4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan sampah. Wah, karena yang menyerukan presiden, yang notabene jabatan politik tertinggi, maka publik mendengarnya jadi agak beda ini, lebih dari sekadar instruksi kebersihan biasa.

Di negeri yang terlalu akrab dan kenyang dengan simbolisme politik ini, kata “sampah” jarang berhenti sebagai benda, Ia hampir selalu menjelma sebagai metafora. Dan metafora, seperti kita tahu, lebih berbahaya daripada pidato biasa. Di sini rekan-rekan seniman lebih paham.

Sebenarnya, sampah di kantor-kantor pemerintah tentu urusan teknis. Biasanya sudah ada petugas kebersihan, ada anggaran, ada jadwal rutin. Presiden sebenarnya tidak perlu turun tangan untuk memastikan tempat sampah dikosongkan setiap sore. Beliau Presiden dan kita, semua tentu tahu itu.

Maka, ketika ajakan itu diarahkan kepada para pejabat publik, sulit untuk tidak membaca lapisan makna yang lebih dalam. Mungkinkah yang sedang disentil bukan daun kering, melainkan residu moral dalam republik? Kalau memang iya, dan semoga iya, tentu ini bagus. 

Sampah yang Tak Terlihat

Masalah terbesar republik ini bukanlah plastik yang tercecer di halaman kantor dinas, atau tempat wisata. Masalahnya adalah sampah yang tak terlihat tetapi mengendap dalam sistem. Sebut saja korupsi, pungutan liar, konflik kepentingan, kolusi antara pejabat dan pengusaha nakal, birokrasi yang lamban karena sengaja dipersulit.  Sampah jenis ini tidak menimbulkan bau busuk secara harfiah. Ia menimbulkan polusi kepercayaan, dan sampah yang menumpuk ini membuat kepercayaan jadi amat mahal saat in.

Ketika masyarakat tidak percaya pada birokrasi, biaya transaksi sosial meningkat. Orang harus membayar lebih, dalam artian harfiah, agar urusan cepat selesai. Di sisi ekonomi, investor juga ragu untuk masuk. Pelayanan publik lambat karena ada “biaya tambahan” yang tidak tertulis. Dalam istilah ekonomi politik, ini disebut high-cost economy. Dalam bahasa rakyat, apa-apa duit., dan semua jadi mahal.  Bahkan “biaya kesehatan” republik ikut melonjak, kali ini bukan hanya dalam arti anggaran BPJS atau rumah sakit, tetapi kesehatan sosial secara keseluruhan. Korupsi adalah penyakit kronis negara. Ia melemahkan sistem imun negara.

Filsuf politik Hannah Arendt pernah berbicara tentang “banalitas kejahatan”, yang wujudnya sekarang kita hadapi, lahir dari rutinitas birokrasi yang kehilangan nurani. Korupsi di republik ini sekarang tidak lagi terasa dramatis. Korupsi hadir di tengah kehidupan kita sebagai prosedur yang “sudah biasa”. Pungli kecil dianggap wajar. Kongkalikong proyek dianggap bagian dari tradisi. Sampah republik yang berserakan dan bertumpuk ini mulai dianggap normal.

Korve dan Politik Simbolik

Seruan korve, alias kerja bakti ini, memiliki daya simbolik yang kuat. Ia mengirim pesan tentang kesederhanaan dan keteladanan. Dalam tradisi kepemimpinan yang populis, pemimpin yang mau turun tangan membersihkan sesuatu memberi kesan, pejabat itu tidak berjarak dari rakyat. Namun simbol selalu berada di persimpangan, ia bisa menjadi awal perubahan, atau sekadar pertunjukan. Nah, yang terakhir ini sudah banyak kasusnya yang kita lihat di negara kita.

Jika korve hanya berhenti pada aksi bersih-bersih fisik, foto pejabat memegang sapu, unggahan di media sosial penuh setingan kebersamaan, maka ia berubah menjadi politik performatif.  Membersihkan halaman kantor memang mudah. Membersihkan jaringan rente dan kolusi jauh lebih rumit. Di sinilah publik berhak bertanya, apakah ajakan itu metafora yang disengaja, atau hanya kebetulan retoris?

Ekologi Kekuasaan yang Tercemar

Sosiolog Korea-Jerman Byung-Chul Han menyebut masyarakat modern sebagai burnout society, alias masyarakat kelelahan, di mana tekanan sistemik membuat individu terjebak dalam logika performa tanpa refleksi. Artinya situasi di mana seseorang atau sebuah sistem terus bekerja, bertindak, dan mencapai target, namun tanpa meluangkan waktu untuk meninjau kembali, mengevaluasi, atau memikirkan makna dari pengalaman tersebut.  

Dalam konteks Indonesia, sering dilihat publik, birokrasi bekerja bukan untuk melayani, melainkan untuk mempertahankan jaringan kepentingan. Orang lelah bukan karena bekerja keras demi publik, tetapi karena harus menangani sistem yang penuh jebakan informal. Semacam nyetir mobil yang speleng setirnya amat longgar. Melelahkan dan membahayakan.

