4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film ”Kembang Eleh”: Ketika Ranjang Pengantin Terasa Lebih Sempit dari Penjara  — Catatan Layar Kolekstif Bali Utara di Seririt

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
June 26, 2025
in Ulas Film
Film ”Kembang Eleh”: Ketika Ranjang Pengantin Terasa Lebih Sempit dari Penjara  — Catatan Layar Kolekstif Bali Utara di Seririt

Film "Kembang Eleh" | Foto: Dok. Singaraja Menonton

SEBATANG mawar berduri disiram penuh harap oleh Inayah. Namun, yang tumbuh bukanlah mawar, melainkan kamboja merah. Adegan pembuka ini menjadi kuat dalam film “Kembang Eleh”, sebuah film pendek berdurasi 18:04 menit yang menyentil pernikahan dini atau merariq kodeq di tanah Lombok.

Film fiksi ini ditayangkan di Kedai Cana, Jalan Sudirman No. 80, Seririt, Buleleng, Senin, 23 Juni 2025. Pemutaran tersebut merupakan bagian dari program Layar Kolektif Bali Utara yang digagas oleh Komunitas Singaraja Menonton.

Disutradarai oleh Candra Aulia Safitri, film produksi asal Kopang, Lombok Tengah tahun 2024, ini dengan gamblang memotret kisah cinta Rusdi dan Inayah. Dua siswa SMK yang tengah dimabuk asmara ini mengambil keputusan drastis, berhenti sekolah untuk kawin lari, mengira jalan yang mereka tempuh akan bertabur bunga.

Ketika saya menonton adegan Inayah menyiram batang duri mawar yang tumbuh adalah bunga kamboja. Pikir saya, sutradara sudah memberikan spoiler ending kepada penonton melalui adegan pembuka itu. Adegan tersebut memiliki arti perempuan (Inayah) yang terjebak dalam pernikahan dini yang penuh dengan rasa sakit dan kekecewaan (batang mawar berduri), secara sadar sedang berusaha merawat dan memelihara kesedihannya sendiri (menyiram bunga kamboja). Bunga yang tumbuh dari hubungan ini bukanlah kebahagiaan layaknya mawar yang merekah, melainkan kesedihan (kamboja). Inayah tidak melawan, namun mencoba “hidup” dengan kesedihan itu sebagai bagian dari pernikahannya.

Kembang Eleh menunjukkan konsekuensi dari keputusan impulsif mereka. Pasangan muda ini tidak memiliki tempat tinggal, memaksa mereka menumpang di rumah teman Rusdi. Euforia pernikahan sirna digantikan oleh perjuangan finansial yang mencekik. Tanpa pekerjaan dan penghasilan, merawat bayi mereka menjadi sebuah kemustahilan.

Salah satu adegan yang paling menusuk hati adalah ketika Rusdi, sebagai seorang ayah muda yang minim pengetahuan dan sumber daya, pulang membawa susu untuk anaknya. Bukan susu formula yang layak untuk bayi, melainkan susu untuk orang dewasa. Adegan ini memuncak pada momen pilu saat sang bayi jatuh sakit dan muntah-muntah, sebuah gambaran nyata dari dampak kemiskinan dan kurangnya edukasi.

Film “Kembang Eleh” | Foto: Dok. Singaraja Menonton

Sutradara Candra Aulia Safitri tidak berhenti di situ. Ia membangun konflik hingga ke puncaknya pada sebuah adegan pertengkaran di malam hari. Didesak oleh keputusasaan, Inayah menuntut Rusdi untuk segera bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, sebuah pilihan umum bagi banyak pemuda di Lombok. Keraguan Rusdi memicu pertengkaran hebat yang merembet, mengungkit masalah antar keluarga besar mereka—luka lama yang tak kunjung sembuh.

Amarah Rusdi meledak. Kata-kata pengusiran terlontar dari mulutnya. Di tengah hujan deras yang mengguyur malam, Inayah pun pergi membawa serta bayinya, meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Di sinilah simbolisme film mencapai puncaknya. Adegan terakhir memperlihatkan bunga kamboja merah yang dulu dirawat Inayah kini terlepas dari tangkainya, hanyut terbawa derasnya air hujan.

Makna di Balik Kembang Eleh

Menurut I Gusti Ayu Ira Apryanthi lulusan Sarjana Hukum Hindu, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Gde Pudja Mataram yang saat ini menjadi Litbang Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI), judul film ini sarat akan makna. “Dalam Bahasa Sasak, ‘Kembang’ artinya bunga, ‘Eleh’ artinya gugur atau hanyut,” jelasnya.

