1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik Pop dan Cita-cita Kami

Jaswanto by Jaswanto
August 24, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

SEBAGAI GENERASI yang lahir di pertengahan tahun ’90an (saya lahir menjelang krisis moneter), saya besar dan tumbuh, selain bersama tayub dan wayang, juga musik dangdut, campur sari, orkes koplo, dan, tentu saja, musik pop cengeng—yang pada tahun 2000-an sedang menemukan momentumnya itu.

Tetapi, tumbuh bersama yang saya maksud tidak seperti yang Anda bayangkan. Pada kenyataannya, budaya massa seperti dangdut, campur sari, dan musik pop tak pernah betul-betul saya miliki, terutama secara fisik—dan itu terjadi karena satu hal yang klise: kemiskinan.

Tetapi benar, Karang Binangun hingga awal dekade ‘90an memang hanyalah dusun tegalan miskin pelosok yang tak tahu apa-apa tentang budaya urban yang sedang hit pada masa itu. Karena miskin dan pelosok, anak-anak seperti kami juga tak pernah punya riwayat mainan mahal (pabrikan), apalagi sampai berpikir untuk memiliki TV atau perangkat pemutar musik, mustahil.

Soal mainan, hampir semua yang kami mainkan hanyalah hasil tangan kami sendiri: kincir angin dari bambu dan lontar, layangan (sejauh yang saya ingat macam-macam namanya: puter tanggung, tanggalan, banyakan, biduan, dst…), gasing, roda-rodaan dari buah ental (lontar), pistol bambu, meriam bambu, hingga belakangan kami mengumpulkan banyak kantong plastik yang kemudian kami jejalkan semuanya, semuat-muatnya, ke dalam plastik bekas ukuran 1 kg dan kami bentuk sebulat dan serapi mungkin sampai menyerupai bola kasti (mainan yang sangat 3R, bukan?), dan masih banyak lagi—untuk nama-namanya, bentuk dan cara memainkannya lebih baik saya rahasiakan.

Atau pada saat kemarau panjang, bersama teman-teman saya senang membakar biji mete—yang dalam bahasa kampung kami menyebutnya: ukiran—di dekat telaga kecil kampung kami.

Kami menusuk biji-biji itu dan menyusupkannya ke lapisan terdalam dedaunan kering yang akan dibakar. Saat biji-biji itu sudah mengepul dan hitam arang, kami membukanya dengan batu. Serpihan arangnya memberi noda di tepi beton telaga—tempat kami merendam kaki ke dalam airnya yang dasarnya berlumpur dan penuh dengan pecahan cangkang keong.

Sebutir inti, kacang kecil di antara pecahannya, akan menggelinding ke mana saja, kami hanya perlu mencucinya dengan air telaga keruh yang kecokelatan. Kadang-kadang tidak.

Sementara itu, di saat kami sedang asyik menikmati gurihnya biji mete dengan mulut belepotan hitam arang—saat jalanan terasa panas seperti dipanggang dan angin kering berembus membawa debu dan aroma kotoran ternak—orang-orang dewasa berlalu-lalang di ladang kering dengan gertu-gerutu.

Di atas adalah sedikit—sangat sedikit bahkan—gambaran masa kecil kami sebagai anak kampung miskin di pelosok daerah yang kaya akan batu kapur dan tanah liatnya itu—yang tentu sudah menjadi milik pabrik semen sekarang. Jadi, dengan kondisi demikian, sekali lagi, mustahil kami mempunyai perangkat pemutar musik sendiri.

Ya, kami menikmati musik dari curi dengar di TV atau pemutar musik milik orang lain atau di acara hajatan-hajatan tetangga kami yang kaya. Saat itu, perangkat musik bagi kami sama mahalnya dengan mainan berisi batrai yang diremot bisa bergerak sendiri. Ini klise, tapi sepenuhnya benar. Dan saya pikir bukan saya saja yang punya pengalaman seperti ini.

***

Mengenai musik pop, khususnya band, generasi saya menemui banyak sekali grup di tanah air. Seolah algoritmanya dulu seperti itu. Grup-grup seperti Paterpan, Wali, Sheila on 7, Kangen, Dewa 19, Padi, Jikustik, Ada Band, Samsons, Ungu, Kerispatih, Armada, Kuburan, dan lainnya, lagu-lagunya berseliweran di telingan kami. 

Tetapi, dari sekian banyak nama grup band yang muncul di era itu, setidaknya hanya Kangen Band yang paling membekas di ingatan saya sebagai anak kampung. Hal tersebut bukan saja karena band ini waktu itu sedang—meminjam istilah sekarang—viral-viralnya, tapi juga karena lagu-lagu dari band ini yang pertama saya miliki secara fisik. (Pada usia saya ke-15, bapak membeli TV berserta VCD-nya.)

Pada awalnya saya tidak tahu saat teman-teman saya menyanyikan lagu dewasa dengan lirik “… tapi kamu kok selingkuh” atau “…empat belas hari kumencari dirimu” yang hit itu sampai seorang teman saya di sekolah dasar bilang, “Ini lagunya Kangen Band, Jas. Grup band yang sedang terkenal.” Semenjak saat itu, saya sering nongkrong di rumah salah seorang teman yang memiliki VCD untuk mendengar dan ikut menyanyikan lagu-lagu Kangen Band beramai-ramai.

Grup band yang dibentuk di Bandar Lampung pada tahun 2005 oleh Dodhy (Gitar), Andika (Vocal), Tama (Gitar), Bebe (Bass), Izzy (Keyboard), dan Baim (Drum) ini, tak membutuhkan waktu lama untuk memikat hati saya—maksud saya, hati kami. Pasalnya, lagu-lagu yang mereka ciptakan dan nyanyikan sungguh sangat mudah untuk kami ingat. Apalagi saat album ketiga mereka yang diberi judul “Pujaan Hati” (2008), dengan hit single “Terbang Bersamaku” dan “Pujaan Hati” rilis, kami semakin terpikat dengan grup band yang berhasil masuk sebagai Grup Band Tervaforit pada SCTV Award 2007 itu.

