23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moch Satrio Welang: Antara Ombak, Panggung, dan Perjalanan Batin

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 15, 2025
in Persona
Moch Satrio Welang: Antara Ombak, Panggung, dan Perjalanan Batin

Moch Satrio Welang

LANGIT siang di Denpasar mendung, seolah ikut menahan nafas. Di sebuah kedai kecil yang hangat dan familiar, aroma kopi Bali dan  alunan nostalgia dari lagu-lagu DEWA menyatu dalam suasana keakraban. Dua porsi ayam lalapan terhidang di atas meja kayu, menjadi pembuka dialog antara saya dan sahabat lama, Moch Satrio Welang. Sosok yang kini menyandang banyak peran, yakni penyair, cerpenis, sutradara, aktor teater, MC, dan tentu saja, pekerja kapal pesiar.

Baru saja kembali ke Bali setelah enam bulan berlayar di tengah samudra, tatapannya memancarkan kelegaan dan keteguhan. “Lega bisa pulang,” katanya lirih, seperti menghembuskan beban yang selama ini tertahan oleh gemuruh ombak dan lapisan baja kapal.

Perjalanan hidup Moch, begitu ia akrab disapa, adalah tentang bagaimana kita menanggalkan peran untuk menemukan diri. Di atas kapal, ia tidak lagi “Moch Satrio Welang, sang seniman.” Tidak ada perhatian pada identitas itu. Sebaliknya, ia mendapatkan “identitas baru”, sebuah kebebasan untuk menjelajah, tanpa topeng.

Moch Satrio Welang saat berlayar | Foto: Dok. pribadi

“Di kapal, aku meninggalkan identitas kesenimanan. Orang nggak peduli aku siapa. Itu memberi aku identitas baru,” ujarnya. Bahkan saat suatu ketika mesin kapal meledak, kesadaran manusia tentang kematian terasa sangat nyata, 2 cm dari kekekalan. Di tengah laut yang luas, manusia hanya setitik, kecil dan rapuh.

Pekerjaan sebagai fotografer kapal pesiar ternyata “toksik.” Ia harus menghadap tamu setiap hari, menghadapi tuntutan dan kelelahan mental hingga pernah merasa “nggak suka sama manusia.” Di era media sosial dan arus informasi deras, “orang gampang tersulut emosi,” dan jika tak kuat menyaringnya, kita bisa tergerus. Itulah pandangan Moch yang semakin tajam.

Usia kepala empat membawa perubahan cara pandang. “Dulu gradag-grudug, sekarang lebih memilah ambisi,” ujarnya. Dulu, ia rela “membakar” uang pribadi demi menyelenggarakan acara seni, sebuah fanatisme yang kini berganti selektivitas yang matang.

Lingkaran pertemanan menyusut. Banyak kawan lama sudah sibuk dengan keluarga, anak, dan tanggung jawab. Beberapa hal yang dulu terasa asing, seperti membeli rumah atau menikah, sekarang harus dipikirkan. Tapi Moch menegaskan bahwa orientasi seksualnya tidak mengundang pernikahan dalam hidupnya. Ia memilih melepas kemelekatan, meski ambisi tetap ada.

Profesi MC pernikahan yang dulu mendominasi pun kini sulit dijalani karena jadwal kapal. Dahulu, ia pernah menjadi stage crew dengan kerja fisik yang berat, membangun panggung dari besi dan kain. Kini, di kapal, fisiknya lebih ringan, namun mentalnya lebih diuji.

Dari Teater Orok ke Panggung Dunia

Jejak seni Moch Satrio Welang bermula pada 2003. Lulus SMA tanpa biaya kuliah, ia terseret festival drama di Universitas Udayana. Di sanalah ia kenal Teater Orok dan memutuskan melanjutkan studi di jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Udayana, supaya bisa aktif di dunia teater. Tahun berikutnya, ia sempat berproses kreatif bersama Kelompok 108 pimpinan Giri Ratomo.

Moch Satrio Welang saat berlayar | Foto: Dok. pribadi

Pada 2009, Moch mendirikan penerbit Sastra Welang Pustaka, disusul setahun kemudian berdirinya Teater Sastra Welang. Dari wadah inilah ia menggagas Sawma Awards (Sastra Welang Monologue Awards) untuk pelaku teater di Bali, juga Sawtaka Nayyotama Awards dan Siwa Nataraja Awards, sayembara tahunan cipta cerpen dan puisi tingkat nasional.

Prestasinya diakui ketika ia meraih Aktor Terbaik 2010 dalam ajang Gelar Teater La Jose. Ia pernah tampil dalam berbagai pentas penting, mulai dari Caligula (Teater Orok, 2003), Death of A Salesman (Kelompok 108, TIM Jakarta 2004), Penislilin (2006), Perjuangan Suku Naga (2006), Tanah Air Mata (2007), Waktu antara Kau dan Aku (2007), Dance Theatre Samudra (2008), Hong (2008), Di Gaza Tahun Tak Berganti (2009), hingga Mama I am Sorry (2009). Ia juga tampil di Sanur Village Festival, Pesta Kesenian Bali (2005, 2012), Ubud Writers and Readers Festival (2006), dan pentas-pentas kolaborasi internasional.

