24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Kampusku Sarang Hantu [27]: Taman Kampus, Taman Hantu

Chusmeru by Chusmeru
August 7, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

WISUDA merupakan momentum yang paling ditunggu oleh setiap mahasiswa. Bukan hanya sebagai bukti kelulusan, namun juga langkah awal untuk menapaki dunia di luar kampus. Maka, wisuda akan disambut sukacita oleh mahasiswa dan keluarganya. Foto wisuda menjadi sesuatu yang wajib bagi mahasiswa.

Untuk sampai pada tahapan wisuda tentu banyak cerita yang berbeda di antara mahasiswa. Ada yang harus “berdarah-darah” sebelum wisuda, karena proses bimbingan skripsi yang begitu lama. Ada pula yang merasa begitu cepat selesai kuliah. Namun ada yang harus berada di kampus hingga tujuh tahun untuk wisuda, lantaran setiap semester menunggak mata kuliah.

Adalah Dewi Puspita, Candra Irawan, dan Putri Rengganis yang memiliki kisah berbeda dalam kuliah hingga wisuda. Mereka berbeda jurusan, namun dalam satu fakultas. Berbeda tahun angkatan, namun diwisuda pada hari, tanggal, dan tahun yang sama.

Dewi Puspita termasuk mahasiswa yang lulus dengan waktu normal, empat tahun lebih lima bulan. Namun bukan itu yang membuat Dewi Puspita exited menyambut wisuda. Proses bimbingan dan ujian skripsnya banyak diwarnai drama. Tiga orang dosen pembimbing skripsinya mempunyai perbedaan dalam gaya bimbingan dan persepsi tentang skripsinya.

Pernah suatu ketika Dewi Puspita bimbingan skripsi ke satu pembimbing. Tidak ada masalah, tidak ada catatan khusus, dan disarankan untuk melanjutkan analisis data. Tetapi tidak dengan pembimbing yang lain. Skripsinya banyak catatan dan coretan, mulai dari latar belakang masalah hingga metode penelitian. Hal itu terjadi hampir pada setiap proses bimbingan.

Kesabaran dan ketabahan adalah kunci sukses dalam proses bimbingan skripsi. Menuruti saja saran pembimbing kadang dapat memuluskan persetujuan skripsi. Kesabaran Dewi Puspita akhirnya terjawab. Semua pembimbing menyetujui untuk ujian skripsi. Lulus, yudisium, dan menunggu saat datangnya wisuda,

Candra Irawan punya cerita yang berbeda. Ia nyaris kena DO (Drop Out) karena habis masa studinya. Candra Irawan harus menempuh kuliah selama 14 semester atau tujuh tahun. Itu pun ia tempuh dengan perjuangan yang luar biasa. Alhasil, Candra Irawan lulus dengan pertimbangan kebijakan “baik hati” dari dosen pembimbingnya. Meski begitu ia tetap merasa bangga telah menjadi sarjana.

Putri Rengganis termasuk mahasiswa yang lulus spektakuler. Ia dinyatakan lulus dengan masa tempuh studi tercepat serta lulus dengan predikat cum laude. Itu semua ia peroleh dengan manajemen waktu yang ketat. Ia harus membagi waktu antara kuliah, mengerjakan tugas, berorganisasi di kampus, dan memenuhi hobinya menonton drama Korea.

                                                                        ***

Satu hal yang tak boleh terlewatkan dalam momentum wisuda adalah berfoto ria. Selain dokumentasi yang didapat dari fotografer resmi universitas, mahasiswa biasanya juga mengabadikan momen wisuda menunggunakan kamera telepon seluler mereka. Saat ini banyak ponsel yang memiliki kamera canggih dengan hasil yang memuaskan.

Setiap fakultas memiliki spot foto yang menarik. Kampus Dewi Puspita juga memiliki taman yang biasa dimanfaatkan mahasiswa untuk berfoto. Bukan hanya saat wisuda, selepas kuliah atau jika waktu senggang mahasiswa juga berfoto ria di taman kampus.

