4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan sampah. Wah, karena yang menyerukan presiden, yang notabene jabatan politik tertinggi, maka publik mendengarnya jadi agak beda ini, lebih dari sekadar instruksi kebersihan biasa.

Di negeri yang terlalu akrab dan kenyang dengan simbolisme politik ini, kata “sampah” jarang berhenti sebagai benda, Ia hampir selalu menjelma sebagai metafora. Dan metafora, seperti kita tahu, lebih berbahaya daripada pidato biasa. Di sini rekan-rekan seniman lebih paham.

Sebenarnya, sampah di kantor-kantor pemerintah tentu urusan teknis. Biasanya sudah ada petugas kebersihan, ada anggaran, ada jadwal rutin. Presiden sebenarnya tidak perlu turun tangan untuk memastikan tempat sampah dikosongkan setiap sore. Beliau Presiden dan kita, semua tentu tahu itu.

Maka, ketika ajakan itu diarahkan kepada para pejabat publik, sulit untuk tidak membaca lapisan makna yang lebih dalam. Mungkinkah yang sedang disentil bukan daun kering, melainkan residu moral dalam republik? Kalau memang iya, dan semoga iya, tentu ini bagus. 

Sampah yang Tak Terlihat

Masalah terbesar republik ini bukanlah plastik yang tercecer di halaman kantor dinas, atau tempat wisata. Masalahnya adalah sampah yang tak terlihat tetapi mengendap dalam sistem. Sebut saja korupsi, pungutan liar, konflik kepentingan, kolusi antara pejabat dan pengusaha nakal, birokrasi yang lamban karena sengaja dipersulit.  Sampah jenis ini tidak menimbulkan bau busuk secara harfiah. Ia menimbulkan polusi kepercayaan, dan sampah yang menumpuk ini membuat kepercayaan jadi amat mahal saat in.

Ketika masyarakat tidak percaya pada birokrasi, biaya transaksi sosial meningkat. Orang harus membayar lebih, dalam artian harfiah, agar urusan cepat selesai. Di sisi ekonomi, investor juga ragu untuk masuk. Pelayanan publik lambat karena ada “biaya tambahan” yang tidak tertulis. Dalam istilah ekonomi politik, ini disebut high-cost economy. Dalam bahasa rakyat, apa-apa duit., dan semua jadi mahal.  Bahkan “biaya kesehatan” republik ikut melonjak, kali ini bukan hanya dalam arti anggaran BPJS atau rumah sakit, tetapi kesehatan sosial secara keseluruhan. Korupsi adalah penyakit kronis negara. Ia melemahkan sistem imun negara.

Filsuf politik Hannah Arendt pernah berbicara tentang “banalitas kejahatan”, yang wujudnya sekarang kita hadapi, lahir dari rutinitas birokrasi yang kehilangan nurani. Korupsi di republik ini sekarang tidak lagi terasa dramatis. Korupsi hadir di tengah kehidupan kita sebagai prosedur yang “sudah biasa”. Pungli kecil dianggap wajar. Kongkalikong proyek dianggap bagian dari tradisi. Sampah republik yang berserakan dan bertumpuk ini mulai dianggap normal.

Korve dan Politik Simbolik

Seruan korve, alias kerja bakti ini, memiliki daya simbolik yang kuat. Ia mengirim pesan tentang kesederhanaan dan keteladanan. Dalam tradisi kepemimpinan yang populis, pemimpin yang mau turun tangan membersihkan sesuatu memberi kesan, pejabat itu tidak berjarak dari rakyat. Namun simbol selalu berada di persimpangan, ia bisa menjadi awal perubahan, atau sekadar pertunjukan. Nah, yang terakhir ini sudah banyak kasusnya yang kita lihat di negara kita.

Jika korve hanya berhenti pada aksi bersih-bersih fisik, foto pejabat memegang sapu, unggahan di media sosial penuh setingan kebersamaan, maka ia berubah menjadi politik performatif.  Membersihkan halaman kantor memang mudah. Membersihkan jaringan rente dan kolusi jauh lebih rumit. Di sinilah publik berhak bertanya, apakah ajakan itu metafora yang disengaja, atau hanya kebetulan retoris?

Ekologi Kekuasaan yang Tercemar

Sosiolog Korea-Jerman Byung-Chul Han menyebut masyarakat modern sebagai burnout society, alias masyarakat kelelahan, di mana tekanan sistemik membuat individu terjebak dalam logika performa tanpa refleksi. Artinya situasi di mana seseorang atau sebuah sistem terus bekerja, bertindak, dan mencapai target, namun tanpa meluangkan waktu untuk meninjau kembali, mengevaluasi, atau memikirkan makna dari pengalaman tersebut.  

Dalam konteks Indonesia, sering dilihat publik, birokrasi bekerja bukan untuk melayani, melainkan untuk mempertahankan jaringan kepentingan. Orang lelah bukan karena bekerja keras demi publik, tetapi karena harus menangani sistem yang penuh jebakan informal. Semacam nyetir mobil yang speleng setirnya amat longgar. Melelahkan dan membahayakan.

