23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diskusi Dini Hari Bersama Bang Onang

Jaswanto by Jaswanto
June 21, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

SEBAGAI seorang junior, seperti kader HMI Cabang Singaraja pada umumnya, tentu saya juga menaruh hormat kepada Kanda Suwardi Rasyid—atau yang lebih akrab dipanggil Bang Onang, juga Pak Rasyid jika di sekolah.

Bukan saja karena ia jauh lebih tua daripada saya, tapi juga kedalaman ilmunya itu yang membuat saya sulit—dan saya tak menemukan satu alasan pun—untuk tidak menghormatinya, meski secara fisik, tentu saya tak kalah ganteng dan gagah darinya. (Soal ia ganteng dan gagah memang masih bisa diperdebatkan.)

Saya mengenal Bang Onang sejak memutuskan mengikuti Latihan Kader I (LK I) HMI Cabang Singaraja, enam tahun lalu. Sejak saat itu pula, bersama seorang senior, saya sering mengunjungi rumahnya yang tidak serius di Pemuteran, di bawah tebing Pulaki yang gagah dan angkuh itu.

Benar, bangunan itu terlalu kecil untuk disebut rumah dan terlalu besar—dan kokoh—untuk disebut tenda. Maka demi urusan menggampangkan penafsiran dan imajinasi, kita sepakati saja untuk menyebutnya: gubuk.

Ya, sebelum Bang Onang pindah ke rumah baru dan keren seperti sekarang ini, bertahun-tahun ia pernah tinggal di rumah—oh, maaf, maksud saya, gubuk—di samping SDN 5 Pemuteran bersama seorang istri dan dua anaknya.

Untuk orang yang penuh dengan pengabdian kepada dunia pendidikan, menurut saya, itu adalah sebuah penghinaan. Bang Onang, bersama karibnya, Pak Haji Lewa tentu saja, bisa dibilang termasuk orang yang berjasa terhadap dunia pendidikan Islam di Buleleng.

Saya tidak sedang omong kosong, sebab sejarah telah mencatatnya. Mana buktinya? Saya pikir tak perlu saya sampaikan, toh, Bang Onang rasanya juga tak keberatan.

***

Sebenarnya, bukan saja karena kecerdasaannya yang membuat saya kagum, tapi juga karena kesederhanaan laku hidupnya. Orang Barat menyebutnya low profile; orang Jawa menyebutnya sumeleh; orang Lombok, tempat kelahirannya, menyebutnya—maaf, saya tidak tahu sebab saya belum belajar bahasa Lombok sampai sejauh itu. Yang jelas, menurut saya, laku hidup sederhana itulah yang membuat wibawanya menjadi khas, otentik, dan original.

Hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan manusia saat ini.

Pada saat ini, hidup manusia rata-rata seperti didominasi oleh segala sesuatu yang bersifat serba tahayul, maya, palsu, serba fatamorgana, khayalan, plastis, semu, dangkal, dan virtual. Kemudian dari fatamorgana itu manusia mencoba mengenali dan tidak sedikit yang malah menceburkan diri sekalian ke dalamnya.

Sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, manusia di zaman ini tidak pernah lepas dari kemajuan teknologi. Teknologi hadir untuk mempermudah dan membantu pekerjaan manusia—agar lebih efektif dan efisien, katanya.

Hingga suatu titik, masyarakat mulai terlena atasnya. Mereka lebih memilih sesuatu yang instan, cepat, dan praktis. Dengan keadaan tersebut, sifat konsumerisme manusia mulai muncul dan menyebabkan sikap individualisme.

Rasa sosial mereka pudar dan akhirnya hilang. Manusia seakan-akan seperti diperalat teknologi dan kehilangan jati dirinya, eksistensinya. Kebergantungan pada teknologi memberikan dampak buruk bagi peradaban manusia.

Manusia merasa bahwa dengan teknologi semua bisa teratasi. Dengan mudahnya mereka bisa membalikkan keadaan, mengatur suasana, bahkan berlomba-lomba menjadi yang terbaik, berusaha membangun citra di mata orang lain.

Padahal, esensinya, tanpa kita sadari, kita telah kehilangan kemampuan alamiah kita untuk bertahan hidup, survival insting. Semakin ke sini, banyak orang kehilangan fungsi kaki, tangan, dan bahkan fungsi pikiran—pada kenyataannya lebih banyak orang menyandarkan semuanya pada teknologi.

Zaman teknologi mampu membikin mental kita dalam keadaan yang terombang-ambing. Menjadi takut untuk hidup, tidak siap dengan semua gejala, tidak waspada, tidak awas, tidak tanggap, tidak visioner, dan jauh dari kedalaman!

Di mana-mana tidak ada lagi tempat bagi kedalaman; tidak ada lagi ruang untuk berpikir serius; tidak ada lagi orang-orang yang menghamba pada kesejatian. Sedangkan mereka yang mencoba menarik diri dari kekisruhan ini, akan terbuang, dianggap aneh, tersingkirkan dan sunyi.