Tak ingin menyia-nyiakan momen wisuda, Dewi Puspita berfoto di taman kampus. Berbagai gaya ia peragakan. Beragam ekspresi ia tunjukkan. Ada foto dia sendirian, ada pula foto bersama teman-teman kuliahnya. Tak luput foto bersama keluarga dan pacarnya.

Akan tetapi betapa terkejut Dewi Puspita. Beberapa hasil fotonya ada yang menyeramkan. Foto dia yang sendirian menggunakan toga, setelah dilihat tampak ada perempuan berambut panjang, bergaun putih, dan berwajah pucat berada di sampingnya. Berulang kali ia lihat, perempuan itu sungguh menyeramkan. Apalagi saat di-zoom, sorot mata perempuan itu begitu mengerikan.

“Ada hantu di sebelahku..!” teriak Dewi Puspita sambil menunjukkan hasil jepretan kamera ponsel.

Teman-teman kuliah dan keluarga Dewi Puspita terkejut. Mereka seolah tak percaya. Satu per satu meminta untuk melihatnya. Mereka pun merinding melihat perempuan berambut panjang berada di sisi Dewi Puspita. Anehnya, fotonya yang berdua dengan pacarnya hasilnya bagus, tak ada makhluk asing yang ikut berfoto.

Beberapa foto yang ada di galeri ponsel Dewi Puspita diperiksa kembali. Fotonya yang beriga bersama kedua orang tuanya juga muncul perempuan misterius di sampingnya. Namun fotonya bersama Caroline teman akrabnya, hasilnya bagus. Dewi Puspita tak habis pikir. Mengapa semua foto yang orangnya berjumlah ganjil selalu ada penampakan perempuan yang menyeramkan.

Kejadian serupa dialami Candra Irawan. Ia bermaksud mengabadikan momen wisuda dengan berfoto-foto di taman kampus. Teman-teman seangkatannya yang sudah lulus terlebih dahulu turut memeriahkan wisudanya. Bahkan Candra Irawan mengajak bapak kostnya untuk berfoto di taman kampus.

Semua foto diambil dari ponsel Candra Irawan. Banyak ekspresi lucu dan juga haru dalam foto tersebut. Bayangkan. Nasib Candra Irawan untuk menjadi sarjana hanya tersisa waktu satu minggu sebelum ia dinyatakan lulus. Terlambat sedikit saja ia akan didepak dari kampus, alias DO.

Candra Irawan tidak melihat langsung hasil jepretan di ponselnya. Pikirnya, ia ingin mengambil gambar sebanyak-banyaknya. Setelah kembali ke tempat kost, ia buka-buka galeri fotonya. Betapa kaget dia. Beberapa hasil fotonya tampak aneh.

Fotonya yang sendirian sambil bergaya di taman kampus ditemani laki-laki tua yang berdiri di sampingnya. Laki-laki itu berambut putih dengan pakaian layaknya zaman dahulu. Tatapan mata laki-laki misterius itu mengarah ke lensa kamera dengan sorot mata yang menyeramkan. Berulang kali Candra Irawan mengusap-usap matanya, tak percaya atas hasil foto itu.

Bukan hanya fotonya yang sendirian. Foto bertiga bersama sobat kentalnya Rio dan Boy juga didampingi laki-laki tua. Padahal saat berfoto ia yakin betul tak ada orang lain di sisinya. Ia jadi merinding. Siapa gerangan laki-laki tua itu?

Tak ingin hasil fotonya didampingi makhluk asing, Candra Irawan berinisiatif untuk foto ulang esok harinya. Ia hanya berdua bersama Rio, yang dimintanya untuk mengambil gambar. Ia langsung melihat foto jepretan Rio. Hasilnya sama. Aneh dan menyeramkan. Laki-laki misterius itu muncul lagi pada fotonya yang sendirian. Kali ini mata laki-laki itu sedikit melotot, seolah marah.

Candra Irawan dan Rio terkejut. Mereka saling tatap. Taman kampus yang sering digunakan sebagai spot foto berubah menjadi taman hantu. Rasa takut muncul pada diri mereka. Meski rasa penasaran juga menyelimuti mereka. Dicobanya swafoto berdua. Hasilnya, laki-laki tua itu tidak menampakkan diri.

