12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Angelique Maria Cuaca by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
in Ulas Rupa
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa dalam potongan kecil—setelah lama terbenam waktu?

Ketika arsip-arsip itu perlahan bergerak kembali, menyeberangi ruang dan generasi, bertemu dengan tubuh yang berbeda, dan berkelindan dengan teknologi yang membentuk ulang cara kita mendengar; bagaimana suara bisa membuka kemungkinan lain untuk membaca sejarah, dari titik dengar yang lebih jujur dan inklusif?

Dua pertanyaan ini menjadi titik awal untuk menyelami karya audio-visual dari Andi Nur Azimah dan Kezia C. Y. Rantung, dalam kuratorial Golden Hibernation. Kuratorial ini bekerja dengan kesadaran bahwa banyak hal tidak pernah hadir sebagai cerita utuh. Semua susunan dari keringkihan dan fragmentasi pada karya kedua seniman merupakan resonansi dari narasi yang terendap.

Dalam konteks itu, Golden Hibernation dibayangkan sebagai sebuah keadaan—di mana sesuatu yang berharga, seperti ingatan, bunyi, atau pengetahuan lainnya, tertidur di bawah lapisan waktu dan kuasa. Ia tidak lenyap, hanya tertimbun di antara arsip-arsip mapan, menunggu eksplorasi yang dapat membangunkannya kembali.

Dan sonic agency menjadi siasat subversif. Brandon LaBelle (2018) menatapnya sebagai pertautan antara pengalaman tubuh, pengetahuan bunyi, dan praktik mendengarkan sebuah sensibilitas yang mampu mengendus arus kuasa, meretakkan tatanan yang mengeras, dan membuka kemungkinan dunia yang tumbuh diluar wacana yang mapan.

Re-Listening and Re-activating From Below

Re-Listening and Re-activating From Below membuka jalur untuk membaca audiovisual sebagai medan epistemik. Praktik ini membentukruang resonansi untuk pengalaman yang lebihsensitif, mengkritisi persepsi, dan membukaberbagai kemungkinan interpretasi. Suara danvisual bergerak dalam satu anyaman ritmis yangterbuka; tempat gangguan, bayangan, dan potongan bentuk saling menjawab. Dari ketegangan kecil itu, muncul ruang bagi pengalamanyang selama ini berada di pinggir untuk bersuara.Ia memberi napas pada ingatan lokal, menyatukan tubuh dengan jejak sejarah, dan mengangkatnarasi yang pernah tenggelam sambil tetap menatap ke depan.

Sonic agency, membagi suara ke dalam empat figur: the invisible—yang menyingkap hal-hal tersembunyi, the overheard—kebocoran yang mampu menciptakan kebersamaan tak terduga, the Itinerant—yang menembus ruang dan waktu, tentang mobilitas dan relasi transnasional, dan the weakend—yang tampak rapuh dan tak rapi namun menyimpan kekuatan dan perlawanan.

Setiap figur membuka cara memahami relasi sosial, marginalitas, dan keterkaitan yang rumit, sambil menantang konvensi ruang publik. Dalam perspektif dunia Selatan, figur-figur ini juga menghadirkan kritik terhadap epistemologi dominan, menantang struktur narasi hegemonik dan memberi ruang bagi suara yang samar. Ke-empatnya memberi kerangka untuk menyimak lebih dalam karya Azimah dan Kezia.

Dari Kultur ke Ruang Urban: Cara Baru Menyimak Ingatan

Di tengah ritme kota yang tak pernah betul-betul hening, arsip kadang muncul bukan sebagai benda, melainkan gema kecil yang terselip di antara lalu lintas bunyi. Dari celah itu, Sinriliq—sastra tutur Makassar—melampaui ruang kulturnya, menyentuh tubuh-tubuh baru yang mencoba mendengarnya dengan kepekaan yang berbeda. Azimah membawa ingatan ini menuju ruang urban. Ia tidak sedang mengambil alih posisi Pasinriliq—pencerita laki-laki. Ia hadir dengan tatapan perempuan yang menambah kedalaman pada narasi berusia panjang, membuat Sinriliq bergerak ke ruang dengar yang lebih cair—bukan karena bergeser dari akar, tetapi karena disentuh oleh perspektif yang sebelumnya jarang mendekat.

