17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [31]: Misteri Penari Lengger Kampus

Chusmeru by Chusmeru
September 4, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

SEJAK duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Vita Adriani sudah mencintai kesenian tradisional. Ia menggeluti dunia seni tari. Beberapa tarian daerah yang menjadi favoritnya adalah tari Golek, Gambyong, Bondan, dan Serimpi.

Bukan tanpa alasan Vita Adriani menekuni seni tari. Ia ingin nguri-uri atau merawat dan melestarikan seni tari sebagai warisan leluhur. Apalagi kedua orang tuanya juga pelaku seni, meski di jalur yang berbeda. Ayahnya pemain bass di kelompok musik keroncong. Ibunya seorang sinden dalam pagelaran wayang kulit.

Teman-teman sebaya Vita lebih banyak menghabiskan waktu luangnya dengan bermain ponsel dan media sosial. Nyaris tidak ada temannya yang tertarik pada kesenian tradisional. Vita bukannya ketinggalan zaman. Ia juga akrab dengan media sosial. Namun hanya sebatas hiburan dan mencari informasi penting saja. Vita tak mau larut dalam dunia maya.

Selain belajar di sekolah, sebagian besar waktu Vita Adriani dihabiskan untuk berlatih menari. Meskipun ia telah terampil menari, namun jika tidak dilatih akan membuat kelenturannya dalam menari berkurang. Beberapa rekaman video para penari terkenal ia gunakan untuk melatih gerakan-gerakan baru, sehingga tariannya lebih menarik.

Ayah dan ibunya tentu saja sangat mendukung minat Vita Adriani. Mereka begitu bangga terhadap anaknya. Apalagi dalam beberapa kesempatan Vita kerap menjadi juara dalam lomba seni tari di daerahnya. Piala-piala kemenangan Vita pun dipajang di ruang tamu.

Kini, saat Vita Adriani duduk sebagai mahasiswa semester lima, kecintaannya pada seni tari tetap tak memudar. Kedua orang tua Vita menyarankan agar ia berlatih menari lengger, salah satu tarian tradisional daerahnya di Banyumas, Jawa Tengah.

Awalnya Vita agak ragu. Apalagi lengger kadang mendapat stigma yang negatif di masyarakat. Selain itu tarian ini dulunya dimainkan oleh laki-laki yang disebut Lengger Lanang. Namun berkat penjelasan dari beberapa penari lengger yang senior, Vita menjadi yakin bahwa tarian ini memiliki makna filosofis yang tinggi.

Ternyata tidak mudah menjadi penari lengger. Gerakannya berbeda dengan tarian tradisional lain. Ekspresi dan penjiwaan juga sangat diperlukan dalam tarian ini. Beruntung Vita dapat belajar dari penari lengger senior yang telah berpengalaman. Perlahan tapi pasti, Vita menguasai tarian lengger dengan sempurna.

                                                                        ***

Semenjak menjadi penari lengger, Vita Adriani tak pernah sepi dari aktivitas. Ia sering diminta tampil menari, baik di acara instansi pemerintah, perusahaan, maupun di kampusnya. Di luar kampus tarian lengger biasanya dibawakan saat ada kegiatan seminar, konferensi, maupun peresmian gedung baru. Sedangkan di kampus Vita selalu tampil dalam acara wisuda maupun dies natalis fakultas dan universitas.

Gerakan menari yang lincah dan penjiwaan yang baik membuat orang tak pernah bosan melihat tarian Vita. Nama Vita Adriani semakin dikenal orang. Kampusnya sering mengirim Vita sebagai delegasi dalam festival kesenian di berbagai kota. Dan Vita selalu menjadi juara.

Hingga tiba suatu hari, Restuningsih seorang penari lengger senior memberi saran yang mengagetkan bagi Vita. Untuk lebih memantapkan gerakan menarinya, Restuningsih menyarankan Vita untuk memilki indhang. Bagi beberapa penari, indhang adalah sejenis makhluk halus yang akan dipanggil masuk ke dalam tubuh saat menari. Dengan memiliki indhang, seorang penari akan tampak lebih lincah dan lebih ekspresif dalam menari.

“Memiliki indhang…??? Ah.. takut saya, mbak,” ujar Vita menanggapi saran Restuningsih.

“Kenapa takut?” tanya Restuningsih.

“Seram, mbak.. Selain itu saya takut mendapat penilaian negatif jika memiliki indang,” jawab Vita.

“Hampir setiap pemain lengger punya indhang,” sanggah Restuningsih.

