6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Prosa Liris Visual’ Made Gunawan

Hartanto by Hartanto
May 15, 2025
in Ulas Rupa
‘Prosa Liris Visual’ Made Gunawan

Made Gunawan, "Penguasa Laut 1", cat air di atas canvas

SELANJUTNYA, adalah lukisan “Dunia Ikan”karya Made Gunawan, dengan penggayaan ekspresionisme figurative menarik untuk dinikmati. Ia, menggabungkan teknik seni rupa tradisi dan kontemporer. Perpaduan teknik tradisional (nyawi) dan modern ini memberikan tekstur visual yang kompleks. Ini bisa didefinisikan dialog antara warisan tradisional Bali dan pengaruh seni kontemporer global. Hal ini dapat dihubungkan dengan teori estetika Edmund Burke tentang “sublime,” di mana karya ini memanfaatkan intensitas visual untuk menggugah perasaan.

Edmund Burke mengembangkan teori estetika tentang “sublime” dalam karyanya yang berjudul A Philosophical Enquiry into the Origin of Our Ideas of the Sublime and Beautiful (1757). Dalam teori ini, Burke membedakan antara “sublime” dan “beautiful” sebagai dua pengalaman estetika yang berbeda. Sublime adalah pengalaman yang memicu rasa kagum, dahsyat, atau terpesona karena menghadapi sesuatu yang sangat besar, kuat, atau tak terjangkau oleh pemahaman manusia. Sublime sering kali melibatkan elemen ‘daya’ yang besar, tetapi dalam konteks yang aman, sehingga menghasilkan rasa nikmat yang paradoksal. Kalau beautiful  lebih berkaitan dengan hal-hal yang menyenangkan, harmonis, enteng, dan menenangkan, seperti bunga, musik lembut, atau karya seni yang indah.

Tentang ikan, Made Gunawan memang sejak kecil suka pada ikan. Ia dan teman-temannya, acap mencari ikan di parit-parit,  yang ada di desanya. Terkadang di kolam milik tetangga. Sedikit pengalaman masa kecil nya di kampung, sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar , sekitar th 1980 an. Sepulang sekolah, ia sering bersama kawan sepermainan ke selokan di pamatang sawah mencari ikan kolen dengan kukusan yg sudah rusak. Ikan keci-kecill yang Gunawan dapatkan hanya untuk mainan bersama kawan-kawan, tidak untuk dikonsumsi.

“Saya masih ingat, ketika itu saya bersama kawan bermain di tengah sawah yg ada kolam ikan karper yg besar-besar. Karena besar ikan nya, atau saya yang masih kecil, ketika saya pegang ikan itu, saya justru di tarik oleh ikan itu. Lalu kami dimarah sama yang empunya kolam, serentak larilah kami”, cerita Gunawan. Begitulah pengalaman masa kecil Gunawan, yang tertanam di ingatannya.

Made Gunawan, “Study Komposisi”, acrylic on canvas

Pada perkembangan selanjutnya, Made Gunawan senantiasa tak lupa menorehkan memori itu lewat kemampuan melukis di atas kertas, atau media apapun. Salah satu obyek yang ia gemari adalah figur ikan. Karya-karya sketsa maupun drawing figur-figur ikan nya mengingatkan saya pada pelukis Prancis kelahiran Tiongkok, Zao Wou-Kie. Ini bisa kita simak dari karya Zao yang berjudul “Untitled” dan karya Made Gunawan yang bertajuk “Penguasa Laut 1” yang bertahun 1996.

Pemadan yang saya maksud ini, bukan bentuk visualnya – tapi spirit, teknik, dan proses penciptaannya. Karya “Untitled” memberikan pada penikmat sekilas tentang bagaimana Zao menggunakan kaligrafi dan teknik melukis Tiongkok dengan cat air, dengan berani dan cekatan, dengan sempurna memamerkan estetika unik “difusi berlapis” dan denyar warna “monokrom” dalam lukisan sapuan tinta Tiongkok tradisional. Tak jauh berbeda dengan Made Gunawan yang acap menggabungkan teknik melukis tradisional Bali dan teknik modern.