Perjalanan Sinriliq sendiri hidup dalam perubahan yang panjang. Pada mulanya ia beredar sepenuhnya sebagai tutur: diwariskan lewat hafalan, improvisasi, dan hubungan langsung antara pencerita dan pendengar. Ingatan menjadi pusatnya—bukan teks—sehingga setiap penuturan memuat kehadiran ruang, napas, dan pengalaman pribadi yang tak pernah sama.

Ketika sebagian kisah kemudian dituangkan ke dalam aksara Lontara lalu ke huruf latin, dari bahasa Makassar ke Belanda lalu Melayu, Sinriliq memasuki ruang arsip yang berbeda.

Penulisan ini memberi keteguhan tertentu, tetapi juga mengubah cara tubuh mengingat: improvisasi mengerut, alur yang lentur menjadi lebih terjaga, dan ingatan yang sebelumnya bergerak bersama suara mulai tumbuh akar di halaman. Namun penulisan tidak pernah sepenuhnya menutup ruang tutur. Lontara bekerja sebagai semacam penyangga—catatan yang tidak menggantikan cerita, melainkan membantu menahan fragmen yang rawan hilang.

Memasuki abad ke-20 dan seterusnya, Sinriliq bergerak lagi melalui rekaman teknologis. Dari pita kaset, radio lokal, arsip bunyi membuka bentuk baru bagi perjalanan cerita ini. Kehadiran rekaman membuat Sinriliq dapat melintasi jarak tanpa kehadiran pencerita; ia bergerak ke ruang domestik, ruang perantauan, bahkan ke generasi yang tidak lagi hidup dekat dengan penuturnya. Namun, seperti Lontara, rekaman juga membawa retakan yang khas: suara yang terpotong, interferensi, atau kelelahan pita yang menciptakan sejarah alternatif, sejarah yang disimpan oleh fragmentasi kecil.

Kini, transformasi itu berlanjut ke bentuk digital dan kerja artistik. Cerita yang dulu mengandalkan ingatan dan ruang dengar intim, kini hadir melalui kolase audio, pemetaan visual, atau komposisi elektronik. Meski medium berubah, prinsip dasarnya tetap: Sinriliq hidup karena ia berpindah, dan setiap perpindahan menyimpan tafsir baru atas hubungan antara suara, tubuh, dan sejarah.

Dalam konteks ini, kerja Azimah membaca jejak transformasi itu—dari tutur cair, ke Lontara yang tetap, dari bahasa satu ke bahasa yang lainnya, ke rekaman yang retak—lalu meresponsnya dengan bentuk yang memungkinkan tradisi bernapas di ruang hari ini tanpa harus kehilangan lapisan tubuh yang dulu menjaganya.

Pada perjumpaan ini, arsip tampak hidup kembali: ia tidak beku, tidak mengulangi dirinya, tetapi menyesuaikan bentuknya terhadap ruang yang berubah pelan dari generasi ke generasi.

Melalui karya-karyanya, Azimah mencoba mengekplorasi: bagaimana telinga menyesuaikan diri, bagaimana tubuh membaca jeda, bagaimana ingatan membuka lapisan yang dulu dibiarkan lewat begitu saja.

I MULLI DAENG MASSAYANG, SURO PASSITANRINGANG. artist: Azimah Fada. Two channel audio compositions, archives, digital collage on paper. | Foto Like

Perjumpaan Azimah dengan kaset-kaset lama milik ayahnya menjadi pintu balik bagi perhatian pada arsip vernakular. Sebagai anak dari keluarga seniman musik Makassar, pendengarannya dibentuk sejak kecil oleh ritme yang menempel di keseharian—latihan alat musik di rumah, perbincangan para pemain, dan napas lagu-lagu yang dibiarkan mengalir tanpa panggung.

Kelekatan awal inilah yang membuatnya membaca arsip bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai tubuh kedua yang memerlukan perawatan. Di sini, arsip tidak bekerja seperti dokumen resmi yang menuntut akurasi, tetapi sebagai jejak akustik yang meminta kedekatan tubuh untuk dapat dibaca. Ia adalah pengetahuan yang hidup melalui kerusakan kecilnya: pita yang aus, jeda yang patah, suara yang tertahan. Semua itu menjadi bagian dari narasi, bukan gangguan.

