23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Desain Tradisonal Kembali Populer?

Muhammad Syahrul Wafda by Muhammad Syahrul Wafda
January 12, 2026
in Esai
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Muhammad Syahrul Wafda

Di tengah pesatnya arus visualmodern yang serba minimalis, desain tradisional justru kembali mencuri perhatian. Kita dapat menemuinya seperti motif batik muncul di brand streetwear, ilustrasi wayang menghiasi poster konser musik, aksara lokal digunakan pada kemasan kopi kekinian, hingga ornamen etnik tampil percaya diri di feed insgatam anak muda.

Fenomena ini menjadi menarik, sebab desain tradisional sempat dianggap kuno, berat dan tidak relevan dengan selera generasi digital. Namun kini hadir kembali bukan sebagai nostalgia semata, melainkan sebagai bahasa visual yang baru. Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan, mengapa desain tradisional kembali populer di era yang begitu modern dan serba cepat?

Kejenuhan Visual Modern

Salah satu jawabannya bisa terletak pada kejenuhan. Dalam beberapa tahun terakhir, kita hidup di tengah visual yang nyaris seragam. Font sans serif yang mirip satu sama lain, palet warna netral, layout bersih dengan ruang kosong berlimpah, serta gaya minimalis yang diulang terus-menerus.

Gaya tersebut sering disebut dengan flat design. Flat Design merupakan gaya desain yang menonjolkan aspek pendekatan karakter minimalism (kesederhanaan), usefulness (kegunaan), dan cleanliness (kerapian) (Yasa, dkk. (2022:221). Sehingga dapat dikatakan bahwa desain yang dihasilkan nantinya akan terkesan sederhana dengan tampilan yang datar. Desain seperti itu memang fungsional dan efisien, tetapi pada titik tertentu ia kehilangan keunikan.

Di media sosial, kejenuhan mulai terasa. Saat kita scrolling layar handphone, banyak sekali kita jumpai konten visual hadir dengan gaya yang hampir sama. Di sinilah desain tradisonal menawarkan sesuatu yang berbeda. Membawa kesan detail, tekstur dan keberagaman akan bentuk, sehingga terasa “ramai” dan disitulah muncul daya tariknya. Desain tradisional menjadi semacam gerakan dari seorang desainer untuk menciptakan tren terhadap jenuhnya visual yang terlalu flat dan homogen.

Desain Tradisional sebagai Pembawa Cerita

Kalau coba kita amati kebanyakan desain modern beorientasi pada fungsi dan estetika semata, sedangkan desain tradisional bisa membawa cerita disitu. Seperti motif batik, ukiran atau ilustrasi tradisional tidak lahir dari ruang kosong. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai dan filosofi yang dapat diwariskan lintas generasi.

Di era komunikasi visual saat ini, audience mulai tertarik dengan makna di baliknya. Tidak lagi hanya mementingkan pada tampilan yang indah. Kita hidup di zaman di mana storytelling bisa menjadi point kunci. Definisi storytelling itu sendiri merupakan seni menggambarkan peristiwa nyata atau nonfiksi menggunakan gambar atau suara, termasuk pengalaman pribadi dan pembelajaran hidup (Oliver, 2008). Desain tradisional menawarkan narasi yang autentik, sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh template desain global. Karena dari setiap visual memiliki cerita yang terasa lebih manusiawi dan bermakna.

Identitas di Tengah Arus Globalisasi

Hal ini berkaitan juga dengan popularitas desain tradisonal sebagai bentuk pencarian identitas. Globalisasi membuat batas budaya semakin kabur. Mulai dari brand, produk, bahkan gaya hidup sering kali terlihat serupa, tak peduli berasal dari negara mana. Dalam situasi ini, desain tradisional hadir sebagai penanda identitas visual yang membedakan. Seperti contoh brand lokal sepatu Aerostreet yang kolaborasi dengan “Wonderful Indonesia”, membuat sepatu dengan motif ukiran dan batik di Indonesia.

Bagi banyak kreator dan brand lokal, penggunaan elemen tradisional bukan sekadar pilihan estetika, melainkan pernyataan sikap. Ia menjadi cara untuk mengatakan bahwa modernitas tidak harus menghapus akar budaya. Justru, nilai lokal bisa menjadi kekuatan di tengah pasar global yang kompetitif.

Peran Generasi Muda dan Media Sosial

Salah satu poin menariknya, kebangkitan desain tradisional justru banyak dipelopori oleh generasi muda. Generasi ini yang lahir dan tumbuh di era digital justru tidak melihat tradisi ini sebagai sesuatu yang sakral dan kaku. Mereka berani mencoba berkreasi, memadukan dan mendistorsi visual tradisional agar sesuai dengan konteks zaman. Seperti beberapa brand lokal yang menggunakan model anak muda sebagai bentuk kampanyenya, seperti contoh dari brand Bateeq yang membuat pakaian bermotif batik untuk Laki-laki dan perempuan.

Tentu ini memberi citra bahwa anak muda tetap bisa tampil stylish walaupun menggunakan batik. Ditambah lagi adanya media sosial dapat dijadikan ruang promosi yang masif. Karena penggunanya didominasi oleh generasi muda, hal ini dapat secara tidak sadar dapat meng-       influence mereka untuk melihat bagaimana desain tradisional yang direinterpretasi menjadi gaya baru. Hasil ini tidak hanya sekedar “kembali ke masa lalu”, melainkan dialog antartradisi dan modernitas.

Tradisi yang Fleksibel dan Adaptif

Stigma tentang desain tradisional yang terkesan kaku dan tidak fleksibel perlahan mulai hilang. Justru sebaliknya, desain terbukti bisa adaptif. Ia bisa hidup di berbagai medium, salah satunya dalam ranah fashion.

Ketika ditempatkan dan dikonsep secara matang, visual tradisional mampu berbicara dengan bahasa zaman sekarang. Di sini letak kekuatannya, tradisi tidak harus dibekukan untuk dilestarikan. Ia bisa bergerak, berubah dan beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Desain tradisional yang kembali populer hari ini adalah desain yang berani bernegosiasi dengan zaman.

Lebih dari Sekadar Tren Estetika

Kepopuleran desain tradisional bukan hanya masalah selera visual; itu adalah ekspresi dari keresahan, pencarian makna, dan kebutuhan akan identitas di dunia yang serba cepat. Dirancang untuk berfungsi sebagai alat untuk komunikasi sosial dan budaya, bukan hanya sebagai hiasan.

Ketika desain tradisional digunakan secara sadar dan kontekstual, ia bisa menjadi agen perubahan. Ia mengajak kita untuk melihat kembali akar budaya, menghargai proses dan memahami bahwa visual memiliki kekuatan untuk membentuk cara pandang.

Kesimpulan

Popularitas desain tradisional saat ini menunjukan satu hal yang penting; masa depan desain bukan soal memilih antara modern atau tradisional. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Justru, kekuatan desain terletak pada dialog antara masa lalu dan masa kini, antara lokal dan global.

Desain tradisional kembali populer karena ia mampu beradaptasi dan berbicara dengan bahasa visual zaman sekarang. Selama ia terus dimaknai, diolah dan dikontekstualkan, tradisi tidak akan pernah benar-benar usang. Ia hanya menunggu untuk dibaca ulang dengan cara yang baru. [T]

Penulis: Muhammad Syahrul Wafda
Editor: Adnyana Ole

Tags: desaindesain tradisionalSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Next Post

ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Muhammad Syahrul Wafda

Muhammad Syahrul Wafda

Mahasiswa Prodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah UIN SAIZU Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co