Karya Zao tersebut mengandalkan warna primernya – beberapa corak warna– untuk mengatur nada dan ritme keseluruhan, kemudian sentuhan hitam dan biru digunakan untuk menambah kedalaman dan lapisan pada lukisannya. Efek dari difusi tersebut adalah kesan suram kuno serta fluiditas, mengingatkan pada keindahan karya lukis klasik Cina. Ini sepenuhnya menunjukkan kendali Zao atas kuas dan keterampilan dengan teknik kaligrafi Tiongkok.

Kesan lapisan tanpa batas yang diciptakan dengan warna-warna sederhana ini mengingatkan kita pada Lausanne From the West karya Joseph Turner, yang menggunakan cat air sederhana untuk membangun lanskap yang damai. Teknik yang dipergunakan Zao, tak jauh berbeda dengan teknik Made Gunawan. Baik karya-karya lamanya, maupun karya terbarunya kini. Sama dengan Zao, Gunawan, juga tak pernah berhenti mengembangkan teknik melukisnya.

Made Gunawan, “Diburu”, acrylic on canvas

Kembali ke karya “Dunia Ikan” Made Gunawan, Dalam karya ini, Made Gunawan menyampaikan pengalaman emosionalnya dengan memadukan beberapa warna. Ia juga mendistorsi figure-figur untuk menciptakan komunikasi langsung dengan penikmat. Ini membangkitkan rasa nostalgia dan kepekaan terhadap tema bahari. Karya Made Gunawan ini menonjolkan elemen visual seperti warna cerah, pola mosaik, dan komposisi yang padat. Teknik nyawi, yang menggunakan alat tradisional seperti bambu, ia pergunakan untuk menciptakan garis tegas, memberikan detail yang sangat halus pada setiap figur ikan.

Bentuk ikan yang beragam dan pola yang kompleks menciptakan harmoni visual, meskipun komposisinya penuh dan dinamis. Dalam karya ini, ikan mungkin melambangkan kehidupan laut yang kaya di Nusantara, sekaligus menjadi metafora tentang hubungan manusia dengan fauna. Warna-warna cerah seperti merah, biru, dan kuning mungkin saja bisa memengaruhi emosi penikmat, menciptakan rasa kegembiraan dan energi. Saya selaku penikmat, seperti sedang menikmati suatu karya sastra, ‘prosa liris’.

Secara konseptual, karya ini dapat diinterpretasikan sebagai simbol harmoni dan kehidupan bawah laut yang kaya, atau mungkin sebagai refleksi hubungan manusia dengan alam. Teknik yang digunakan Gunawan, yang sering memadukan seni tradisional dan modern, memberikan kedalaman pada karya ini, menjadikannya lebih dari sekadar lukisan—ia adalah cerita yang hidup. Karya Made Gunawan ini, “dunia ikan” dan “diburu”, digelar di Neka Art Museum Ubud – pada perayaan ke 29 Komunitas Seni Galang Kangin (KSGK) 18 April hingga 18 Mei 2025.

Pada lukisan ini, Gunawan menggunakan media akrilik di ataskanvas dengan detail halus, terutama pada garis dan tekstur tubuh ikan. Gaya lukisan ini bisa dikategorikan dalam neo-tradisional kontemporer – menggabungkan elemen budaya lokal (ikan sebagai simbol) dengan pendekatan abstrak-naratif.  Penggunaan outline hitam yang kuat dan pola repetitif memberikan kesan keramaian dan keteraturan sekaligus. Made Gunawan yang saya kenal, memang menggunakan gaya tradisional Bali yang dipadukan dengan sentuhan modern, seperti penggunaan warna-warna cerah, garis-garis tegas, dan pengisian bidang yang padat sebagai ciri karya lukis tradisional Bali (mirip gaya lukisan Kamasan atau Batuan).

Made Gunawan, “Dunia Ikan”, acrylic on canvas

Warna yang digunakan Gunawan sangat beragam, mulai dari merah, biru, hijau, kuning, oranye hingga coklat tanah. Kombinasi ini menciptakan suasana dinamis dan hidup. Meskipun terkesan acak, susunan ikan sebenarnya membentuk pola grid yang rapi dan sistematis, memperkuat nuansa keteraturan dalam keramaian. Latar belakang tampak seperti jalinan tekstur halus yang mungkin menggambarkan arus atau dunia bawah laut. Karya “Dunia Ikan” ini secara literal menggambarkan ekosistem laut, tetapi secara simbolis bisa dimaknai sebagai miniatur kehidupan sosial manusia. Setiap ikan berbeda warna dan ekspresi → bisa mencerminkan keanekaragaman karakter manusia dalam satu komunitas.