Dari sana, dua komposisi bunyinya bekerja seperti jendela kecil yang dibuka perlahan. Desir samar atau gesekan tak sempurna mengingatkan bahwa sejarah bukan sesuatu yang utuh, melainkan rajutan yang terus dirangkai ulang. Kolase digital yang menyertai karya Azimah men-

jadi jembatan menuju dunia sonik, sekaligus mengikat dua komposisi menjadi satu tubuh pengalaman. Visualnya dimaknai sebagai gelombang audio—bukan secara teknis, tetapi sebagai cara membayangkan aliran ingatan. Di dalamnya tersimpan fragmen perjalanan: foto-foto penelusuran Sinriliq, jejak ingatan tentang Makassar, patahan tradisi yang terus bergeser, hingga sosok perempuan yang sayup-sayup dalam kisah-kisah lama.

Dalam I Mulli Daeng Massayang, penataan suara membuat pusat narasi terasa bergeser; fokus tidak lagi tunggal, Sinriliq, dapat muncul tanpa menabrak rumah Sinriliq itu sendiri. I Mulli Daeng Massayang merupakan tokoh perempuan di dalam cerita Sinriliq I Maddi Daeng Rimakka. Pada tutur awalnya,I Mulli Daeng Massayang dihadirkan sebagai peran ke-2 setelah I Maddi Daeng Rimakka (suaminya I Mulli yang jadi tokoh Utama). Azimah menjadikan I Mulli Daeng Massayang sebagai tokoh utama, hingga sudut pandang berpindah dari laki-laki ke sudut pandang perempuan.

Sedangkan dalam karya Suro Passitanringang, Azimah membuka lapisan lain: perjalanan tuturan yang melampaui alfabet dan perubahan zaman. Di sini arsip terasa sebagai perjalanan yang tidak tercatat, tetapi diingat oleh tubuh: bagaimana tempo ditarik, bagaimana suara menua, bagaimana cerita menyesuaikan diri dengan ruang yang ditempatinya. Azimah memberi perhatian pada sela-sela—bagian yang sering dilewati karena dianggap kecil, padahal di sanalah masyarakat menaruh cara mereka memahami diri.

Eksplorasi Azimah dengan sahabatnya, Arief Daeng Rate—pasinriliq muda— selama beberapa tahun terakhir di Sulawesi Selatan memperlihatkan bahwa tradisi tidak pernah benar-benar diam. Di balik pergeseran nada atau pemilihan kata selalu ada percakapan panjang. Mereka menelusuri naskah lama bukan untuk memperbaiki, tetapi mencari tempat di mana napas perempuan pernah muncul namun terasa tipis. Dari sana lahir kemungkinan bentuk cerita yang tetap setia pada akar Sinriliq sambil memberi I Mulli pijakan yang lebih utuh.

Instrumen Makassar—Kecaping, Gesok-gesok, Gandrang Bulo, Pui-pui, hingga tutur pasinriliq—bertemu dengan bass, keyboard, dan perangkat elektronik. Pertemuan ini menjadi penanda lintasan waktu: bukan penggantian, melainkan pengakuan bahwa memori juga bergerak mengikuti tubuh yang berubah.

Distorsi, noise, dan serpihan bunyi ia gunakan bukan sekadar pilihan estetika, tetapi sebagai cara menangkap sifat ingatan yang bekerja lewat bayangan dan getaran. Teknologi menjadi perpanjangan dari pendengaran; alat untuk menyimak resonansi yang mungkin tidak tertangkap di pertunjukan lisan.

Kolase digital yang menyertai dua komposisi itu bekerja seperti halaman yang tidak pernah ditulis dalam manuskrip. Ia bukan ilustrasi atau penjelasan, tetapi ruang tempat memori singgah sebentar sebelum bergerak lagi. Potongan arsip, warna, dan bentuk membangun lanskap kecil di mana sejarah, pengalaman perempuan, dan pergeseran zaman bertemu tanpa harus saling menyempurnakan. Bentuknya yang memanjang seperti gulungan membuat kita merasa sedang menelusuri baris ingatan yang berlapis dan penuh jeda.