“Lagi pula, indhang merupakan bagian dari totalitas kesenian tradisional. Gerakan tarianmu akan lebih bagus jika dilihat orang. Bukan berarti kita berteman dengan setan, jin, atau hantu. Tapi ini bagian dari kearifan lokal tradisi,” lanjut Restuningsih.

Vita Adriani tercenung. Ia memikirkan tentang saran penari senior itu untuk memiliki indhang. Selama ini ia hanya mengandalkan latihan menari secara rutin. Memang ia pernah mendengar cerita tentang pelaku kesenian tradisional di daerahnya yang memiliki indhang.

 Setelah berpikir panjang akhirnya Vita mengikuti saran Restuningsih. Berbekal rasa takut dan penasaran, Vita ditemani Restuningsih mendatangi salah satu  makam keramat di kota Purwokerto pada malam Jumat Kliwon. Melalui ritual yang dipimpin oleh Restuningsih, sosok indhang berhasil diperoleh. Indhang perempuan untuk Vita Adriani bernama Dewi Sulastri.

Suasana agak mencekam ketika tubuh Vita dirasuki indhang bernama Dewi Sulastri itu. Sepertinya ada angin besar di sekeliling makam keramat. Tangan dan kaki Vita serasa kaku. Kepalanya sedikit berat dan panas. Tanpa terasa, saat indhang itu menyatu dalam tubuh Vita, tangan dan kakinya bergerak layaknya sedang menari lengger. Restuningsih membaca mantra agar Vita menjadi tenang kembali. Malam bertambah larut. Vita Adriani mencoba menenangkan diri menyambut indhangnya.

***

Vita Adriani kini telah memiliki indhang bernama Dewi Sulastri, roh perempuan yang berparas cantik. Setiap Vita hendak menari, Dewi Sulastri akan dipanggil untuk merasuk ke dalam tubuhnya. Totalitas gerakan menari Vita semakin tampak. Ia menari sangat lincah. Ada aura magis ketika Vita menghentakkan kaki dan mengibaskan selendang dengan tangannya.

Misteri mengikuti langkah Vita setelah ia memiliki indhang. Vita selalu ingin menari lengger, meskipun sedang tidak di atas panggung. Dewi Sulastri, indhangnya akan mengajaknya menari. Apalagi menjelang malam Jumat Kliwon, Vita merasa gelisah. Tangan dan kakinya seakan mengajaknya menari lengger.

Suatu ketika, diadakan tradisi Sedekah Bumi di desanya. Tradisi ini merupakan ungkapan terima kasih masyarakat desa kepada Tuhan yang telah melimpahkan rizkinya lewat hasil panen. Seperti biasanya, tradisi ini akan dibarengi dengan hiburan kesenian kuda lumping bagi masyarakat yang diselenggarakan di lapangan desa.

Sebagai warga desa, Vita Adriani ikut menonton kesenian itu di lapangan. Selain seru dan meriah, Vita juga bisa bertemu dengan teman-teman sepermainan dalam acara itu. Tak ingin terhalang oleh penonton lain, Vita berdiri di barisan paling depan.

Kuda lumping dimulai. Gamelan dan tembang-tembang Jawa Banyumasan mulai dilantunkan. Para pemain kuda lumping mulai menari, dan satu per satu kesurupan. Entah mengapa Vita tampak gelisah. Tangan dan kakinya bergerak sendiri. Dan tiba-tiba ia tak sadarkan diri. Vita kerasukan indhang Dewi Lestari.

Mengikuti irama gamelan, Vita memasuki area tengah lapangan berbaur bersama para pemain kuda lumping yang menari kesurupan. Gerakan tangan dan kaki Vita berbeda dengan pemain kuda lumping. Vita menari layaknya penari lengger yang lincah. Sementara pandangan mata Vita kosong. Ia hanya mengikuti irama gamelan sesuai keinginan indhang yang dimilikinya.

Sekitar 30 menit Vita menari di tengah lingkaran pertunjukan kuda lumping. Para penonton memperhatikan gerakan tarian Vita. Banyak yang menduga Vita bukan kerasukan indhang kuda lumping. Apalagi Vita tidak meminta makan sajen berupa aneka bunga yang disediakan untuk pemain kuda lumping.

Tubuh Vita tampak mulai letih. Gerakan tariannya melemah. Pawang atau dukun kuda lumping cepat tanggap. Ia dekati Vita yang berhenti menari. Ia baca mantra di dekat telinga Vita. Seketika tangan dan kaki Vita melemas. Ia tampak bingung saat membuka mata.

“Saya kenapa, Pak?” tanya Vita kepada dukun kuda lumping.

“Kamu kerasukan indhang yang kamu miliki,” jawab dukun itu.

