23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Yellow Gate”, Air Terjun Candi Kuning Desa Silangjana: Keindahan Alam yang Membersihkan Lelahmu

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
August 15, 2025
in Tualang
“Yellow Gate”, Air Terjun Candi Kuning Desa Silangjana: Keindahan Alam yang Membersihkan Lelahmu

Air Terjun Candi Kuning, Desa Silangjana, Buleleng

UDARA di Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali,  terasa seperti embun yang baru saja diperas dari rahim pegunungan. Dingin, jernih, dan memeluk kulit dengan lembut menggerakkan pori-pori tuk timbul. Matahari sudah terbit, tapi sianarnya belum benar-benar menguasai sekeliling.

Bayangan pepohonan masih memanjang, menutupi sebagian jalan. Jalan menuju Air Terjun Candi Kuning tidak diiringi papan nama besar atau gerbang yang megah. Hanya jalan setapak selebar satu motor, berliku-liku, seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang tak ingin sembarang orang temukan.

Pintu masuk menuju Air Terjuan Candi Kuning | Foto: Arix

Di ujung perjalanan, ada rumah sederhana dan terbentang lahan parkir yang juga tidak terlalu luas. Tidak ada loket, tidak ada petugas berseragam penagih uang parkir dan karcis, yang ada hanya sebuah meja kayu yang using dengan kotak donasi bertuliskan “Seikhlasnya.”

Di belakang berdiri seorang perempuan berwajah ramah. Namanya Komang Ayu. Ia penjaga setempat. Sapanya hangat, seperti sudah mengenal sejak lama, walau baru bertemu. Di zaman di mana setiap panorama alam sering diukur dengan harga tiket, keberadaan tempat seperti ini terasa langka.

Jalan menuju air terjun dimulai dengan menurun, di kanan terlihat pemandangan bukit, di kiri tebing yang ditumbuhi beberpa pepohonan jaka, cengkeh, dan rumpun-rumpun salak,. Pohon-pohon ini bukan sekedar hiasan alam, tapi bagian dari denyut ekonomi warga, menunggu masa panen pengepulnya. Tangga dari batu alam disusun rapi memandu Langkah, tapi licinnya lumut memaksa setiap pijakan dilakukan dengan kesadaran penuh.

Jalan setapak berbatu menuju Air Terjuan Candi Kuning | Foto: Arix

Sesekali, aliran air kecil menyilang didepan, membentuk curug-curug mungil yang jernihnya menggoda untuk merendam kaki. Sepanjang jalan, suara air terdengar makin jelas, bercampur dengan kicauan burung yang seolah berpantulan di dinding tebing.

Udara berubah menjadi lebih lembab tercampur dengan aroma dedaunan basah menusuk hidung. Beberapa meter sebelum tujuan, kabut air mulai terasa di kulit, rintik halus yang bukan hujan, melainkan sisa pecahan air terjun yang menghantam batu dan kembali terbang di udara.

Lalu tibalah pemandangan itu, Candi Kuning. Airnya jatuh dari ketinggian 100 meter membelah udara dengan suara berat, menenangkan. Di kedua sisi, tebing-tebing menjulang dilapisi lumut dan pepohonan, di tengahnya sinar matahari pagi menyerap, menciptakan semburat kuning keemasan. Apa mungkin inilah alasan namanya, cahaya itu membuat dinding tebing seperti altar emas di tengah hutan.

Di beberapa sudut, pelangi kecil melayang, hadiah dari pertemuan air dan cahaya. Tidak ada keramaian. Hanya bunyi air, burung, dan sesekali desir angin. Airnya cukup deras untuk memunculkan percikan yang dinginnya sampai ke tulang.

Air Terjuan Candi Kuning | Foto: Arix

Bebatuan besar di kaki air terjun seperti tahta alami, sebagian terselimuti lumut halus. Ada sebuah jembatan kayu melintas di salah satu sisi, agak renta, dengan beberapa papan yang mulai goyah. Menurut Komang Ayu, jembatan itu akan segera diperbaiki.

Di balik keindahan yang seolah liar ini, ada tangan-tangan yang menjaga. Air terjun Candi Kuning berada di bawah pengelolaan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Lila Dharma Kerti, dibantu pemerintah Desa Silangjana.

Pokdarwis adalah denyut sukarela warga, mereka gotong royong membersihkan, memperbaiki, dan menjaga kawasan, walau sebagian besar biayanya hanya berasal dari donasi pengunjung. Semua dirancang untuk menunjang wisata, tanpa merusak keseimbangan alam yang sudah ada.

Di banyak tempat, pembangunan sering kali berarti mengikis keaslian. Tapi di sini, warga desa tampaknya mengerti bahwa daya tarik Candi Kuning bukan semata air terjunnya, melainkan seluruh pengalaman menuju ke sana. Jalan sempit berlumut tipis, udara sejuk, suara burung bertebaran, hingga kehangatan senyum penjaga tanpa karcis.

Dan, ketika sang surya sudah naik lebih tinggi, cahaya makin terang, tapi membuat suasana terlihat lebih teduh dalam perjalanan kembali. Langkah terasa lebih ringan, walau medan tetap licin.

Ada rasa yang tertinggal, syukur, karena alam seperti ini masih terjaga. kagum, karena masih ada masyarakat yang mau menjaganya. Dan harapan, karena mungkin suatu hari nanti, ketika pengunjung lebih banyak dan fasilitas lebih baik, keaslian ini masih akan tetap menyapa setiap orang yang datang.

Air Terjuan Candi Kuning | Foto: Arix

Tidak semua keindahan harus dibingkai tiket masuk atau papan promosi besar-besaran, kadang keindahan terbaik adalah yang ditemukan dalam kesederhanaan. Jika panas terik mengeringkan kota, atau pikiran terasa penuh oleh hiruk-pikuk pekerjaan, datanglah ke sini.

Ikuti jalan yang berliku, dengarkan bisik hutan, biarkan cahaya keemasan dan embun air terjun Candi Kuning membersihkan lelahmu. [T]

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Cak Air “GanggaRam”: Seni Pertunjukan Baru di Air Terjun
Diapit Tebing Kemerahan, Wisata Air Terjun Tembok Barak Pantang Dilewatkan
Mendaki Bukit Tapak, Menemukan Makam Wali Pitu di Puncak
Menggigil di Belantara Gunung Batukaru
Gunung Batur yang Kesekian Kalinya
Tags: air terjunbulelengDesa Silangjanaobyek wisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Program SEJIWA di Gunaksa, Mengenal dan Menangani Tanda-tanda Gangguan Jiwa

Next Post

Moch Satrio Welang: Antara Ombak, Panggung, dan Perjalanan Batin

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Moch Satrio Welang: Antara Ombak, Panggung, dan Perjalanan Batin

Moch Satrio Welang: Antara Ombak, Panggung, dan Perjalanan Batin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co