Visual ini membuka gerak silang antara mendengar dan melihat. Pendengar tidak hanya menampung bunyi, tetapi juga memetakan ritme melalui mata—mendapati bahwa beberapa ingatan menyelinap ke detail kecil, beberapa menghilang di ambang warna, dan lainnya muncul ketika bunyi bergerak di sekitarnya. Dengan cara itu, visual menjadi perangkat tafsir yang memperluas kemungkinan membaca Sinriliq di ruang kontemporer.

Perhatian utama Azimah terletak pada ruang-ruang yang tak diucapkan. Setiap cerita menyimpan jeda—karena adat, sejarah, atau ketidakseimbangan yang telah lama dianggap lumrah. Ia menyimak jeda ini dengan kesabaran pembaca arsip: tidak terburu-buru dan tidak mencari kesimpulan cepat. Justru di situlah petunjuk sering muncul—di retakan, di bagian yang belum selesai, di celah yang memberi kesempatan untuk memahami ulang.

Dalam kerja Azimah, ada wilayah-wilayah yang justru berbicara lewat ketiadaan. Pada Suro Pasitanringan, ruang gelap yang ia biarkan utuh membuat kemunculan I Mulli terasa perlahan, seperti cahaya yang ragu-ragu. Suara perempuan yang lama terlewat tidak ditonjolkan, hanya diberi kesempatan untuk terdengar. Ketidakjelasan di sini bukan hambatan, melainkan cara lain untuk tahu dari mana sebuah tradisi bernafas.

Pada saat yang sama, ia menangkap bunyi-bunyi yang tidak sengaja ikut terbawa: desahan narator, sisa frekuensi kota dalam tubuh pencerita, serpihan kata yang tersangkut di rekaman. Bunyi bocor ini memperlihatkan bahwa tradisi tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu bergaul dengan kehidupan yang mengelilinginya. Dari kebocoran kecil itu, Sinriliq tampak bergerak seperti percakapan yang tidak selesai.

Mobilitas juga menjadi bagian dari napasnya. Sinriliq hidup karena berpindah—dari mulut ke mulut, dari ritual ke ruang urban. Ia hadir sebagai perjalanan yang tidak selalu terlihat, tetapi dapat dirasakan sebagai getaran yang terus dirakit ulang setiap kali dituturkan. Azimah menangkap pergerakan senyap ini dan menempatkannya sebagai bagian dari struktur dengar yang membentuk karya.

Dan ada pula sisi tradisi yang rapuh, yang tidak disembunyikan: suara yang goyah, tarikan napas yang berat, atau alur cerita yang menumbuhkan ribuan pertanyaan. Alih-alih menutupinya, Azimah membiarkan retakan itu tinggal. Dari sana, lahir cara merawat yang lebih lembut— mengakui bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari tubuh yang membawa sejarah panjang.

Lewat karyanya, Azimah menawarkan cara mendengar yang lebih cair dan inklusif: menerima yang samar tanpa memaksanya terang, menyambut kebocoran sebagai bagian dari cerita, mengikuti perjalanan yang tak selalu tampak, dan merawat kelemahan sebagai pengetahuan manusiawi.

Di Antara Retakan Memori dan Nada yang Patah: Jejak, Pencarian, dan Ruang

Di antara retakan memori dan nada yang patah, sejarah berbisik melalui celah-celah yang jarang disentuh. Di situlah jejak lama bertemu pencarian baru, di mana fragmen kata, napas, dan ritme yang terlupakan menembus, membentuk ruang dengar yang cair dan rapuh sekaligus.

LISTENING ANCESTRAL MEMORIES FROM THE FUTURE / ADA, REPETISI, ADA, ADA, ADA. Artist: Kezia Celinda Yanti Rantung. Single Channel Video Performance Installation | foto Liqe

Kezia melalui karya video berjudul Listening Ancestral Memories from the Future (Ada,Repetisi, Distorsi, Ada, Ada, Ada) menelusuri arsip keluarga dan tradisi lisan Pasan–Minahasa melalui fragmen yang tersisa: catatan yang tak lengkap, mantra yang diwariskan secara oral, dan ritme tutur yang samar dalam ingatan. Fragmen ini memberi peluang baginya untuk menafsirkan arsip-arsip tersebut dengan estetika masa kini, menggunakan teknologi media yang menjadi pilihannya selama ini.