Filosofinya, segala sesuatu yang mekar indah pada akhirnya akan berguguran. Keindahan memiliki batas waktu, tak ada yang abadi dalam transisi kehidupan. “Kembang Eleh juga tersirat di setiap upacara-upacara adat Sasak, upacara peralihan remaja ke dewasa itu yaitu Khitanan dan Pernikahan (merariq),” ungkap Ira.

Kisah dalam film ini adalah cerminan dari masalah serius yang mengakar di Lombok Tengah dan Lombok Timur. Fenomena merariq kodeq telah menjadi rahasia umum, melahirkan banyak janda di usia belia dan banyak menjadi TKI/TKW demi menyambung hidup keluarga.

“Fenomena ini sudah familiar di kehidupan saya sejak kecil. Melihat orang terdekat, sahabat dan teman sekolah ada yang nikah dini dan ada yang cerai dini juga. Sangat sedikit yang berakhir bahagia, selebihnya berbuah penyesalan dan penderitaan,” tuturnya.

Angka yang Mengkhawatirkan dan Akar Masalah

Kenyataan pahit ini didukung oleh data. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menempati posisi sebagai provinsi dengan angka pernikahan dini tertinggi di Indonesia. Sebanyak 14,96% perempuan di bawah umur 18 tahun di NTB telah berstatus kawin atau hidup bersama.

Meskipun merugikan kedua belah pihak, perempuan adalah korban yang paling terdampak. Kesempatan untuk meniti karir atau meraih cita-cita menjadi sempit, ditambah lagi dengan stigma negatif dari masyarakat.

Film “Kembang Eleh” | Foto: Dok. Singaraja Menonton

Ira Apryanthi menguraikan beberapa faktor penyebab maraknya pernikahan dini di Lombok:

  1. Pergaulan Bebas dan Kurangnya Pengawasan: Interaksi di media sosial yang berlanjut ke pertemuan hingga larut malam masih menjadi pemicu. “Di beberapa desa, masih menganut kalau anak gadis pulang lebih dari jam 22.00 akan dinikahkan oleh orang tuanya,” ujar Ira. Selain itu, tradisi kawin culik (merariq) masih ada, di mana perempuan seringkali tidak bisa menolak setelah ‘diculik’ oleh pihak laki-laki untuk dinikahi.
  2. Rendahnya Kesadaran Pendidikan: Sebagian orang tua masih memandang perjodohan lebih utama daripada mendorong anak perempuan mereka untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.
  3. Faktor Ekonomi: Kemiskinan mendorong orang tua menikahkan anaknya dengan harapan dapat mengurangi beban tanggungan keluarga.

Upaya Pemerintah dan Tantangan di Masyarakat

Menanggapi hal ini, Ira menekankan perlunya ketegasan pemerintah dalam menegakkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan, yang menetapkan batas usia minimal menikah adalah 19 tahun.

”Siapa pun yang menikahkan anak di bawah umur dapat dipidanakan. Jika ini ditegakkan, bisa jadi efek jera ke orang tua dan masyarakat,” tegasnya. Ia juga menyarankan tindakan preventif seperti edukasi seks sejak dini di sekolah dan sosialisasi kepada orang tua yang melibatkan tokoh adat.

Di sisi lain, I Gede Wira Aditya Tanaya, lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi Hindu, IAHN Gde Pudja Mataram, mengungkapkan bahwa pemerintah sebenarnya telah memiliki program Gamaq (Gerakan Anti Merariq Kodeq). Sosialisasi telah gencar dilakukan di tengah masyarakat dan sekolah.

Namun, tantangannya tidak sederhana. ”Terkadang memang masyarakatnya saja yang tidak bagus penerimaannya dan selalu punya alibi atas tindakannya untuk Merariq Kodeq,” kata Wira, menyoroti bahwa ada juga kasus pernikahan dini yang terjadi atas dasar suka sama suka tanpa paksaan.

Kembang Eleh pada akhirnya bukan sekadar sebuah karya. Ia adalah sebuah alarm, cermin yang memantulkan realitas pahit, butuh perhatian serius dari semua pihak. Film ini menjadi pengingat bahwa di balik kisah cinta yang tampak mekar, ada risiko layu sebelum waktunya jika dipetik terlalu dini. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Tags: filmfilm pendekLombokSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Saat Dunia Kian Pintar, Tapi Nurani Kian Pudar

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Saat Dunia Kian Pintar, Tapi Nurani Kian Pudar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co