Puncaknya, pada 2014 ia membawakan Tari Teaterikal Shri di kapal pesiar Amerika Serikat yang berlayar ke Amerika, Kanada, Brasil, Argentina, hingga Jepang, Korea, dan Asia Tenggara.

Titik balik emosional datang pada 2008, saat ibunya wafat. “Amarahku aku salurkan lewat puisi,” ucapnya. Dari luka itu lahir puisi-puisi dalam buku Keranda Emas, disusul Berjalan ke Utara (2010), Dendang Denpasar Nyiur Sanur (2012), Negeri Sembilan Matahari (2013), Langit Terbakar Saat Anak-Anak Itu Lapar (2013), Semangkuk Nasi dan Sang Presiden (2013), Di Tangkai Mawar Mana (2014), Penjara (2014), Saron (2018), Bandara dan Laba-Laba (2019), Tutur Batur (2019), hingga Jatuhnya Sepotong Bulan (2021).

Karya-karyanya dimuat di berbagai media, puisinya pernah diterjemahkan ke bahasa Prancis dalam Couleur Femme (2011), dan cerpennya Nini masuk antologi bilingual yang dipamerkan di Frankfurt Book Fair.

Tak hanya menulis, Moch juga merilis album musikalisasi puisi Taman Bunga (2013), Instalasi Bulan dan Matahari (2016), Danumaya (2020), serta Parfum Puisi Luminosa – The Poetry by Satrio Welang (2023). Ia kerap berkolaborasi dengan tokoh seni besar seperti Garin Nugroho, Happy Salma, Ayu Laksmi, dan Warih Wisatsana.

Meski telah melahirkan banyak karya kolaboratif, ia sampai kini belum menerbitkan buku tunggal prosa. “Teman-teman lain sudah menulis banyak buku, aku satu pun belum,” katanya pelan. Namun kini, ritmenya adalah “ritme kepala empat” yang tenang, matang, penuh pertimbangan.

Seni di Era Digital dan Pesan untuk Generasi Muda

Moch merasakan perubahan nyata dalam lanskap kesenian Bali. Hari-hari ketika ruang publik penuh gairah kian pudar. “Dunia digital bikin orang jadi mageran,” ujarnya. Interaksi tatap muka, pementasan, pembacaan puisi, semuanya bergantung pada inisiatif personal dan momentum.

Meski demikian, harapannya tetap menyala. Ia menaruh perhatian pada pelajar SMP dan SMA yang jatuh cinta pada teater. “Kalau suka teater, itu perayaan,” tegasnya.

Moch Satrio Welang dalam kegiatan sastra | Foto: Dok. pribadi

Teater menurutnya lebih dari sekadar panggung. Ini tentang kecerdasan sosial, empati, dan kualitas manusia. Ia berpesan agar teman-teman muda menggunakan seni sebagai bekal untuk kehidupan, baik dalam hubungan sosial, berumah tangga, atau di dunia kerja. “Teater mengasah empati. Mengasah diri lebih dalam lagi, menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya.

Kini, ia menjalani dua dunia, yakni panggung yang tak pernah padam di hatinya, dan geladak kapal yang membawanya berkelana dunia. Manusia, baginya, bukan garis lurus; ada detik-detik menepi untuk merenung sebelum melangkah lagi.

Bagi Moch, pulang ke Bali adalah kembali ke akar: suara gamelan, bau dupa, dan canda kawan yang mengerti bahwa seni bukan sekadar pelarian, tapi bagian dari napas kehidupan. Dan ketika ditanya kapan ia akan berhenti, ia menjawab dengan sederhana, “Selama aku masih bisa menulis, bermain, atau bercerita, aku tidak akan berhenti,” tukasnya menutup obrolan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Ngakan Made Kasub Sidan, Peraih Bali Jani Nugraha 2025, Penjaga Sastra  Inspiratif dari Klungkung
Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan
Musik dan Tari untuk Putu Bawa Samar Gantang di Festival Seni Bali Jani 2025
I Nyoman Manda, Penerima Bali Jani Nugraha: Menulis 80 Judul Buku dan Penggagas Majalah Sastra Bali Modern
Tags: sastrasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Yellow Gate”, Air Terjun Candi Kuning Desa Silangjana: Keindahan Alam yang Membersihkan Lelahmu

Next Post

Tumpek, Plawatan, dan Tumpek Wayang

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek, Plawatan, dan Tumpek Wayang

Tumpek, Plawatan, dan Tumpek Wayang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co