13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gatholoco: Sosok Kontroversial, Entah Siapa Kini

Chusmeru by Chusmeru
January 12, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SERAT Gatholoco menjadi sesuatu yang kontroversial di dunia spiritual. Bukan hanya isinya. Gambaran fisik siapa sosok Gatholoco (ada pula yang menulis Gatholotjo) dan siapa di balik serat atau karya tulis yang lahir abad ke-18 ini juga masih diperdebatkan hingga kini. Serat yang berisi suluk atau tembang ini pernah dilarang beredar di zaman kolonial, Orde Lama, hingga Orde Baru.

Gatholoco merupakan sosok atau tokoh dalam suluk khazanah sastra Jawa klasik yang kontroversial dan dianggap anti Islam. Perdebatan dalam suluk Gatholoco berkisar soal namanya, masalah ilmu, keilaihan, Islam, alam semesta, dan sebagainya. Namun guru besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Damardjati Supadjar, sebagaimana dikutip pustakaindigo.com (2017) mengungkapkan, serat Gatholoco ini adalah bentuk sastra peralihan dari masa Majapahit ke masa Islam.

Menurut Damardjati Supadjar, suasana waktu itu menggambarkan betapa banyak orang mengagungkan syariat, namun ia tidak setuju jika suluk itu dianggap sebagai sindiran bagi umat Islam.  Bagi Damardjati, suluk Gatholoco adalah pepenget (pengingat) bagi mereka yang mengagungkan syariat.

Semestinya tidak berhenti di situ. Sesudah syariat yang informatif, masih ada bentuk lebih lanjut, yaitu tarekat yang transformatif, hakikat yang konformatif hingga akhirnya berpuncak pada makrifat yang iluminatif, yang mencerahkan. Dalam istilah Jawa, Jiwa kang Kajawi mencakup syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Hal ini juga sejalan dengan serat Wedhatama yang mengulas sembah raga, cipta, jiwa dan rasa.

Unsur mistik dan dipenuhi narasi vulgar dan seksual membuat serat Gatholoco menuai banyak kecaman. Carel Poensen, seorang misionaris Belanda pada tahun 1872 menyebut serat Gatholoco dari sudut pandang sastra, karya ini kurang berharga. Tetapi menilik dari semangatnya, penulis karya itu menyodorkan konsepsi terkait akhlak dan kebajikan, yang sayangnya disampaikan tanpa kearifan dan kesopanan.

Tentang siapa penulis serat Gatholoco hingga kini masih menjadi misteri. Banyak yang menyebut sebagai karya anonim. Namun ada pula yang beranggapan serat itu karya Soerjanagara, ada yang menyebut Raden Ngabehi Ronggowarsito, dan ada pula yang mengatakan karya seorang bangsawan tinggi di Kediri.

Lantas siapakah Gatholoco itu? Dalam tafsir Gatholoco yang ditulis oleh Joko Su’ud Sukahar (1999), sosok Gatholoco digambarkan sebagai manusia yang jelek rupa dan bertabiat tercela. Manusia ini mengaku sebagai lelanange jagad yang konotatif. Menyebut diri sebagai lelaki yang mumpuni. Menantang siapa saja yang ditemui. Mengajak berdiskusi maupun berkelahi.

Figur Gatholoco dianggap luar biasa. Pandai bicara, pandai berfilsafat. Pandai mengolok-olok, juga pandai memprediksi. Dengan kemampuannya yang seperti itu, para lawan Gatholoco mengakui kehebatannya. Namun lantaran sikapnya yang arogan membuat orang lain tak pernah menghargainya. Kehadiran Gatholoco selalu dihindari. Siapa pun enggan bertemu, takut bermasalah dengannya.

Tak Melulu Soal Agama

Gatholoco memang selalu ingin berdebat tentang agama, ketuhanan, dan kehidupan di mana pun dan kepada siapa pun yang ia temui dalam pengembaraannya. Ketika dituduh telah merusak agama oleh seorang penyabit rumput, Gatholoco tidak terima. Ia mengatakan, agama tidak bisa dirusak. Sudah ditakdirkan Hyang Widi, agama adalah agemaning aji. Namun kalau hanya dimasukkan lisan, itu yang sanggup merusak agama. Sama dengan jika makan dimasukkan dubur. Itu tetap namanya manusia yang merusak agama ( Sukahar, 1999:24).

Selanjutnya Gatholoco bertutur, agama itu bebas. Sesuka orang hidup. Biar agama Cina, jika tulus lahir batin, sungguh akan diterima. Agamaku yang suci, yaitu agama rasa. Agama yang menuruti perasaan yang dirasakan hati. Rasa badan dan lisan. Rasanya manis gurih, pedas, asin, masam, kecut. Pahit dan getir. Semua.

Ketika berdebat dengan seorang kiai, Gatholoco pun menguraikan tentang doa. Menurut Gatholoco, di dunia ini jangan cuma melafalkan sesuatu. Komat-kamit berdoa. Semua itu hanya lafal. Di dunia harus mengetahui asal manusia, hidup sampai mati.

Dalam pengelanaannya, Gatholoco berhasil mendapatkan banyak murid. Tak melulu soal agama, Gatholoco juga mengingatkan tentang keselamatan hidup. Jika berharap selamat, maka jangan semaunya dan sewenang-wenang. Yang seperti itu tidak baik. Jangan menghina-hina kepada sesama. Umat itu sama saja. Pandai, bodoh, baik, jelek, untung dan celaka, kuli, tani, putra putri tidak berbeda.

