27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moch Satrio Welang: Antara Ombak, Panggung, dan Perjalanan Batin

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 15, 2025
in Persona
Moch Satrio Welang: Antara Ombak, Panggung, dan Perjalanan Batin

Moch Satrio Welang

LANGIT siang di Denpasar mendung, seolah ikut menahan nafas. Di sebuah kedai kecil yang hangat dan familiar, aroma kopi Bali dan  alunan nostalgia dari lagu-lagu DEWA menyatu dalam suasana keakraban. Dua porsi ayam lalapan terhidang di atas meja kayu, menjadi pembuka dialog antara saya dan sahabat lama, Moch Satrio Welang. Sosok yang kini menyandang banyak peran, yakni penyair, cerpenis, sutradara, aktor teater, MC, dan tentu saja, pekerja kapal pesiar.

Baru saja kembali ke Bali setelah enam bulan berlayar di tengah samudra, tatapannya memancarkan kelegaan dan keteguhan. “Lega bisa pulang,” katanya lirih, seperti menghembuskan beban yang selama ini tertahan oleh gemuruh ombak dan lapisan baja kapal.

Perjalanan hidup Moch, begitu ia akrab disapa, adalah tentang bagaimana kita menanggalkan peran untuk menemukan diri. Di atas kapal, ia tidak lagi “Moch Satrio Welang, sang seniman.” Tidak ada perhatian pada identitas itu. Sebaliknya, ia mendapatkan “identitas baru”, sebuah kebebasan untuk menjelajah, tanpa topeng.

Moch Satrio Welang saat berlayar | Foto: Dok. pribadi

“Di kapal, aku meninggalkan identitas kesenimanan. Orang nggak peduli aku siapa. Itu memberi aku identitas baru,” ujarnya. Bahkan saat suatu ketika mesin kapal meledak, kesadaran manusia tentang kematian terasa sangat nyata, 2 cm dari kekekalan. Di tengah laut yang luas, manusia hanya setitik, kecil dan rapuh.

Pekerjaan sebagai fotografer kapal pesiar ternyata “toksik.” Ia harus menghadap tamu setiap hari, menghadapi tuntutan dan kelelahan mental hingga pernah merasa “nggak suka sama manusia.” Di era media sosial dan arus informasi deras, “orang gampang tersulut emosi,” dan jika tak kuat menyaringnya, kita bisa tergerus. Itulah pandangan Moch yang semakin tajam.

Usia kepala empat membawa perubahan cara pandang. “Dulu gradag-grudug, sekarang lebih memilah ambisi,” ujarnya. Dulu, ia rela “membakar” uang pribadi demi menyelenggarakan acara seni, sebuah fanatisme yang kini berganti selektivitas yang matang.

Lingkaran pertemanan menyusut. Banyak kawan lama sudah sibuk dengan keluarga, anak, dan tanggung jawab. Beberapa hal yang dulu terasa asing, seperti membeli rumah atau menikah, sekarang harus dipikirkan. Tapi Moch menegaskan bahwa orientasi seksualnya tidak mengundang pernikahan dalam hidupnya. Ia memilih melepas kemelekatan, meski ambisi tetap ada.

Profesi MC pernikahan yang dulu mendominasi pun kini sulit dijalani karena jadwal kapal. Dahulu, ia pernah menjadi stage crew dengan kerja fisik yang berat, membangun panggung dari besi dan kain. Kini, di kapal, fisiknya lebih ringan, namun mentalnya lebih diuji.

Dari Teater Orok ke Panggung Dunia

Jejak seni Moch Satrio Welang bermula pada 2003. Lulus SMA tanpa biaya kuliah, ia terseret festival drama di Universitas Udayana. Di sanalah ia kenal Teater Orok dan memutuskan melanjutkan studi di jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Udayana, supaya bisa aktif di dunia teater. Tahun berikutnya, ia sempat berproses kreatif bersama Kelompok 108 pimpinan Giri Ratomo.

Moch Satrio Welang saat berlayar | Foto: Dok. pribadi

Pada 2009, Moch mendirikan penerbit Sastra Welang Pustaka, disusul setahun kemudian berdirinya Teater Sastra Welang. Dari wadah inilah ia menggagas Sawma Awards (Sastra Welang Monologue Awards) untuk pelaku teater di Bali, juga Sawtaka Nayyotama Awards dan Siwa Nataraja Awards, sayembara tahunan cipta cerpen dan puisi tingkat nasional.

Prestasinya diakui ketika ia meraih Aktor Terbaik 2010 dalam ajang Gelar Teater La Jose. Ia pernah tampil dalam berbagai pentas penting, mulai dari Caligula (Teater Orok, 2003), Death of A Salesman (Kelompok 108, TIM Jakarta 2004), Penislilin (2006), Perjuangan Suku Naga (2006), Tanah Air Mata (2007), Waktu antara Kau dan Aku (2007), Dance Theatre Samudra (2008), Hong (2008), Di Gaza Tahun Tak Berganti (2009), hingga Mama I am Sorry (2009). Ia juga tampil di Sanur Village Festival, Pesta Kesenian Bali (2005, 2012), Ubud Writers and Readers Festival (2006), dan pentas-pentas kolaborasi internasional.

