13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendaki Bukit Tapak, Menemukan Makam Wali Pitu di Puncak

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
May 9, 2025
in Esai
Mendaki Bukit Tapak, Menemukan Makam Wali Pitu di Puncak

Pemnadangan dari puncak Bukit Tapak | Foto: Prayoga

GERIMIS pagi itu menyambut kami. Dari Kampus Undiksha Singaraja sebagai titik kumpul, saya dan sahabat saya, Prayoga, berangkat dengan semangat yang menyala. Tujuan kami adalah Bukit Tapak, di kawasan Bedugul, Kecamatan baturiti, Tabanan.  Bukit Tapak, atau orang biasa juga menyebut Gunung Tapak, adalah salah satu puncak yang menjanjikan panorama dan pengalaman spiritual di Bali.

Perjalanan kami dimulai sekitar pukul enam pagi. Matahari yang malu-malu muncul di sela awan gerimis, memancarkan sinar yang terpecah menjadi lima bagian. Jalanan basah seperti cermin, memantulkan keindahan cahaya itu.

Kami melewati jalan shortcut setelah Gitgit, menikmati pemandangan dan udara dingin yang menyapa wajah. Saat sampai di puncak Wanagiri, saya mengira akan melihat aktivitas para pedagang, tetapi mereka belum buka. Yang ada hanyalah beberapa monyet berjejer, dengan bulu mereka yang tampak hangat di tengah hawa dingin.

Setelah melewati Pancasari, gerimis mulai mereda, dan di kejauhan, Gunung Agung menjulang megah, terlihat jelas dari shortcut titik empat.

Saat mendaki menuju puncak Bukit Tapak | Foto: Prayoga

Pemandangan itu seolah menjadi dukungan alam bagi perjalanan kami. Jalanan menuju Kebun Raya Bedugul membawa kami ke percabangan yang terkenal, satu arah menuju Kebun Raya, dan satu lagi menuju Gang Wortel. Di sana berdiri patung kol yang berbuah jagung. Dari dulu, patung ini selalu membuat saya bertanya-tanya. Apakah ia merepresentasikan hasil alam di daerah itu? Entahlah, hahahaha, kol kok berbuah jagung, itu hanya menambah kesan di perjalanan.

Pendakian Dimulai

Tibalah kami di parkiran menuju Bukit Tapak pada pukul 08.15. Tiket masuk seharga Rp 20 ribu per orang. Jalan rusak tengah hutan menjadi pembuka perjalanan sejauh 500 meter, hingga kami sampai di percabangan Wanasari. Di sana, kami berhenti sejenak untuk bersembahyang, memohon keselamatan dan kelancaran. Tujuan kami jelas, Bukit Tapak. Maka, kami memilih jalur ke kanan. Jika ke kiri, itu menuju arah ke Bukit Pohen.

Persimpangan Wanasari | Foto: Prayoga

Di awal perjalanan, kami melewati area geotermal bekas pabrik. Bau sulfur yang menusuk hidung menjadi ujian kecil sebelum sampai di kaki bukit. Sepanjang perjalanan, suara hewan-hewan hutan mengiringi langkah kami. Kami tidak tahu suara hewan apa itu, tetapi pikiran kami tidak terusik oleh hal mistis. Fokus kami adalah menikmati suasana indah dan belajar dari alam.

Vegetasi di sekitar sangat beragam. Pohon paku, tanaman cakar ayam, bunga lonceng karang, dan bunga gairah biru menambah semangat kami. Setiap beberapa ratus meter, pohon besar dengan bekas kulit canang mengingatkan bahwa tempat ini juga menjadi lokasi persembahyangan bagi mereka yang melewati jalur. Jalur pendakian bagaikan perjalanan kehidupan. Kadang landai, kadang penuh tanjakan berakar yang membutuhkan tali untuk dilewati.

Kami sempat teralihkan oleh papan penunjuk arah menuju Pura Batu Enggang. Rasa penasaran membawa kami menyusuri jalur itu. Namun, jalanan yang kami lewati menjadi semakin sempit, dihimpit tumbuhan berduri, dan akhirnya buntu. Tekad kami tidak surut.

Proyek geothermal | Foto: Prayoga

Kami terus menelusuri jalur lembab, sesekali memegang akar untuk mendaki, sambil waspada terhadap pacet. Rasa takut akan ular atau hewan lain seolah tertutup oleh rasa penasaran. Prayoga yang terbiasa dengan hal ini memberi semangat, seolah ia juga menutupi rasa takutnya akan tersesat. “Gasss ajaa, Rik,” ucapnya.

