14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Historis I Ketut Rina Bersama “Cak Tarian Rina”

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
July 20, 2023
in Persona
Jejak Historis I Ketut Rina Bersama “Cak Tarian Rina”

I Ketut Rina bersama Bapak Sardono W. Kusumo | Foto Dokumentasi, I Ketut Rina, Tahun 1974

I KETUT RINA mulai belajar seni tari tahun 1970. Ketertarikan I Ketut Rina untuk belajar tari, berawal dari menonton Sardono W. Kusumo melakukan proses berkarya di jaba (sisi luar) Pura Desa Teges Kanginan, Ubud, Gianyar. 

Sardono, dalam berkarya, dilihatnya seperti halnya “orang kesurupan”, loncat ke sana ke sini, berteriak-teriak, sesekali dia melukis dan menari tarian tradisional Indonesia lainnya, seperti tarian asmat, dan tari jawa.

Setiap Sardono berproses, I Ketut Rina selalu hadir menyaksikannya, baik siang ataupun malam. Melihat Rina selalu hadir dalam proses berkaryanya, Sardono menyuruh Rina kecil untuk ikut menirukan gerak yang diberikannya, seperti gerak air, angin, suara alam dan binatang, burung, kodok, sapi, dan lainnya.

Proses tersebut tidak terfokus pada satu tempat saja. Prosesnya juga dilakukan di laut, di ladang, dan di sawah.

I Ketut Rina | Foto FB Cak Rina

Proses berkarya langsung diajarkan oleh Sardono kepada Rina melalui pengamatan dan peniruan gerak sehari-hari yang dilakukan dari kehidupan nyata. Proses eksplorasi ini dilakukan melalui peniruan gerak yang dilakukannya sehari-hari yakni; menangkap ikan, mencari belut dengan tangan, mandi ke sungai, memasang bubu ikan di sungai, dan kegiatan yang dilakukannya di laut seperti; mandi di laut, bersuara dengan keras dan lantang melawan suara laut, hingga terombang-ambing oleh ombak.

Semua hal itu memberikan gerak intuisinya dalam berkarya yang diasah oleh Sardono.

Kecak di Banjar Teges Kanginan, Ubud, diciptakan oleh Sardono pada tahun 1970 yang melibatkan semua anggota Banjar Teges Kanginan dan juga anak-anak yang berjumlah 25 orang termasuk di dalamnya Rina kecil.

Proses Latihan kecak ini dilakukan di pelataran Pura Desa mulai dari halaman jaba tengah hingga jaba sisi (halaman luar). Sistem kehidupan masyarakat dalam sistem gotong royong membuat kebersatuan rasa dalam karya kecak Sardono.

Sardono membuat komposisi sajian kecak dengan format baru dari kecak yang sudah ada sebelumnya. Bila halnya kecak Bona, kecak Bedulu, yang lebih fokus pada sajian cerita (Ramayana/Mahabarata) dengan disain koreografi hanya terfokus pada satu pola lantai melingkar dari awal hingga akhir, Sardono memiliki gagasan baru dalam karya kecaknya.

I Ketut Rina bersama Bapak Sardono W. Kusumo | Foto Dokumentasi, I Ketut Rina, Tahun 1974

Kehidupan sehari-hari masyarakat Teges, mencoba ditransformasikan dalam karya kecaknya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat seperti mencakul, nandur, gotong royong membuat rumah, orang membawa itik di jalan, orang menyapu di depan rumah, orang membawa sapi di jalan menuju ke sawah, peristiwa membajak sawah (ngelampit) semua itu menjadi inspirasi dalam karyanya.

Rina pada tahun 1970 menari, memerankan anak kecil dalam karya kecak Sardono. hingga tahun 1971 karya komposisi kecak barunya terbentuk dan mendapat undangan untuk tampil di Jakarta.

Kecak karya Sardono ini diberi nama “Cak Tarian Rina”, yang diambil dari nama Rina kecil karena karya ini banyak terlahir juga dari keseharian tingkah laku I Ketut Rina yang memberikannya banyak inspirasi dalam berkarya.

Sebelum kecak ini melakukan pelawatan ke Jakarta kala itu, tim dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melakukan pengecekan ke lokasi guna menyaksikan langsung bagaimana penyajian karya baru yang akan ditampilkan di Jakarta. Dari hasil pengamatan tim tersebut, tampaknya terjadi pro dan kontra di antara anggota tim. Ada pandangan negatif dari  penampilan “Cak Tarian Rina”.