Nasib yang sama dialami Putri Rengganis. Sebagai wisudawan terbaik di fakultasnya tentu saja membuat ia tak ingin melupakan begitu saja almamaternya. Bersama kedua orang tuanya yang begitu bangga pada putrinya, dan beberapa teman kuliahnya yang masih belum wisuda, mereka berfoto di taman kampus.

Putri Rengganis membawa buket bunga dari orang tuanya untuk berfoto. Teman-temannya juga memberi buket yang berisi kue kering, cokelat, dan pernak-pernik lain. Sesi pertama ia berfoto sendirian. Ada beberapa gaya saat ia foto sendiri. Betapa terkejutnya Putri Rengganis. Semua hasil fotonya membuatnya merinding. Seorang anak kecil dengan tatapan mata kosong berada di sampingnya.

“Haahhh… ada anak kecil di foto..!” teriak Putri Rengganis ketakutan.

Semua yang berada di taman kampus terkejut. Mereka melihat foto dari kamera teman-temannya. Semua hasilnya sama. Foto Putri Rengganis didampingi seorang anak kecil yang hanya memakai celana pendek dan telanjang dada.

“Siapa bocah itu…?” tanya Febrianti teman duduknya saat kuliah.

Sejenak mereka menghentikan sesi foto. Mencoba menerka hasil foto mereka. Kemudian mereka menyarankan Putri Rengganis berfoto bersama ayah dan ibunya. Hasilnya sama menyeramkan. Anak kecil itu berdiri di samping dengan wajah memelas namun menakutkan. Semua merinding. Semua mengamati taman kampus. Tidak tampak seorang anak kecil di taman itu.

“Hantu anak kecil…,” kata Feberianti sambil gemetaran.

Taman kampus yang asri berubah menjadi mengerikan. Makhluk gaib satu per satu menampakkan diri dalam foto mahasiswa yang baru saja diwisuda. Putri Rengganis mencoba kembali berfoto berdua bersama Febrianti. Anak kecil itu tak tampak. Sungguh aneh.

                                                                        ***

Dewi Puspita, Candra Irawan, dan Putri Rengganis saling bercerita. Mereka semua diliputi rasa takut. Momen wisuda yang semestinya mereka nikmati dengan gembira berubah menjadi menyeramkan. Taman kampus tempat mereka berfoto ternyata taman hantu. Penasaran atas kejadian yang menimpa, mereka mencoba bertanya kepada Suparman, tukang kebun fakultas.

Suparman tertawa mendengar cerita mereka. Ia tahu betul tentang taman kampus. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia bekerja sebagai tukang kebun di kampus. Bukan hanya melihat, Suparman juga kerap diganggu oleh makhluk asing yang usil saat ia membersihkan taman.

“Mereka hantu ganjil..,” kata Suparman kepada Dewi Puspita, Candra Irawan, dan Putri Rengganis.

“Hantu ganjil..?” tanya ketiga mahasiswa serempak.

“Iya.. hantu-hantu itu akan muncul jika ada orang yang berfoto sendirian atau dalam jumlah ganjil. Hantu itu akan menggenapkan,” terang Suparman.

Aneh. Bukan hanya lalu lintas jalan raya saja yang mengenal ganjil genap. Dunia gaib juga dihuni oleh hantu ganjil. Lebih aneh lagi, hantu tidak lagi tinggal pada tempat-tempat yang kumuh dan bangunan kuno sebagaimana cerita banyak orang.

Kampus yang megah dan bersih serta taman yang indah ternyata juga dihuni oleh hantu yang bergentayangan. Begitulah kehidupan. Tempat yang bersih, indah, dan sejuk kadang juga menyimpan aroma kebusukan karena perilaku manusianya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [26]: Tamu Tak Diundang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus
Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal
Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong
Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus
Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon
Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Garis Finish Mereka Disambut Seperti Pejuang — Cerita Lomba Gerak Jalan 17 KM Putri di Singaraja

Next Post

Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails
Next Post
Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia

Antara Kekuasaan dan Kesadaran: Mencari Makna Spiritual dalam Era Digital Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co