24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cak Air “GanggaRam”: Seni Pertunjukan Baru di Air Terjun

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
August 30, 2023
in Esai
Cak Air “GanggaRam”: Seni Pertunjukan Baru di Air Terjun

Pertunjukan Cak Air “GanggaRam” | Foto: Dok. I Nyoman Mariyana, 2023

PERKEMBANGAN seni pertunjukan kian dinamis. Berbagai jenis ide baru muncul seiring dengan perkembangan daya cipta seniman Bali dalam meng-creat seni tradisinya menjadi kemasan baru dengan konsepsi tradisi-modern.

Kesenian tradisi adalah akar dari tumbuhnya berbagai jenis kesenian-kesenian baru. Tradisi merupakan awal dari modernisasi dalam berkesenian. Produk karya seni terlahir dari tradisi budaya yang ada di setiap daerah. Seniman yang kuat dengan tradisi yang dimilikinya, akan menghasilkan karya yang mengandung nilai filosofi dan karakteristik yang kuat pula.

Kesenian kecak adalah salah satu kesenian yang terlahir dari tradisi ritus Sanghyang. Pelaksanaan ritus Sanghyang telah memberikan ide baru seniman Walter Spies asal Jerman untuk menggubahnya menjadi kesenian Cak dibantu dengan seniman I Wayan Limbak asal Bedulu di era tahun 1930an.

Sedangkan Tari Sanghyang adalah ritus pemujaan dengan doa dalam bentuk nyanyian atau tembang sebagai perantaranya. Kekuatan penyajian vocal dalam ritus Sanghyang memberikan ilham terciptanya kesenian Cak dengan vocal sebagai basic dasar penyajiannya.

Sejak keberadaan kesenian Cak ini, kesenian Cak telah mampu menarik minat masyarakat dan juga wisatawan asing. Telah banyak muncul sekaa-sekaa cak di masyarakat. Era tahun 1970, Sardono W.Kusumo juga telah mengembangkan kesenian Cak dari bentuk aslinya menjadi bentuk baru dengan mengadopsi sumber-sumber suara dari peniruan suara alam dalam pertunjukannya.

Pertunjukan Cak Air “GanggaRam” / Foto: Dok. I Nyoman Mariyana, 2023

Dalam penciptaannya kala itu, dia bekerja sama dengan Sekaa Cak Banjar Teges Kanginan, Ubud, Gianyar, dan melahirkan tokoh Cak yang kini dikenal dengan Cak Rina.

Perkembangan Cak pun terus melaju dengan pesatnya. Berawal dari perkembangan Cak yang ada, timbul ide untuk lebih mengembangkannya menjadi bentuk-bentuk baru.

Berawal dari pengalaman dalam kesenian Cak, di tahun 2018 diciptakan bentuk kecak dengan menambahkan unsur instrument perkusi dalam penyajiannya yang kemudian dikenal dengan nama Kecak Perkusi.

Kecak Perkusi terlahir sebagai sebuah pertunjukan dengan mentransformasi konsep komodifikasi pada sajiannya. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan sentuhan baru pada penyajian kesenian Kecak yang dikenal sebelumnya.

Komodifikasi dilakukan pada unsur kostum dan musikalitas kecak itu sendiri. Kostum yang digunakan pada kecak perkusi tidak memakai kostum kecak sebagaimana yang kita lihat pada umumnya, kostum kecak didesain baru dengan kostum seperti Hanoman.

Musikalitasnya digarap dengan kolaborasi seni antara vocal cak dengan penggabungan alat perkusi seperti; djimbe, kulkul, kendang Bali, okokan , dan beberapa instrumen ceng ceng.

Kecak Perkusi dari awal terciptanya hingga kini memiliki ciri khas tersendiri pada sajiannya. Hadirnya kecak ini nampaknya juga diminati oleh para wisatawan. Beberapa event organizer (EO) telah menggunakan jasa Kecak Perkusi sebagai sajian utama pada acara yang mereka gelar di Bali, baik acara nasional maupun international.

Cak “GanggaRam”

Kreativitas terus berlanjut, guna lebih mengembangkan kesenian tradisi menjadi produk yang dapat disajikan sebagai seni wisata dengan tidak menodai keasliannya. Keindahan alam dengan panorama air terjun Goa Gong di Desa Auman, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, memiliki daya tarik untuk menciptakan suatu pertunjukan baru. Keindahannya mengilhami diri untuk menciptakan sebuah pertunjukan Cak di air terjun,  yang nantinya akan dikonsumsi oleh wisatawan sebagai produk seni wisata.

Entah kenapa, secara tidak sengaja, hati ini tertarik untuk mendekat ke objek air terjun ini sebelum terciptanya karya di air terjun tersebut.

Air terjun Goa Gong terletak di antara Desa Batulantang dan Desa Auman. Menurut Jero Mangku I Ketut Suanda—-jro Mangku Prajapati, Pura Melanating, dan Puncak Tedung—air terjun Goa Gong memiliki jejak historis yang patut diketahui bersama.

