14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan sampah. Wah, karena yang menyerukan presiden, yang notabene jabatan politik tertinggi, maka publik mendengarnya jadi agak beda ini, lebih dari sekadar instruksi kebersihan biasa.

Di negeri yang terlalu akrab dan kenyang dengan simbolisme politik ini, kata “sampah” jarang berhenti sebagai benda, Ia hampir selalu menjelma sebagai metafora. Dan metafora, seperti kita tahu, lebih berbahaya daripada pidato biasa. Di sini rekan-rekan seniman lebih paham.

Sebenarnya, sampah di kantor-kantor pemerintah tentu urusan teknis. Biasanya sudah ada petugas kebersihan, ada anggaran, ada jadwal rutin. Presiden sebenarnya tidak perlu turun tangan untuk memastikan tempat sampah dikosongkan setiap sore. Beliau Presiden dan kita, semua tentu tahu itu.

Maka, ketika ajakan itu diarahkan kepada para pejabat publik, sulit untuk tidak membaca lapisan makna yang lebih dalam. Mungkinkah yang sedang disentil bukan daun kering, melainkan residu moral dalam republik? Kalau memang iya, dan semoga iya, tentu ini bagus. 

Sampah yang Tak Terlihat

Masalah terbesar republik ini bukanlah plastik yang tercecer di halaman kantor dinas, atau tempat wisata. Masalahnya adalah sampah yang tak terlihat tetapi mengendap dalam sistem. Sebut saja korupsi, pungutan liar, konflik kepentingan, kolusi antara pejabat dan pengusaha nakal, birokrasi yang lamban karena sengaja dipersulit.  Sampah jenis ini tidak menimbulkan bau busuk secara harfiah. Ia menimbulkan polusi kepercayaan, dan sampah yang menumpuk ini membuat kepercayaan jadi amat mahal saat in.

Ketika masyarakat tidak percaya pada birokrasi, biaya transaksi sosial meningkat. Orang harus membayar lebih, dalam artian harfiah, agar urusan cepat selesai. Di sisi ekonomi, investor juga ragu untuk masuk. Pelayanan publik lambat karena ada “biaya tambahan” yang tidak tertulis. Dalam istilah ekonomi politik, ini disebut high-cost economy. Dalam bahasa rakyat, apa-apa duit., dan semua jadi mahal.  Bahkan “biaya kesehatan” republik ikut melonjak, kali ini bukan hanya dalam arti anggaran BPJS atau rumah sakit, tetapi kesehatan sosial secara keseluruhan. Korupsi adalah penyakit kronis negara. Ia melemahkan sistem imun negara.

Filsuf politik Hannah Arendt pernah berbicara tentang “banalitas kejahatan”, yang wujudnya sekarang kita hadapi, lahir dari rutinitas birokrasi yang kehilangan nurani. Korupsi di republik ini sekarang tidak lagi terasa dramatis. Korupsi hadir di tengah kehidupan kita sebagai prosedur yang “sudah biasa”. Pungli kecil dianggap wajar. Kongkalikong proyek dianggap bagian dari tradisi. Sampah republik yang berserakan dan bertumpuk ini mulai dianggap normal.

Korve dan Politik Simbolik

Seruan korve, alias kerja bakti ini, memiliki daya simbolik yang kuat. Ia mengirim pesan tentang kesederhanaan dan keteladanan. Dalam tradisi kepemimpinan yang populis, pemimpin yang mau turun tangan membersihkan sesuatu memberi kesan, pejabat itu tidak berjarak dari rakyat. Namun simbol selalu berada di persimpangan, ia bisa menjadi awal perubahan, atau sekadar pertunjukan. Nah, yang terakhir ini sudah banyak kasusnya yang kita lihat di negara kita.

Jika korve hanya berhenti pada aksi bersih-bersih fisik, foto pejabat memegang sapu, unggahan di media sosial penuh setingan kebersamaan, maka ia berubah menjadi politik performatif.  Membersihkan halaman kantor memang mudah. Membersihkan jaringan rente dan kolusi jauh lebih rumit. Di sinilah publik berhak bertanya, apakah ajakan itu metafora yang disengaja, atau hanya kebetulan retoris?

Ekologi Kekuasaan yang Tercemar

Sosiolog Korea-Jerman Byung-Chul Han menyebut masyarakat modern sebagai burnout society, alias masyarakat kelelahan, di mana tekanan sistemik membuat individu terjebak dalam logika performa tanpa refleksi. Artinya situasi di mana seseorang atau sebuah sistem terus bekerja, bertindak, dan mencapai target, namun tanpa meluangkan waktu untuk meninjau kembali, mengevaluasi, atau memikirkan makna dari pengalaman tersebut.  

Dalam konteks Indonesia, sering dilihat publik, birokrasi bekerja bukan untuk melayani, melainkan untuk mempertahankan jaringan kepentingan. Orang lelah bukan karena bekerja keras demi publik, tetapi karena harus menangani sistem yang penuh jebakan informal. Semacam nyetir mobil yang speleng setirnya amat longgar. Melelahkan dan membahayakan.

