, korupsi tetap mengakar. Penelitian yang dilakukan oleh (Rohmah, 2023) menunjukkan bahwa demokrasi elektoral Indonesia masih dikooptasi oleh praktik money politics dan patronase, yang menjadikan partai politik bergantung pada dana gelap.

Kasus-kasus besar mengonfirmasi temuan itu. Skandal BLBI pada era Habibie dan Gus Dur menguapkan lebih dari Rp138 triliun uang negara, kasus Century Bank pada era SBY menelan Rp6,7 triliun, dan mega-korupsi e-KTP di era Jokowi merugikan negara lebih dari Rp2,3 triliun. Dalam semua peristiwa ini, pola yang berulang adalah kuatnya jaring perlindungan elit politik, lemahnya penegakan hukum, serta frustrasi publik yang merasa dipermainkan.

Mafia Migas yang merupakan Simbol Korupsi Struktural

Dari seluruh wajah korupsi, mafia migas adalah representasi paling telanjang dari oligarki. Sejumlah penelitian, seperti laporan (Warburton, 2023), menunjukkan bahwa tata kelola migas di Indonesia rentan dikendalikan oleh kelompok kecil yang berjejaring dengan elite politik dan birokrasi. Kasus dugaan praktik Riza Chalid yang oleh publik dijuluki “Godfather Migas” membuktikan bahwa sumber daya strategis negara dapat dikuasai jaringan tak kasatmata selama puluhan tahun.

Di sinilah Prabowo mencoba tampil berbeda. Menyebut mafia migas secara terbuka adalah langkah simbolis yang jarang dilakukan presiden sebelumnya. Namun, menurut teori symbolic politics (Posner, 1998), simbol politik hanya efektif bila disertai tindakan konkret. Tanpa operasi penangkapan, reformasi tata kelola, dan keberanian menyentuh pejabat tinggi yang terlibat, sumpah Prabowo berisiko dianggap sekadar political spectacle.

Ujian di Tiga Medan

Opini publik dan teori kelembagaan sama-sama menegaskan bahwa ada tiga medan krusial yang akan menentukan apakah komitmen Prabowo melawan korupsi tercatat sebagai sejarah besar atau hanya berakhir sebagai catatan kaki kekuasaan.

Medan pertama adalah penegakan hukum terhadap oligarki. Selama puluhan tahun, oligarki energi dan impor menjadi “veto player” dalam politik Indonesia, menghalangi reformasi apa pun yang mengancam kepentingan mereka. Jika pemerintah berani menangkap buronan migas yang selama ini kebal hukum dan membongkar praktik rente dalam impor energi, maka langkah itu akan menjadi sinyal kuat lahirnya babak baru. Namun jika tidak, oligarki akan terus berkuasa dengan wajah yang sama, hanya berganti rezim dan bendera politik.

Medan kedua adalah independensi lembaga penegak hukum. Studi (Rahmat, 2018)  menegaskan bahwa keberhasilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di masa awal reformasi bertumpu pada kemandiriannya dari intervensi politik. Sayangnya, revisi UU KPK pada 2019 justru melemahkan fondasi tersebut, membuat publik meragukan efektivitas lembaga ini di era sekarang. Oleh karena itu, Prabowo harus membuktikan bahwa KPK, Kejaksaan Agung, dan Polri tidak dijadikan instrumen kekuasaan, melainkan benar-benar berdiri sebagai garda depan pemberantasan mafia dan korupsi tanpa pandang bulu.

Medan ketiga yang tak kalah penting adalah transparansi partai politik. Teori cartel party yang dikemukakan (Katz & Mair, 1995, 2018) menunjukkan bagaimana partai-partai dalam demokrasi baru cenderung bertransformasi menjadi kartel, yaitu organisasi yang lebih berfungsi sebagai mesin rente untuk mempertahankan dominasi elite daripada wadah aspirasi rakyat. Di Indonesia, fenomena ini terlihat jelas, bahwa kader yang terseret kasus korupsi kerap dilindungi oleh partainya atas nama solidaritas politik. Selama logika itu tetap berlaku, demokrasi akan terus dipandang masyarakat bukan sebagai mekanisme akuntabilitas, melainkan sebagai teater penuh sandiwara.

Harapan, Skeptisisme, dan Potensi Krisis

Sejarah politik Indonesia mengajarkan publik untuk skeptis. SBY pernah berjanji “tidak tebang pilih”, Jokowi menggagas “revolusi mental”. Namun, kedua jargon itu gagal melahirkan reformasi menyeluruh. Ketika Prabowo berjanji “tidak akan mundur”, rakyat menyambut dengan tepuk tangan, tetapi juga dengan waswas.