Hal tersebut dikarenakan, ada sesuatu  dirasa menyimpang dari pakem-pakem yang ada sebelumnya, tidak sesuai dengan tradisi, tabu, dilihat dari format koreografi pola lantai yang menyimpang (tidak hanya melingkar), dan para penarinya naik di atas pundak dan meloncati kepala penari lainnya. Hal itulah yang kurang diterima oleh tim kala itu.

Pertunjukan kecaknya dirasakan melanggar etika yang berlaku. Oleh karena itu, “Cak Tarian Rina” dipertimbangkan dalam keberangkatannya ke Jakarta. Namun tim Cak Tarian Rina ini tidak mendapatkan informasi tentang pembatalan keberangkatan sebelumnya. Masyarakat telah bersiap untuk berangkat ke Jakarta untuk melakukan pertunjukan kecak di sana.

Antusias masyarakat sangat tinggi untuk pergi ke Jakarta. Bus sudah menunggu di depan untuk segera berangkat dengan segala perbekalan yang sudah disiapkan pula. Ini akan menjadi pengalaman baru bagi masyarakat Teges Kanginan.

Dalam tour mereka nanti sudah diprogramkan mereka akan pergi ke kebun binatang untuk melihat hewan-hewan yang mereka jadikan objek patung sebelumnya. Para pemain “Cak Tarian Rina” ini, 95 % kesehariannya adalah pekerja pembuat patung dan petani. Mereka membuat patung hewan seperti kuda, gajah, macan, harimau, rusa, dan lainnya tanpa pernah melihat objek aslinya. Hanya pada gambar yang mereka lihat.

Mereka sangat berkeinginan untuk melihat hewan-hewan tersebut secara nyata. Namun, nasib berkata lain. Beberapa menit sebelum keberangkatan mereka, datang Sardono membawa sepucuk surat yang isinya pembatalan keberangkatan seluruh tim ke Jakarta.

 “Cak Rina dilarang pentas di Jakarta”, ujar Sardono saat itu.

Dikumpulkanlah pemuka adat untuk berdiskusi tentang cara menyampaikan pembatalan ini kepada masyarakat. Dengan tabah, Sardono bersama kepala dusun menyampaikan isi surat tesebut langsung di hadapan masyarakat.

Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan masyarakat di sana khususnya para pemain cak ini. Semua hanya mampu duduk terdiam, beberapa juga menangis mendengar berita sedih ini. Semua yang dibayangkan tentang Jakarta sirna dalam sekejap. Suasana berubah seketika.

Biasanya lingkungan Banjar Teges Kanginan ini selalu ramai, terlihat aktivitas berkesenian, setelah pembatalan itu menjadi sepi. Rina pun menangis mendengar berita ini.

Dari kejadian ini, pemuka adat melakukan prosesi upacara “Guru Piduka” di Pura Desa untuk memohon maaf secara “niskala” atas kekeliruan yang diperbuat atau hal-hal lain yang tidak disengaja dibuat selama proses yang dilakukan di areal itu.

Pengalaman ini tak membendung semangat berkarya dari Sardono. Dia pun kembali berkarya dengan menggandeng seniman-seniman lainnya seperti; Pak Pugra, Ida Bagus Geria, Pak Sujena, Pak Made Sukrata, Pak Pasek Made Tempo dengan berbagai latar belakang seni yang dimiliki.

Rina pun masuk tergabung dalam karya Sardono yang berjudul “Dongeng Dari Dirah”. Hingga tahun 1974, karya ini tour keliling Eropa selama 6 bulan. Pulang dari pelawatan itu, Rina bersama Sardono Kembali membangkitkan semangat masyarakat atau pemain “Cak Tarian Rina” untuk latihan bersama.

Bersyukur tahun 1976 tim kecak ini diundang oleh Saheran, Raja Iran, untuk pentas di Iran. Para penari kecak ini bahkan dijemput ke Bali dengan pesawat khusus dari Iran yang khusus mengangkut para penari dari Banjar Teges Kanginan.

Mereka melakukan pertunjukan di istana Raja, Persipolis, dan pemakaman raja-raja, pembukaan festival Siras pada bulan Agustus tahun 1976. Pertunjukan mereka di luar negeri ini memperoleh apresiasi dari berbagai media cetak kala itu. Banyak media yang menulis tentang perjalanan pertunjukan mereka di sana.

Kesuksesan mereka dalam melakukan pertunjukan kecaknya, tersebar kemana-mana. Hingga mendapat tawaran pentas di berbagai daerah.

