13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Nur Kamilia by Nur Kamilia
September 3, 2025
in Esai
Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Ilustrasi tatkala.co

ADA banyak cara orang merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Ada yang menyiapkan tumpeng dengan doa bersama, ada yang melantunkan shalawat beriring rebana, ada pula yang sekadar duduk melingkar, membaca riwayat hidup Nabi, lalu berbagi makanan kepada tetangga. Di Yogyakarta, sebuah kota yang sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan budaya dan agama, peringatan Maulid menemukan wajah lain: ia tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang silaturahmi lintas iman.

Saya ingat betul, ketika masih kuliah dan hidup di Yogyakarta, kota ini selalu memberi ruang dialog yang hangat. Tidak hanya di masjid atau kampus, bahkan di kafe-kafe kecil pun diskusi lintas agama, budaya, dan kepercayaan bisa tumbuh begitu cair. Karena itu, saya tidak heran ketika mendengar cerita tentang peringatan Maulid yang digelar secara inklusif di beberapa kafe di Yogyakarta. Bagi saya, itu bukan sekadar perayaan, tetapi cermin dari wajah Yogyakarta yang sesungguhnya.

Alih-alih hanya dihadiri jamaah masjid, perayaan itu digelar di sebuah kafe sederhana, dengan pintu yang terbuka untuk siapa saja. Tidak ada batas agama, suku, ataupun status sosial. Setiap orang yang datang dipersilakan duduk, mendengarkan kisah-kisah tentang kebaikan Nabi, lalu menikmati hidangan yang sama. Ada yang Muslim, ada yang Kristen, ada pula yang mengaku ingin tahu apa itu Maulid. Semuanya diterima dengan senyum hangat.

Kisah semacam itu memberi kita ruang untuk merenung: barangkali, esensi Maulid justru tampak paling kuat ketika ia dipraktikkan sebagai ajang keterbukaan. Sebab Nabi Muhammad sendiri hadir bukan hanya sebagai figur pemimpin spiritual bagi umat Islam, tetapi juga sebagai teladan kemanusiaan universal. Ia dikenal karena akhlaknya: jujur, rendah hati, penuh kasih, dan selalu merangkul orang lain. Maka, ketika Maulid diperingati dengan semangat inklusif, sejatinya kita sedang mencoba menghidupkan akhlak itu kembali di zaman yang penuh sekat ini.

Maulid, Bukan Hanya Seremonial

Di Yogyakarta, peringatan Maulid yang inklusif menunjukkan bahwa tradisi bisa dihidupkan dengan cara yang lebih luas. Masyarakat tidak lagi sibuk mempertanyakan “siapa yang boleh hadir”, melainkan “apa yang bisa kita bagi bersama.” Poinnya bukan  pada ritual, melainkan pada pesan moral yang terkandung di dalamnya: bagaimana kita bisa meneladani Nabi sebagai sosok yang membangun jembatan, bukan tembok.

Salah satu hal yang menarik dari perayaan Maulid di Yogyakarta itu adalah praktik makan bersama. Semua orang dipersilakan mengambil makanan yang sama, tanpa perbedaan. Makanan dalam konteks ini bukan sekadar konsumsi, melainkan simbol kesetaraan. Dalam budaya Jawa, makan bersama selalu dimaknai sebagai cara untuk menghapus jarak. Orang kaya, orang miskin, pejabat, mahasiswa, semua duduk di meja yang sama.

Saya masih bisa membayangkan suasana khas Yogyakarta itu. Di sebuah kafe yang tidak terlalu besar, meja kayu dipenuhi hidangan sederhana, lalu orang-orang dari latar belakang berbeda duduk berdekatan, menyantap makanan yang sama. Rasanya hangat, akrab, dan tidak ada sekat. Bayangkan jika praktik sederhana ini diperluas. Bagaimana jika setiap perayaan keagamaan di negeri ini membuka ruang untuk berbagi makanan dengan lintas komunitas? Mungkin kita akan lebih jarang mendengar kabar pertikaian, karena hati yang pernah duduk semeja biasanya enggan untuk saling membenci.

Inklusi yang Nyata

Cerita tentang Maulid inklusif di Yogyakarta memberi kita gambaran bahwa perayaan agama bisa menjadi titik temu, bukan garis pemisah. Ketika pintu dibuka lebar untuk siapa saja, Maulid menjadi ruang belajar bersama. Umat Muslim bisa menunjukkan sisi ramah agamanya, sementara teman-teman non-Muslim bisa merasakan hangatnya kebersamaan. Tidak ada dakwah yang dipaksakan, tidak ada ajakan yang menggurui. Yang ada hanyalah perjumpaan manusia dengan manusia.