Kerusuhan sosial yang pecah pada 2025 adalah indikator nyata bahwa publik tidak lagi bisa ditenangkan oleh retorika. Menurut teori relative deprivation (Williams, 2017), ketidakpuasan sosial memuncak ketika jarak antara harapan dan kenyataan semakin lebar. Jika janji melawan mafia hanya berakhir sebagai slogan, krisis legitimasi bisa muncul, persis seperti yang menumbangkan rezim Orde Baru pada 1998.

Jalan Panjang Menuju Reformasi

Pertarungan melawan korupsi bukanlah proyek jangka pendek yang dapat selesai dalam satu periode kekuasaan, melainkan sebuah proses peradaban panjang yang menuntut konsistensi. Dalam kerangka itu, setidaknya ada empat pilar reformasi yang harus diprioritaskan agar komitmen politik tidak berhenti sebagai jargon.

Pertama, reformasi tata kelola energi dan pangan menjadi kunci, sebab di sektor inilah ruang rente dan mafia kerap bercokol. Keterbukaan kontrak, audit independen, serta penerapan sistem digital diperlukan untuk menutup celah yang selama ini dimanfaatkan oleh oligarki.

Kedua, transparansi anggaran negara harus dijadikan standar, di mana inisiatif seperti Open Government Partnership (OGP) dapat dijadikan kerangka agar publik memiliki akses langsung dalam mengawasi belanja negara. Tanpa keterbukaan, setiap komitmen pemberantasan korupsi akan selalu diragukan.

Pilar berikutnya adalah pembenahan partai politik. Partai yang selama ini bergantung pada dana gelap dan sokongan cukong politik harus diperkuat dengan pendanaan negara yang transparan, sehingga mereka bisa melepaskan diri dari jeratan oligarki. Tanpa partai yang sehat, demokrasi akan terus menjadi panggung transaksi.

Terakhir, pendidikan antikorupsi sejak dini harus menjadi investasi jangka panjang bangsa ini. Sebagaimana ditegaskan (Friehe & Tabbach, 2013), pencegahan jauh lebih efektif daripada penindakan. Membangun budaya integritas sejak sekolah dasar akan melahirkan generasi yang tidak lagi menganggap korupsi sebagai hal lumrah, melainkan sebagai pengkhianatan terhadap cita-cita kebangsaan.

Dengan empat pilar ini, perjuangan melawan korupsi bisa bertransformasi dari sekadar agenda politik jangka pendek menjadi proyek peradaban yang benar-benar menancapkan fondasi bagi masa depan republik.

Antara Janji dan Ujian

Komitmen Prabowo melawan korupsi adalah janji politik terbesar di awal pemerintahannya. Sejarah menempatkannya di persimpangan, bahwa apakah ia akan tercatat sebagai presiden yang memutus rantai oligarki, atau sekadar menambah daftar pemimpin yang menjual harapan rakyat?

Kerusuhan 2025 adalah peringatan keras: negeri ini tidak lagi bisa dipimpin dengan retorika. Rakyat menuntut tindakan. Jika Prabowo berani menembus tembok oligarki, ia akan dikenang bukan hanya sebagai presiden, tetapi sebagai negarawan yang mengubah arah sejarah bangsa. [T]

Referensi

Friehe, T., & Tabbach, A. (2013). Preventive enforcement. International Review of Law and Economics, 35, 1–12.

Katz, R. S., & Mair, P. (1995). Changing models of party organization and party democracy: The emergence of the cartel party. Party politics, 1(1), 5–28.

Katz, R. S., & Mair, P. (2018). Democracy and the cartelization of political parties. Oxford University Press.

Posner, E. A. (1998). Symbols, signals, and social norms in politics and the law. The Journal of Legal Studies, 27(S2), 765–797.

Rahmat, A. (2018). Urgensi Pengawasan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia dalam Struktur Ketatanegaraan Indonesia.

Rohmah, E. I. (2023). Praktik Patronase dalam Pemilu dan Implikasinya Terhadap Kredibilitas Demokrasi di Indonesia. Staatsrecht: Jurnal Hukum Kenegaraan dan Politik Islam, 3(1), 91–111.

Warburton, E. (2023). Resource nationalism in Indonesia: Booms, big business, and the state. Cornell University Press.

Wasistha, C. H. (2025). The Role Of Mass Media In Building An Anti-Corruption Culture In Society: Peran Media Massa Dalam Membangun Budaya Anti Korupsi di Masyarakat. Journal Ius Constitutum, 1(2), 49–63.

Williams, R. M. (2017). Relative deprivation. Dalam The idea of social structure (hlm. 355–378). Routledge.

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Tags: Anti KorupsioligarkiPrabowo SubiantoReformasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [31]: Misteri Penari Lengger Kampus

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [31]: Misteri Penari Lengger Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co