Pertunjukan Cak Air “GanggaRam” / Foto: Dok. I Nyoman Mariyana, 2023

“Sebutan Goa Gong dikarenakan konon masyarakat di sana mendengar dentuman suara gong yang keluar dari air terjun tersebut setiap sasih karo (bulan kedua pada kalender Bali),” ujar Jro Mangku kelahiran 7 Oktober 1958 itu.

Gelombang bunyi atau getaran suara yang keluar dari gong menjadikan identitas pada air terjun sehingga disebut air terjun Goa Gong. Gong adalah lambang windhu dan perwujudan aksara Ongkara (Ang, Ung, Mang). Ongkara merupakan simbol aksara suci Tuhan.

Air terjun Goa Gong mengaliri aliran Tukad Yek Kilap.  Dilihat dari arti katanya, tukad adalah sungai; sedangkan yeh adalah personalitas Tuhan dalam konteks kosmik material simbol Dewa Wisnu; dan kilap adalah petir, Ageni atau api, simbol perwujudan Dewa Brahma—unsur udara terlihat secara nyata dari kekuatan angin yang keluar dari air terjun itu sendiri, sebagai simbol Iswara.

Goa memiliki dua makna; goa secara spiritual berarti ruang yang kosong namun berisi, dalam kosmik terdapat udara atau angin. Dalam mikro kosmik ruang ini berada di kerongkongan atau pembuluh darah. Keberadaan air terjun Goa Gong ini diyakini juga memiliki hubungan terkait antara Dewa yang berstana di Pura Kancing Gumi dengan kekuatan alam semesta yang ada di Air Terjun Goa Gong.

Berdasarkan filosofi tersebut, tercipta karya Cak “GanggaRam” sebuah persembahan karya seni sebagai pemujaan Dewi Gangga sebagai Dewi Kesuburan yang memberikan kehidupan dan kebahagiaan pada semua mahluk. Keindahan riak air terjun telah memberikan intuisi dalam penciptaan.

Foto Bersama dalam Pertunjukan Cak Air “GanggaRam” / Foto: Dok. I Nyoman Mariyana, 2023

Sebelum melahirkan Cak GanggaRam, terlebih dulu saya telah melahirkan sebuah karya yang diberi judul “Kecak Atlas”; sebuah pertunjukan kecak di Atlas Beach Fest 2023 yang berlokasi di Jalan Pantai Berawa, Canggu, Bali. Atlas Beach Fest adalah beach club terbesar di dunia yang menjadi salah satu destinasi wisata baru di era sekarang.

Dalam perjalanannya, Kecak Atlas atau “Kecak Elektrik” ini mampu membius penikmatnya. Para wisatawan yang menyaksikan pertunjukan kami menikmati sembari mengikuti ritme dan gerak Kecak kami. Kepuasan mereka juga dibuktikan dengan pemberian tiping kepada masing-masing pemain (selengkapnya silakan baca di sini: Tradisi Akar Dari Modernisasi Berkesenian | Catatan dari Atlas Beach Fest).

Kembali ke Cak GanggaRam, secara musikalitas, pertunjukan Cak GanggaRam ini adalah transformasi vocal cak yang dikembangkan dengan teknik akapela serta pemanfaatan air, batu, dan kentongan sebagai instrument perkusi menjadi satu kesatuan karya yang utuh. Vokal cak dibalut dengan mengambil aksara-aksara suci Ang, Ung, Mang dan aksara Pangider Bhuana (Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya) sebagai unsur kekuatan alam semesta.

Lahirnya karya ini nampaknya mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke air terjun. Begitu juga halnya dengan pengelola air terjun, salah satunya Plaga Eko Park.

Oner Plaga Eko Park telah menawarkan kerja sama dengan tim peneliti untuk menampilkan karya ini sebagai suguhan wisata air terjun. Telah disepakati pula kontrak perjanjian dalam penyajiannya berikutnya.

Tak menutup kemungkinan, pengembangan karya ini akan dilakukan pada masyarakat di sekitarnya, sehingga mampu memberikan pengalaman baru dalam berkreasi seni serta menambah pendapatan dari segi finansial.[T]

Tradisi Akar Dari Modernisasi Berkesenian | Catatan dari Atlas Beach Fest
Jejak Historis I Ketut Rina Bersama “Cak Tarian Rina”
“Pelacak Bon” dari Mahasiswa Undiksha: Menghidupkan Seni Kecak Desa Bona
Tari Kecak: Merawat Budaya Lokal, Merawat Jati Diri Bangsa
Tags: Budaya Balikecakkecak perkusikesenian baliTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Penjajah” Baru Itu Bernama Lagu-Lagu Jawa

Next Post

Di Bali, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Menjadikan Subak Sebagai Game Inovatif

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Di Bali, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Menjadikan Subak Sebagai Game Inovatif

Di Bali, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Menjadikan Subak Sebagai Game Inovatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co