3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Nur Kamilia by Nur Kamilia
September 3, 2025
in Esai
Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Ilustrasi tatkala.co

ADA banyak cara orang merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Ada yang menyiapkan tumpeng dengan doa bersama, ada yang melantunkan shalawat beriring rebana, ada pula yang sekadar duduk melingkar, membaca riwayat hidup Nabi, lalu berbagi makanan kepada tetangga. Di Yogyakarta, sebuah kota yang sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan budaya dan agama, peringatan Maulid menemukan wajah lain: ia tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang silaturahmi lintas iman.

Saya ingat betul, ketika masih kuliah dan hidup di Yogyakarta, kota ini selalu memberi ruang dialog yang hangat. Tidak hanya di masjid atau kampus, bahkan di kafe-kafe kecil pun diskusi lintas agama, budaya, dan kepercayaan bisa tumbuh begitu cair. Karena itu, saya tidak heran ketika mendengar cerita tentang peringatan Maulid yang digelar secara inklusif di beberapa kafe di Yogyakarta. Bagi saya, itu bukan sekadar perayaan, tetapi cermin dari wajah Yogyakarta yang sesungguhnya.

Alih-alih hanya dihadiri jamaah masjid, perayaan itu digelar di sebuah kafe sederhana, dengan pintu yang terbuka untuk siapa saja. Tidak ada batas agama, suku, ataupun status sosial. Setiap orang yang datang dipersilakan duduk, mendengarkan kisah-kisah tentang kebaikan Nabi, lalu menikmati hidangan yang sama. Ada yang Muslim, ada yang Kristen, ada pula yang mengaku ingin tahu apa itu Maulid. Semuanya diterima dengan senyum hangat.

Kisah semacam itu memberi kita ruang untuk merenung: barangkali, esensi Maulid justru tampak paling kuat ketika ia dipraktikkan sebagai ajang keterbukaan. Sebab Nabi Muhammad sendiri hadir bukan hanya sebagai figur pemimpin spiritual bagi umat Islam, tetapi juga sebagai teladan kemanusiaan universal. Ia dikenal karena akhlaknya: jujur, rendah hati, penuh kasih, dan selalu merangkul orang lain. Maka, ketika Maulid diperingati dengan semangat inklusif, sejatinya kita sedang mencoba menghidupkan akhlak itu kembali di zaman yang penuh sekat ini.

Maulid, Bukan Hanya Seremonial

Di Yogyakarta, peringatan Maulid yang inklusif menunjukkan bahwa tradisi bisa dihidupkan dengan cara yang lebih luas. Masyarakat tidak lagi sibuk mempertanyakan “siapa yang boleh hadir”, melainkan “apa yang bisa kita bagi bersama.” Poinnya bukan  pada ritual, melainkan pada pesan moral yang terkandung di dalamnya: bagaimana kita bisa meneladani Nabi sebagai sosok yang membangun jembatan, bukan tembok.

Salah satu hal yang menarik dari perayaan Maulid di Yogyakarta itu adalah praktik makan bersama. Semua orang dipersilakan mengambil makanan yang sama, tanpa perbedaan. Makanan dalam konteks ini bukan sekadar konsumsi, melainkan simbol kesetaraan. Dalam budaya Jawa, makan bersama selalu dimaknai sebagai cara untuk menghapus jarak. Orang kaya, orang miskin, pejabat, mahasiswa, semua duduk di meja yang sama.

Saya masih bisa membayangkan suasana khas Yogyakarta itu. Di sebuah kafe yang tidak terlalu besar, meja kayu dipenuhi hidangan sederhana, lalu orang-orang dari latar belakang berbeda duduk berdekatan, menyantap makanan yang sama. Rasanya hangat, akrab, dan tidak ada sekat. Bayangkan jika praktik sederhana ini diperluas. Bagaimana jika setiap perayaan keagamaan di negeri ini membuka ruang untuk berbagi makanan dengan lintas komunitas? Mungkin kita akan lebih jarang mendengar kabar pertikaian, karena hati yang pernah duduk semeja biasanya enggan untuk saling membenci.

Inklusi yang Nyata

Cerita tentang Maulid inklusif di Yogyakarta memberi kita gambaran bahwa perayaan agama bisa menjadi titik temu, bukan garis pemisah. Ketika pintu dibuka lebar untuk siapa saja, Maulid menjadi ruang belajar bersama. Umat Muslim bisa menunjukkan sisi ramah agamanya, sementara teman-teman non-Muslim bisa merasakan hangatnya kebersamaan. Tidak ada dakwah yang dipaksakan, tidak ada ajakan yang menggurui. Yang ada hanyalah perjumpaan manusia dengan manusia.

