5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik Pop dan Cita-cita Kami

Jaswanto by Jaswanto
August 24, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

SEBAGAI GENERASI yang lahir di pertengahan tahun ’90an (saya lahir menjelang krisis moneter), saya besar dan tumbuh, selain bersama tayub dan wayang, juga musik dangdut, campur sari, orkes koplo, dan, tentu saja, musik pop cengeng—yang pada tahun 2000-an sedang menemukan momentumnya itu.

Tetapi, tumbuh bersama yang saya maksud tidak seperti yang Anda bayangkan. Pada kenyataannya, budaya massa seperti dangdut, campur sari, dan musik pop tak pernah betul-betul saya miliki, terutama secara fisik—dan itu terjadi karena satu hal yang klise: kemiskinan.

Tetapi benar, Karang Binangun hingga awal dekade ‘90an memang hanyalah dusun tegalan miskin pelosok yang tak tahu apa-apa tentang budaya urban yang sedang hit pada masa itu. Karena miskin dan pelosok, anak-anak seperti kami juga tak pernah punya riwayat mainan mahal (pabrikan), apalagi sampai berpikir untuk memiliki TV atau perangkat pemutar musik, mustahil.

Soal mainan, hampir semua yang kami mainkan hanyalah hasil tangan kami sendiri: kincir angin dari bambu dan lontar, layangan (sejauh yang saya ingat macam-macam namanya: puter tanggung, tanggalan, banyakan, biduan, dst…), gasing, roda-rodaan dari buah ental (lontar), pistol bambu, meriam bambu, hingga belakangan kami mengumpulkan banyak kantong plastik yang kemudian kami jejalkan semuanya, semuat-muatnya, ke dalam plastik bekas ukuran 1 kg dan kami bentuk sebulat dan serapi mungkin sampai menyerupai bola kasti (mainan yang sangat 3R, bukan?), dan masih banyak lagi—untuk nama-namanya, bentuk dan cara memainkannya lebih baik saya rahasiakan.

Atau pada saat kemarau panjang, bersama teman-teman saya senang membakar biji mete—yang dalam bahasa kampung kami menyebutnya: ukiran—di dekat telaga kecil kampung kami.

Kami menusuk biji-biji itu dan menyusupkannya ke lapisan terdalam dedaunan kering yang akan dibakar. Saat biji-biji itu sudah mengepul dan hitam arang, kami membukanya dengan batu. Serpihan arangnya memberi noda di tepi beton telaga—tempat kami merendam kaki ke dalam airnya yang dasarnya berlumpur dan penuh dengan pecahan cangkang keong.

Sebutir inti, kacang kecil di antara pecahannya, akan menggelinding ke mana saja, kami hanya perlu mencucinya dengan air telaga keruh yang kecokelatan. Kadang-kadang tidak.

Sementara itu, di saat kami sedang asyik menikmati gurihnya biji mete dengan mulut belepotan hitam arang—saat jalanan terasa panas seperti dipanggang dan angin kering berembus membawa debu dan aroma kotoran ternak—orang-orang dewasa berlalu-lalang di ladang kering dengan gertu-gerutu.

Di atas adalah sedikit—sangat sedikit bahkan—gambaran masa kecil kami sebagai anak kampung miskin di pelosok daerah yang kaya akan batu kapur dan tanah liatnya itu—yang tentu sudah menjadi milik pabrik semen sekarang. Jadi, dengan kondisi demikian, sekali lagi, mustahil kami mempunyai perangkat pemutar musik sendiri.

Ya, kami menikmati musik dari curi dengar di TV atau pemutar musik milik orang lain atau di acara hajatan-hajatan tetangga kami yang kaya. Saat itu, perangkat musik bagi kami sama mahalnya dengan mainan berisi batrai yang diremot bisa bergerak sendiri. Ini klise, tapi sepenuhnya benar. Dan saya pikir bukan saya saja yang punya pengalaman seperti ini.

***

Mengenai musik pop, khususnya band, generasi saya menemui banyak sekali grup di tanah air. Seolah algoritmanya dulu seperti itu. Grup-grup seperti Paterpan, Wali, Sheila on 7, Kangen, Dewa 19, Padi, Jikustik, Ada Band, Samsons, Ungu, Kerispatih, Armada, Kuburan, dan lainnya, lagu-lagunya berseliweran di telingan kami. 

Tetapi, dari sekian banyak nama grup band yang muncul di era itu, setidaknya hanya Kangen Band yang paling membekas di ingatan saya sebagai anak kampung. Hal tersebut bukan saja karena band ini waktu itu sedang—meminjam istilah sekarang—viral-viralnya, tapi juga karena lagu-lagu dari band ini yang pertama saya miliki secara fisik. (Pada usia saya ke-15, bapak membeli TV berserta VCD-nya.)

Pada awalnya saya tidak tahu saat teman-teman saya menyanyikan lagu dewasa dengan lirik “… tapi kamu kok selingkuh” atau “…empat belas hari kumencari dirimu” yang hit itu sampai seorang teman saya di sekolah dasar bilang, “Ini lagunya Kangen Band, Jas. Grup band yang sedang terkenal.” Semenjak saat itu, saya sering nongkrong di rumah salah seorang teman yang memiliki VCD untuk mendengar dan ikut menyanyikan lagu-lagu Kangen Band beramai-ramai.

Grup band yang dibentuk di Bandar Lampung pada tahun 2005 oleh Dodhy (Gitar), Andika (Vocal), Tama (Gitar), Bebe (Bass), Izzy (Keyboard), dan Baim (Drum) ini, tak membutuhkan waktu lama untuk memikat hati saya—maksud saya, hati kami. Pasalnya, lagu-lagu yang mereka ciptakan dan nyanyikan sungguh sangat mudah untuk kami ingat. Apalagi saat album ketiga mereka yang diberi judul “Pujaan Hati” (2008), dengan hit single “Terbang Bersamaku” dan “Pujaan Hati” rilis, kami semakin terpikat dengan grup band yang berhasil masuk sebagai Grup Band Tervaforit pada SCTV Award 2007 itu.