Lagu “Terbang Bersamamu” dan “Pujaan Hati” selalu kami nyanyikan di kelas saat guru belum hadir dengan meja sebagai drum-nya. Saya memukul-mukul meja—atau lebih tepatnya menggebrak-gebraknya—dengan penuh antusias dan teman saya Suyono tampil sebagai vokalis dan, tentu saja, sambil membayangkan sedang konser di atas panggung yang penuh lampu sorot dengan ratusan ribu penonton yang berteriak histeris karena melihat aksi kami.

Tak hanya dua lagu itu saja sebenarnya, lagu “Tentang Aku, Kau, dan Dia” (2007) dalam album dengan judul yang sama juga menjadi lagu yang tidak pernah terlewatkan kami nyanyikan di kelas maupun di rumah. Belakangan saya tahu, tak main-main, album ini langsung menyabet Golden Award karena penjualannya melebihi angka 150 ribu kopi. Fantastis.

Seorang teman membeli poster Kangen Band di lapak penjual CD bajakan di Pasar Hewan Kecamatan Kerek—zaman itu kami biasa membeli CD bajakan full album seharga sepiring nasi pecel lengkap dengan paha ayam. Lalu dia menempelkannya di dinding kayu rumahnya.

Kami memandanginya lekat-lekat. Dari atas sampai bawah. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Salah seorang teman berkata dengan sangat percaya diri sambil membasahi rambutnya dengan air lalu menatanya sedemikian rupa sampai menyerupai sosok dalam poster. “Kita harus membuat grup band.” Sialnya, kami semua mengangguk tanda setuju.

Pada waktu itu, sebagai anak kampung miskin pelosok pinggiran yang tak mungkin dapat mengikuti jejaknya, Kangen Band bagi kami merupakan grup yang sempurna. Anggapan itu tentu tidak memiliki argumen atau analisis intelektual seperti misalnya yang ditulis Rhenald Kasali dalam buku Cracking Zone. (Kangen Band, menurut Rhenald, dinilai sebagai sebuah fenomena yang menggambarkan naik kelasnya kalangan ekonomi bawah ke kelas menengah secara masif.)

Belakangan saya tahu, band yang kami anggap sempurna itu, meski disambut meriah oleh pasar dengan penjualan sampai menembus 300.000 keping CD, kehadiran mereka mengejutkan karena baik penampilan maupun kualitas musik dianggap di bawah band menengah-elit. Kehadiran mereka juga dituduh merusak kualitas musik Indonesia seperti komentar sengit dari David Bayu, vokalis band Naif.

Dalam sebuah acara yang diadakan oleh Rollingstone, secara terbuka Bayu menyatakan keberatannya terhadap Kangen Band, termasuk label tempat bernaung band tersebut. Keberatan pria pelantun lagu Benci untuk Mencinta (2005) itu dilatari oleh banyaknya produser musik yang pada saat itu cenderung mematikan heterogenitas musik Indonesia dengan hanya fokus menggarap band-band bercorak pop melayu.

Benar. Pada pertengahan tahun 2000-an, sekali lagi, grup band (melayu) tanah air memang sangat menjamur seperti musik indie saat ini. Dalam hal ini, Kangen Band kemudian bukan satu-satunya grup yang kami letakkan dalam dada kami. Ia harus rela berdesakan dengan band-band yang lebih dulu dibentuk tapi kami baru tahu lagu-lagunya atau band-band yang baru dibentuk setelahnya.

Kami memasukkan Radja Band, Wali Band, Letto, Kuburan Band, Hijau Daun, D’Bagindas, D’Masiv, Armada, Republik, The Virgin, Viera, Peterpan, Vagetoz—dan masih banyak lagi—ke dalam saku dada kami masing-masing. Meski sekarang, semakin ke sini, semakin pudar dan tergantikan oleh penyanyi-penyanyi pop baru yang lebih segar dengan mengusung tema yang bagi generasi sekarang relevan: self love—meskipun tema cinta cengeng tetap tak tergantikan.

Tetapi, terlepas apakah kualitas lirik dan musik mereka ketengan atau tidak, yang jelas, berkat grup band tersebut, kami, anak-anak udik Dusun Karang Binangun, pernah memiliki pilihan cita-cita selain menjadi polisi, tentara, guru, dokter, dll. Kami mendadak bercita-cita menjadi vokalis, gitaris, basis, pianis, maupun drumer. Hidup generasi kami menjadi lebih berwarna.

Namun, pada akhirnya, kami harus bangun dari tidur dan disadarkan oleh realita bahwa untuk menjadi anak band tak semudah membalikkan telapak tangan. Cita-cita kami patah dan terlupakan, seperti saat Andika dan Izzy—dua personil Kangen Band—ditahan polisi sebab narkoba. Tahun itu menjadi awal band pujaan hati ini mulai meredup.[T]

Suatu Hari di Awal Juli 2023
Diskusi Dini Hari Bersama Bang Onang
Singaraja, Sebuah “Kutukan”
(Rasanya) ke-Tuban-nan Saya Sudah Hilang
Tags: esaimusik pop indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gamelan Mulut Tour Eropa 2023, Dubes RI Brussel Ikut Menari

Next Post

Mlancaran ke Sasak: Sastra Pariwisata Bernuansa Cinta

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Mlancaran ke Sasak: Sastra Pariwisata Bernuansa Cinta

Mlancaran ke Sasak: Sastra Pariwisata Bernuansa Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co