23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Ada Maksud Merusak Citra Bali, Tapi Kekuasaan Memang Layak Menerima Koreksi

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
September 3, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

BALI jadi salah satu ruang bagi masyarakat sipil untuk menyuarakan aspirasi sekaligus mengekspresikan kemarahan kepada pemerintah dan wakil rakyatnya. Kemarahan semakin memuncak tatkala mobil rantis polisi melindas tubuh Affan Kurniawan, seorang driver ojol yang sedang mengantarkan pesanan konsumen di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta, dan mengakibatkan Affan menghembuskan napas terakhir di malam naas tersebut.

Perlawanan mulanya dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap kinerja pemerintah, diikuti dengan begitu banyaknya pernyataan yang menyakitkan hati masyarakat. Nihilnya empati dalam setiap pernyataan dan naiknya tunjangan wakil rakyat di Senayan—sebuah privilege yang begitu kontras dengan situasi rakyat yang kian hari makin tercekik oleh pajak. Situasi tersebut lantas menjadi bahan bakar untuk mengobarkan gerakan perlawanan secara terbuka. Perlawanan pun secara cepat menjalar ke banyak wilayah di Indonesia.

Tantangan Gerakan Perlawanan di Bali

Pada prinsipnya, gerakan sosial merupakan bentuk perlawanan secara kolektif oleh rakyat dan ditujukan untuk menentang elit kekuasaan dalam rangka merubah kondisi sosial—namun apa jadinya jika gerakan yang mulanya ditujukan melawan kekuasaan justru harus dihadapkan kepada masyarakat yang notabene berada dalam satu barisan?

Situasi semacam ini menjadi tantangan yang harus selalu dihadapi oleh gerakan mahasiswa dan masyarakat di Bali tatkala mereka menyuarakan aspirasinya lewat demonstrasi. Tak terkecuali aksi teranyar di Markas Polda (Mapolda) Bali, Sabtu, 30 Agustus 2025 lalu. Aksi penyampaian aspirasi sekaligus solidaritas terhadap gugurnya Affan Kurniawan yang berakhir ricuh tersebut lantas menjadi bulan-bulanan warganet di platform media sosial.

“Ane demo liunan leme ling luar Bali. Nak Bali sing makatang be nyemak gae demo, luung selegan ibe megae toh” (artinya: yang demo kebanyakan orang dari luar Bali. Orang Bali tidak mungkin mengambil pekerjaan demo, lebih baik tekun bekerja).

“We Jawo asal demo gen ci, sing nang ngerti lud,” (artinya: We Jawa (mungkin yang dimaksud adalah orang dari Pulau Jawa) asal demo saja kamu, engga ngerti apa-apa).

Tentu dua pernyataan warganet yang berserakan di platform sosial media tersebut adalah sebagian kecil dari ribuan umpatan yang ditujukan kepada massa aksi. Sayangnya sebagian besar warganet tidak fokus kepada isu yang dibawa, melainkan kepada identitas dari massa aksi—bahkan mengarah kepada rasisme.

Tuduhan dan ungkapan rasisme tersebut setidaknya dapat dimaknai menjadi dua hal: pertama, warganet bertujuan mendegradasi gerakan lewat menitikberatkan identitas massa aksi; dan kedua, semakin menegaskan stigma bahwa masyarakat Bali adalah kelompok yang dianggap santun, ramah, dan mengedepankan perdamaian dalam setiap situasi yang dihadapi.

Nyatanya, tuduhan-tuduhan semacam ini tidak terjadi hanya sekali waktu. Pelbagai ungkapan rasis yang dilayangkan kepada massa aksi juga muncul di aksi-aksi sebelumnya, seperti aksi penolakan RUU TNI, Omnibus Law, dan juga RUU KUHP serta RUU KPK. Dan seperti aksi terbaru kemarin, alih-alih berfokus pada isu yang sedang diperjuangkan, warganet justru fokus kepada identitas massa aksi.

Tidak hanya konsekuensi menerima ungkapan-ungkapan rasisme, aksi demonstrasi di Bali sering kali “dibenturkan” dengan konteks adat. Masih segar di ingatan, aksi demonstrasi yang dilakukan gabungan mahasiswa di depan Universitas Udayana untuk menentang pengesahan Omnibus Law pada tahun 2020 lalu, pun dihadapkan dengan narasi mendiskreditkan gerakan mahasiswa yang bertentangan dengan adat Bali—diikuti dengan larangan melakukan aksi demonstrasi di wilayah desa adat se-Bali oleh Majelis Desa Adat (MDA).

Dalam upaya pengamanan massa aksi, aparat pun sering kali menggandeng petugas keamanan berbasis adat Bali (baca: pecalang). Pola ini menarik untuk dianalisis lebih lanjut. Pelibatan pecalang dalam mengamankan aksi demonstrasi di Bali secara tidak langsung menempatkan gerakan yang harusnya berhadapan dengan kekuasaan (vertikal), justru berhadapan dengan bagian kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat (horisontal).

Berbondong-Bondong “Meninggalkan” Ajaran Hindu Bali

Dalam tulisannya berjudul “Rasis Bertentangan dengan Ajaran Leluhur Bali”, Sugi Lanus secara tegas menyebut ungkapan rasisme terhadap massa aksi beberapa waktu lalu bertentangan dengan ajaran yang diwariskan masyarakat Hindu Bali sampai hari ini. Dirinya bahkan menyebut bahwa ungkapan tersebut adalah cermin kedangkalan dan ketidakmampuan masyarakat Bali dalam mewarisi pemikiran dan nilai-nilai dari leluhurnya.

Menjadi penting untuk diingat sekaligus dicamkan bahwa ungkapan seperti, sagilik-saguluk salunglung sabayantaka dan paras-paros sarpanaya adalah ajaran yang tidak hanya berlaku untuk sesama orang Bali saja, tetapi juga diperuntukkan kepada seluruh umat manusia di muka bumi. Ungkapan tersebut memiliki prinsip mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang setara tanpa membedakan identitas.

Dan dalam konteks demokrasi, penyampaian aspirasi melalui demonstrasi adalah hal yang sah di mata hukum. Kendati pun memiliki perbedaan pandangan, hal yang seharusnya “diserang” adalah buah pemikiran yang diperjuangkan—bukannya identitas yang sudah dibawa sejak lahir dan diwariskan secara turun temurun oleh seorang individu.

Aksi perlawanan yang masih menyala sampai hari ini sudah seharusnya dijadikan sebagai sebuah momentum bagi seluruh pihak, bahwa sangat penting mengawasi kerja-kerja pemerintah dan wakil rakyat agar penggunaan anggaran yang berasal dari pajak rakyat dapat berakhir dengan kemudahan hidup rakyat.

Lantas, sampai kapan kita mau menggantungkan harapan kepada pemimpin yang berkuasa hari ini karena hasil menghamba suara rakyat lewat politik uang dan pelbagai hibah yang sejatinya berasal dari uang pajak rakyat? [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole


Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI

Tags: balidemonstrasikekuasaanorang baliPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Next Post

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co