Pertunjukannya pun berlanjut ke tempat-tempat lainnya. Pada tahun 1978 karya ini baru dapat dipertunjukan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dan juga di Jerman. Banyak juga tamu-tamu luar negeri baik dari Jerman, Perancis, Eropa lainnya, yang datang ke Teges Kanginan untuk melihat proses karya “Cak Tarian Rina”.

Rina pada karya Sardono diminta untuk menari telanjang bulat memerankan tokoh anak-anak. Tahun 1986 Rina bersama group kembali diundang untuk melakukan pertunjukan ke Vancouper, Canada, menampilkan Cak Rina bersama para dosen seni dari ASTI Bali I Nyoman Catra, Bapak Yan Gus, Bapak Berata, Ida Ayu Trisnawati, dan lainnya.

Kala itu Rina masih duduk di bangku sekolah kelas 2 SMKI Bali, karena yang diminta adalah penampilan materi “Cak Tarian Rina” maka Rina pun mengajarkanya untuk menarikan kecak style Rina.

Tahun 1987 Rina melakukan pertunjukan cak di Festival Of Art di Singapura. Tahun 1986 Rina sudah memerankan sebagai tokoh dalam kecaknya. Epos yang dipakai dalam pertunjukan kecaknya memakain wiracerita Sugriwa Subali.

Workshop Kecak Oleh I Ketut Rina Dalam Media Cetak di Jepang | Sumber: File I Ketut Rina

Kiprah Rina dalam kesenian kecak semakin menjulang. Selain itu, Rina juga kerap didatangi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk memberikan workshop kecak, termasuk kepada wisatawan asing seperti; Meksiko, Jepang, Amerika, dan negara lainnya. Rina juga kerap berkolaborasi dengan seniman-seniman dalam negeri dalam sajian seni daerah misalkan tari Zaman-Aceh, tari Sunda, tari Jawa, dan lainnya.

Kegiatan itu dipertunjukan dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda dalam acara Indonesia Berdendang di istana negara, Jakarta tahun 2016. Rina juga mengajar kecak di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Jogjakarta pada acara Indonesian Cruss Cultural tahun 2022.

Menurut Rina, karya ini begitu menarik karena melibatkan para pedagang di wilayah Malioboro, mahasiswa pedalangan, seniman asing dari Australia, ada juga penari dari Aceh, Papua, Kalimantan, dengan mengkolaborasikan musik Sunda, dan juga sinden Sunda. Karya ini dipertunjukan di titik nol Malioboro.

Kiprah Rina dalam seni kecak, juga dilakukan dengan berkolaborasi bersama beberapa artis Indonesia, pemusik, seperti; Agnes Monika, Dwiki Darmawan, Tiga Diva Indonesia, dan lainnya, termasuk disainer dari Jepang Kansayo Mamoto. Dialog budaya juga pernah dilakukan dalam lintas kampus bersama mahasiswa dan rektor perguruan tinggi seni se- Indonesia.

Rina kerap memberikan workshop juga kepada seniman dari berbagai negera yakni India, Jepang, Canada, Amerika, Jepang, yang menginginkan dirinya langsung berbagi tetang kecak style Rina.

Ada juga penari dari Belgia Bernama Argo; salah satu penari profesional sering mengajar juga di luar negeri, yang ingin mendapatkan spirit kecak Rina. Kecak Rina juga kerap ditonton oleh para pejabat mulai dari Bupati, Gubernur, Presiden dari era Soekarno, Megawati, Gusdur, SBY, dan Jokowi termasuk artis International David Coverfil.

Rina juga kerap mengisi acara international di Bali, seperti acara G-20. Rina bersama group kecaknya memberikan sentuhan Garapan baru dalam karya ini. Spirit kecak lebih ditonjolkan dengan gubahan kostum. Kecak Rina bersifat dinamis, tidak harus terikat dari cerita.

Kecak Rina disesuaikan juga dengan acara dan karakter budaya setempat. Rina juga bekerja sama dengan J. Subianto. Garin Nugroho, juga sebagai bintang iklan Gudang Garam, Garuda Indonesia. Rina juga pernah tampil pada acara Miss A World, HUT Kompas Megalitikum Kuantum. 

Dalam berkolaborasi, Rina pasti memasukan kekhasan kecak yang dimilikinya. Karatetristik kecak Rina menjadi indentitas dalam karyanya. Dia memberikan energi dalam suasana yang diinginkan oleh lawan mainnya dalam kolaborasi seni yang dilakukannya. Eksplorasi pertunjukan sesuai dengan lingkungan juga menjadi identitas Rina dalam berkarya.

