23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Nur Kamilia by Nur Kamilia
September 3, 2025
in Esai
Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Ilustrasi tatkala.co

ADA banyak cara orang merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Ada yang menyiapkan tumpeng dengan doa bersama, ada yang melantunkan shalawat beriring rebana, ada pula yang sekadar duduk melingkar, membaca riwayat hidup Nabi, lalu berbagi makanan kepada tetangga. Di Yogyakarta, sebuah kota yang sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan budaya dan agama, peringatan Maulid menemukan wajah lain: ia tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang silaturahmi lintas iman.

Saya ingat betul, ketika masih kuliah dan hidup di Yogyakarta, kota ini selalu memberi ruang dialog yang hangat. Tidak hanya di masjid atau kampus, bahkan di kafe-kafe kecil pun diskusi lintas agama, budaya, dan kepercayaan bisa tumbuh begitu cair. Karena itu, saya tidak heran ketika mendengar cerita tentang peringatan Maulid yang digelar secara inklusif di beberapa kafe di Yogyakarta. Bagi saya, itu bukan sekadar perayaan, tetapi cermin dari wajah Yogyakarta yang sesungguhnya.

Alih-alih hanya dihadiri jamaah masjid, perayaan itu digelar di sebuah kafe sederhana, dengan pintu yang terbuka untuk siapa saja. Tidak ada batas agama, suku, ataupun status sosial. Setiap orang yang datang dipersilakan duduk, mendengarkan kisah-kisah tentang kebaikan Nabi, lalu menikmati hidangan yang sama. Ada yang Muslim, ada yang Kristen, ada pula yang mengaku ingin tahu apa itu Maulid. Semuanya diterima dengan senyum hangat.

Kisah semacam itu memberi kita ruang untuk merenung: barangkali, esensi Maulid justru tampak paling kuat ketika ia dipraktikkan sebagai ajang keterbukaan. Sebab Nabi Muhammad sendiri hadir bukan hanya sebagai figur pemimpin spiritual bagi umat Islam, tetapi juga sebagai teladan kemanusiaan universal. Ia dikenal karena akhlaknya: jujur, rendah hati, penuh kasih, dan selalu merangkul orang lain. Maka, ketika Maulid diperingati dengan semangat inklusif, sejatinya kita sedang mencoba menghidupkan akhlak itu kembali di zaman yang penuh sekat ini.

Maulid, Bukan Hanya Seremonial

Di Yogyakarta, peringatan Maulid yang inklusif menunjukkan bahwa tradisi bisa dihidupkan dengan cara yang lebih luas. Masyarakat tidak lagi sibuk mempertanyakan “siapa yang boleh hadir”, melainkan “apa yang bisa kita bagi bersama.” Poinnya bukan  pada ritual, melainkan pada pesan moral yang terkandung di dalamnya: bagaimana kita bisa meneladani Nabi sebagai sosok yang membangun jembatan, bukan tembok.

Salah satu hal yang menarik dari perayaan Maulid di Yogyakarta itu adalah praktik makan bersama. Semua orang dipersilakan mengambil makanan yang sama, tanpa perbedaan. Makanan dalam konteks ini bukan sekadar konsumsi, melainkan simbol kesetaraan. Dalam budaya Jawa, makan bersama selalu dimaknai sebagai cara untuk menghapus jarak. Orang kaya, orang miskin, pejabat, mahasiswa, semua duduk di meja yang sama.

Saya masih bisa membayangkan suasana khas Yogyakarta itu. Di sebuah kafe yang tidak terlalu besar, meja kayu dipenuhi hidangan sederhana, lalu orang-orang dari latar belakang berbeda duduk berdekatan, menyantap makanan yang sama. Rasanya hangat, akrab, dan tidak ada sekat. Bayangkan jika praktik sederhana ini diperluas. Bagaimana jika setiap perayaan keagamaan di negeri ini membuka ruang untuk berbagi makanan dengan lintas komunitas? Mungkin kita akan lebih jarang mendengar kabar pertikaian, karena hati yang pernah duduk semeja biasanya enggan untuk saling membenci.

Inklusi yang Nyata

Cerita tentang Maulid inklusif di Yogyakarta memberi kita gambaran bahwa perayaan agama bisa menjadi titik temu, bukan garis pemisah. Ketika pintu dibuka lebar untuk siapa saja, Maulid menjadi ruang belajar bersama. Umat Muslim bisa menunjukkan sisi ramah agamanya, sementara teman-teman non-Muslim bisa merasakan hangatnya kebersamaan. Tidak ada dakwah yang dipaksakan, tidak ada ajakan yang menggurui. Yang ada hanyalah perjumpaan manusia dengan manusia.

