3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Ada Maksud Merusak Citra Bali, Tapi Kekuasaan Memang Layak Menerima Koreksi

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
September 3, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

BALI jadi salah satu ruang bagi masyarakat sipil untuk menyuarakan aspirasi sekaligus mengekspresikan kemarahan kepada pemerintah dan wakil rakyatnya. Kemarahan semakin memuncak tatkala mobil rantis polisi melindas tubuh Affan Kurniawan, seorang driver ojol yang sedang mengantarkan pesanan konsumen di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta, dan mengakibatkan Affan menghembuskan napas terakhir di malam naas tersebut.

Perlawanan mulanya dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap kinerja pemerintah, diikuti dengan begitu banyaknya pernyataan yang menyakitkan hati masyarakat. Nihilnya empati dalam setiap pernyataan dan naiknya tunjangan wakil rakyat di Senayan—sebuah privilege yang begitu kontras dengan situasi rakyat yang kian hari makin tercekik oleh pajak. Situasi tersebut lantas menjadi bahan bakar untuk mengobarkan gerakan perlawanan secara terbuka. Perlawanan pun secara cepat menjalar ke banyak wilayah di Indonesia.

Tantangan Gerakan Perlawanan di Bali

Pada prinsipnya, gerakan sosial merupakan bentuk perlawanan secara kolektif oleh rakyat dan ditujukan untuk menentang elit kekuasaan dalam rangka merubah kondisi sosial—namun apa jadinya jika gerakan yang mulanya ditujukan melawan kekuasaan justru harus dihadapkan kepada masyarakat yang notabene berada dalam satu barisan?

Situasi semacam ini menjadi tantangan yang harus selalu dihadapi oleh gerakan mahasiswa dan masyarakat di Bali tatkala mereka menyuarakan aspirasinya lewat demonstrasi. Tak terkecuali aksi teranyar di Markas Polda (Mapolda) Bali, Sabtu, 30 Agustus 2025 lalu. Aksi penyampaian aspirasi sekaligus solidaritas terhadap gugurnya Affan Kurniawan yang berakhir ricuh tersebut lantas menjadi bulan-bulanan warganet di platform media sosial.

“Ane demo liunan leme ling luar Bali. Nak Bali sing makatang be nyemak gae demo, luung selegan ibe megae toh” (artinya: yang demo kebanyakan orang dari luar Bali. Orang Bali tidak mungkin mengambil pekerjaan demo, lebih baik tekun bekerja).

“We Jawo asal demo gen ci, sing nang ngerti lud,” (artinya: We Jawa (mungkin yang dimaksud adalah orang dari Pulau Jawa) asal demo saja kamu, engga ngerti apa-apa).

Tentu dua pernyataan warganet yang berserakan di platform sosial media tersebut adalah sebagian kecil dari ribuan umpatan yang ditujukan kepada massa aksi. Sayangnya sebagian besar warganet tidak fokus kepada isu yang dibawa, melainkan kepada identitas dari massa aksi—bahkan mengarah kepada rasisme.

Tuduhan dan ungkapan rasisme tersebut setidaknya dapat dimaknai menjadi dua hal: pertama, warganet bertujuan mendegradasi gerakan lewat menitikberatkan identitas massa aksi; dan kedua, semakin menegaskan stigma bahwa masyarakat Bali adalah kelompok yang dianggap santun, ramah, dan mengedepankan perdamaian dalam setiap situasi yang dihadapi.

Nyatanya, tuduhan-tuduhan semacam ini tidak terjadi hanya sekali waktu. Pelbagai ungkapan rasis yang dilayangkan kepada massa aksi juga muncul di aksi-aksi sebelumnya, seperti aksi penolakan RUU TNI, Omnibus Law, dan juga RUU KUHP serta RUU KPK. Dan seperti aksi terbaru kemarin, alih-alih berfokus pada isu yang sedang diperjuangkan, warganet justru fokus kepada identitas massa aksi.

Tidak hanya konsekuensi menerima ungkapan-ungkapan rasisme, aksi demonstrasi di Bali sering kali “dibenturkan” dengan konteks adat. Masih segar di ingatan, aksi demonstrasi yang dilakukan gabungan mahasiswa di depan Universitas Udayana untuk menentang pengesahan Omnibus Law pada tahun 2020 lalu, pun dihadapkan dengan narasi mendiskreditkan gerakan mahasiswa yang bertentangan dengan adat Bali—diikuti dengan larangan melakukan aksi demonstrasi di wilayah desa adat se-Bali oleh Majelis Desa Adat (MDA).

Dalam upaya pengamanan massa aksi, aparat pun sering kali menggandeng petugas keamanan berbasis adat Bali (baca: pecalang). Pola ini menarik untuk dianalisis lebih lanjut. Pelibatan pecalang dalam mengamankan aksi demonstrasi di Bali secara tidak langsung menempatkan gerakan yang harusnya berhadapan dengan kekuasaan (vertikal), justru berhadapan dengan bagian kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat (horisontal).

Berbondong-Bondong “Meninggalkan” Ajaran Hindu Bali

Dalam tulisannya berjudul “Rasis Bertentangan dengan Ajaran Leluhur Bali”, Sugi Lanus secara tegas menyebut ungkapan rasisme terhadap massa aksi beberapa waktu lalu bertentangan dengan ajaran yang diwariskan masyarakat Hindu Bali sampai hari ini. Dirinya bahkan menyebut bahwa ungkapan tersebut adalah cermin kedangkalan dan ketidakmampuan masyarakat Bali dalam mewarisi pemikiran dan nilai-nilai dari leluhurnya.

Menjadi penting untuk diingat sekaligus dicamkan bahwa ungkapan seperti, sagilik-saguluk salunglung sabayantaka dan paras-paros sarpanaya adalah ajaran yang tidak hanya berlaku untuk sesama orang Bali saja, tetapi juga diperuntukkan kepada seluruh umat manusia di muka bumi. Ungkapan tersebut memiliki prinsip mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang setara tanpa membedakan identitas.

Dan dalam konteks demokrasi, penyampaian aspirasi melalui demonstrasi adalah hal yang sah di mata hukum. Kendati pun memiliki perbedaan pandangan, hal yang seharusnya “diserang” adalah buah pemikiran yang diperjuangkan—bukannya identitas yang sudah dibawa sejak lahir dan diwariskan secara turun temurun oleh seorang individu.

Aksi perlawanan yang masih menyala sampai hari ini sudah seharusnya dijadikan sebagai sebuah momentum bagi seluruh pihak, bahwa sangat penting mengawasi kerja-kerja pemerintah dan wakil rakyat agar penggunaan anggaran yang berasal dari pajak rakyat dapat berakhir dengan kemudahan hidup rakyat.

Lantas, sampai kapan kita mau menggantungkan harapan kepada pemimpin yang berkuasa hari ini karena hasil menghamba suara rakyat lewat politik uang dan pelbagai hibah yang sejatinya berasal dari uang pajak rakyat? [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole


Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI

Tags: balidemonstrasikekuasaanorang baliPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Next Post

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Maulid dalam Praktik Inklusi: Cerita dari Yogyakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co