Perempuan itu berdiri mengenakan pakaian kabasaran—bukan sekadar kostum, tetapi lapisan pelindung tubuh, penanda sejarah dan asal kelahiran, serta simbol keberanian menempati ruang yang sarat luka dan ingatan. Tambur dan alat musik bambu di tangannya memanggil ritme lama, yang kemudian ia masukkan ke looper: pukulan demi pukulan memantul, menumpuk, patah, dan kembali ke telinganya sendiri, menciptakan jaringan suara yang hidup antara tubuh dan ruang.

Kezia membaca arsip kakeknya, seorang pejuang pada masa konflik tahun 1957 di Sulawesi Utara, seorang yang hidup dengan trauma yang tabu untuk diucapkan. Sejak usia dua puluhan, jauh sebelum usianya melampaui delapan dekade hari ini, sang kakek mulai merawat arsip sejarah serta bahasa Pasan yang makin terancam hilang. Ia mengumpulkan potongan koran, menyalin ingatan soal tradisi budaya Pasan di kertas tulis tangan, lalu mengetiknya dengan rapi sebagai upaya menjaga jejak sejarah leluhurnya agar tidak lenyap. Kezia melanjutkan kerja perawatan itu lewat karyanya, menyambung ingatan yang pernah disusun dengan ketekunan senyap.

Catatan, fragmen mantra, dan ritme tutur Mandong—Sastra Tutur Pasan—menjadi medium bagi tubuhnya untuk menavigasi memori yang nyaris hilang. Setiap kata dalam bahasa Pasan, Minahasa, atau Indonesia yang dihadirkannya dalam karya bukan sekadar bunyi, tetapi garis waktu yang membentang: masa lalu yang tersisa, masa kini yang membentuknya, dan masa depan yang dapat dibayangkan melalui tatapan lembut terhadap suara.

Untuk menangkap getaran itu, ia menggunakan mikrofon, amplfier, dan looper. Mikrofon menangkap napas, pukulan, dan mantra yang nyaris pudar; amplifier memberi ruang agar gema menyebar ke seluruh ruang dengar; sementara looper menumpuk, memutar, dan memberi jeda pada fragmen suara, memungkinkan ritme, patahan kata, dan kesunyian terdengar sebagai lapisan waktu yang hidup. Material teknologi ini menjadi perpanjangan tubuh dan telinganya, memfasilitasi interaksi antara ingatan, suara, dan ruang.

Bunyi berdenging muncul di antara lapisan suara: napas tubuhnya, pukulan tambur, patahan kata dari mantra Mandong, dan gema yang terus memantul. Dengungan itu membuka dimensi lain dari arsip—yang tidak terlihat, tersisih, dan rapuh. Tubuhnya menjadi resonator yang menahan, menyimak, dan memberi ruang bagi fragmen yang nyaris hilang untuk menempati ruang dengar.

Ia mulai menelusuri sejarah Pasan, membaca ritual, mantra, dan lagu-lagu gereja dalam bahasa yang berbeda, menempatkan semuanya ke dalam lingkaran bunyi yang terus berputar. Tubuhnya ikut bergerak: tangan menabuh tambur, napas tertahan, langkah bergeser. Setiap lapisan suara membuka celah bagi solidaritas yang tak terlihat, bagi suara yang tersisih untuk beresonansi, dan bagi ruang bagi imajinasi yang bergerak di antara kehadiran dan ketidakhadiran.

Ketika semua lapisan berhenti, looping dimainkan satu per satu, hingga hanya tersisa suaranya sendiri—jernih, polos, penuh perhatian. Di sana, ia menutup lingkaran dengan menyanyikan lagu dari bahasa Pasan: Mapiho’ e Pahasa Yak… wotele ikite wu kaneren, artinya “Pulihlah bahasaku…marilah kita ke masa depan.” Nada itu menembus ruang, memurnikan gema tubuh, ritme Mandong, distorsi, dan fragmen yang telah hidup selama proses itu. Bahasa yang nyaris punah seolah menemukan pijakan baru; tradisi bertahan bukan sekadar melalui pengulangan, tetapi melalui cara ia hadir dan disimak, rapuh, patah, namun tetap hidup.