Inklusi semacam ini sangat penting di tengah isu-isu kontemporer. Kita hidup di zaman di mana perbedaan kerap diseret ke ruang konflik. Polarisasi politik, gesekan sosial, bahkan perdebatan kecil di media sosial sering kali memicu permusuhan. Dalam kondisi seperti itu, praktik Maulid yang inklusif memberi contoh bahwa keberagaman bukan masalah, melainkan anugerah.

Yogyakarta dan Karakter Inklusifnya

Tidak bisa dipungkiri, Yogyakarta memang punya karakter unik. Kota ini sejak lama dikenal sebagai ruang dialog budaya. Kampus-kampus besar, komunitas seni, pesantren, gereja, vihara, hingga kafe-kafe literasi hidup berdampingan tanpa saling meniadakan. Peringatan Maulid yang inklusif hanyalah salah satu potret kecil dari karakter besar itu.

Sebagai orang yang pernah hidup di sana, saya melihat sendiri bagaimana perbedaan menjadi sesuatu yang dirayakan, bukan ditakuti. Kesadaran kolektif masyarakat Yogyakarta membuat praktik inklusi terasa wajar, bukan hal yang dipaksakan. Dari sinilah saya belajar: praktik inklusi bukan utopia, melainkan sesuatu yang bisa dijalankan ketika ada kemauan untuk membuka diri.

Relevansi di Zaman Kini

Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa cerita semacam ini relevan untuk kita hari ini?

Pertama, karena masyarakat kita sedang diuji dengan derasnya arus disrupsi. Media sosial sering kali memperbesar perbedaan. Konten provokatif mudah tersebar, sementara ruang dialog yang sehat semakin sempit. Dalam kondisi itu, Maulid inklusif bisa menjadi penawar: ia mengajarkan kita untuk bertemu langsung, tatap muka, dan saling mendengarkan.

Kedua, karena nilai-nilai kemanusiaan universal sedang sangat dibutuhkan. Krisis iklim, ketidaksetaraan ekonomi, hingga konflik global membuat dunia terasa rapuh. Nilai kasih, empati, dan solidaritas yang menjadi inti ajaran Nabi perlu dihidupkan kembali, salah satunya lewat praktik perayaan agama yang merangkul semua.

Ketiga, karena generasi muda butuh contoh konkret. Banyak anak muda hari ini mungkin merasa agama hanya berisi aturan dan larangan. Padahal, agama juga bisa menjadi ruang kegembiraan, kreativitas, dan kebersamaan. Perayaan Maulid di kafe Yogyakarta adalah contoh nyata bahwa agama bisa hadir dengan wajah yang ramah dan inklusif.

Maulid sebagai Jembatan

Cerita dari Yogyakarta ini mengingatkan kita bahwa Maulid bukan hanya milik umat Muslim, melainkan milik semua yang ingin belajar tentang nilai kemanusiaan. Dengan membuka pintu selebar-lebarnya, Maulid bisa menjadi jembatan antariman, antargenerasi, bahkan antarbudaya.

Dalam setiap suapan makanan yang dibagi, dalam setiap senyum yang disambut, kita melihat akhlak Nabi Muhammad yang hidup kembali: akhlak yang merangkul, bukan menyingkirkan. Dan mungkin, justru dalam praktik sederhana itulah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa megah panggung peringatan kita, melainkan seberapa tulus kita membuka ruang bagi orang lain untuk merasakan kehangatan bersama. Yogyakarta sudah memberi contohnya. Dan saya merasa beruntung pernah menjadi bagian dari kota yang dengan rendah hati mengajarkan, bahwa inklusi bisa diwujudkan dengan cara sesederhana membuka pintu dan berbagi meja makan. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: IslamMaulid NabiMuslimYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Ada Maksud Merusak Citra Bali, Tapi Kekuasaan Memang Layak Menerima Koreksi

Next Post

Komitmen Prabowo dalam Pertarungan Melawan Korupsi: Antara Harapan Reformasi dan Bayang-bayang Oligarki

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Komitmen Prabowo dalam Pertarungan Melawan Korupsi: Antara Harapan Reformasi dan Bayang-bayang Oligarki

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co