23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suatu Hari di Awal Juli 2023

Jaswanto by Jaswanto
July 6, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

HARI ITU Singaraja benar-benar terasa panas, temperaturnya sekitar 32 derajat Celsius. Untuk itu saya memutuskan duduk diam di dalam kamar—hari itu saya memang sedang libur bekerja.

Singaraja di awal bulan ini adalah kota yang dilanda ketidakpastian musim. Ada waktu-waktu tertentu ketika matahari bersinar dengan terang—dan panas, panas sekali. Tetapi hanya sepersekian menit dan tanpa diduga-duga, tiba-tiba angin mengirim kumpulan awan hitam dan membuat matahari lari terbirit-birit.

Udara panas seperti beberapa hari yang lalu mengingatkan saya akan suasana kampung halaman. Saat panas, di kampung saya, jalanan seperti dipanggang dan angin kering berembus membawa debu dan aroma kotoran ternak. Orang-orang berlalu-lalang dengan gerutu-gerutu. Para perempuan berkumpul di tiap-tiap beranda rumah sambil mengupas kulit kacang tanah—bakal bibit, kata mereka. Setiap menit pembicaraan, mereka mengungkapkan teori yang sama bahwa matahari sesungguhnya tidak sepanas ini beberapa tahun sebelumnya.

Bumi kita memang semakin memanas, diakui atau tidak. Goddard Institute for Space Studies (GISS), lembaga penelitian semesta milik NASA, mencatat suhu bumi naik 0,8 derajat Celcius sejak 1880—seratus tahun setelah dimulainya Revolusi Industri, ketika era pertanian berubah menjadi pengolah barang di pabrik. Sebab, dua pertiga kenaikan tertinggi dimulai sejak 1975 sebesar 0,15-0,2 derajat Celsius per dekade. Perubahan iklim tengah terjadi, akibat aktivitas manusia dan segala penghuninya. Ia bukan mitos, seperti diyakini mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Saya kutip dari Majalah Fores Digest edisi Januari-Maret 2019, iklim yang berubah tak sekadar soal suhu yang naik. Perubahan iklim bisa terlihat dengan jelas dari kian banyaknya jenis badai yang melanda belahan-belahan dunia dalam 50 tahun terakhir. Badai, banjir, salju yang ekstrem, dan musim kering berkepanjangan yang merenggut korban jiwa selalu tak sama di tiap-tiap era.

Orang tua saya di kampung, tak lagi memakai primbon untuk menghitung musim dan menyesuaikan tanaman dan waktu panen di sawah dan ladang. Primbon, yang berasal dari perhitungan-perhitungan kuno berdasarkan pengalaman sehari-hari, tak lagi sesuai atau bisa memprediksi perubahan cuaca.

Setiap tahun ada perubahan-perubahan waktu tanam karena palawija tak sesuai lagi dengan iklim yang berganti. Musim hujan tak lagi terjadi pada kurun September-April, tapi di bulan-bulan kering antara Mei-Agustus.

Penyair Sapardi Djoko Damono mesti membuat satu puisi lagi untuk menyesuaikan perubahan iklim ini. Ketika ia menulis puisi Hujan Bulan Juni—yang fenomenal itu—pada 1994, musim masih sesuai dengan penanggalan primbon. Dalam sajak itu, Sapardi menggambarkan bahwa hujan bulan Juni sebagai ketabahan karena air jatuh dari langit itu salah masa: rintiknya menghapus jejak kemarau yang panjang.

Tapi kini, hujan bulan Juni bukan lagi metafora untuk ketabahan karena pada pertengahan tahun itu di beberapa daerah justru sedang banjir. Di Jakarta, pada Juni 2018, tinggi banjir mencapai satu meter.

Jarak antara puisi Sapardi dengan hari ini tak sampai 30 tahun. Dalam kurun itu cuaca berubah, iklim berganti dan penanggalan primbon tak berlaku lagi. Perubahan-perubahan cuaca yang pendek itu menunjukkan bahwa ada yang sedang berubah di alam semesta. Celakanya, perubahan itu ke arah yang lebih buruk. Deforestasi, naiknya jumlah penduduk, makin atraktifnya “mesin dana” produk-produk industri membuat karbon dioksida sebagai gas yang terbuang dari proses produksi itu, terperangkap di atmosfer kita sehingga memancar kembali ke bumi dan menaikkan suhu.

***

Waktu itu saya ambil telpon genggam dan mulai membuka media online, tetapi seingat saya tidak ada berita penting, selain hal-hal yang, oleh para wartawan, dianggap perlu saya ketahui, supaya saya merasa terlibat dan ikut menyuarakan pendapat. Seperti orang-orang pada umumnya.

Saya pun beralih ke jajaran buku-buku koleksi saya, barangkali ada buku yang menarik untuk kembali dibaca. Tapi sayang, tidak ada yang menarik untuk saat ini, melihat buku-buku sejarah dan filsafat malah membuat saya merasa pusing sebelum membukannya.

