12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Nur Kamilia by Nur Kamilia
September 3, 2025
in Esai
Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Ilustrasi tatkala.co

ADA banyak cara orang merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Ada yang menyiapkan tumpeng dengan doa bersama, ada yang melantunkan shalawat beriring rebana, ada pula yang sekadar duduk melingkar, membaca riwayat hidup Nabi, lalu berbagi makanan kepada tetangga. Di Yogyakarta, sebuah kota yang sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan budaya dan agama, peringatan Maulid menemukan wajah lain: ia tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang silaturahmi lintas iman.

Saya ingat betul, ketika masih kuliah dan hidup di Yogyakarta, kota ini selalu memberi ruang dialog yang hangat. Tidak hanya di masjid atau kampus, bahkan di kafe-kafe kecil pun diskusi lintas agama, budaya, dan kepercayaan bisa tumbuh begitu cair. Karena itu, saya tidak heran ketika mendengar cerita tentang peringatan Maulid yang digelar secara inklusif di beberapa kafe di Yogyakarta. Bagi saya, itu bukan sekadar perayaan, tetapi cermin dari wajah Yogyakarta yang sesungguhnya.

Alih-alih hanya dihadiri jamaah masjid, perayaan itu digelar di sebuah kafe sederhana, dengan pintu yang terbuka untuk siapa saja. Tidak ada batas agama, suku, ataupun status sosial. Setiap orang yang datang dipersilakan duduk, mendengarkan kisah-kisah tentang kebaikan Nabi, lalu menikmati hidangan yang sama. Ada yang Muslim, ada yang Kristen, ada pula yang mengaku ingin tahu apa itu Maulid. Semuanya diterima dengan senyum hangat.

Kisah semacam itu memberi kita ruang untuk merenung: barangkali, esensi Maulid justru tampak paling kuat ketika ia dipraktikkan sebagai ajang keterbukaan. Sebab Nabi Muhammad sendiri hadir bukan hanya sebagai figur pemimpin spiritual bagi umat Islam, tetapi juga sebagai teladan kemanusiaan universal. Ia dikenal karena akhlaknya: jujur, rendah hati, penuh kasih, dan selalu merangkul orang lain. Maka, ketika Maulid diperingati dengan semangat inklusif, sejatinya kita sedang mencoba menghidupkan akhlak itu kembali di zaman yang penuh sekat ini.

Maulid, Bukan Hanya Seremonial

Di Yogyakarta, peringatan Maulid yang inklusif menunjukkan bahwa tradisi bisa dihidupkan dengan cara yang lebih luas. Masyarakat tidak lagi sibuk mempertanyakan “siapa yang boleh hadir”, melainkan “apa yang bisa kita bagi bersama.” Poinnya bukan  pada ritual, melainkan pada pesan moral yang terkandung di dalamnya: bagaimana kita bisa meneladani Nabi sebagai sosok yang membangun jembatan, bukan tembok.

Salah satu hal yang menarik dari perayaan Maulid di Yogyakarta itu adalah praktik makan bersama. Semua orang dipersilakan mengambil makanan yang sama, tanpa perbedaan. Makanan dalam konteks ini bukan sekadar konsumsi, melainkan simbol kesetaraan. Dalam budaya Jawa, makan bersama selalu dimaknai sebagai cara untuk menghapus jarak. Orang kaya, orang miskin, pejabat, mahasiswa, semua duduk di meja yang sama.

Saya masih bisa membayangkan suasana khas Yogyakarta itu. Di sebuah kafe yang tidak terlalu besar, meja kayu dipenuhi hidangan sederhana, lalu orang-orang dari latar belakang berbeda duduk berdekatan, menyantap makanan yang sama. Rasanya hangat, akrab, dan tidak ada sekat. Bayangkan jika praktik sederhana ini diperluas. Bagaimana jika setiap perayaan keagamaan di negeri ini membuka ruang untuk berbagi makanan dengan lintas komunitas? Mungkin kita akan lebih jarang mendengar kabar pertikaian, karena hati yang pernah duduk semeja biasanya enggan untuk saling membenci.

Inklusi yang Nyata

Cerita tentang Maulid inklusif di Yogyakarta memberi kita gambaran bahwa perayaan agama bisa menjadi titik temu, bukan garis pemisah. Ketika pintu dibuka lebar untuk siapa saja, Maulid menjadi ruang belajar bersama. Umat Muslim bisa menunjukkan sisi ramah agamanya, sementara teman-teman non-Muslim bisa merasakan hangatnya kebersamaan. Tidak ada dakwah yang dipaksakan, tidak ada ajakan yang menggurui. Yang ada hanyalah perjumpaan manusia dengan manusia.

