24 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lontar Terakhir Sang Penjaga — Mengenang Maestro I Wayan Mudita Adnyana dari Tenganan Pegringsingan

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
June 19, 2025
in Khas
Lontar Terakhir Sang Penjaga — Mengenang Maestro I Wayan Mudita Adnyana dari Tenganan Pegringsingan

I Wayan Mudita Adnyana

Oṁ atma tattwatma naryatma Swadah Ang Ah

Oṁ swargantu, moksantu, sùnyantu, murcantu.

Oṁ ksāma sampurnāya namah swāha.

DINGIN malam terasa berbeda di antara suara angin yang menyisir pada sasih kalima sambah di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali. Langit tidak murka, namun sunyi. Bulan tak sepenuhnya bersinar, namun cahaya lembutnya menelusup diam ke celah-celah jiwa, seolah langit malam turut berkabung dalam diam.

Ada getar yang tak terdengar namun terasa getar kehilangan itu begitu dalam menembus sukma. Telah gugur sehelai daun tertua dari pohon warisan Bali Aga. Seorang maestro, penenun aksara dan penjaga nyala zaman, diam-diam kembali ke pangkuan alam niskala.

Maestro itu, I Wayan Mudita Adnyana, sebuah nama yang tertulis bukan hanya pada gurat lontar, tetapi juga terpatri dalam relung-relung ingatan kami. Kini ia menjelma bisik angin yang halus, tak lagi terlihat, namun selalu terasa. Ia bukan sekadar kenangan. Ia adalah nadi yang tetap berdenyut di antara lembaran warisan yang tak pernah mati.

Saya menulis ini dengan jemari yang berat. Bukan semata karena duka, tapi karena rasa hutang yang tak mungkin terbayar. Sosoknya bukan hanya seorang informan dalam studi saya, bukan sekadar narasumber, melainkan pelita yang menuntun langkah-langkah akademik saya melewati lorong-lorong pengetahuan tradisional yang nyaris terlupakan.

Di saat kebanyakan orang memberi dengan syarat, ia memberi dengan hati. Ia adalah mata air yang tak pernah surut memberi tanpa mengukur, mengalir tanpa diminta. Setiap pertanyaan saya hanyalah anak-anak sungai kecil yang dituntunnya kembali ke samudra makna, dijawabnya dengan senyum yang tulus, seakan tak pernah ada lelah di balik usianya.

Kala pikiran saya berkabut, ia hadir sebagai cahaya lembut yang tak menggurui, hanya menuntun. Dan yang paling membuat hati saya gentar oleh haru, di antara begitu banyak wajah dan nama yang telah singgah dalam hidupnya, ia tetap mengingat saya dengan hangat, seolah saya adalah bagian kecil yang tak pernah ia lepaskan dari hatinya.

Saya (penulis) bersama I Wayan Mudita Adnyana | Foto: Dok. penulis

I Wayan Mudita Adnyana bukan sekadar pengrajin atau ahli nyurat lontar. Ia adalah penafsir semesta lewat aksara. Dalam tiap gurat aksara yang mamata titiran, terdapat napas zaman yang ia hidupkan kembali. Ia nyurat bukan dengan tangan, melainkan dengan jiwa. Aksara Bali, yang bagi sebagian orang mungkin sekadar simbol, bagi dia adalah denyut kehidupan. Ia tidak hanya paham bentuknya, tapi juga menghayati nadinya.

Di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, tempat ia dilahirkan dan berkarya, ia tumbuh sebagai anak tradisi yang kemudian menjadi jantung kebudayaan. Karya-karya lontarnya menyimpan beragam hal, bukan hanya cerita, melainkan juga filsafat, nilai moral, hingga ritual kehidupan masyarakat Bali Aga. Tak heran bila tiga kepala negara, Presiden Indonesia, Presiden Korea Selatan, dan Raja Maroko mengagumi hingga mengoleksi karya-karya tulisannya. Apa yang ia ukir di atas daun-daun lontar itu bukan hanya aksara, tetapi hening yang berbicara.

Pada 10 Oktober 2019,  Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menganugerahinya penghargaan tertinggi Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi dalam kategori Pelestari.

Piagam Anugerah Kebudayaan (atas) dan I Wayan Mudita Adnyana bersama piagam penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama 2024 (bawah) | Foto: Dok. penulis

Gelar itu bukan sekadar formalitas negara, melainkan bukti konkret bahwa I Wayan Mudita Adnyana adalah satu dari sedikit penjaga gerbang budaya yang masih ada. Dalam penyerahan piagam itu, negara mengakui bahwa lontar dan prasi tidak akan pernah hidup bila tidak ada tangan-tangan agung seperti ia yang menghidupkannya.

Namun sejatinya, penghargaan terbesar baginya bukanlah piagam atau medali, melainkan rasa hormat dari mereka yang pernah disentuh hatinya. Dari para peneliti, dosen, mahasiswa, budayawan, hingga warga desa, semua memiliki kisah yang sama, bahwa ia bukan hanya hadir dalam seremoni-seremoni kebudayaan yang megah, tetapi lebih sering muncul diam-diam dalam keseharian yang sederhana, seperti bayang teduh di bawah pohon tua, yang tak pernah memilih siapa yang berhak berlindung. Ramahnya tak dibuat-buat, rendah hatinya tak terucap, hanya terasa. Tak pernah ada penolakan dari bibirnya, karena baginya, berbagi ilmu adalah bagian dari napas hidup itu sendiri. Ia hadir bukan untuk dilihat, tapi untuk dirasakan oleh siapa pun yang haus akan pengetahuan, dan yang datang dengan hati yang tulus.