Inklusi semacam ini sangat penting di tengah isu-isu kontemporer. Kita hidup di zaman di mana perbedaan kerap diseret ke ruang konflik. Polarisasi politik, gesekan sosial, bahkan perdebatan kecil di media sosial sering kali memicu permusuhan. Dalam kondisi seperti itu, praktik Maulid yang inklusif memberi contoh bahwa keberagaman bukan masalah, melainkan anugerah.

Yogyakarta dan Karakter Inklusifnya

Tidak bisa dipungkiri, Yogyakarta memang punya karakter unik. Kota ini sejak lama dikenal sebagai ruang dialog budaya. Kampus-kampus besar, komunitas seni, pesantren, gereja, vihara, hingga kafe-kafe literasi hidup berdampingan tanpa saling meniadakan. Peringatan Maulid yang inklusif hanyalah salah satu potret kecil dari karakter besar itu.

Sebagai orang yang pernah hidup di sana, saya melihat sendiri bagaimana perbedaan menjadi sesuatu yang dirayakan, bukan ditakuti. Kesadaran kolektif masyarakat Yogyakarta membuat praktik inklusi terasa wajar, bukan hal yang dipaksakan. Dari sinilah saya belajar: praktik inklusi bukan utopia, melainkan sesuatu yang bisa dijalankan ketika ada kemauan untuk membuka diri.

Relevansi di Zaman Kini

Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa cerita semacam ini relevan untuk kita hari ini?

Pertama, karena masyarakat kita sedang diuji dengan derasnya arus disrupsi. Media sosial sering kali memperbesar perbedaan. Konten provokatif mudah tersebar, sementara ruang dialog yang sehat semakin sempit. Dalam kondisi itu, Maulid inklusif bisa menjadi penawar: ia mengajarkan kita untuk bertemu langsung, tatap muka, dan saling mendengarkan.

Kedua, karena nilai-nilai kemanusiaan universal sedang sangat dibutuhkan. Krisis iklim, ketidaksetaraan ekonomi, hingga konflik global membuat dunia terasa rapuh. Nilai kasih, empati, dan solidaritas yang menjadi inti ajaran Nabi perlu dihidupkan kembali, salah satunya lewat praktik perayaan agama yang merangkul semua.

Ketiga, karena generasi muda butuh contoh konkret. Banyak anak muda hari ini mungkin merasa agama hanya berisi aturan dan larangan. Padahal, agama juga bisa menjadi ruang kegembiraan, kreativitas, dan kebersamaan. Perayaan Maulid di kafe Yogyakarta adalah contoh nyata bahwa agama bisa hadir dengan wajah yang ramah dan inklusif.

Maulid sebagai Jembatan

Cerita dari Yogyakarta ini mengingatkan kita bahwa Maulid bukan hanya milik umat Muslim, melainkan milik semua yang ingin belajar tentang nilai kemanusiaan. Dengan membuka pintu selebar-lebarnya, Maulid bisa menjadi jembatan antariman, antargenerasi, bahkan antarbudaya.

Dalam setiap suapan makanan yang dibagi, dalam setiap senyum yang disambut, kita melihat akhlak Nabi Muhammad yang hidup kembali: akhlak yang merangkul, bukan menyingkirkan. Dan mungkin, justru dalam praktik sederhana itulah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa megah panggung peringatan kita, melainkan seberapa tulus kita membuka ruang bagi orang lain untuk merasakan kehangatan bersama. Yogyakarta sudah memberi contohnya. Dan saya merasa beruntung pernah menjadi bagian dari kota yang dengan rendah hati mengajarkan, bahwa inklusi bisa diwujudkan dengan cara sesederhana membuka pintu dan berbagi meja makan. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: IslamMaulid NabiMuslimYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Ada Maksud Merusak Citra Bali, Tapi Kekuasaan Memang Layak Menerima Koreksi

Next Post

Komitmen Prabowo dalam Pertarungan Melawan Korupsi: Antara Harapan Reformasi dan Bayang-bayang Oligarki

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Komitmen Prabowo dalam Pertarungan Melawan Korupsi: Antara Harapan Reformasi dan Bayang-bayang Oligarki

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co