2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Penjajah” Baru Itu Bernama Lagu-Lagu Jawa

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
August 29, 2023
in Esai
“Penjajah” Baru Itu Bernama Lagu-Lagu Jawa

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

MESKI SEBAGAI orang Jawa yang tumbuh besar di Bali, tapi saya tak merasa benar-benar jauh dari Jawa. Entah dari budaya, bahasa, maupun makanannya. Sebab, di sini—di Singaraja—saya masih dapat menemukan “Jawa” itu sendiri. Misalnya, di rumah makan yang diberi nama daerah-daerah di Jawa, para pedagang di pasar, dan tentu saja di kontrakan, tempat tinggal saya yang notabene diisi orang-orang Jawa.

Menjadi orang Jawa di tanah rantau bagi saya tak begitu sulit untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, meskipun tetap tak bisa mengubah gaya bahasa Indonesia saya yang masih medhok. Tapi tak apa, toh, saya memang orang Jawa, kan?

Saya akui, orang Jawa memang ada di mana-mana, bahkan di seluruh Indonesia. Hal tersebut, dalam konteks yang lebih gawat, ini bisa saja dianggap “penjajahan” secara halus atau kecil-kecilan. Bukan saja secara fisik, orang Jawa juga telah “menjajah” secara kebudayaan. Salah satunya adalah melalui lagu-lagu Jawa, khususnya lagu-lagu yang bagi sebagian orang dianggap sebagai dangdut modern.

Ya, ambil contoh saja di Kota Singaraja. Hampir sebagian besar masyarakat di Singaraja—setidaknya yang dekat dengan saya—sekarang tahu, bahkan hafal dengan lagu-lagu Jawa yang terkesan melankolia itu. Meskipun saya yakin, hanya ada sedikit orang Singaraja yang paham ari lagu berbahasa Jawa.

Banar. Setelah sempat beberapa tahun terakhir lagu-lagu bernuansa campursarian Didi Kempot menjamur dari kalangan muda dan tua, kini muncul pula penyanyi-penyanyi baru yang hadir dengan membawa nuansa Jawa modern, mencampurkan unsur pop, dangdut, keroncong, dan jazz dalam satu lagu.

Akibat dari meledaknya lagu-lagu dangdut Jawa yang mungkin sampai ke seluruh Indonesia itu, membuat adanya pergeseran selera musik di kalangan masyarakat. Bukan saja berpengaruh terhadap selera musik, tapi hal tersebut juga diiringi dengan lunturnya kreatifitas—maksudnya banyak musisi yang akhirnya ikut-ikutan tren tersebut.

Seperti di Singaraja, misalnya. Belum lama ini muncul satu sosok penyanyi pendatang baru bernama Bagus Wirata, yang terkenal dengan hok a hok e nya. Penyanyi yang terkenal sejak tahun 2021 itu memang sedang naik daun dengan gaya dangdut ukulelenya. Dan bohong rasanya kalau penembang lagu Magelang Rindu dan Demen Pedidi itu tak meniru lagu-lagu koplo Jawa.

Ya, lagi-lagi dangdut koplo. Padahal, bukankah di Bali sudah ada gaya bermusik dengan nuansa Pop Balinya? Seperti misal, lagu Kamu sing Nawang milik Leeyonk Sinatra, atau lagu-lagu AA Raka Sidan dengan Song Brerong sebagai tembang hitsnya. Dan tentu masih banyak musisi Bali dengan khas Pop Balinya. Tapi entah alasan apa yang membuat Bagus Wirata memilih gaya bermusik yang sekilas mirip dengan gaya dari Denny Caknan Dkk.

Lalu, yang jadi pertanyaannya adalah, mungkinkah masyarakat Indonesia di luar Bali mengonsumsi lagu-lagu dangdut ukulele Bagus Wirata seperti lagu-lagu dangdut Jawa dari Denny Caknan Dkk? Oh maaf, untuk hal ini saya belum bisa menjawabnya.

Tetapi, terlepas dari itu semua, dunia musik kita seolah sedang menuju ke arah keseragaman genre, meski masih ada beberapa musisi yang menampilkan genre yang berbeda.

***

Sekarang, lagu-lagu Jawa menjadi trend tentu tidak bisa dipisahkan dengan peran media sosial. Sebab, media sosial memberikan ruang yang begitu luas untuk para Musisi mengenalkan karya-karya mereka dengan sangat mudah dan cepat.

Berbeda dengan musisi-musisi era 90-an yang harus masuk label musik tertentu agar bisa mendistribusikan karya-karyanya ke khalayak yang lebih luas. Jadi, mulai dari proses rekaman, kemudian advertising company, sampai pada tahap publishing company, musisi era 90-an tak bisa melakukannya sendiri.

Namun, sebaliknya, musisi zaman sekarang dapat melakukan hal tersebut hanya dengan seorang diri—dengan kecanggihan teknologi. Bahkan, untuk proses marketing pun, mereka sudah sangat mudah karena memiliki kanal YouTube–nya masing-masing.

Ledakan musik dangdut Jawa juga dipengaruhi oleh budaya kekinian para pengguna media sosial seperti Instagram maupun Tiktok. Sebab, konten-konten yang dihadirkan dari algoritma kedua media sosial ini biasanya menggunakan backsound lagu-lagu dangdut koplo Jawa.