Saya masih ingat saat pertama kali menginjakkan kaki ke rumahnya di tahun 2015. Sebuah rumah sederhana di Tenganan Pegringsingan, namun memancarkan aura agung. Ia menyambut dengan senyum. Di balik raut yang mulai renta, terpancar semangat yang tak pernah padam. Saya tidak hanya disuguhi lontar, tapi juga semangat hidup. Saya datang dengan daftar pertanyaan, namun pulang dengan kebijaksanaan.

Ia tidak hanya memberikan data untuk studi saya, tapi juga memberikan arah. Banyak dari kami peneliti muda yang merasa seperti cucu sendiri saat berbincang dengannya. Nama-nama kami tetap ia ingat, bahkan setelah waktu berlalu bertahun-tahun. Kemampuan mengingat itu bukan soal otak, tapi soal hati. Karena ia tidak pernah mengenal seseorang sebagai data, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Lontar Itu Masih Terbuka

Kini ia telah tiada. I Wayan Mudita Adnyana, sang maestro itu, meninggal Rabu, 18 Juni 2025 sekira pukul 16.00 Wita. Ia meninggal pada usia 96 tahun. Kamis, 19 Juni siang, badan kasarnya dikubur sesuai dengan sistem di Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan.

Namun sesungguhnya ia belum benar-benar pergi. Lontar-lontar yang ia tulis masih membuka diri, mengajak kita membaca bukan hanya aksara yang terjuntai dalam kisah, tetapi nilai. Bagi saya pribadi, kehilangan ini adalah kehilangan guru, sahabat, pelindung, dan penyambung makna. Saya tahu, tak akan ada lagi pagi yang sama di Tenganan Pegringsingan.

Tak ada lagi suara beliau yang menyapa, “Wan, mriki dumun simpang. Ampun i nuni sik Pak Tut Lulut’e? Sampun keni sajeng?” Artinya, “Wan, ke sini dulu singgah. Sudah dari tadi di rumah Pak Lulut? Sudah dapat tuak?”  

Ia biasanhya mengucapkan kata-kata itu sembari  tertawa. Tapi saya tahu pula bahwa selama pikiran ini masih menggali makna dari warisan yang ia tinggalkan, selama saya masih belajar apa yang ia wariskan, maka ia tidak akan benar-benar pergi.

Di Tenganan Pegringsingan, kematian bukan akhir, melainkan perjalanan pulang. Maka biarlah saya menutup tulisan ini dengan keyakinan bahwa Sang Maestro telah kembali, bukan untuk menghilang, tapi Sang Penjaga telah kembali menyatu dengan pendahulunya, dengan semesta bumi Tenganan Pegringsingan yang menjadi kebanggaannya.

Selamat meniti jalan sunyi menuju pangkuan Hyang Bapa Kilap, Bapak I Wayan Mudita Adnyana. Terima kasih tak akan pernah cukup untuk membalas segala yang telah Bapak wariskan. Dunia akademik, para pelaku kebudayaan Bali, dan diri saya sendiri adalah taman-taman pengetahuan yang tumbuh dari benih kebaikanmu.

Kami adalah saksi atas ketekunanmu menyalakan api warisan di tengah angin zaman. Kini, semoga setiap langkahmu di alam keabadian diterangi oleh aksara-aksara cahaya yang dahulu kau tuliskan dan menjadi suluh tak padam di jagat niskala.

Om Santih Santih Santih Om. [T]

Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I NENGAH JULIAWAN
Mati Ombo Sanghyang | Persembahan Kerbau Hitam di Desa Adat Tenganan Pegringsingan
“Katinggal”, Wisuda di Tanah Bali Aga, Tenganan Pegringsingan
Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan
“Masabatan Endut”, Keteguhan Hati Daha Tenganan Pegringsingan
Mekare-Kare di Desa Tenganan Pegringsingan, Ritus Adat Sarat Makna
Tags: Desa Adat Tenganan Pegringsinganin memoriamlontarsastraTenganan Pegringsingan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus

Next Post

Pesenggiri Festival 2025: Ketika Warisan Budaya Menjadi Jembatan Masa Depan

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails
Next Post
Pesenggiri Festival 2025: Ketika Warisan Budaya Menjadi Jembatan Masa Depan

Pesenggiri Festival 2025: Ketika Warisan Budaya Menjadi Jembatan Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya
Khas

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Cerpen

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa
Puisi

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta
Pariwisata

Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta

Sore itu, suasana di Four Points by Sheraton Bali tak seperti biasanya. Ketika para pekerja melakoni kegiatan budaya, yakni “ngebat”,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh
Pariwisata

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Ini bukan upacara melukat atau kegiatan membersihkan diri dan alam semesta, tetapi acara melepas tukik. Pagi, Sabtu 23 Mei 2026,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman
Esai

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0
Esai

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
Catatan Perjalanan Janger Beringkit
Panggung

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026
Olahraga

Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026

SEJAK Kamis, 21 Mei 2026 ada semangat hidup sehat dan kebersamaan yang dihadirkan di Dewata Mas Futsal di Jalan Raya...

by Julio Saputra
May 23, 2026
Oleh-Oleh dari Baduy Luar
Tualang

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co