Dari pengamatan saya, karya Made Gunawan yang bertajuk “Dunia Ikan” ini, ada beberapa pendekatan visual dan konseptual yang bisa dibandingkan dengan perupa manca negara tertentu – bukan karena meniru, tapi karena resonansi gaya dan ide. Yang pertama, menurut tafsir saya, adalah pengaruh art brut nya Jean Dubuffet (Prancis), terutama gaya visual “penuh”, penggunaan garis hitam tebal, bentuk-bentuk seperti coretan anak-anak atau primitif yang diulang dalam grid.

Coba bandingkan figur-figur primitif Dubuffet dengan figur ikan-ikan Made Gunawan,  ada kemiripan secara teknis, bukan secara visual. Dubuffet menciptakan dunia visual yang kacau namun terstruktur – mirip dengan padatnya dunia ikan Made Gunawan. Keduanya menunjukkan minat pada keragaman karakter dalam ruang yang padat.

Disisi lain, menurut pengamatan saya – bentuk-bentuk simbolik yang sederhana, berwarna cerah, repetitif, dan penuh ritme pada karya Made Gunawan, bisa saya padankan juga dengan perupa Amerika, Keith Haring. Jika Haring banyak melukis  figur manusia, sedangkan Made Gunawan melukis figur ikan — tapi keduanya sama-sama menghidupkan makhluk sebagai ikon sosial. Karya keduanya juga bisa dibaca sebagai komentar sosial, dengan gaya naratif yang atraktif secara visual. Sebab, menurut interpretasi saya –  Made Gunawan menciptakan ‘dunia ikan’ yang imajinatif namun menyimpan makna social. Sekali lagi saya tekankan, pemadanan bukan secara visual, tapi teknik, konten dan spirit penciptaannya.

Pembahasan saya selanjutnya adalah karya Made Gunawan yang bertajuk ; “Diburu” karya Ini adalah sebuah karya yang penuh eksplorasi visual, menggambarkan hubungan antara makhluk laut – dalam suasana yang dinamis dan hidup. Ikan-ikan yang terlukis dalam karya ini memiliki warna-warna mencolok seperti merah, kuning, dan oranye, serta ornamen yang kaya, menciptakan kesan energi dan kerumitan.

Made Gunawan, “Penguasa Laut 1”, cat air di atas canvas

Melalui teknik distorsi pada figur ikan – seperti mata besar dan bentuk-bentuk ekspresif – Gunawan menyampaikan keunikan tiap anggota dalam “keluarga ikan”. Selain itu, pola berputar di latar belakang memperkaya estetika karya, sekaligus memberikan rasa harmoni dalam kompleksitas. Kemudian, melalui pendekatan semiotika – setiap elemen dalam karya ini dapat dipandang sebagai tanda. Maksudnya, bagaimana simbol ikan digunakan sebagai representasi hubungan keluarga, ekosistem, atau bahkan refleksi kehidupan masyarakat.

Sementara itu, distorsi figur adalah representasi makna tersirat dari pengalaman subjektif seniman terhadap tema ikan pada perjalanan hidupnya. Warna-warna yang digunakan memberikan pesan simbolis tentang dinamika emosi yang terkait. Karya ini dapat dikaitkan dengan isu ekologi, khususnya tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut. Seni rupa, memang acap digunakan sebagai medium untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan, dan “Diburu” menyampaikan pesan ini melalui visual yang dinamis.

Karya Made Gunawan ini merupakan pertemuan harmonis antara tradisi Bali dan estetika kontemporer. Di dalam lukisan tersebut, seniman menampilkan motif-motif dekoratif yang rumit dan dinamis, menggabungkan unsur alam dan mitologi. Elemen-elemen seperti makhluk-makhluk bermuka besar dengan ekspresi yang kuat dan detail ornamen yang teliti menyiratkan narasi tentang keterikatan manusia dengan alam serta kekuatan spiritual yang mendasari kehidupan. Ini, menurut saya, sebuah cerminan dari filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan antara manusia, alam, dan roh

Dari segi komposisi, penggunaan palet warna yang kuat, misalnya perpaduan merah, kuning, dan oranye, menghadirkan energi dan vitalitas yang dominan. Latar belakang yang bergradasi dari pola bersisik merah menuju corak bergelombang biru menciptakan kontras visual sekaligus memberikan ruang bagi imajinasi penikmat untuk merenungi dualitas antara kekuatan dan ketenangan.