Nasihat demi nasihat meuluncur dari mulut Gatholoco di hadapan murid-muridnya. Sudah ditakdir oleh Allah, kata Gatholoco. Tidak bisa diubah, takdirnya sendiri-sendiri. Lebih baik menerima. Dan saat hidup ingatlah mati. Di dunia ini ingatlah. Jangan gampang curiga dan kikir. Setengah menyombongkan diri. Memelihara dengki. Senang berdusta dan memfitnah. Jahil serta iri, menipu dengan kasar dan halus; lebih-lebih senang menganiaya.

Memang tak melulu soal agama. Sisi humanis sempat dilontarkan Gatholoco. Menurutnya, jangan sekali-kali berlagak sok. Berwatak angkuh menuruti hawa nafsu. Jangan kenyang makan tidur. Nikmatilah secukupnya saja. Yang sabar dan tawakal, yang suka senyum dan jangan marah.

Sosok Gatholoco yang kontroversial, yang sering dikaitkan dengan mistik dan porno; terlontar pula sikap toleransi kepada orang lain. Menurut Gatholoco, orang harus menghargai sesama. Jangan membuat kebencian. Jangan membuat kecewa. Jangan membuat takut dan terkejut. Katanya itu termasuk najis dan haram. Gatholoco pun menegaskan, memakai pakaian dan makan yang sah, itu amalannya orang berilmu. Jangan sembarangan.

Luluh oleh Wanita

Gatholoco yang dinarasaikan sebagai sosok yang buruk rupa, kurus dekil, senang berdebat, ngeyel, petantang-petenteng, galak, dan keras kepala akhirnya luluh juga oleh wanita. Hal itu terjadi ketika ia berada di Cemarajamus, di Gua Siluman yang dihuni para wanita cantik. Gatholoco menantang para wanita untuk berdebat tentang apa saja.

Saat ditanya oleh salah satu wanita di Cemarajamus tentang iman, budi, kukuatan, tentang bumi dan langit, kaya dan miskin, dan wanita; Gatholotjo dengan santai menjawabnya. Tempat iman itu ada di jantung, katanya. Otak adalah tempatnya budi. Otot tempat kekuatan, dan tempatnya malu ada di mata. Di dunia ini yang lebih pahit adalah untungnya orang yang melarat; yang lebih manis untungnya orang yang kaya.

Menurut Gatholoco, yang luas melebihi bumi adalah penglihatan. Tajam melebihi senjata itu nalarnya orang pandai. Yang dingin melebihi air maksudnya hati yang sabar. Lebih keras dari batu adalah hatinya orang yang dangkal pikirannya. Hatinya orang yang gampang marah, panasnya melebihi api.

Tentang pertanyaan pria dan wanita serta budi, Gatholoco menjawab bahwa pria dan wanita lebih banyak wanitanya. Meskipun berujud pria, tidak tahu maksudnya wanita. Itu juga bisa disebut buta wanita. Orang hidup dan orang mati sesungguhnya banyak yang mati. Meskipun wujudnya hidup, kalau orang tanpa budi, itu sama saja seperti orang mati. Orang kaya dan nista pasti banyak yang nista. Meski kaya harta benda, tapi bodoh tanpa budi dan tanpa nalar boleh disebut orang nista.

Lantaran semua pertanyaan para wanita di Cemarajamus mampu dijawab Gatholoco, mereka pun menyerah. Sesuai perjanjian, mereka dengan rela menjadi istri Gatholoco. Hatinya berbunga. Setelah Gatholoco memperistri para wanita itu, kecongkakannya tiba-tiba meredup. Ia luluh oleh para wanita. Gatholoco tiba-tiba meredup, seperti lampu tempel yang kehabisan minyak, bak lilin yang telah mencair (Sukahar, 1999:68).

Begitu juga kekasarannya. Gerak fisiknya tak lagi layaknya Bratasena yang marah atau Wisanggeni yang mengejek para dewa. Sikap itu terpoles akal budi, dan berubah menjadi kewibawaan. Arogansi pernyataan Gatholoco berubah menjadi kearifan. Penuh budi luhur. Tutur katanya lembut dan menyejukkan.

Nasihat Gatholoco kepada para istrinya begitu santun. Dia berpesan, jika berbicara atur tutur kata, dan sampaikan dengan mulut manis. Kabar yang dibawa harus kabar baik, agar hati yang mendengar senang dan lega. Jangan bicara jelek, atau senang membicarakan kejelekan orang lain. Yang demikian itu tabiat buruk dan dibenci banyak orang.

Gatholoco memang telah luluh oleh wanita. Namun mendengar semua nasihat itu, para istri Gatholoco menunduk. Mereka meresapi kata-kata itu. Mendengarkan melalui telinga kiri, masuk menjadi pepundi. Mendengarkan melalui telinga kanan, menyelusup dalam otak menjadi penalaran.

Serat Gatholoco tentu saja hanya sebuah karya yang entah siapa penulisnya. Meski ada yang menyebutnya sebagai karya sastra. Isinya menuai kontroversi, pro dan kontra. Sosoknya banyak dibenci orang. Namun tidak sedikit yang menyukainya. Gatholoco muncul di masa silam. Kalau pun hendak ditarik dalam konteks kekinian, entah siapa dia. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: agamaGatholocojawasastra jawaSpiritualtokoh jawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Song Within a Song’: Mencari Makna di Balik Makna

Next Post

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co