Akhirnya, kami sampai di Pura Batu Enggang. Tempat itu menyimpan aura misterius dengan papan kecil bertuliskan “Secret Hill 1500 mdpl.” Mungkin ini yang dimaksud sebagai surga tersembunyi di Bukit Tapak, pikir saya.

“Ohh ini yang di bilang tempat tersembunyi itu, waktu itu aku engga ke sini, Rik,” kata Prayoga, sama kagumnya.

Kami bersembahyang di sana, bersyukur atas pengalaman ini, sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak.

Puncak Bukit Tapak menyambut kami dengan pohon besar yang dihiasi papan penanda, menandakan kami telah sampai di Puncak Tapak dengan ketinggian 1909 mdpl. Pemandangan yang sangat langka jika di pikirkan, kami melihat Gunung Batur, Gunung Abang, dan Gunung Agung dari puncak ini, dan juga ada lautan awan di sekitar Danau Beratan.

Lalu mata kami teralihkan, di salah satu titik, kami menemukan gubuk kecil yang ternyata adalah makam Wali Pitu, bersebelahan dengan Pura. Kami menemukan dua sisi di satu bukit tapak. bersembahyang dulu di pura, secara tidak sadar saya sujud sukur di hadapan pura itu, yang belum saya tahu nama pura itu, tenyata namanya pura Puncak Teratai Bang.  

Pura dan makam wali yang bersebelahan | Foto: Prayoga

Keberadaan Pura dan makam ini mencerminkan toleransi antarumat beragama, takjub melihat simbol kerukunan antara umat Hindu dan Muslim di tempat ini.

Di sekitar gubuk, kami melihat tempat untuk berwudhu, tetapi sayangnya, rasa penasaran kami akan makam Habib Umar, salah satu wali pitu, tidak terpuaskan karena tidak ada juru kunci. Dari celah jendela di belakang gubuk, kami hanya bisa melihat tiga makam lain, tidak dengan makam Habib Umar Bin Maulana Yusuf Al-Maghribi.

Di tengah ruangan, terlihat denah pulau Bali, gambar Wali Pitu dan beberapa sajadah, menunjukkan pentingnya tempat ini bagi umat Islam.

Tekad, Menemui Juru Kunci

Kami memutuskan untuk pulang, walaupun rasa penasaran belum terjawab. Setelah menikmati pemandangan danau Beratan dari puncak, kami memutuskan untuk turun melalui jalur Kebun Raya. Di awal perjalanan, saya mengira jalur ini akan lebih mudah, tidak begitu melelahkan seperti jalur sebelumnya. Namun, ternyata saya salah besar.

Jalan yang kami tempuh justru jauh lebih licin, meski berbentuk seperti tangga yang terbuat dari gundukan tanah dan batang pohon paku, beban tubuh yang terus menekan saat menuruni tangga membuat setiap langkah terasa menyakitkan. Beberapa meter sekali, kami berhenti untuk beristirahat. Begitu seterusnya, berjalan, istirahat, berjalan lagi. Rasa lelah makin menjadi, tetapi kami tetap melanjutkan perjalanan.

Tiga makam diyakini makam murid Habib Umar Bin Maulana Yusuf Al-Magribhi | Foto: Prayoga

Di tengah jalan, saat sedang beristirahat, kami bertemu dengan rombongan, berjumlah delapan orang muslim yang hendak berziarah ke Bukit Tapak. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, rasa penasaran tentang makam Wali Pitu akhirnya membawa saya untuk bertanya kepada salah satu dari mereka.

Pemimpin rombongan itu, seorang pria bernama Jumadi, dengan ramah menjelaskan bahwa kunci untuk masuk ke area makam dapat diperoleh dari Fahridin, seorang juru kunci yang tinggal di dekat Kebun Raya.

“Carinya gampang kok, Mas, rumahnya ada plang bertuliskan ‘Juru Kunci Makam Wali’. Cari aja, nanti sampean bisa ketemu Pak Fahridin,” kata Jumadi.

Informasi ini seperti membuka jalan baru bagi kami. Dengan semangat yang kembali menggebu, kami melanjutkan perjalanan menuruni bukit, meskipun kaki terasa semakin nyeri.

Pemandangan dari puncak Bukit Tapak | Foto: Prayoga

Akhirnya, kami tiba di Kebun Raya. Jika dipikirkan lagi, kami membayar tiket masuk dari Bukit Tapak seharga 20 ribu rupiah tapi kami juga bisa menikmati beberapa tempat menarik di Kebun Raya tanpa harus bayar, sangat beruntung ya, hahaha. Tentu saja, kami hanya tertawa kecil karena perjalanan ini memberi kami lebih banyak pengalaman daripada sekadar pemandangan.