Zao Wou Kie, Untitled, 1950, paper

, “Detail pada setiap bentuk, dari garis tegas hingga lekukan halus, menunjukkan keahlian teknik dan imajinasi yang tinggi, membuat setiap bagian dari karya ini bercerita tentang siklus kehidupan dan transformasi alam . Oleh karenanya karya Diburu yang memiliki kekayaan komposisi dan penggunaan palet warna yang sangat intens – menurut saya, beberapa aspek‑nya memang bisa disandingkan dengan karya perupa seperti Dubuffet, meskipun dengan nuansa yang agak berbeda secara kultural dan konseptual.

Seperti kita ketahui, Dubuffet dikenal karena pendekatan “Art Brut”-nya yang mengutamakan kekasaran, spontanitas, dan penggunaan tekstur yang tampak mentah. Gaya ini, menekankan ekspresi yang bebas tanpa banyak aturan formal dan sering kali mengungkapkan emosi dalam bentuk yang sangat langsung.

Dalam karya Diburu, meskipun penggunaan palet merah, kuning, dan oranye menciptakan energi dan vitalitas yang sejalan dengan intensitas emosional yang mungkin ditemukan dalam karya Dubuffet – namun, Made Gunawan mengintegrasikan elemen-elemen simbolis dan teknis yang kental dengan tradisi Bali. Misalnya, gradasi latar belakang yang berubah dari pola sisik merah ke corak bergelombang biru tidak hanya menyampaikan kontras visual – namun juga mengajak penikmat merenungi dualitas kekuatan dan ketenangan yang merupakan bagian dari filosofi alam dan kehidupan. Dalam konteks inilah, perbandingan dengan Dubuffet ada pada sisi penggunaan warna dan dinamika visual, namun pendekatan Gunawan lebih terikat pada makna simbolis dan kearifan lokal.


Wassily Kandinsky, ” Study for Composition II”, oil on canvas

Selain Dubuffet, karya dengan dinamika warna yang kuat dan komposisi ekspresif juga dapat mengingatkan pada perupa ekspresionis seperti Wassily Kandinsky. Kandinsky kerap mengeksplorasi hubungan antara bentuk, warna, dan irama yang diartikulasikan melalui bentuk-bentuk abstrak. Ini, menghadirkan energi sekaligus spiritualitas melalui komposisi yang harmonis namun penuh getar. Sementara itu, Made Gunawan dengan sapuan kuas yang tegas dan palet warna yang emosional menggambarkan alam dan suasana batin dengan intensitas yang mendalam. Itu perbedaannya.

Kunci perbedaan lainnya, terletak pada akar budaya dan teknik tradisional yang digunakan Gunawan, yang dengan cemerlang memadukan warisan lokal dengan teknik modern untuk menarasikan siklus kehidupan dan transformasi alam. Selain itu, keunikan teknik melukis tradisional Bali  pada karya Diburu, ini bisa kita telisik dari penggunaan garis tegas dan detail tekstur yang dihasilkan oleh teknik Nyawi. Disisi lain, bisa kita amati kepiawaian Gunawan dalam memaparkan simbolisme yang merujuk pada kekuatan alam, siklus kehidupan, dan filosofi lokal. Dengan demikian, meski secara visual terdapat persamaan dalam hal penggunaan warna dan komposisi ekspresif, konteks kultural dan cara penyampaian narasi dalam karya Gunawan memberikan identitas yang berbeda dan unik. Oleh karenanya, perkenankan saya memberikan istilah ‘prosa liris visual’ pada karya rupa Made Gunawan. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa
Satire Visual Wayan Setem
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
Tags: I Made GunawanKomunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengharapkan Peran Serta Anak Muda untuk Mengembalikan Vitalitas Pusat Kota Denpasar

Next Post

Meningkat, Antusiasme Warga Muslim Bali Membuka Tabungan Haji di BSI Kantor Cabang Buleleng

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
Meningkat, Antusiasme Warga Muslim Bali Membuka Tabungan Haji di BSI Kantor Cabang Buleleng

Meningkat, Antusiasme Warga Muslim Bali Membuka Tabungan Haji di BSI Kantor Cabang Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co