Inklusi semacam ini sangat penting di tengah isu-isu kontemporer. Kita hidup di zaman di mana perbedaan kerap diseret ke ruang konflik. Polarisasi politik, gesekan sosial, bahkan perdebatan kecil di media sosial sering kali memicu permusuhan. Dalam kondisi seperti itu, praktik Maulid yang inklusif memberi contoh bahwa keberagaman bukan masalah, melainkan anugerah.

Yogyakarta dan Karakter Inklusifnya

Tidak bisa dipungkiri, Yogyakarta memang punya karakter unik. Kota ini sejak lama dikenal sebagai ruang dialog budaya. Kampus-kampus besar, komunitas seni, pesantren, gereja, vihara, hingga kafe-kafe literasi hidup berdampingan tanpa saling meniadakan. Peringatan Maulid yang inklusif hanyalah salah satu potret kecil dari karakter besar itu.

Sebagai orang yang pernah hidup di sana, saya melihat sendiri bagaimana perbedaan menjadi sesuatu yang dirayakan, bukan ditakuti. Kesadaran kolektif masyarakat Yogyakarta membuat praktik inklusi terasa wajar, bukan hal yang dipaksakan. Dari sinilah saya belajar: praktik inklusi bukan utopia, melainkan sesuatu yang bisa dijalankan ketika ada kemauan untuk membuka diri.

Relevansi di Zaman Kini

Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa cerita semacam ini relevan untuk kita hari ini?

Pertama, karena masyarakat kita sedang diuji dengan derasnya arus disrupsi. Media sosial sering kali memperbesar perbedaan. Konten provokatif mudah tersebar, sementara ruang dialog yang sehat semakin sempit. Dalam kondisi itu, Maulid inklusif bisa menjadi penawar: ia mengajarkan kita untuk bertemu langsung, tatap muka, dan saling mendengarkan.

Kedua, karena nilai-nilai kemanusiaan universal sedang sangat dibutuhkan. Krisis iklim, ketidaksetaraan ekonomi, hingga konflik global membuat dunia terasa rapuh. Nilai kasih, empati, dan solidaritas yang menjadi inti ajaran Nabi perlu dihidupkan kembali, salah satunya lewat praktik perayaan agama yang merangkul semua.

Ketiga, karena generasi muda butuh contoh konkret. Banyak anak muda hari ini mungkin merasa agama hanya berisi aturan dan larangan. Padahal, agama juga bisa menjadi ruang kegembiraan, kreativitas, dan kebersamaan. Perayaan Maulid di kafe Yogyakarta adalah contoh nyata bahwa agama bisa hadir dengan wajah yang ramah dan inklusif.

Maulid sebagai Jembatan

Cerita dari Yogyakarta ini mengingatkan kita bahwa Maulid bukan hanya milik umat Muslim, melainkan milik semua yang ingin belajar tentang nilai kemanusiaan. Dengan membuka pintu selebar-lebarnya, Maulid bisa menjadi jembatan antariman, antargenerasi, bahkan antarbudaya.

Dalam setiap suapan makanan yang dibagi, dalam setiap senyum yang disambut, kita melihat akhlak Nabi Muhammad yang hidup kembali: akhlak yang merangkul, bukan menyingkirkan. Dan mungkin, justru dalam praktik sederhana itulah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa megah panggung peringatan kita, melainkan seberapa tulus kita membuka ruang bagi orang lain untuk merasakan kehangatan bersama. Yogyakarta sudah memberi contohnya. Dan saya merasa beruntung pernah menjadi bagian dari kota yang dengan rendah hati mengajarkan, bahwa inklusi bisa diwujudkan dengan cara sesederhana membuka pintu dan berbagi meja makan. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: IslamMaulid NabiMuslimYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Ada Maksud Merusak Citra Bali, Tapi Kekuasaan Memang Layak Menerima Koreksi

Next Post

Komitmen Prabowo dalam Pertarungan Melawan Korupsi: Antara Harapan Reformasi dan Bayang-bayang Oligarki

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Komitmen Prabowo dalam Pertarungan Melawan Korupsi: Antara Harapan Reformasi dan Bayang-bayang Oligarki

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co