3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Ada Maksud Merusak Citra Bali, Tapi Kekuasaan Memang Layak Menerima Koreksi

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
September 3, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

BALI jadi salah satu ruang bagi masyarakat sipil untuk menyuarakan aspirasi sekaligus mengekspresikan kemarahan kepada pemerintah dan wakil rakyatnya. Kemarahan semakin memuncak tatkala mobil rantis polisi melindas tubuh Affan Kurniawan, seorang driver ojol yang sedang mengantarkan pesanan konsumen di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta, dan mengakibatkan Affan menghembuskan napas terakhir di malam naas tersebut.

Perlawanan mulanya dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap kinerja pemerintah, diikuti dengan begitu banyaknya pernyataan yang menyakitkan hati masyarakat. Nihilnya empati dalam setiap pernyataan dan naiknya tunjangan wakil rakyat di Senayan—sebuah privilege yang begitu kontras dengan situasi rakyat yang kian hari makin tercekik oleh pajak. Situasi tersebut lantas menjadi bahan bakar untuk mengobarkan gerakan perlawanan secara terbuka. Perlawanan pun secara cepat menjalar ke banyak wilayah di Indonesia.

Tantangan Gerakan Perlawanan di Bali

Pada prinsipnya, gerakan sosial merupakan bentuk perlawanan secara kolektif oleh rakyat dan ditujukan untuk menentang elit kekuasaan dalam rangka merubah kondisi sosial—namun apa jadinya jika gerakan yang mulanya ditujukan melawan kekuasaan justru harus dihadapkan kepada masyarakat yang notabene berada dalam satu barisan?

Situasi semacam ini menjadi tantangan yang harus selalu dihadapi oleh gerakan mahasiswa dan masyarakat di Bali tatkala mereka menyuarakan aspirasinya lewat demonstrasi. Tak terkecuali aksi teranyar di Markas Polda (Mapolda) Bali, Sabtu, 30 Agustus 2025 lalu. Aksi penyampaian aspirasi sekaligus solidaritas terhadap gugurnya Affan Kurniawan yang berakhir ricuh tersebut lantas menjadi bulan-bulanan warganet di platform media sosial.

“Ane demo liunan leme ling luar Bali. Nak Bali sing makatang be nyemak gae demo, luung selegan ibe megae toh” (artinya: yang demo kebanyakan orang dari luar Bali. Orang Bali tidak mungkin mengambil pekerjaan demo, lebih baik tekun bekerja).

“We Jawo asal demo gen ci, sing nang ngerti lud,” (artinya: We Jawa (mungkin yang dimaksud adalah orang dari Pulau Jawa) asal demo saja kamu, engga ngerti apa-apa).

Tentu dua pernyataan warganet yang berserakan di platform sosial media tersebut adalah sebagian kecil dari ribuan umpatan yang ditujukan kepada massa aksi. Sayangnya sebagian besar warganet tidak fokus kepada isu yang dibawa, melainkan kepada identitas dari massa aksi—bahkan mengarah kepada rasisme.

Tuduhan dan ungkapan rasisme tersebut setidaknya dapat dimaknai menjadi dua hal: pertama, warganet bertujuan mendegradasi gerakan lewat menitikberatkan identitas massa aksi; dan kedua, semakin menegaskan stigma bahwa masyarakat Bali adalah kelompok yang dianggap santun, ramah, dan mengedepankan perdamaian dalam setiap situasi yang dihadapi.

Nyatanya, tuduhan-tuduhan semacam ini tidak terjadi hanya sekali waktu. Pelbagai ungkapan rasis yang dilayangkan kepada massa aksi juga muncul di aksi-aksi sebelumnya, seperti aksi penolakan RUU TNI, Omnibus Law, dan juga RUU KUHP serta RUU KPK. Dan seperti aksi terbaru kemarin, alih-alih berfokus pada isu yang sedang diperjuangkan, warganet justru fokus kepada identitas massa aksi.

Tidak hanya konsekuensi menerima ungkapan-ungkapan rasisme, aksi demonstrasi di Bali sering kali “dibenturkan” dengan konteks adat. Masih segar di ingatan, aksi demonstrasi yang dilakukan gabungan mahasiswa di depan Universitas Udayana untuk menentang pengesahan Omnibus Law pada tahun 2020 lalu, pun dihadapkan dengan narasi mendiskreditkan gerakan mahasiswa yang bertentangan dengan adat Bali—diikuti dengan larangan melakukan aksi demonstrasi di wilayah desa adat se-Bali oleh Majelis Desa Adat (MDA).

Dalam upaya pengamanan massa aksi, aparat pun sering kali menggandeng petugas keamanan berbasis adat Bali (baca: pecalang). Pola ini menarik untuk dianalisis lebih lanjut. Pelibatan pecalang dalam mengamankan aksi demonstrasi di Bali secara tidak langsung menempatkan gerakan yang harusnya berhadapan dengan kekuasaan (vertikal), justru berhadapan dengan bagian kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat (horisontal).

Berbondong-Bondong “Meninggalkan” Ajaran Hindu Bali

Dalam tulisannya berjudul “Rasis Bertentangan dengan Ajaran Leluhur Bali”, Sugi Lanus secara tegas menyebut ungkapan rasisme terhadap massa aksi beberapa waktu lalu bertentangan dengan ajaran yang diwariskan masyarakat Hindu Bali sampai hari ini. Dirinya bahkan menyebut bahwa ungkapan tersebut adalah cermin kedangkalan dan ketidakmampuan masyarakat Bali dalam mewarisi pemikiran dan nilai-nilai dari leluhurnya.

Menjadi penting untuk diingat sekaligus dicamkan bahwa ungkapan seperti, sagilik-saguluk salunglung sabayantaka dan paras-paros sarpanaya adalah ajaran yang tidak hanya berlaku untuk sesama orang Bali saja, tetapi juga diperuntukkan kepada seluruh umat manusia di muka bumi. Ungkapan tersebut memiliki prinsip mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang setara tanpa membedakan identitas.

Dan dalam konteks demokrasi, penyampaian aspirasi melalui demonstrasi adalah hal yang sah di mata hukum. Kendati pun memiliki perbedaan pandangan, hal yang seharusnya “diserang” adalah buah pemikiran yang diperjuangkan—bukannya identitas yang sudah dibawa sejak lahir dan diwariskan secara turun temurun oleh seorang individu.

Aksi perlawanan yang masih menyala sampai hari ini sudah seharusnya dijadikan sebagai sebuah momentum bagi seluruh pihak, bahwa sangat penting mengawasi kerja-kerja pemerintah dan wakil rakyat agar penggunaan anggaran yang berasal dari pajak rakyat dapat berakhir dengan kemudahan hidup rakyat.

Lantas, sampai kapan kita mau menggantungkan harapan kepada pemimpin yang berkuasa hari ini karena hasil menghamba suara rakyat lewat politik uang dan pelbagai hibah yang sejatinya berasal dari uang pajak rakyat? [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole


Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI

Tags: balidemonstrasikekuasaanorang baliPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Next Post

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co