Keluar dari gapura Kebun Raya, kami berjalan sekitar 50 meter hingga menemukan rumah dengan plang yang dimaksud oleh Jumadi. Di sana, kami bertemu langsung dengan Fahridin satu-satunya juru kunci makam Wali Pitu di Bukit Tapak.

Fahridin menyambut kami dengan ramah. Setelah berbincang singkat tentang perjalanan kami dari hutan hingga Kebun Raya, saya mulai menanyakan tentang makam Wali Pitu di Bukit Tapak. Fahridin, yang tampak terbiasa dengan pertanyaan semacam ini, dengan sabar mulai menceritakan sedikit sejarahnya.

Sedikit Kisah, Makam Wali Pitu di Bukit Tapak

Menurut Fahridin, sejarah makam Wali Pitu bermula dari kedatangan Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Maghribi ke Bali pada abad ke-14 atau ke-15. Habib Umar adalah seorang tokoh penting dalam penyebaran Islam di Bali. Ia berasal dari Timur Tengah, sebagaimana tercermin dari nama “Al-Maghribi,” yang berarti “dari Maghrib” atau wilayah barat, merujuk pada Afrika Utara.

Bertemu para peziarah saat turun dari Bukit Tapak | Foto: Prayoga

Sebelum tiba di Bali, Habib Umar pernah bermukim di Jawa bagian barat dan Madura, di mana ia menjalin hubungan erat dengan raja-raja setempat. Hubungan antara raja-raja Madura dan Bali yang cukup erat kala itu menjadi alasan mengapa Habib Umar diutus untuk berdakwah di Bali, bersama beberapa muridnya. Mereka memulai perjalanan dari wilayah Kalianget Timur di Madura, sebelum akhirnya menetap di Desa Candikuning, kawasan pegunungan Beratan, Bali. Mencari sinar kuning, terkait sinar kuning ini, dulu dikatakan sebagai suatu hal yang sangat berbahaya.

Wilayah Candikuning kala itu dikenal sebagai daerah yang angker, penuh dengan makhluk halus yang sering mengganggu masyarakat. Dengan kesaktian yang dimiliki, Habib Umar berhasil menundukkan makhluk-makhluk tersebut, menciptakan ketentraman, dan membuka jalan untuk menyebarkan ajaran Islam. Ia bahkan mendirikan sebuah kerajaan kecil yang dikenal sebagai Kerajaan Beratan dan diangkat sebagai rajanya dengan gelar Syekh Maulana Raden Hasan.

Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Fitnah dan adu domba mulai menghantui kerajaan, memaksa Habib Umar untuk mencari petunjuk. Ia memutuskan untuk bersemedi di puncak Bukit Tapak, bersama tiga muridnya, dan tidak pernah kembali ke Desa Candikuning

Penemuan makam Wali Pitu bermula pada tahun 1917, ketika ayah Fahridin tengah mencari kayu rotan di hutan Bukit Tapak.

“Dalam keadaan tersesat, istilah Balinya paling, ia menemukan gundukan tanah dengan nisan tidak bernama, yang diyakini sebagai makam Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Maghribi dan murid-muridnya,” ucap Fahridin.

Fahridin | Foto: Prayoga

Pada tahun 1975, makam ini mulai dibangun menjadi tempat ziarah orang-orang Muslim yang tinggal di Bali, bahkan di luar Bali. Seiring waktu, bangunan makam mengalami renovasi. Pada tahun 2015, Fahridin bersama pemuda-pemuda setempat dan orang-orang dari Desa Pegayaman memperbaiki makam tersebut. Bangunan baru ini berukuran sekitar 9,5 x 9,5 meter, dilengkapi ruang untuk umat Muslim bersembahyang, serta makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Habib Umar dan murid-muridnya.

Cerita ini menambah rasa kagum saya terhadap warisan spiritual yang ada di Bukit Tapak. Bukan sekadar mendaki puncak, tetapi juga menelusuri jejak sejarah. Sebuah pelajaran yang hanya bisa ditemukan di tempat-tempat yang menyimpan makna mendalam, tersembunyi di balik lebatnya hutan dan puncak nan indah pula berkisah. [T]

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Menggigil di Belantara Gunung Batukaru
Gunung Batur yang Kesekian Kalinya
Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana
Tags: baliBedugulGunung TapakMendaki Gunungperjalanantoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kreativitas dan Imajinasi: Dua Modal Utama Seorang Seniman

Next Post

Puisi-puisi Pramita Shade | Peranjakan Dua Puluhan

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Pramita Shade | Peranjakan Dua Puluhan

Puisi-puisi Pramita Shade | Peranjakan Dua Puluhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co