5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Emi Suy | Merah Putih di Jalan Berdebu

Emi Suy by Emi Suy
August 17, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Emi Suy | Merah Putih di Jalan Berdebu

Emi Suy

MERAH PUTIH DI JALAN BERDEBU

bendera itu masih berkibar
seperti doa yang disematkan pada bambu
tiangnya rapuh, catnya terkelupas
namun tetap menantang angin
seolah hendak berkata:
“aku adalah saksi sejarah yang tak bisa dipadamkan.”

tetapi tanah di bawahnya tetap retak,
jalan penuh lubang menyimpan genangan,
anak-anak berlari dengan kaki telanjang
mengejar sekolah yang jauh
seperti cahaya yang menipu di balik kabut.

di mata mereka, merah putih tampak gagah,
tapi di perut mereka, lapar masih bersuara.
di buku catatan mereka, angka berhenti di halaman awal.
apakah kemerdekaan hanya untuk mereka
yang sudah kenyang?
sementara yang lapar
hanya bisa melambai pada bendera
tanpa tahu arti bebas
selain bebas untuk terus menunggu janji.

Cengkareng, Agustus 2025

 

MERDEKA YANG BELUM PULANG

di televisi, parade berjalan rapi.
barisan seragam menapak dengan nada yang sama,
musik militer menghentak seperti genderang kemenangan.
di layar itu, bangsa ini tampak gagah.

tapi di rumahku, ibu mengaduk panci kosong
lebih lama dari biasanya,
seakan-akan doa bisa menumbuhkan nasi.
di meja makan kami, sendok berbaris tanpa isi.
kami menonton pesta itu dari jauh,
seperti tamu asing di pesta tetangga
yang tak pernah mengundang kami.

kemerdekaan,
kau berjanji pulang ke setiap rumah
tapi langkahmu seperti tersesat.
kau singgah ke istana,
menyelip di pidato yang berapi-api,
namun lupa singgah di dapur kami.
kau hadir di spanduk besar di jalan raya,
tapi hilang di pasar tradisional.
kau berdiri tegak di lapangan upacara,
tapi tertidur di tubuh petani
yang tak mampu membeli pupuk lagi.

mungkin merdeka adalah seekor burung
yang dilepas dari sangkar
tapi kehilangan arah pulang.
ia berputar-putar di langit kota
sementara di kampung,
anak-anak hanya bisa menunggu
suara sayapnya.

Cengkareng, Agustus 2025

 

DOA SEORANG BURUH

mesin pabrik berdengung
seperti doa panjang tanpa jeda.
ia terus berputar, tak pernah tidur,
sementara tubuhku pelan-pelan aus
seperti baut yang dipaksa bertahan
meski ulirnya sudah terkikis.

aku percaya, aku warga negara merdeka.
kata itu tercetak di kartu identitasku,
dikumandangkan setiap kali Agustus tiba.
tapi di slip gaji yang kusimpan rapi
tertulis angka yang selalu lebih kecil
dari kebutuhan sederhana:
sewa rumah, uang sekolah,
dan sedikit mimpi yang tak pernah terbeli.

aku pulang larut,
menyapa anakku yang sudah tertidur.
kulihat wajahnya,
dan ia seakan bertanya tanpa suara:
“ayah, apa arti bebas
jika tubuhmu masih terikat jam kerja
dan hidupmu dikejar oleh angka-angka?”

aku tak sanggup menjawab.
hanya meletakkan doa di dahinya
agar suatu hari, merdeka itu turun
bukan sebagai pidato di televisi
melainkan sebagai roti di meja,
segelas susu hangat,
dan kesempatan bagi anakku
untuk bermimpi tanpa batas.

Cengkareng, Agustus 2025

 

SUDAHKAH KITA MERDEKA?

agustus datang seperti pesta.
bendera dipasang di setiap sudut jalan,
anak-anak bersorak,
lomba-lomba digelar untuk tertawa sebentar.
panjat pinang, balap karung,
semua riuh, seolah-olah
kita benar-benar telah sampai
di negeri yang dijanjikan.

tetapi setelah pesta usai,
asap kembang api memudar,
langit kembali kelabu seperti biasa.
september datang dengan tagihan listrik,
oktober dengan harga sembako,
dan bulan-bulan berikutnya
dengan pertanyaan yang tak pernah selesai:
sudahkah kita merdeka?

mungkin merdeka bukan soal bendera.
bukan pula soal siapa yang berkuasa.
ia adalah pertanyaan yang selalu terbuka,
pertanyaan yang mengguncang dada:
apakah manusia sudah bebas
dari rasa takut, dari lapar, dari luka
yang diwariskan turun-temurun?

mungkin kita belum sepenuhnya bebas,
karena kita masih harus berteriak
untuk didengar.
kita masih harus menuntut
sekadar hidup yang layak.
kemerdekaan, barangkali,
adalah rumah yang belum selesai dibangun.

Cengkareng, Agustus 2025

 

KEMERDEKAAN HARIAN

aku tak mencari merdeka di monumen
atau di buku sejarah yang dipelajari terburu-buru.
aku mencarinya di wajah ibu
yang menanak nasi dari beras terakhir,
di tangan ayah yang kembali dari ladang
dengan tubuh letih namun tetap tersenyum.

merdeka bukan kata besar
yang dipahat di dinding museum.
ia adalah denyut kecil sehari-hari:
kemampuan tertawa tanpa cemas,
makan tanpa menghitung utang,
belajar tanpa takut dihentikan waktu.

aku ingin merdeka hadir
di sawah yang masih menunggu hujan,
di pelabuhan kecil tempat nelayan
menambatkan perahu reotnya,
di rumah sempit yang dihuni tiga keluarga
yang tetap tertawa meski sesak.

merdeka tidak usah berwajah mewah.
cukup hadir sebagai udara lega
yang bisa kami hirup setiap hari.
cukup hadir sebagai ruang
di mana manusia boleh menjadi manusia
tanpa takut dihakimi, ditindas,
atau dilupakan sejarah.

jika itu datang,
barulah aku percaya
kemerdekaan bukan lagi mimpi bangsa,
melainkan rumah
tempat setiap manusia
boleh pulang dengan tenang.

Cengkareng, Agustus 2025


Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Puisi-puisi Emi Suy | Merdeka Sunyi
Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Puisi-puisi A. Jefrino-Fahik | Setelan Cuek Yeremias
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Torso dan Singaraja Literary Festival, Ketika Lampung dan Buleleng Berdialog Tentang Perempuan dan Energi Penyembuhan

Next Post

Juru Sapuh | Cerpen Mas Ruscitadewi

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Juru Sapuh | Cerpen Mas Ruscitadewi

Juru Sapuh | Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co