Banyak influencer media sosial kerap menggunakan backsound lagu jawa pada setiap kontennya. Seperti Nopek Novian dan Agus Kotak, misalnya, yang kerap membagikan konten-kontennya dengan berisikan lagu-lagu Jawa pada akhir videonya. Karena hal tersebutlah, menjadikan lagu dangdut Jawa cepat menjadi populer di kalangan anak muda zaman sekarang, di seluruh Indonesia.

Salah satu musisi dangdut Jawa yang terkenal ialah Denny Setiawan atau lebih terkenal dengan nama panggung Denny Caknan. Penyanyi yang karier bermusiknya melejit lewat single lagu yang berjudul Kartonyono Medot Janji itu hadir dengan membawa nuansa perubahan gaya musik dangdut Jawa yang tampak lebih modern.

Sebab, lagu-lagu yang ia hidangkan bak memberi angin segar kepada penikmat lagu-lagu Jawa setelah kehilangan alm. Didi Kempot—atau yang lebih di kenal sebagai The Godfather of Broken Heart, sang maestro campursari itu.

Oh, tunggu, saya lupa. Dari tadi saya menyebut “dangdut Jawa” padahal apa yang dibawakan Denny Caknan dkk—apalagi Bagus Wirata—itu bukan dangdut.

Hal tersebut pernah disampaikan oleh Mahfud Ikhwan dalam esainya yang berjudul Pop Cengeng, Didi Kempor, dan Para Penerusnya (Jawa Pos (28/08/23). Kata Mahdud,karena kecintaan Denny Caknan Dkk kepada Didi Kempot, itu justru malah menjauhkannya dari pakem dangdut yang dibawakan Rhoma Irama, Evie Tamala, atau Hamdan ATT. Bahkan, Denny dkk, justru terkesan lebih condong kepada lagu-lagu pop cengeng Rinto dan Obbie, atau Arie dan Yongky. Saya sepakat dengan pendapat ini.

***

Tetapi, terlepas dari itu semua, sekali lagi, lagu-lagu Jawa memang telah menjadi semacam virus yang menjalar begitu cepat. Penggunaan lirik sederhana dan kosakata sehari-hari, membuat lagu-lagu Denny Caknan, Guyonwaton, NdarboyGeng, Happy Asmara dan penyanyi Jawa lainnya, dengan cepat menjadi familiar di telinga para pendengar.

Sebab, merayakan kegundahan hati dengan lagu-lagu Jawa dan lirik yang mudah dipahami, akan menjadi sebuah perayaan sakit hati yang sangat totalitas dan menyesakkan.

Banyak teman yang saya temui di media sosial sedang memutar atau menggunakan lagu-lagu Jawa hits kekinian sebagai musik latar video atau foto mereka. Seperti teman di Pulau Kangean yang memberi kabar kepada saya bahwa lagu Guyonwaton yang berjudul Dumes enak untuk didengar. Lantas dengan sedikit mengejek saya bertanya kepadanya, “Emang kamu paham artinya?” Jawabannya sudah dapat ditebak: “Jelas tidak dong!”

Tampaknya untuk menikmati lagu-lagu Jawa tak melulu harus paham artinya dahulu—untuk bisa membuat badan bergoyang di setiap alunannya. Toh tahun lalu, waktu HUT RI Ke-77 ketika Farel, penyanyi cilik asal Banyuwangi itu, berhasil menggoyang Istana dengan tembang Ojo Dibanding-bandingke. Seolah-olah pada saat itu semua masalah negara terselesaikan dengan irama musik dangdut koplo Jawa.

Bahkan kemarin, saat acara pelepasan wisuda Universitas Pendidikan Ganesha, Gedung Auditorium bergoyang heboh ketika seorang wisudawan menyanyikan lagu Rungkad di hadapan Rektor, jajaran senat Undiksha dan calon wisudawaan lainnya. Namun, sepertinya tetap sama—seperti teman saya yang berasal dari Kangean tadi—mereka sama-sama tidak paham betul arti dari lirik lagu tersebut. Barangkali efek “penjajahan” itu nyata adanya.

Akhirnya, sudah 7 tahun saya hidup di Singaraja. Dalam kurun waktu yang tak bisa dibilang sebentar itu, justru jiwa kejawaan saya malah menjadi-jadi. Sebab, semakin saya jauh dari tanah kelahiran, saya malah menemukan Jawa tumbuh subur di sini.

Pada saat saya mulai menulis tulisan ini pun, seorang tetangga sedang memutar lagu Denny Caknan yang berjudul Sanes, lagu ciptaan Andry Priyanta itu. Dan, tentu saja, sambil menulis saya juga menggoyang-goyangkan jempol kaki secara perlahan, supaya tidak ketahuan teman yang sedang bekerja…. Asoyyy.[T]

Musik Pop dan Cita-cita Kami
Dandi dan Dangdut | Cerita Duta Bali pada Liga Dangdut Indosiar 2021

Dangdut Koplo atau Kupu-kupu yang Lucu? – Sekilas Cerita tentang Lagu Anak
Gitaris Muda, Gitar Ibanez, dan Dangdut
Tags: dangdutjawamusikmusik pop balimusik pop indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melukis Cerita, Mereka-reka Dunia Lempad

Next Post

Cak Air “GanggaRam”: Seni Pertunjukan Baru di Air Terjun

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Cak Air “GanggaRam”: Seni Pertunjukan Baru di Air Terjun

Cak Air "GanggaRam": Seni Pertunjukan Baru di Air Terjun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co