5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Juru Sapuh | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
August 17, 2025
in Cerpen
Juru Sapuh | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

Bekerja sebagai wartawan membuat saya banyak mengenal orang-orang dengan berbagai latar belakang, pengalaman, kelebihan, kehebatan, kesuksesan, dan pelajaran.

Setiap orang adalah unik, saya jadi mengerti bahwa apapun yang dulu saya anggap bagus, hebat, tidak berlaku bagi yang lain.

Saat bertemu dan mewawancarai seorang tokoh masyarakat, seorang bangsawan kaya raya, saya terperanjat.

” Setelah menjadi tokoh terkenal dengan kekayaan yang mungkin tak akan habis tujuh turunan, apa yang bapak ingin lakukan, apa yang bapak ingin capai? ” tanya ingin tahu.

Dalam benak saya, beliau akan mencalonkan diri jadi bupati, gubernur atau jabatan politis lainnya.

“Saya ingin menghabiskan masa tua saya sebagai juru sapuh di pura,” katanya dengan wajah tenang dengan mata berbinar terang.

“Juru sapuh, tukang sapu?'”

Busyet, jawaban dan ketenangan itu seperti mengejek dan melemparkanku jauh, jauh dan dalam, membuat keangkuhanku tersungkur tak berkutik.

Aku menyerah pada pesonanya. Bukan pada ketampanan dan kegagahan seorang lelaki dewasa yang mengucap “juru sapuh”, tetapi pada kejujuran, ketulusan dan kegembiraannya mengucap kata itu.

Ada tanya yang mengganjal di tenggorokanku, masuk ke kepala menyebar ke telinga, mata, hidung, mulut dan seluruh tubuhku yang menciptakan panas, membuat tidur gelisah.

“Kenapa tukang sapu? Apa bedanya tukang sapu di rumah, di jalan atau di pura, apa yang istimewa dari pekerjaan itu selain membuat tempat bersih, yang menjadikan orang-orang nyaman dan bahagia?”

Kegelisahan itu membuatku mencari-cari jawaban. “Juru Sapuh, adalah istilah untuk orang yang bertugas menyapu di pura atau tempat suci di Bali. Pura sebagai tempat suci yang bermakna material dan spiritual membuat penyebutan tukang sapu (juru sampat) bermakna lebih dari sekadar membersihkan sampah/kotoran material. Makna spiritual membuat sebutannya menjadi lebih halus. Juru Sapuh di pura seringkali dipercaya juga mampu membersihkan rohani yang datang ke pura. Ini tentu berarti yang bersangkutan juga sudah ‘bersih’ sehingga bisa ‘membersihkan’ orang lain, ” simpulku sementara.

Keterbatasan pengetahuan, daya pikir dan orang-orang yang saya jumpai tak membuat saya lebih paham tentang makna Juru Sapuh yang lebih dalam, sampai suatu hari tanpa sengaja saya bertemu lagi dengannya di sebuah pura.

Pura itu luas, sangat luas, ditumbuhi aneka jenis tanaman bunga-bunga dan daun-daunan, juga ada pohon-pohon tinggi dan besar di pinggir-pinggirnya.

Udaranya sejuk, tempatnya bersih dan asri, membuat betah berlama-lama di sana.

“Pak Tjok, ya,” sapaku pada, seorang lelaki beringsut dari doa kusuuknya.

Aku memperkenalkan diri, ternyata waktu 10 tahun telah banyak mengubahnya, rambutnya jadi sedikit lebih putih dan panjang. Ketampanan dan kegagalannya tak berubah, juga ingatannya padaku, dan pertanyaan-pertanyaanku.

Kami pun jadi akrab, mengingat kembali cerita-cerita kekonyolan-kekonyolanku saat mewawancarainya.

“Saya merasa sangat tenang dan bahagia menjadi juru sapuh. Jauh dari segala iruk pikuk dunia. Membersihkan pura adalah salah satu cara memuja dan berbakti kepada Tuhan, ” jelasnya dengan senyum manis, seperti beberapa tahun lalu saat saya mewawancarainya sebagai wartawan.

Ada rasa bahagia yang memenuhi dada yang tak bisa saya ungkap melihat orang yang saya kenal menjadi juru sapuh seperti yang diinginkannya.

“Menyapu dengan sapu sebagai material nyata, akan melatih jiwa dan raga kita, memahami tangan, sapu, dan obyek yang kita sapu, sebagai material nyata, menyatukan tangan, dengan indria-indria, pikiran dan perasaan dengan sapu dan obyek yang kita sapu bersifat spiritual, rohani, tidak terlihat, tapi mengandung energi yang membuat sapu dan sampah bergerak. Membuat tempat bersih, memberi rasa aman dan bahagia, itu vibrasi energi yang disalurkan oleh situasi dan diterima oleh orang yang bisa merasakannya, ” jelas Pak Tjok pelan dan jelas seperti seorang kakek mengajar cucunya yang masih kecil.

Saya senang mendengarnya, menambah pengetahuan tentang makna Juru Sapuh.

“Tangan yang menggerakan bersifat material-spiritual, sapu bisa menjadi saluran sebagai media pembersihan material dan spiritual. Sampah itu bisa berupa apa saja, bisa bersifat material, spiritual, atau antara material dan spiritual, ” pungkasnya sebelum kami berpisah.

Saya masih merasa ada sesuatu yang mengganjal, yang sebenarnya ingin saya tanyakan lebih banyak, tapi ada banyak orang yang datang ke pura dan Pak Tjok sebagai Juru Sapuh terlihat sibuk melayani para pengunjung. Belakangan saya tahu ternyata tugas sebagai Juru Sapuh bisa merangkap sebagai pemangku, atau yang memangku, yang badannya dipakai sebagai tempat menghadirkan Dewa di sebuah Pura, sebagai salah satu manifestasi Tuhan.