Vita Adriani melihat ke sekeliling. Beberapa penonton memandang ke arahnya. Vita tertunduk. Ia merasa malu telah kerasukan di acara pertunjukan kuda lumping. Ia malu karena orang-orang dan temannya tahu kalau ia memiliki indhang.

Bukan hanya di lapangan dalam pertunjukan kuda lumping Vita tanpa sadar menari lengger. Saat di rumah, ketika ibunya sedang latihan tembang untuk persiapan tampil di pagelaran wayang kulit, indhang Vita mengajaknya menari. Vita ingin menolak, tapi tak kuasa. Tangan dan kakinya tiba-tiba bergerak menari begitu ibunya melantunkan tembang dengan diiringi musik gending Jawa.

***

Misteri indhang Vita Adriani sebagai penari lengger berlanjut hingga ke kampus. Vita sedang mengikuti kuliah Pak Bekto Istiadi. Kebetulan materi kuliah tentang komunikasi lintas budaya di berbagai daerah. Pak Bekto Istiadi memutar video yang berisi musik tradisional gending Jawa. Mendadak dada Vita berdebar. Dewi Sulastri, indhangnya seolah ingin merasuk ke dalam tubuh Vita.

Suasana kelas menjadi gaduh dan menegangkan ketika Vita tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan ke depan kelas sambil menari lengger mengikuti alunan musik yang ada dalam video materi kuliah Pak Bekto Istiadi. Semua mahasiswa dan dosennya terkejut. Mereka menyaksikan tarian lengger yang misterius.

Menyadari ada keanehan dalam diri Vita, Pak Bekto Istiadi mematikan videonya. Musik gending Jawa terhenti. Bersamaan dengan itu Vita tersadar dan melihat sekeliling kelas. Betapa malu dirinya saat menyadari baru saja kerasukan indhang Dewi Lestari. Ia baru saja menari lengger di kelas.

Mengalami hal-hal yang penuh misteri, Vita mulai merasa tidak nyaman. Ia khawatir jika mendengar musik gending Jawa di tengah keramaian ia kerasukan untuk menari lengger. Ia tak mampu menahan diri ketika indhang Dewi Sulastri ingin merasuk dalam tubuhnya. Vita pun mendatangi Pak Bekto Istiadi di ruangannya untuk berkonsultasi.

“Saya ingin membuang indhang saya, Pak,” kata Vita kepada Pak Bekto Istiadi.

“Apa sudah kamu pertimbangkan masak-masak?” tanya Pak Bekto Istiadi.

“Saya merasa tidak nyaman, Pak. Selalu ingin menari lengger setiap mendengar gending Jawa. Indhang saya tidak dapat dicegah untuk merasuk,” Vita memberikan alasan.

“Sebetulnya indhang itu bisa kamu kendalikan,” ujar Pak Bekto Istiadi.

“Bagaimana caranya, Pak?” tanya Vita penasaran.

 “Coba kamu berpuasa setiap hari lahir dan wetonmu. Nanti perlahan kamu dapat mengendalikan indhang itu jika akan merasuki tubuhmu,” saran Pak Bekto Istiadi.

Vita Adriani terdiam. Sejenak ia mencoba mengingat hari lahir dan wetonnya. Ia masih ingat, ibunya pernah mengatakan jika ia lahir pada hari Senin Pahing. Vita mengikuti saran Pak Bekto Istiadi. Setiap hari Senin Pahing ia melakukan puasa sehari penuh.

Tubuh Vita mulai terasa nyaman dan ringan setelah beberapa kali berpuasa setiap hari Senin Pahing. Pembawaannya mulai tenang, tidak selalu gelisah saat mendengar alunan gending Jawa. Tangan dan kakinya juga tidak lagi gemetaran ingin menari lengger. Indhang Dewi Sulastri tidak lagi menguasai tubuh Vita. Ia bisa mengendalikan, kapan Dewi Sulastri diminta merasuk dan kapan harus kembali ke alamnya.

Vitra Adriani telah menjadi dirinya sendiri. Walau ia selalu didampingi indhang Dewi Sulastri. Semangatnya untuk menjadi penari lengger yang profesional kembali menyala. Ia bertekad melestarikan lengger dengan terus menari di kampus. Bahkan ia bermimpi suatu saat dapat menari lengger di Istana Negara. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantuceritacerita misterihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komitmen Prabowo dalam Pertarungan Melawan Korupsi: Antara Harapan Reformasi dan Bayang-bayang Oligarki

Next Post

“Koeli Jang Perkasa”

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails
Next Post
“Koeli Jang Perkasa”

“Koeli Jang Perkasa”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co