Kecak bersifat fleksibel. Setiap saat pertunjukan kecaknya berubah. Merespon setiap suasana, baik hujan ataupun hal lain yang ada disekitar stage pertunjukan. Saat hujan, dia akan merespon air untuk memberikan sentuhan baru pada karyanya.

Pertunjukan kecaknya tidak terikat oleh cerita. “Apa yang ditampilkan oleh masing-masing pemain kecaknya, sudah mengandung cerita”, ujar Rina.

Kecaknya harus tampil secara totalitas menampilkan dirinya secara serius, totalitas, berenergi, memiliki power diri, dan ekspresif. Hal ini menjadi sangat penting dalam pertunjukan. Identitas kecak Rina juga mempergunakan api dalam pertunjukannya. Elemen api adalah simbol kekuatan yang berfungsi untuk memperindah suasana dan juga penunjang unsur estetik dalam sajiannya.

Dalam setiap penampilannya, Rina selalu memberikan mandat kepada pemain agar setiap pertunjukan kecaknya bisa membius penonton, baik dalam penonton yang berjumlah sedikit sekalipun. Pemain harus tetap serius, tidak boleh ragu-ragu baik dari gerak, ekpresi. “Adakan dialog dengan penoton”, ujar Rina.

Rina juga kerap menyelinap dalam penonton dalam penyajian kecaknya.

I Ketut Rina Bersama “Cak Tarian Rina” | Dokumentasi, I Ketut Rina, Tahun 2005

Rina mempelajari karakter pemain kecaknya. Rina selalu mengarahkan pemain kecaknya untuk mampu menunjukan performa terbaiknya. Pemain kecaknya disarankan untuk rileks tapi serius dalam pertunjukannya. Pemain kecaknya yang berasal dari satu banjarnya memudahkan Rina untuk “mengkontrol” pemainnya. Dibutuhkan kesatuan rasa dalam pertunjukannya.

Apabila ada penampilan dalam jumlah yang lebih banyak, 500-1000 pemain, Rina akan memberikan pengarahan sebelumnya terhadap para pemainnya. Pemain kecak yang berasal dari banjarnya, menjadi pemain inti dalam karyanya yang mampu mengikat pemain lainnya untuk menumbuhkan rasa yang sama. Sehingga nantinya kualitas pertunjukan tetap terjaga. Dia tetap mengajarkan sesuai karakteristik kecak Rina.

Dari tahun 1970 hingga sekarang Rina tetap latihan, berproses untuk melatih dirinya guna menjaga kwalitas seni yang dimilikinya. Proses ini biasanya dilakukan di tempat-tempat terbuka, seperti berteriak-teriak di goa, loncat-loncat kesana kemari sembari menjaga kebugaran tubuhnya.

Rina tetap berusaha menjaga kwalitas pertunjukan dengan prinsip yang dimilikinya. Penghargaan terhadap pemainnya dari segi finansial juga menjadi pertimbangan dirinya dalam menentukan “harga pertunjukannya’. Seniman harus dihargai dengan layak.

Apabila ada tawaran untuk tampil, Rina kerap menanyakan kepada Client-nya, apakah bapak sudah pernah menonton kecak saya? Ini untuk menjaga kualitas groupnya. Dari situ, kita bisa melihat bahwa seorang leader group harus mampu mengayomi pemainnya. Berjuang bersama dan menjaga harga diri bersama-sama.

Pandangan orang awam tentang kecak, memandang setiap pertunjukan kecak memiliki bentuk yang sama. Hal itu sesungguhnya keliru. Setiap kelompok kecak memiliki identitas tersendiri sesuai karakteristik yang dimiliki oleh penciptanya. Karakteristik diri sang seniman akan memberikan rasa baru dalam karyanya. [T] 

.

Wawancara penulis bersama I Ketut Rina | Dokumentasi, I Nyoman Mariyana, Tahun 2023

Tags: Cak RinaI Ketut Rinakecakkesenian baliSardono W Kusumoseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata-kata Penyair Dunia dalam Lantunan Musikalisasi Puisi Komunitas Budang Bading Badung

Next Post

Menduniakan Sastra Indonesia, Pemerintah Bisa Tiru Korea

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Menduniakan Sastra Indonesia, Pemerintah Bisa Tiru Korea

Menduniakan Sastra Indonesia, Pemerintah Bisa Tiru Korea

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co