Sampah republik menciptakan ekologi kekuasaan yang tercemar. Udara politik menjadi pengap. Orang baik alias sehat scara politik dan moral sulit bernapas. Mereka yang ingin bersih justru terasing dan dianggap aneh. Akibatnya, publik kehilangan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan runtuh, negara harus membayar mahal untuk setiap kebijakan. Subsidi mulai dicurigai sarat permainan. Program sosial dipandang sebagai alat politik. Bahkan niat baik pun diragukan. Polusi moral selalu berujung pada inflasi sosial. Jadi berat buat kita,nggak ekonomi nggak politik, inflasinya dobel.

Biaya “Kesehatan” yang Meningkat

Mari kita gunakan metafora kesehatan secara serius.  Korupsi adalah virus. Kita harus sepakat soal ini. Pungli adalah bakteri oportunistik. Kolusi adalah kanker yang menyebar diam-diam melalui jaringan kekuasaan. Setiap tahun negara mengeluarkan biaya besar untuk “mengobati” gejala-gejala ini.  Membentuk satgas, memperkuat pengawasan, membiayai aparat penegak hukum, memperbaiki sistem digital.  Tetapi, selama sumber infeksi tidak dibersihkan, biaya kesehatan akan terus membengkak.

Dalam ekonomi kesehatan publik, pencegahan selalu lebih murah daripada pengobatan. Dalam politik juga demikian. Reformasi sistemik, transparansi anggaran, digitalisasi layanan publik, pembatasan konflik kepentingan, perlindungan whistle blower, semua itu ibarat vaksin. Korve simbolik hanyalah semacam antiseptik permukaan.

Zaman dulu obat merah, zaman sekarang obat cair warna kuning itu. Kita tentu tidak anti terhadap aksi bersih-bersih. Justru sebaliknya, kita sadar bahwa kebersihan fisik memang penting, karena membentuk budaya disiplin. Hanya saja budaya disiplin tanpa integritas hanyalah kosmetik.

Dari Sampah Fisik ke Reformasi Struktural

Jika seruan korve dimaknai sebagai ajakan reflektif kepada para pejabat untuk “membersihkan kantor masing-masing” dalam arti moral dan struktural, maka itu adalah pesan yang radikal. Karena membersihkan sistem berarti menyentuh kepentingan. Membersihkan daun kering tidak akan memicu perlawanan. Membersihkan jaringan rente pasti memicu resistensi.  Pertanyaannya sederhana, apakah kita siap membayar harga politik untuk membersihkan sampah republik?

Reformasi bukan sekadar pidato. Ia membutuhkan konsistensi. Penegakan hukum tanpa pandang bulu. Evaluasi proyek tanpa kompromi. Transparansi yang tidak setengah hati. Dalam konteks ini, simbol harus bertemu struktur. Jika tidak, ia menguap menjadi slogan.  Republik yang sehat bukan republik yang bebas dari kritik, melainkan republik yang mampu membersihkan dirinya sendiri.

Dalam teori politik modern, legitimasi tidak hanya lahir dari pemilu, tetapi dari kemampuan negara menjaga integritasnya. Sampah republik bukan sekadar persoalan moral masing-masing orang per orang. Ia adalah akumulasi dari toleransi kolektif terhadap praktik-praktik kecil pelanggaran yang dianggap wajar. Ketika pungli kecil dibiarkan, ia menjadi norma. Ketika konflik kepentingan dianggap biasa, ia menjadi budaya.

Di titik ini, seruan korve bisa dibaca sebagai cermin. Bukan untuk petugas kebersihan, tetapi untuk para pemegang kekuasaan. Jadi sudah benar jika Presiden memanggil para pejabat, bukan para petugas kebersihan.

Membersihkan kantor masing-masing berarti luas. Bisa berupa membersihkan praktik transaksional, membersihkan proyek titipan, membersihkan relasi gelap dengan pengusaha nakal, dan yang paling penting adalah membersihkan mentalitas “jabatan sebagai investasi”.  Jika itu yang dimaksud, maka ajakan tersebut jauh lebih revolusioner daripada yang tampak. Dan kalau kita lihat di video pidato Prseiden, para pejabat bilang serempak, “Siaaappp!!!”.

Jangan Hanya Menyapu Halaman

Kita tentu boleh tersenyum sinis ketika pejabat memegang sapu untuk sesi foto. Tetapi sinisme saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa metafora sampah tidak berhenti pada plastik dan daun. 

Jika korve benar-benar dimaknai sebagai pembersihan sistemik, maka itu adalah awal yang baik. Tetapi jika ia hanya menjadi simbol tanpa reformasi, maka kita sekadar menyapu halaman depan sementara ruang dalam tetap saja sampah bertumpuk.

Republik kita tidak kekurangan petugas kebersihan. Yang dibutuhkan adalah keberanian membersihkan diri sendiri. Kalau sapu dan alat pelnya kotor, lantainya jelas tidak akan bersih. Bersihkan dulu sapunya, dan kalau sapunya sudah tidak bisa dibersihkan juga karena terlalu kotor, ya harus diganti dengan yang baru dan bersih, harus. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Anti KorupsiekologiKorupsilingkunganSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

Next Post

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

'The Story of White Piano' Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co