Lantas, adakah jalan keluar?

Bang Onang, dalam sebuah obrolan dini hari menjawab: dalam sejarah kita diberitahu bahwa tidak ada kusut yang tidak bisa diselesaikan. Tidak ada sengketa yang tidak mungkin didamaikan. Jalan pasti ada.

Sayangnya, jalan keluar untuk menghadapi zaman ini tak semudah yang dibayangkan. Dalam hal ini, kita harus belajar berfilsafat—untuk dapat mempertanyakan kembali eksistensi manusia.

Sedangkan, di tengah kehidupan yang serba cepat, penuh propaganda, apatis, dan pragmatis ini, rasanya belajar filsafat memang terkesan menambah beban hidup saja.

Ketika dunia digerakkan oleh hiruk-pikuk pemburu kenikmatan, karier, popularitas, dan kekayaan—yang dalam bahasanya Sugi Lanus, itu semua hanya berkaitan dengan social self—filsafat, seperti kata Bambang Sugiharto dalam pengantar Dunia Sophie, memang tampak seperti verbalisme kosong, bagai daftar menu yang menawan tanpa ada makanannya.

Ketika ilmu pengetahuan empirik dan teknologi menghasilkan demikian banyak hal konkret di dunia ini dan telah mengubah kehidupan manusia secara mendasar, filsafat terasa bagai bualan yang menyembunyikan kekosongannya dalam rimba istilah abstrak yang dirumit-rumitkan.

Tetapi, bukankan proses abstraksi itu diperlukan untuk menerangi pengalaman dan melihat akar-akar dasar yang tersembunyi di balik segala persoalan konkret?

Belajar filsafat, sekali lagi, seperti kata Sugiharto, bisa membantu melihat hal-hal yang lebih pokok; juga memungkinkan kita berpikir lebih arif dalam menyelesaikan perkara-perkara baru yang mungkin tak bisa langsung dirujuk ke kitab suci; bahkan akhirnya mungkin juga membantu menyingkap ilusi-ilusi yang tersembunyi di balik agama, yang jika dibiarkan justru akan merusak martabat agama itu sendiri.

Filsafat—atau mempertanyakan kembali eksistensi kita sebagai manusia—sepertinya dapat memberikan stimulus kepada kita bahwa di zaman ini, beberapa orang yang sadar, sebenarnya merasa tidak bahagia. Kita tidak tahu mengapa, dan apa yang membuat kita tidak bahagia.

Tetapi, secara instinktif, kita merasa bahwa kita seperti telah kehilangan sesuatu. Kita ingin menemukannya kembali. Di tengah mobil-mobil mewah, komputer-komputer yang menakjubkan dan jaminan-jaminan sosial yang baik. Dan saya pikir, sesuatu yang hilang itu adalah, apa yang kita sebut sebagai jati diri manusia yang bisa memanusiakan manusia.

Bagaimana pun, sehebat apapun alat, manusia adalah manusia—yang seharusnya memperalat alat, bukan justru diperalat alat.

***

Bang Onang adalah manusia otentik. Jika manusia modern sibuk melapisi dirinya dengan kemasan yang menebal penuh dengan kepalsuan, maka manusia otentik melepaskan lapis-lapis dirinya. Menelanjangi dirinya di depan alam semesta. Meniadakan dirinya di hadapan Yang Ada.

Hidupnya orisinil. Kerja menjadi sarana ejawantah dirinya untuk Tuhan. Puasa menjadi tirakat sosial hidupnya. Maka dari itu ia tak harus minder untuk menggunakan ikat kepala, celana komprang, dan baju hitam seperti orang Badui Dalam di tanah Pasundan sana.

Setiap kali saya berdiskusi dengan Bang Onang, saya bisa menyimpulkan banyak hal—walau kadang lebih banyak wacana yang tak terjawab, ngambang, dan malah bikin kepikiran.

Saya memang nyaman ngobrol dengan mereka yang memiliki minat membaca yang tinggi—dan mereka hampir semuanya mempunyai kelebihan di atas rata-rata; lebih bijak, wawasan luas, toleransi tinggi, kaya diksi, dan memiliki persediaan bubuk kopi melimpah.

Saya senang mendengarkan petuah-petuah Bang Onang tentang sejarah—sebab ia memang sarjanan sejarah. Dan kadang sedikit pembahasan tentang kebudayaan—ia juga seorang pemerhati budaya.

Saya mendengar dengan khusuk pengetahuan yang ia berikan—walaupun, dalam setiap pertemuan, ia selalu mengatakan, bahwa apa yang diucapkannya tak lain hanya sekadar “ilmu tipu-tipu”.[T]

Singaraja, Sebuah “Kutukan”
(Rasanya) ke-Tuban-nan Saya Sudah Hilang
Menyepi Bersama Kata-kata
Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya
Tags: diskusifilsafatteknologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal Singaraja Melalui Kulinernya

Next Post

Ketika Bapak-bapak Mendongeng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Bapak-bapak Mendongeng

Ketika Bapak-bapak Mendongeng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co