Sampah republik menciptakan ekologi kekuasaan yang tercemar. Udara politik menjadi pengap. Orang baik alias sehat scara politik dan moral sulit bernapas. Mereka yang ingin bersih justru terasing dan dianggap aneh. Akibatnya, publik kehilangan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan runtuh, negara harus membayar mahal untuk setiap kebijakan. Subsidi mulai dicurigai sarat permainan. Program sosial dipandang sebagai alat politik. Bahkan niat baik pun diragukan. Polusi moral selalu berujung pada inflasi sosial. Jadi berat buat kita,nggak ekonomi nggak politik, inflasinya dobel.

Biaya “Kesehatan” yang Meningkat

Mari kita gunakan metafora kesehatan secara serius.  Korupsi adalah virus. Kita harus sepakat soal ini. Pungli adalah bakteri oportunistik. Kolusi adalah kanker yang menyebar diam-diam melalui jaringan kekuasaan. Setiap tahun negara mengeluarkan biaya besar untuk “mengobati” gejala-gejala ini.  Membentuk satgas, memperkuat pengawasan, membiayai aparat penegak hukum, memperbaiki sistem digital.  Tetapi, selama sumber infeksi tidak dibersihkan, biaya kesehatan akan terus membengkak.

Dalam ekonomi kesehatan publik, pencegahan selalu lebih murah daripada pengobatan. Dalam politik juga demikian. Reformasi sistemik, transparansi anggaran, digitalisasi layanan publik, pembatasan konflik kepentingan, perlindungan whistle blower, semua itu ibarat vaksin. Korve simbolik hanyalah semacam antiseptik permukaan.

Zaman dulu obat merah, zaman sekarang obat cair warna kuning itu. Kita tentu tidak anti terhadap aksi bersih-bersih. Justru sebaliknya, kita sadar bahwa kebersihan fisik memang penting, karena membentuk budaya disiplin. Hanya saja budaya disiplin tanpa integritas hanyalah kosmetik.

Dari Sampah Fisik ke Reformasi Struktural

Jika seruan korve dimaknai sebagai ajakan reflektif kepada para pejabat untuk “membersihkan kantor masing-masing” dalam arti moral dan struktural, maka itu adalah pesan yang radikal. Karena membersihkan sistem berarti menyentuh kepentingan. Membersihkan daun kering tidak akan memicu perlawanan. Membersihkan jaringan rente pasti memicu resistensi.  Pertanyaannya sederhana, apakah kita siap membayar harga politik untuk membersihkan sampah republik?

Reformasi bukan sekadar pidato. Ia membutuhkan konsistensi. Penegakan hukum tanpa pandang bulu. Evaluasi proyek tanpa kompromi. Transparansi yang tidak setengah hati. Dalam konteks ini, simbol harus bertemu struktur. Jika tidak, ia menguap menjadi slogan.  Republik yang sehat bukan republik yang bebas dari kritik, melainkan republik yang mampu membersihkan dirinya sendiri.

Dalam teori politik modern, legitimasi tidak hanya lahir dari pemilu, tetapi dari kemampuan negara menjaga integritasnya. Sampah republik bukan sekadar persoalan moral masing-masing orang per orang. Ia adalah akumulasi dari toleransi kolektif terhadap praktik-praktik kecil pelanggaran yang dianggap wajar. Ketika pungli kecil dibiarkan, ia menjadi norma. Ketika konflik kepentingan dianggap biasa, ia menjadi budaya.

Di titik ini, seruan korve bisa dibaca sebagai cermin. Bukan untuk petugas kebersihan, tetapi untuk para pemegang kekuasaan. Jadi sudah benar jika Presiden memanggil para pejabat, bukan para petugas kebersihan.

Membersihkan kantor masing-masing berarti luas. Bisa berupa membersihkan praktik transaksional, membersihkan proyek titipan, membersihkan relasi gelap dengan pengusaha nakal, dan yang paling penting adalah membersihkan mentalitas “jabatan sebagai investasi”.  Jika itu yang dimaksud, maka ajakan tersebut jauh lebih revolusioner daripada yang tampak. Dan kalau kita lihat di video pidato Prseiden, para pejabat bilang serempak, “Siaaappp!!!”.

Jangan Hanya Menyapu Halaman

Kita tentu boleh tersenyum sinis ketika pejabat memegang sapu untuk sesi foto. Tetapi sinisme saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa metafora sampah tidak berhenti pada plastik dan daun. 

Jika korve benar-benar dimaknai sebagai pembersihan sistemik, maka itu adalah awal yang baik. Tetapi jika ia hanya menjadi simbol tanpa reformasi, maka kita sekadar menyapu halaman depan sementara ruang dalam tetap saja sampah bertumpuk.

Republik kita tidak kekurangan petugas kebersihan. Yang dibutuhkan adalah keberanian membersihkan diri sendiri. Kalau sapu dan alat pelnya kotor, lantainya jelas tidak akan bersih. Bersihkan dulu sapunya, dan kalau sapunya sudah tidak bisa dibersihkan juga karena terlalu kotor, ya harus diganti dengan yang baru dan bersih, harus. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Anti KorupsiekologiKorupsilingkunganSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

Next Post

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails
Next Post
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

'The Story of White Piano' Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co