Video yang merekam seluruh proses bukan sekadar dokumentasi. Kamera menjadi telinga kedua, menangkap getaran, patahan, dan resonansi yang hanya bisa dipahami melalui kepekaan terhadap ruang dan suara. Setiap frame—tangan, napas, mulut, wajah Kezia menunjukkan bagaimana arsip diam dapat diaktifkan dan kembali. Ia hadir bukan untuk mengulang sejarah secara literal, tetapi untuk membuka pengalaman mendengar, memperluas kesadaran tentang ketidakhadiran, memori retak, dan cara sejarah hidup melalui tubuh yang mendengarnya.

Karya Kezia meleburkan suara yang tidak selalu hadir penuh, yang tersisih atau patah, memberi ruang bagi pendengaran etis; kebocoran, distorsi, dan resonansi yang tidak stabil menandai lapisan sosial, trauma, dan mobilitas; tubuh rapuh dan lelah menjadi medium bagi estetika yang jujur; suara yang bergerak membuka ruang bagi solidaritas dan imajinasi. Semua itu muncul secara natural, bukan teori, tetapi pengalaman mendengar dan terlibat dengan arsip—ruang di mana masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan bertemu dalam getaran, jeda, nada yang patah, dan mulut yang menjadi alat primodial manusia.

Ketika nada berhenti, tubuh tenang, dan semua lapisan suara lenyap, tersisa hanya keheningan yang rapuh dan jernih. Lagu dalam bahasa Pasan terdengar sebagai napas terakhir yang menutup lingkaran, janji bahwa ingatan dan pengetahuan akan bertahan melalui perhatian, kepekaan, dan keberanian untuk hadir.

Di antara patahan suara dan getaran yang tersisa, muncul kesadaran bahwa luka, kegagapan, dan fragmen tak utuh bukan kelemahan, tetapi medium untuk membangun solidaritas, imajinasi, dan hubungan baru dengan masa lalu. Nada yang patah adalah ruang bagi masa kini untuk menyimak, dan bagi masa depan untuk merawat—sebuah ingatan yang bergerak, rapuh namun teguh, hadir bukan sebagai pengulangan, tetapi sebagai kehidupan yang terus mengalir.

Golden Hibernation: Resonansi, Fragmen, dan Tubuh yang Mendengar

“What you want to hear, you hear not. For, what finds its way out from the underground and the out there is spoken in rhythms and tones, in a language that solicits a different hearing.” — (Trinh T. Minh- ha, Elsewhere, Within Here)

Di tengah kondisi politik kontemporer—di mana suara minoritas sering terpinggirkan, narasi resmi mendominasi, dan ruang publik dibentuk oleh wacana yang mapan—karya Azimah dan Kezia hadir sebagai praktik kritis dan sensitif. Mereka tidak sekadar merekam ingatan; mereka membangunkan arsip yang tertidur, membuka kemungkinan mendengar dari perspektif yang selama ini diabaikan.

Azimah menekankan perjalanan arsip verbal—dari tutur cair Sinriliq ke Lontara, pita kaset, hingga kolase digital—di mana suara bergerak menyesuaikan diri dengan tubuh baru, jeda memberi kesempatan untuk hadir tanpa dominasi.

Kezia menegaskan tubuh sebagai medium, mulut sebagai musik purba, dan teknologi sebagai perpanjangan telinga; looper, mikrofon, dan amplifier membentuk jaringan fragmen yang hidup, memberi ruang bagi patahan untuk terdengar. Karya kedua seniman ini menjadikan patahan dan fragmen sebagai medium, bukan gangguan, menghadirkan arsip yang rapuh namun hidup.