Sampah republik menciptakan ekologi kekuasaan yang tercemar. Udara politik menjadi pengap. Orang baik alias sehat scara politik dan moral sulit bernapas. Mereka yang ingin bersih justru terasing dan dianggap aneh. Akibatnya, publik kehilangan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan runtuh, negara harus membayar mahal untuk setiap kebijakan. Subsidi mulai dicurigai sarat permainan. Program sosial dipandang sebagai alat politik. Bahkan niat baik pun diragukan. Polusi moral selalu berujung pada inflasi sosial. Jadi berat buat kita,nggak ekonomi nggak politik, inflasinya dobel.

Biaya “Kesehatan” yang Meningkat

Mari kita gunakan metafora kesehatan secara serius.  Korupsi adalah virus. Kita harus sepakat soal ini. Pungli adalah bakteri oportunistik. Kolusi adalah kanker yang menyebar diam-diam melalui jaringan kekuasaan. Setiap tahun negara mengeluarkan biaya besar untuk “mengobati” gejala-gejala ini.  Membentuk satgas, memperkuat pengawasan, membiayai aparat penegak hukum, memperbaiki sistem digital.  Tetapi, selama sumber infeksi tidak dibersihkan, biaya kesehatan akan terus membengkak.

Dalam ekonomi kesehatan publik, pencegahan selalu lebih murah daripada pengobatan. Dalam politik juga demikian. Reformasi sistemik, transparansi anggaran, digitalisasi layanan publik, pembatasan konflik kepentingan, perlindungan whistle blower, semua itu ibarat vaksin. Korve simbolik hanyalah semacam antiseptik permukaan.

Zaman dulu obat merah, zaman sekarang obat cair warna kuning itu. Kita tentu tidak anti terhadap aksi bersih-bersih. Justru sebaliknya, kita sadar bahwa kebersihan fisik memang penting, karena membentuk budaya disiplin. Hanya saja budaya disiplin tanpa integritas hanyalah kosmetik.

Dari Sampah Fisik ke Reformasi Struktural

Jika seruan korve dimaknai sebagai ajakan reflektif kepada para pejabat untuk “membersihkan kantor masing-masing” dalam arti moral dan struktural, maka itu adalah pesan yang radikal. Karena membersihkan sistem berarti menyentuh kepentingan. Membersihkan daun kering tidak akan memicu perlawanan. Membersihkan jaringan rente pasti memicu resistensi.  Pertanyaannya sederhana, apakah kita siap membayar harga politik untuk membersihkan sampah republik?

Reformasi bukan sekadar pidato. Ia membutuhkan konsistensi. Penegakan hukum tanpa pandang bulu. Evaluasi proyek tanpa kompromi. Transparansi yang tidak setengah hati. Dalam konteks ini, simbol harus bertemu struktur. Jika tidak, ia menguap menjadi slogan.  Republik yang sehat bukan republik yang bebas dari kritik, melainkan republik yang mampu membersihkan dirinya sendiri.

Dalam teori politik modern, legitimasi tidak hanya lahir dari pemilu, tetapi dari kemampuan negara menjaga integritasnya. Sampah republik bukan sekadar persoalan moral masing-masing orang per orang. Ia adalah akumulasi dari toleransi kolektif terhadap praktik-praktik kecil pelanggaran yang dianggap wajar. Ketika pungli kecil dibiarkan, ia menjadi norma. Ketika konflik kepentingan dianggap biasa, ia menjadi budaya.

Di titik ini, seruan korve bisa dibaca sebagai cermin. Bukan untuk petugas kebersihan, tetapi untuk para pemegang kekuasaan. Jadi sudah benar jika Presiden memanggil para pejabat, bukan para petugas kebersihan.

Membersihkan kantor masing-masing berarti luas. Bisa berupa membersihkan praktik transaksional, membersihkan proyek titipan, membersihkan relasi gelap dengan pengusaha nakal, dan yang paling penting adalah membersihkan mentalitas “jabatan sebagai investasi”.  Jika itu yang dimaksud, maka ajakan tersebut jauh lebih revolusioner daripada yang tampak. Dan kalau kita lihat di video pidato Prseiden, para pejabat bilang serempak, “Siaaappp!!!”.

Jangan Hanya Menyapu Halaman

Kita tentu boleh tersenyum sinis ketika pejabat memegang sapu untuk sesi foto. Tetapi sinisme saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa metafora sampah tidak berhenti pada plastik dan daun. 

Jika korve benar-benar dimaknai sebagai pembersihan sistemik, maka itu adalah awal yang baik. Tetapi jika ia hanya menjadi simbol tanpa reformasi, maka kita sekadar menyapu halaman depan sementara ruang dalam tetap saja sampah bertumpuk.

Republik kita tidak kekurangan petugas kebersihan. Yang dibutuhkan adalah keberanian membersihkan diri sendiri. Kalau sapu dan alat pelnya kotor, lantainya jelas tidak akan bersih. Bersihkan dulu sapunya, dan kalau sapunya sudah tidak bisa dibersihkan juga karena terlalu kotor, ya harus diganti dengan yang baru dan bersih, harus. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Anti KorupsiekologiKorupsilingkunganSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

Next Post

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

'The Story of White Piano' Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co