Puncaknya, pada 2014 ia membawakan Tari Teaterikal Shri di kapal pesiar Amerika Serikat yang berlayar ke Amerika, Kanada, Brasil, Argentina, hingga Jepang, Korea, dan Asia Tenggara.

Titik balik emosional datang pada 2008, saat ibunya wafat. “Amarahku aku salurkan lewat puisi,” ucapnya. Dari luka itu lahir puisi-puisi dalam buku Keranda Emas, disusul Berjalan ke Utara (2010), Dendang Denpasar Nyiur Sanur (2012), Negeri Sembilan Matahari (2013), Langit Terbakar Saat Anak-Anak Itu Lapar (2013), Semangkuk Nasi dan Sang Presiden (2013), Di Tangkai Mawar Mana (2014), Penjara (2014), Saron (2018), Bandara dan Laba-Laba (2019), Tutur Batur (2019), hingga Jatuhnya Sepotong Bulan (2021).

Karya-karyanya dimuat di berbagai media, puisinya pernah diterjemahkan ke bahasa Prancis dalam Couleur Femme (2011), dan cerpennya Nini masuk antologi bilingual yang dipamerkan di Frankfurt Book Fair.

Tak hanya menulis, Moch juga merilis album musikalisasi puisi Taman Bunga (2013), Instalasi Bulan dan Matahari (2016), Danumaya (2020), serta Parfum Puisi Luminosa – The Poetry by Satrio Welang (2023). Ia kerap berkolaborasi dengan tokoh seni besar seperti Garin Nugroho, Happy Salma, Ayu Laksmi, dan Warih Wisatsana.

Meski telah melahirkan banyak karya kolaboratif, ia sampai kini belum menerbitkan buku tunggal prosa. “Teman-teman lain sudah menulis banyak buku, aku satu pun belum,” katanya pelan. Namun kini, ritmenya adalah “ritme kepala empat” yang tenang, matang, penuh pertimbangan.

Seni di Era Digital dan Pesan untuk Generasi Muda

Moch merasakan perubahan nyata dalam lanskap kesenian Bali. Hari-hari ketika ruang publik penuh gairah kian pudar. “Dunia digital bikin orang jadi mageran,” ujarnya. Interaksi tatap muka, pementasan, pembacaan puisi, semuanya bergantung pada inisiatif personal dan momentum.

Meski demikian, harapannya tetap menyala. Ia menaruh perhatian pada pelajar SMP dan SMA yang jatuh cinta pada teater. “Kalau suka teater, itu perayaan,” tegasnya.

Moch Satrio Welang dalam kegiatan sastra | Foto: Dok. pribadi

Teater menurutnya lebih dari sekadar panggung. Ini tentang kecerdasan sosial, empati, dan kualitas manusia. Ia berpesan agar teman-teman muda menggunakan seni sebagai bekal untuk kehidupan, baik dalam hubungan sosial, berumah tangga, atau di dunia kerja. “Teater mengasah empati. Mengasah diri lebih dalam lagi, menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya.

Kini, ia menjalani dua dunia, yakni panggung yang tak pernah padam di hatinya, dan geladak kapal yang membawanya berkelana dunia. Manusia, baginya, bukan garis lurus; ada detik-detik menepi untuk merenung sebelum melangkah lagi.

Bagi Moch, pulang ke Bali adalah kembali ke akar: suara gamelan, bau dupa, dan canda kawan yang mengerti bahwa seni bukan sekadar pelarian, tapi bagian dari napas kehidupan. Dan ketika ditanya kapan ia akan berhenti, ia menjawab dengan sederhana, “Selama aku masih bisa menulis, bermain, atau bercerita, aku tidak akan berhenti,” tukasnya menutup obrolan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Ngakan Made Kasub Sidan, Peraih Bali Jani Nugraha 2025, Penjaga Sastra  Inspiratif dari Klungkung
Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan
Musik dan Tari untuk Putu Bawa Samar Gantang di Festival Seni Bali Jani 2025
I Nyoman Manda, Penerima Bali Jani Nugraha: Menulis 80 Judul Buku dan Penggagas Majalah Sastra Bali Modern
Tags: sastrasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Yellow Gate”, Air Terjun Candi Kuning Desa Silangjana: Keindahan Alam yang Membersihkan Lelahmu

Next Post

Tumpek, Plawatan, dan Tumpek Wayang

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek, Plawatan, dan Tumpek Wayang

Tumpek, Plawatan, dan Tumpek Wayang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co