Kehadiran barcode pada kedua karya menjadi niat artistik untuk menjaga suara tetap bergerak—tidak menetap di ruang pameran, tetapi terus berpindah, diperdengarkan ulang, dan disentuh oleh pendengar yang hadir. Praktik ini menegaskan bahwa arsip, tubuh, dan suara saling bertaut, membentuk medan dengar di mana sejarah, ingatan, dan pengalaman minoritas bisa hadir tanpa disempurnakan oleh narasi dominan.

Visual kolase dan interaksi tubuh dengan bunyi menegaskan arsip sebagai tubuh kedua yang hidup, di mana patahan kata, jeda, dan gema menjadi lapisan waktu yang bisa dibaca secara sensitif.

Golden Hibernation mengajak kita mengerti bahwa fragmen patah bukan kelemahan; ia adalah medium bagi masa kini untuk menyimak, dan bagi masa depan untuk merawat. Ingatan dan tradisi tetap hidup ketika kita hadir dengan telinga dan tubuh yang sensitif—mengalir dari arsip ke tubuh, dari nada ke kesadaran, sambil menegaskan urgensi politik dan sosialnya hari ini. [T]

Referensi:

  • LaBelle, B. (2018). Sonic Agency: Sound and Emergent Forms of Resistance. Goldsmiths Press.
  • Footage Journal. (2025, November 3). MTN Public Lecture – Martin Suryajaya: What It Means to Be Contemporary [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=TnjBdvSeD88
  • Parawansa, P. (1992). Sastra Sinrilik Makassar (First edition). Department of Education and Culture.
  • Matthes, B. F. (1860). Makassaarsche Chrestomathie: Original Makassarese Writings, Published in Prose and Poetry, Annotated, and Partially Translated. Netherlands Bible Society.
  • Muh. Akbar S. (2022, July 3). Sinrilik Kesok-Kesok | Maddi Daeng ri Makka by Arif Rate // Makassar Oral Literature [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=il3GiiAvmwA
  • Rantung, K., Azimah, A. N., Parensen, V. L., & Mundzira, K. (2025, November 18). Intersections of Public & Personal Archives: Critique! Rules of the Game [Artist talk]. National Gallery of Indonesia.
  • Kezia C. Y. Rantung. (1997). Brief History of Wawali. Manuscript. Collection of Kezia’s grandfather.
  •  Kezia C. Y. Rantung. (2002–2008). Newspaper Clippings on Tou Pasan and Minahasa. Collection of Kezia’s grandfather.

Catatan:

Golden Hibernation adalah satu dari dua belas kuratorial dalam Pameran MTN Lab: Residensi Jakarta — “Rules of the Game” (16 November–15 Desember 2025). Tulisan ini sebelumnya dimuat dalam buku katalog MTN Rules of the Game, yang menghimpun tulisan kuratorial dan dokumentasi pameran MTN Lab Residensi Seni Rupa Jakarta, diselenggarakan oleh Forum Lenteng (2025).

Jika ingin membaca lebih lengkap, buku katalog MTN Rules of the Game bisa mengunduhnya di link: https://forms.gle/Vc75KAXvgE5358Tf6

Pameran “Rules of the Game” merupakan penutup rangkaian residensi. Setelah melewati proses belajar, refleksi, dan diskusi dengan fasilitator serta sesama partisipan, gagasan-gagasan itu diterjemahkan ke dalam kerja kuratorial dan karya seni. Sebanyak 12 kurator dan 28 seniman dari berbagai daerah di Indonesia merumuskan bentuk, ruang, dan wacana untuk mempresentasikan temuan artistik mereka kepada publik—sebuah upaya merangkai pengetahuan baru dari perjumpaan, percobaan, dan kerja kolaboratif selama residensi.

Penulis: Angelique Maria Cuaca
Editor: Adnyana Ole

Tags: MTN Seni BudayaPameran Seni RupaResidensi MTN LabSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gatholoco: Sosok Kontroversial, Entah Siapa Kini

Next Post

Mengapa Desain Tradisonal Kembali Populer?

Angelique Maria Cuaca

Angelique Maria Cuaca

Atau, Tjoa Sian Hui. Lahir di Padang-Sumatera Barat. Penulis, peneliti, penggiat seni dan Hak Asasi Manusia.

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Mengapa Desain Tradisonal Kembali Populer?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co