13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Desain Tradisonal Kembali Populer?

Muhammad Syahrul Wafda by Muhammad Syahrul Wafda
January 12, 2026
in Esai
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Muhammad Syahrul Wafda

Di tengah pesatnya arus visualmodern yang serba minimalis, desain tradisional justru kembali mencuri perhatian. Kita dapat menemuinya seperti motif batik muncul di brand streetwear, ilustrasi wayang menghiasi poster konser musik, aksara lokal digunakan pada kemasan kopi kekinian, hingga ornamen etnik tampil percaya diri di feed insgatam anak muda.

Fenomena ini menjadi menarik, sebab desain tradisional sempat dianggap kuno, berat dan tidak relevan dengan selera generasi digital. Namun kini hadir kembali bukan sebagai nostalgia semata, melainkan sebagai bahasa visual yang baru. Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan, mengapa desain tradisional kembali populer di era yang begitu modern dan serba cepat?

Kejenuhan Visual Modern

Salah satu jawabannya bisa terletak pada kejenuhan. Dalam beberapa tahun terakhir, kita hidup di tengah visual yang nyaris seragam. Font sans serif yang mirip satu sama lain, palet warna netral, layout bersih dengan ruang kosong berlimpah, serta gaya minimalis yang diulang terus-menerus.

Gaya tersebut sering disebut dengan flat design. Flat Design merupakan gaya desain yang menonjolkan aspek pendekatan karakter minimalism (kesederhanaan), usefulness (kegunaan), dan cleanliness (kerapian) (Yasa, dkk. (2022:221). Sehingga dapat dikatakan bahwa desain yang dihasilkan nantinya akan terkesan sederhana dengan tampilan yang datar. Desain seperti itu memang fungsional dan efisien, tetapi pada titik tertentu ia kehilangan keunikan.

Di media sosial, kejenuhan mulai terasa. Saat kita scrolling layar handphone, banyak sekali kita jumpai konten visual hadir dengan gaya yang hampir sama. Di sinilah desain tradisonal menawarkan sesuatu yang berbeda. Membawa kesan detail, tekstur dan keberagaman akan bentuk, sehingga terasa “ramai” dan disitulah muncul daya tariknya. Desain tradisional menjadi semacam gerakan dari seorang desainer untuk menciptakan tren terhadap jenuhnya visual yang terlalu flat dan homogen.

Desain Tradisional sebagai Pembawa Cerita

Kalau coba kita amati kebanyakan desain modern beorientasi pada fungsi dan estetika semata, sedangkan desain tradisional bisa membawa cerita disitu. Seperti motif batik, ukiran atau ilustrasi tradisional tidak lahir dari ruang kosong. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai dan filosofi yang dapat diwariskan lintas generasi.

Di era komunikasi visual saat ini, audience mulai tertarik dengan makna di baliknya. Tidak lagi hanya mementingkan pada tampilan yang indah. Kita hidup di zaman di mana storytelling bisa menjadi point kunci. Definisi storytelling itu sendiri merupakan seni menggambarkan peristiwa nyata atau nonfiksi menggunakan gambar atau suara, termasuk pengalaman pribadi dan pembelajaran hidup (Oliver, 2008). Desain tradisional menawarkan narasi yang autentik, sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh template desain global. Karena dari setiap visual memiliki cerita yang terasa lebih manusiawi dan bermakna.

Identitas di Tengah Arus Globalisasi

Hal ini berkaitan juga dengan popularitas desain tradisonal sebagai bentuk pencarian identitas. Globalisasi membuat batas budaya semakin kabur. Mulai dari brand, produk, bahkan gaya hidup sering kali terlihat serupa, tak peduli berasal dari negara mana. Dalam situasi ini, desain tradisional hadir sebagai penanda identitas visual yang membedakan. Seperti contoh brand lokal sepatu Aerostreet yang kolaborasi dengan “Wonderful Indonesia”, membuat sepatu dengan motif ukiran dan batik di Indonesia.

Bagi banyak kreator dan brand lokal, penggunaan elemen tradisional bukan sekadar pilihan estetika, melainkan pernyataan sikap. Ia menjadi cara untuk mengatakan bahwa modernitas tidak harus menghapus akar budaya. Justru, nilai lokal bisa menjadi kekuatan di tengah pasar global yang kompetitif.

Peran Generasi Muda dan Media Sosial

Salah satu poin menariknya, kebangkitan desain tradisional justru banyak dipelopori oleh generasi muda. Generasi ini yang lahir dan tumbuh di era digital justru tidak melihat tradisi ini sebagai sesuatu yang sakral dan kaku. Mereka berani mencoba berkreasi, memadukan dan mendistorsi visual tradisional agar sesuai dengan konteks zaman. Seperti beberapa brand lokal yang menggunakan model anak muda sebagai bentuk kampanyenya, seperti contoh dari brand Bateeq yang membuat pakaian bermotif batik untuk Laki-laki dan perempuan.

Tentu ini memberi citra bahwa anak muda tetap bisa tampil stylish walaupun menggunakan batik. Ditambah lagi adanya media sosial dapat dijadikan ruang promosi yang masif. Karena penggunanya didominasi oleh generasi muda, hal ini dapat secara tidak sadar dapat meng-       influence mereka untuk melihat bagaimana desain tradisional yang direinterpretasi menjadi gaya baru. Hasil ini tidak hanya sekedar “kembali ke masa lalu”, melainkan dialog antartradisi dan modernitas.

Tradisi yang Fleksibel dan Adaptif

Stigma tentang desain tradisional yang terkesan kaku dan tidak fleksibel perlahan mulai hilang. Justru sebaliknya, desain terbukti bisa adaptif. Ia bisa hidup di berbagai medium, salah satunya dalam ranah fashion.

Ketika ditempatkan dan dikonsep secara matang, visual tradisional mampu berbicara dengan bahasa zaman sekarang. Di sini letak kekuatannya, tradisi tidak harus dibekukan untuk dilestarikan. Ia bisa bergerak, berubah dan beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Desain tradisional yang kembali populer hari ini adalah desain yang berani bernegosiasi dengan zaman.

Lebih dari Sekadar Tren Estetika

Kepopuleran desain tradisional bukan hanya masalah selera visual; itu adalah ekspresi dari keresahan, pencarian makna, dan kebutuhan akan identitas di dunia yang serba cepat. Dirancang untuk berfungsi sebagai alat untuk komunikasi sosial dan budaya, bukan hanya sebagai hiasan.

Ketika desain tradisional digunakan secara sadar dan kontekstual, ia bisa menjadi agen perubahan. Ia mengajak kita untuk melihat kembali akar budaya, menghargai proses dan memahami bahwa visual memiliki kekuatan untuk membentuk cara pandang.

Kesimpulan

Popularitas desain tradisional saat ini menunjukan satu hal yang penting; masa depan desain bukan soal memilih antara modern atau tradisional. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Justru, kekuatan desain terletak pada dialog antara masa lalu dan masa kini, antara lokal dan global.

Desain tradisional kembali populer karena ia mampu beradaptasi dan berbicara dengan bahasa visual zaman sekarang. Selama ia terus dimaknai, diolah dan dikontekstualkan, tradisi tidak akan pernah benar-benar usang. Ia hanya menunggu untuk dibaca ulang dengan cara yang baru. [T]

Penulis: Muhammad Syahrul Wafda
Editor: Adnyana Ole

Tags: desaindesain tradisionalSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Next Post

ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Muhammad Syahrul Wafda

Muhammad Syahrul Wafda

Mahasiswa Prodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah UIN SAIZU Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co