25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mekare-Kare di Desa Tenganan Pegringsingan, Ritus Adat Sarat Makna

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
June 26, 2022
in Khas
Mekare-Kare di Desa Tenganan Pegringsingan, Ritus Adat Sarat Makna

Para gadis di atas Bale Petemu Tengah tempat prosesi Perang Pandan. | Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2022

Upacara Mekare-Kare adalah sebuah tradisi ritual di Desa Tenganan Pagringsingan, Kabupaten Karangasem, sebuah ritus pemujaan kepada Dewa Indra yang dipercaya sebagai manifestasi Tuhan sebagai Dewa Hujan.  

Desa Tenganan Pagrinsingan, masuk salah satu desa tua di Bali dan desa ini disebut Bali Aga. Upacara Mekare-kare dilakukan setiap sasih kelima kalender Tenganan yang berkaitan dengan tradisi sambah muran, yang berlangsung pada akhir bulan Juni atau awal Juli.

Upacara ini tak luput disaksikan oleh para gadis di atas Bale Petemu Tengah tempat prosesi Perang Pandan. Mereka berias menggunakan kain pegrinsingan sebagai kain khas Desa Tenganan. Grinsing adalah kain yang diyakini sebagai kain penolak bala. Grin artinya sakit dan sing berarti tidak. Jadi Grinsing berarti penolak sakit. Kain ini merupakan simbol Tuhan.

Foto: Prosesi “Melelawang” | Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2022

Upacara Mekare-kare dilakukan oleh para laki-laki Tenganan, baik anak-anak maupun dewasa. Mereka yang naik ke Bale Petemu Tengah, tempat pertunjukan Perang Pandan harus membuka baju.

Tahun ini upacara Mekare-kare dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2022. Mekare-kare atau perang pandan dimulai pukul 13.30 Wita. Sebelumnya dilakukan acara ngunya desa “melelawang”, yakni upacara berkeliling desa selama 2 kali putaran. Kegiatan “melelawang” diikuti oleh pemuda desa, dan krma desa Banjar Pande dan juga krama adat Tenganan lainnya dengan membawa atribut upakara ritual. Upacara ini dimulai pukul 12.35 Wita yang diiringi dengan tabuh gamelan Baleganjur.

Foto: Prosesi “Melelawang” | Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2022

Upacara Mekare-kare ini diiringi dengan gamelan Selonding. Salah satu gamelan Bali yang tergong tua. Kata Selonding, itu sudah ada pada zaman kerajaan Kediri di Jawa Timur pada abad XI tercantum pada lontar Kakawin Bharatayuddha (Tusan, 2001:17).

Menurut penuturan I Putu Suardana, turunnya gamelan Selonding terdapat 3 bilah sebagai penganugrahan dari Hyang Maha Kuasa,  1 bilah gong, 1 bilah petuduh, 1 bilah nyongnyongan. Gamelan Selonding Tenganan sangat disakralkan. Mereka memuja Ratu Bagus Selonding sebagai dewa yang berstana di gamelan Selonding.

Gamelan Selonding sakral Tenganan tidak boleh dipegang oleh siapapun, kalau itu terjadi harus dilakukan upacara pembersihan dengan sarana upakara. Begitu juga para pemainnya. Penabuh Selonding ini terpilih dan dipilih oleh Klian Desa. Penabuhnya adalah kaum laki-laki, yang tidak mengalami kelainan fisik (Wawancara dengan I Putu Suardana, 47 tahun). Regenerasinya dilakukan oleh senior ke junior. Mereka belajar Selonding dengan gamelan Selonding duplikat dari Selonding sakral Tenganan yang ditempatkan di Bale Musium sebelah utara.

Mereka yang sudah dianggap mampu bermain Selonding akan dinobatkan menjadi penabuh Selonding inti yang menabuh saat upacara Mekare-Kare (Perang Pandan) dengan perangkat Selonding sakral yang ada di Bale PetemuTengah. Gamelan Selonding Tanganan hanya digunakan untuk mengiringi tari Mekare-kare dan iringan Tari Rejang.

 Tabuh pembuka dimainkan gending Geguron yang hanya dimainkan oleh 4 orang, di instrumen peneman, petuduh, Gong ageng dan gong Alit, sebagai pokok, dan instrumen Nyongnyongan bisa main bisa tidak. Gending Geguron sangat disakralkan oleh masyarakat Tenganan. Gending ini tidak boleh di rekam oleh siapapun. Tabuh ini hanya boleh dimainkan oleh pemain Selonding Tenganan saja.

Selanjutnya lagu kedua mulai dimainkan gending Mekare-kare sebagai musik iringan ritual Mekare-kare atau Perang Pandan/Megeret Pandan dengan iringan Selonding menggunakan saih Puja Semara Ageng (nada ding di sadi menjadi deng). Mekare-kare atau Perang Pandan/Megeret Pandan, perang dengan mempergunakan daun pandan berduri sebagai senjata dan tameng atau alat untuk menghindari serangan lawan. Pandan berduri menurut keyakinan Hindu, adalah salah satu sarana penolak bala. Sarana ritual ini digunakan juga pada upacara lainnya.

Foto: Prosesi Mekare-Kare (Perang Pandan) | Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2022

Pada prosesi Mekare-Kare/Perang Pandan, ada strategi yang dimainkan. Tangan kiri selain memegang tameng, juga difungsikan untuk menjepit tangan lawan sehingga tidak bisa menggeretkan pandannya ke badan lawan. Tangan kanan memegang pandan berduri yang sembari menggeretkan pandan di tubuh lawan. Tak jarang, duri  pandan pun tertancap jelas di badan pemainnya. Akan tetapi, diantara meraka, tidak terlihat rasa sakit. Ekspresi mereka terlihat kegirangan. Mereka bangga dapat melakukan tradisinya. Sebuah tanda keiklasan dari persembahan yang mereka persembahkan. Kesetiaan pada Hyang di puja dan sujud bakti kepada tanah kelahiran dan dewa yang dipuja.

Mereka adalah pewaris tradisi yang mempunyai tugas dan tanggung jawab akan keberlangsungannya di masa depan. Hujan turun rintik-rintik. Turunnya hujan ini disambut kemeriahan dan keberkatan dari Dewa Indra. 

Secara visual ritus ini mengandung pesan bahwa, generasi penerus Tenganan dipersiapkan untuk melanjutkan kehidupannya. Keberanian, menjadi hal terpenting dalam menjalankan hal apapun. Tidak ada dendam tersirat. Keteguhan hati, kontrol diri, dan bersahaja merupakan nilai yang dapat diambil.dari ritus Mekare-Kare ini.

Gending ketiga dimainkan gending Nyanjangan dengan saih nada Selonding ding di saih sadi menjadi dang. Panggung pun roboh ketika Perang Pandan berlangsung kurang lebih dalam durasi 1 jam. Upacara jeda, dikarenakan kondisi panggung yang roboh. Semangat yang menggebu- gebu dari para pemain Perang Pandan pun menjadi spirit rirual ini. Gending ke empat dimainkan gending Rejang Renteng sebagai gending penutup prosesi Perang Pandan. [T]

Tags: Desa TengananDesa Tenganan PegringsinganPerang PandanritualTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aksi “Magangsing” dari Sekeha Gangsing Kayu Sambuk, Desa Gobleg, Pukau Penonton

Next Post

Puisi-puisi Angga Wijaya | Hujan Berhenti Saat Kami Sampai

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Angga Wijaya | Hujan Berhenti Saat Kami Sampai

Puisi-puisi Angga Wijaya | Hujan Berhenti Saat Kami Sampai

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co