Saya ingin pergi berjalan-jalan tetapi di luar suhu sangat panas. Saya sudah menghabiskan sebatang rokok—ya, saya ingat itu. Saya sudah mengirim foto permintaan seorang kawan. Saya sudah memeriksa tubuh saya dan untunglah tidak ada kelainan apa pun (saya takut sekali kalau sampai dipasangi slang lewat tenggorokan, tetapi ternyata kondisi tubuh saya masih baik-baik saja, tanpa cacat satu pun). Besoknya ada beberapa hal yang mesti saya lakukan, dan ada juga urusan-urusan yang sudah saya bereskan kemarin, tetapi hari itu…

Hari itu benar-benar tidak ada urusan apa pun yang memerlukan perhatian saya.

Saya merasa gelisah. Tidakkah seharusnya saya melakukan sesuatu? Yah, seadanyai saya ingin mencari-cari kesibukan, itu tidak terlalu sulit. Pasti ada saja yang bisa dikerjakan, beberapa tulisan orang yang dikirim ke Tatkala.co yang harus segera saya edit, sampah-sampah yang mesti dibuang, perabotan dapur yang harus dicuci, buku-buku yang mesti diletakkan di tempatnya, atau arsip-arsip komputer yang perlu dirapikan. “Tetapi bagaimana kalau saya hadapi saja kekosongan yang tanpa kegiatan ini?” pikir saya waktu itu.

Saya berjalan keluar kontrakan dan duduk di sebuah ranjang dengan kasur yang sudah busuk. Dan dalam hati saya mulai mendaftar hal-hal yang berkecamuk di dalam pikiran saya:

(1) Saya tidak berguna. Pada saat ini semua mahasiswa akhir sedang sibuk menyelesaikan skripsi—dan semua orang lain sedang sibuk bekerja keras.

(2) Saya tidak punya teman. Lihat saja ini—banyak orang di luar sana, tapi saya hanya seorang diri; bahkan telpon pun tak berdering.

(3) Saya perlu membeli makan.

Ya, saya baru ingat seharian itu saya belum memakan apa-apa. Kenapa saya tidak langsung mengambil kunci motor dan berangkat ke warung terdekat? Namun waktu itu saya hentikan pemikiran itu. “Kenapa begitu sulit untuk tetap seperti ini saja, tidak melakukan kegiatan apa-apa?” Seperti ada suara dalam kepala saya.

Serangkaian pemikiran kacau melintasi benak saya: teman-teman mahasiswa yang cemas mau jadi apa setelah mereka lulus nanti; percakapan-percakapan tanpa ujung pangkal; bergadang sampai larut malam padahal tidak ada yang penting untuk menjadi pembahasan; para artis yang begitu semangat ingin menjadi wakil rakyat walau beberapa lebih memilih selingkuh dan bercerai; para atasan yang terus menekan bawahan agar terlihat kuasa; para bawahan yang rela menjilat kaki atasan agar mendapat pujian; para ibu yang cemas dengan kenakalan anak remajanya; para pelajar yang menyiksa diri mencoba memahami sekolahnya; dan seambrek soal-soal yang sebenarnya tak perlu saya pikirkan.

Saya bergulat lama dan keras dengan diri sendiri supaya tidak bangkit ke warung untuk membeli sesuap nasi. Waktu itu saya mengalami perasaan cemas dan gelisah yang amat sangat, tetapi saya menguatkan tekad untuk tetap di sini—di ranjang dengan kasur busuk itu—dan tidak melakukan apa-apa, sedikitnya selama beberapa jam.

Perlahan-lahan kegelisahan itu berganti menjadi perenungan, dan hari itu, di awal bulan Juli 2023, saya mulai mendengarkan sukma saya. Sepertinya sudah lama sukma saya ingin mengajak bercakap-cakap, tetapi saya terlalu sibuk.

Di luar panas terik masih mendaulat Kota Singaraja, hawanya panas karena berangin—“dan nanti sore barangkali saya perlu membeli makan,” ucap saya waktu itu.

Ya, hari itu saya memang tidak punya kegiatan apa-apa, tetapi di lain pihak saya juga melakukan satu hal yang amat sangat penting: saya mendengarkan apa yang perlu saya dengar dari diri saya sendiri. Itu.[T]

Diskusi Dini Hari Bersama Bang Onang
Singaraja, Sebuah “Kutukan”
(Rasanya) ke-Tuban-nan Saya Sudah Hilang
Bulan “Akting”
Menyepi Bersama Kata-kata
Tags: esaikolomPuisisastraSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Survei LKPI : Mayoritas Masyarakat Ingin Presiden Paham Ekonomi

Next Post

Goyang Tiktok: Hentakan Virtual Dalam Membangun Wawasan Nusantara di Era Digital

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Goyang Tiktok: Hentakan Virtual Dalam Membangun Wawasan Nusantara di Era Digital

Goyang Tiktok: Hentakan Virtual Dalam Membangun Wawasan Nusantara di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co