Inklusi semacam ini sangat penting di tengah isu-isu kontemporer. Kita hidup di zaman di mana perbedaan kerap diseret ke ruang konflik. Polarisasi politik, gesekan sosial, bahkan perdebatan kecil di media sosial sering kali memicu permusuhan. Dalam kondisi seperti itu, praktik Maulid yang inklusif memberi contoh bahwa keberagaman bukan masalah, melainkan anugerah.

Yogyakarta dan Karakter Inklusifnya

Tidak bisa dipungkiri, Yogyakarta memang punya karakter unik. Kota ini sejak lama dikenal sebagai ruang dialog budaya. Kampus-kampus besar, komunitas seni, pesantren, gereja, vihara, hingga kafe-kafe literasi hidup berdampingan tanpa saling meniadakan. Peringatan Maulid yang inklusif hanyalah salah satu potret kecil dari karakter besar itu.

Sebagai orang yang pernah hidup di sana, saya melihat sendiri bagaimana perbedaan menjadi sesuatu yang dirayakan, bukan ditakuti. Kesadaran kolektif masyarakat Yogyakarta membuat praktik inklusi terasa wajar, bukan hal yang dipaksakan. Dari sinilah saya belajar: praktik inklusi bukan utopia, melainkan sesuatu yang bisa dijalankan ketika ada kemauan untuk membuka diri.

Relevansi di Zaman Kini

Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa cerita semacam ini relevan untuk kita hari ini?

Pertama, karena masyarakat kita sedang diuji dengan derasnya arus disrupsi. Media sosial sering kali memperbesar perbedaan. Konten provokatif mudah tersebar, sementara ruang dialog yang sehat semakin sempit. Dalam kondisi itu, Maulid inklusif bisa menjadi penawar: ia mengajarkan kita untuk bertemu langsung, tatap muka, dan saling mendengarkan.

Kedua, karena nilai-nilai kemanusiaan universal sedang sangat dibutuhkan. Krisis iklim, ketidaksetaraan ekonomi, hingga konflik global membuat dunia terasa rapuh. Nilai kasih, empati, dan solidaritas yang menjadi inti ajaran Nabi perlu dihidupkan kembali, salah satunya lewat praktik perayaan agama yang merangkul semua.

Ketiga, karena generasi muda butuh contoh konkret. Banyak anak muda hari ini mungkin merasa agama hanya berisi aturan dan larangan. Padahal, agama juga bisa menjadi ruang kegembiraan, kreativitas, dan kebersamaan. Perayaan Maulid di kafe Yogyakarta adalah contoh nyata bahwa agama bisa hadir dengan wajah yang ramah dan inklusif.

Maulid sebagai Jembatan

Cerita dari Yogyakarta ini mengingatkan kita bahwa Maulid bukan hanya milik umat Muslim, melainkan milik semua yang ingin belajar tentang nilai kemanusiaan. Dengan membuka pintu selebar-lebarnya, Maulid bisa menjadi jembatan antariman, antargenerasi, bahkan antarbudaya.

Dalam setiap suapan makanan yang dibagi, dalam setiap senyum yang disambut, kita melihat akhlak Nabi Muhammad yang hidup kembali: akhlak yang merangkul, bukan menyingkirkan. Dan mungkin, justru dalam praktik sederhana itulah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa megah panggung peringatan kita, melainkan seberapa tulus kita membuka ruang bagi orang lain untuk merasakan kehangatan bersama. Yogyakarta sudah memberi contohnya. Dan saya merasa beruntung pernah menjadi bagian dari kota yang dengan rendah hati mengajarkan, bahwa inklusi bisa diwujudkan dengan cara sesederhana membuka pintu dan berbagi meja makan. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: IslamMaulid NabiMuslimYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Ada Maksud Merusak Citra Bali, Tapi Kekuasaan Memang Layak Menerima Koreksi

Next Post

Komitmen Prabowo dalam Pertarungan Melawan Korupsi: Antara Harapan Reformasi dan Bayang-bayang Oligarki

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Komitmen Prabowo dalam Pertarungan Melawan Korupsi: Antara Harapan Reformasi dan Bayang-bayang Oligarki

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co