Dari cerita teman-teman, saya mendengar banyak orang-orang yang disembuhkan oleh Pak Tjok yang kita lebih dikenal sebagai pemangku di Pura itu.

Beberapa kali saya diajak teman untuk ke Pura tempat Pak Tjok itu, tapi selalu saja tak bisa. Lagi pula saya merasa tak nyaman kalau ke Pura beramai-ramai.

“Ya, saya tak suka berebut suasana Pura dan Tuhan,” gurau saya, saat teman mempertanyakan kenapa saya tak mau ikut, beramai-ramai ke Pura.

“Pak Tjok itu hebat lho, sakti sekali, kamu dikasi salam oleh beliau, katanya kok tak pernah tangkil ke Pura lagi? Pak Tjok ganteng lho, mungkin beliau rindu padamu” kata teman saya agak bergurau.

Saya hanya tersenyum, ingat kembali pertemuan saya dengan Pak Tjok dan pertanyaan-pertanyaan konyol saya saat itu.

Saat mengantar teman pulang kampung, iseng saya mengajaknya berkunjung ke Pura itu. Teman saya terlihat sedikit gugup, dan tak mau masuk ke Pura.

“Bukanlah Pura ini juga Puramu, ayolah Res, saya ingin bertemu dengan Pak Tjok sebentar saja, mumpung lewat,” kata sedikit merayu.
“Saya tidak bawa kain,” katanya

Saya tersenyum jenaka sambil mengeluarkan dua kain dari dalam ransel saya. Tapi Resti menggeleng tetap bersikukuh tak mau masuk Pura. Saya tak memaksanya. Resti akhirnya menunggu saya di warung dekat pura.

Saat memasuki areal Pura, saya merasa ada yang agak aneh. Saya mencoba mencari-cari alasannya. Saya lihat ke atas

” Ooo beberapa pohon besar telah ditebang, mungkin karena musim angin topan, biar tidak roboh dan membahayakan umat yang datang, “pikirku.

Memasuki halaman tengah Pura, tak banyak lagi kulihat pohon-pohon Kamboja, Cempaka, Kenanga, Kaca Piring, Kembang Sepatu dan Bunga Kuning yang dulu banyak berjejer di sana. Halaman tengah diberi paving, dan ditata indah, dan asri, mirip seperti loby hotel atau atau villa di Ubud Sanur atau Nusa Dua.

Sampai di halaman utama Pura saya makin terkejut, banyak pelinggih yang sudah diperbaiki menjadi lebih tinggi dan megah, dengan ukiran, cat berkilau keemasan. Saya kaget mendengar nama saya dipanggil sane balai panggung di depan pelinggih utama, yang lazim disebut Bale Pawedan.

“Ma, Suksma, sini, sini sembahyang dulu, setelah itu, ke sini saya perciki tirta (air suci) untuk membersihkan segala kekotoran, agar hidup lebih bahagia, dan sukses,” kata Pak Tjok sambil melapalkan mantra.

Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Tak bisa berkata-kata.

Dari atas bale Pawedan Jro Mangku Gede, Pak Tjok menceritakan pengalaman, tantangan, dan ujian yang beliau hadapi saat menjadi Juru Sapuh.

“Setiap hari Jro Gede menyapu, tapi sampahnya seperti tak habis-habis. Apalagi saat musim angin, rasanya Jro Gede ingin nangis, dengan tekad yang kuat Jro Gede lakukan terus, sampai seminggu, sampai Jro Gede sakit dan masuk UGD. Tapi dari situlah Jro Gede dapat pelajaran, Jro Gede tahu bagaimana caranya menyapu yang lebih baik, lebih efektif dan lebih bermanfaat.

Jro Gede juga kerahkan pegawai-pegawai Jro Gede untuk menyapu. Jro Gede berusaha semaksimal mungkin dengan tenaga, pikiran dan dana untuk membersihkan pura.

Akhirnya Jro Gede mendapatkan pengetahuan hebat bahwa menyapu setiap hari sama dengan melatih konsentrasi jiwa, raga, indria, pikiran dan perasaan secara rutin, sehingga memahami energi.

Energi itu bisa kita manfaatkan untuk menyapu apa saja,” jelas Jro Gede Tjok.

Saya mencoba menyibak, sebisanya, sebisanya. Banyak yang disampaikannya yang ke luar masuk di telingaku.
Yang masih kuingat hanya nama-nama orang penting yang sudah berhasil disembubakannya, dan orang-orang sakti yang sudahh dikalahkannya dengan ilmu sapu.

Saat ke luar Pura, aku dapati Resti sudah menunggu di depan Pura.

Dia tak berkata apa-apa. Sampai di Denpasar, saat di kamar kos, Resti menceritakan semuanya, segalanya yang telah dilakukan Jro Gede Tjok dengan pengetahuan energi Juru Sapuh yang dikuasainya.

“Beliau merasa dirinya sebagai Dewa Siwa yang bisa dan berhak melebur dan memusnahkan semua yang tidak sesuai dengan pendapatnya, termasuk pohon-pohon langka, dan palinggih-palinggih kuna dan unik,” ujar Resti kesal. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Made Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Luruh di Pangkuan Biang | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Cerita Kematian Sebatang Pohon | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Emi Suy | Merah Putih di Jalan Berdebu

Next Post

Lokakarya “Cultural Heritage Digitization and Preservation”: Digitalisasi Museum Langkah Strategis

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Lokakarya “Cultural Heritage Digitization and Preservation”: Digitalisasi Museum Langkah Strategis

Lokakarya “Cultural Heritage Digitization and Preservation": Digitalisasi Museum Langkah Strategis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co