2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Desain Tradisonal Kembali Populer?

Muhammad Syahrul Wafda by Muhammad Syahrul Wafda
January 12, 2026
in Esai
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Muhammad Syahrul Wafda

Di tengah pesatnya arus visualmodern yang serba minimalis, desain tradisional justru kembali mencuri perhatian. Kita dapat menemuinya seperti motif batik muncul di brand streetwear, ilustrasi wayang menghiasi poster konser musik, aksara lokal digunakan pada kemasan kopi kekinian, hingga ornamen etnik tampil percaya diri di feed insgatam anak muda.

Fenomena ini menjadi menarik, sebab desain tradisional sempat dianggap kuno, berat dan tidak relevan dengan selera generasi digital. Namun kini hadir kembali bukan sebagai nostalgia semata, melainkan sebagai bahasa visual yang baru. Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan, mengapa desain tradisional kembali populer di era yang begitu modern dan serba cepat?

Kejenuhan Visual Modern

Salah satu jawabannya bisa terletak pada kejenuhan. Dalam beberapa tahun terakhir, kita hidup di tengah visual yang nyaris seragam. Font sans serif yang mirip satu sama lain, palet warna netral, layout bersih dengan ruang kosong berlimpah, serta gaya minimalis yang diulang terus-menerus.

Gaya tersebut sering disebut dengan flat design. Flat Design merupakan gaya desain yang menonjolkan aspek pendekatan karakter minimalism (kesederhanaan), usefulness (kegunaan), dan cleanliness (kerapian) (Yasa, dkk. (2022:221). Sehingga dapat dikatakan bahwa desain yang dihasilkan nantinya akan terkesan sederhana dengan tampilan yang datar. Desain seperti itu memang fungsional dan efisien, tetapi pada titik tertentu ia kehilangan keunikan.

Di media sosial, kejenuhan mulai terasa. Saat kita scrolling layar handphone, banyak sekali kita jumpai konten visual hadir dengan gaya yang hampir sama. Di sinilah desain tradisonal menawarkan sesuatu yang berbeda. Membawa kesan detail, tekstur dan keberagaman akan bentuk, sehingga terasa “ramai” dan disitulah muncul daya tariknya. Desain tradisional menjadi semacam gerakan dari seorang desainer untuk menciptakan tren terhadap jenuhnya visual yang terlalu flat dan homogen.

Desain Tradisional sebagai Pembawa Cerita

Kalau coba kita amati kebanyakan desain modern beorientasi pada fungsi dan estetika semata, sedangkan desain tradisional bisa membawa cerita disitu. Seperti motif batik, ukiran atau ilustrasi tradisional tidak lahir dari ruang kosong. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai dan filosofi yang dapat diwariskan lintas generasi.

Di era komunikasi visual saat ini, audience mulai tertarik dengan makna di baliknya. Tidak lagi hanya mementingkan pada tampilan yang indah. Kita hidup di zaman di mana storytelling bisa menjadi point kunci. Definisi storytelling itu sendiri merupakan seni menggambarkan peristiwa nyata atau nonfiksi menggunakan gambar atau suara, termasuk pengalaman pribadi dan pembelajaran hidup (Oliver, 2008). Desain tradisional menawarkan narasi yang autentik, sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh template desain global. Karena dari setiap visual memiliki cerita yang terasa lebih manusiawi dan bermakna.

Identitas di Tengah Arus Globalisasi

Hal ini berkaitan juga dengan popularitas desain tradisonal sebagai bentuk pencarian identitas. Globalisasi membuat batas budaya semakin kabur. Mulai dari brand, produk, bahkan gaya hidup sering kali terlihat serupa, tak peduli berasal dari negara mana. Dalam situasi ini, desain tradisional hadir sebagai penanda identitas visual yang membedakan. Seperti contoh brand lokal sepatu Aerostreet yang kolaborasi dengan “Wonderful Indonesia”, membuat sepatu dengan motif ukiran dan batik di Indonesia.

Bagi banyak kreator dan brand lokal, penggunaan elemen tradisional bukan sekadar pilihan estetika, melainkan pernyataan sikap. Ia menjadi cara untuk mengatakan bahwa modernitas tidak harus menghapus akar budaya. Justru, nilai lokal bisa menjadi kekuatan di tengah pasar global yang kompetitif.

Peran Generasi Muda dan Media Sosial

Salah satu poin menariknya, kebangkitan desain tradisional justru banyak dipelopori oleh generasi muda. Generasi ini yang lahir dan tumbuh di era digital justru tidak melihat tradisi ini sebagai sesuatu yang sakral dan kaku. Mereka berani mencoba berkreasi, memadukan dan mendistorsi visual tradisional agar sesuai dengan konteks zaman. Seperti beberapa brand lokal yang menggunakan model anak muda sebagai bentuk kampanyenya, seperti contoh dari brand Bateeq yang membuat pakaian bermotif batik untuk Laki-laki dan perempuan.

Tentu ini memberi citra bahwa anak muda tetap bisa tampil stylish walaupun menggunakan batik. Ditambah lagi adanya media sosial dapat dijadikan ruang promosi yang masif. Karena penggunanya didominasi oleh generasi muda, hal ini dapat secara tidak sadar dapat meng-       influence mereka untuk melihat bagaimana desain tradisional yang direinterpretasi menjadi gaya baru. Hasil ini tidak hanya sekedar “kembali ke masa lalu”, melainkan dialog antartradisi dan modernitas.

Tradisi yang Fleksibel dan Adaptif

Stigma tentang desain tradisional yang terkesan kaku dan tidak fleksibel perlahan mulai hilang. Justru sebaliknya, desain terbukti bisa adaptif. Ia bisa hidup di berbagai medium, salah satunya dalam ranah fashion.

Ketika ditempatkan dan dikonsep secara matang, visual tradisional mampu berbicara dengan bahasa zaman sekarang. Di sini letak kekuatannya, tradisi tidak harus dibekukan untuk dilestarikan. Ia bisa bergerak, berubah dan beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Desain tradisional yang kembali populer hari ini adalah desain yang berani bernegosiasi dengan zaman.

Lebih dari Sekadar Tren Estetika

Kepopuleran desain tradisional bukan hanya masalah selera visual; itu adalah ekspresi dari keresahan, pencarian makna, dan kebutuhan akan identitas di dunia yang serba cepat. Dirancang untuk berfungsi sebagai alat untuk komunikasi sosial dan budaya, bukan hanya sebagai hiasan.

Ketika desain tradisional digunakan secara sadar dan kontekstual, ia bisa menjadi agen perubahan. Ia mengajak kita untuk melihat kembali akar budaya, menghargai proses dan memahami bahwa visual memiliki kekuatan untuk membentuk cara pandang.

Kesimpulan

Popularitas desain tradisional saat ini menunjukan satu hal yang penting; masa depan desain bukan soal memilih antara modern atau tradisional. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Justru, kekuatan desain terletak pada dialog antara masa lalu dan masa kini, antara lokal dan global.

Desain tradisional kembali populer karena ia mampu beradaptasi dan berbicara dengan bahasa visual zaman sekarang. Selama ia terus dimaknai, diolah dan dikontekstualkan, tradisi tidak akan pernah benar-benar usang. Ia hanya menunggu untuk dibaca ulang dengan cara yang baru. [T]

Penulis: Muhammad Syahrul Wafda
Editor: Adnyana Ole

Tags: desaindesain tradisionalSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Next Post

ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Muhammad Syahrul Wafda

Muhammad Syahrul Wafda

Mahasiswa Prodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah UIN SAIZU Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co