Lagu “Terbang Bersamamu” dan “Pujaan Hati” selalu kami nyanyikan di kelas saat guru belum hadir dengan meja sebagai drum-nya. Saya memukul-mukul meja—atau lebih tepatnya menggebrak-gebraknya—dengan penuh antusias dan teman saya Suyono tampil sebagai vokalis dan, tentu saja, sambil membayangkan sedang konser di atas panggung yang penuh lampu sorot dengan ratusan ribu penonton yang berteriak histeris karena melihat aksi kami.

Tak hanya dua lagu itu saja sebenarnya, lagu “Tentang Aku, Kau, dan Dia” (2007) dalam album dengan judul yang sama juga menjadi lagu yang tidak pernah terlewatkan kami nyanyikan di kelas maupun di rumah. Belakangan saya tahu, tak main-main, album ini langsung menyabet Golden Award karena penjualannya melebihi angka 150 ribu kopi. Fantastis.

Seorang teman membeli poster Kangen Band di lapak penjual CD bajakan di Pasar Hewan Kecamatan Kerek—zaman itu kami biasa membeli CD bajakan full album seharga sepiring nasi pecel lengkap dengan paha ayam. Lalu dia menempelkannya di dinding kayu rumahnya.

Kami memandanginya lekat-lekat. Dari atas sampai bawah. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Salah seorang teman berkata dengan sangat percaya diri sambil membasahi rambutnya dengan air lalu menatanya sedemikian rupa sampai menyerupai sosok dalam poster. “Kita harus membuat grup band.” Sialnya, kami semua mengangguk tanda setuju.

Pada waktu itu, sebagai anak kampung miskin pelosok pinggiran yang tak mungkin dapat mengikuti jejaknya, Kangen Band bagi kami merupakan grup yang sempurna. Anggapan itu tentu tidak memiliki argumen atau analisis intelektual seperti misalnya yang ditulis Rhenald Kasali dalam buku Cracking Zone. (Kangen Band, menurut Rhenald, dinilai sebagai sebuah fenomena yang menggambarkan naik kelasnya kalangan ekonomi bawah ke kelas menengah secara masif.)

Belakangan saya tahu, band yang kami anggap sempurna itu, meski disambut meriah oleh pasar dengan penjualan sampai menembus 300.000 keping CD, kehadiran mereka mengejutkan karena baik penampilan maupun kualitas musik dianggap di bawah band menengah-elit. Kehadiran mereka juga dituduh merusak kualitas musik Indonesia seperti komentar sengit dari David Bayu, vokalis band Naif.

Dalam sebuah acara yang diadakan oleh Rollingstone, secara terbuka Bayu menyatakan keberatannya terhadap Kangen Band, termasuk label tempat bernaung band tersebut. Keberatan pria pelantun lagu Benci untuk Mencinta (2005) itu dilatari oleh banyaknya produser musik yang pada saat itu cenderung mematikan heterogenitas musik Indonesia dengan hanya fokus menggarap band-band bercorak pop melayu.

Benar. Pada pertengahan tahun 2000-an, sekali lagi, grup band (melayu) tanah air memang sangat menjamur seperti musik indie saat ini. Dalam hal ini, Kangen Band kemudian bukan satu-satunya grup yang kami letakkan dalam dada kami. Ia harus rela berdesakan dengan band-band yang lebih dulu dibentuk tapi kami baru tahu lagu-lagunya atau band-band yang baru dibentuk setelahnya.

Kami memasukkan Radja Band, Wali Band, Letto, Kuburan Band, Hijau Daun, D’Bagindas, D’Masiv, Armada, Republik, The Virgin, Viera, Peterpan, Vagetoz—dan masih banyak lagi—ke dalam saku dada kami masing-masing. Meski sekarang, semakin ke sini, semakin pudar dan tergantikan oleh penyanyi-penyanyi pop baru yang lebih segar dengan mengusung tema yang bagi generasi sekarang relevan: self love—meskipun tema cinta cengeng tetap tak tergantikan.

Tetapi, terlepas apakah kualitas lirik dan musik mereka ketengan atau tidak, yang jelas, berkat grup band tersebut, kami, anak-anak udik Dusun Karang Binangun, pernah memiliki pilihan cita-cita selain menjadi polisi, tentara, guru, dokter, dll. Kami mendadak bercita-cita menjadi vokalis, gitaris, basis, pianis, maupun drumer. Hidup generasi kami menjadi lebih berwarna.

Namun, pada akhirnya, kami harus bangun dari tidur dan disadarkan oleh realita bahwa untuk menjadi anak band tak semudah membalikkan telapak tangan. Cita-cita kami patah dan terlupakan, seperti saat Andika dan Izzy—dua personil Kangen Band—ditahan polisi sebab narkoba. Tahun itu menjadi awal band pujaan hati ini mulai meredup.[T]

Suatu Hari di Awal Juli 2023
Diskusi Dini Hari Bersama Bang Onang
Singaraja, Sebuah “Kutukan”
(Rasanya) ke-Tuban-nan Saya Sudah Hilang
Tags: esaimusik pop indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gamelan Mulut Tour Eropa 2023, Dubes RI Brussel Ikut Menari

Next Post

Mlancaran ke Sasak: Sastra Pariwisata Bernuansa Cinta

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails
Next Post
Mlancaran ke Sasak: Sastra Pariwisata Bernuansa Cinta

Mlancaran ke Sasak: Sastra Pariwisata Bernuansa Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co