23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 3, 2026
in Esai
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Dunia yang Selalu Berulang

SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola yang sama terus berulang: perebutan pengaruh, ketakutan akan ancaman, dan perjuangan mempertahankan identitas. Dalam konteks hari ini, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat bukan sekadar peristiwa regional. Ia adalah cerminan dinamika global yang lebih besar—tentang bagaimana kekuasaan dipertahankan, ditantang, dan dinegosiasikan.

Konflik semacam ini jarang berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan kepentingan energi, rivalitas ideologis, keamanan regional, hingga pertarungan pengaruh antara kekuatan besar seperti China dan Rusia. Dunia modern yang terhubung secara ekonomi membuat setiap percikan konflik memiliki gema global.

Namun pertanyaannya lebih dalam: apakah perang selalu soal keserakahan? Ataukah ia lebih sering lahir dari ketakutan kolektif yang tak terselesaikan?

Ketakutan dan Ambisi: Dua Wajah Kekuasaan

Dalam analisis geopolitik klasik, negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional. Keamanan, stabilitas, dan kelangsungan rezim menjadi prioritas utama. Ketika satu pihak merasa terancam—baik secara militer, ekonomi, maupun ideologis—reaksi defensif sering kali berubah menjadi ofensif.

Di sinilah ketakutan dan ambisi bertemu.

Ketakutan melahirkan kebijakan preventif. Ambisi melahirkan ekspansi pengaruh. Keduanya saling memperkuat. Negara yang merasa terancam akan memperkuat militernya; negara lain membaca itu sebagai ancaman baru. Siklus ini disebut sebagai security dilemma—dilema keamanan—yang sering menjadi akar konflik modern.

Dalam konteks Timur Tengah, ketegangan tidak hanya soal dua negara. Ia melibatkan aktor regional lain seperti Israel dan Arab Saudi, yang memiliki kepentingan strategis masing-masing. Persaingan pengaruh di kawasan ini telah berlangsung selama puluhan tahun, dan setiap eskalasi militer membawa risiko meluasnya konflik melalui jaringan aliansi dan proksi.

Energi, Jalur Perdagangan, dan Realitas Ekonomi

Sering kali perang dipahami sebagai pertarungan ideologi. Namun realitasnya, ekonomi memainkan peran sentral. Timur Tengah adalah jantung produksi energi dunia. Jalur pelayaran seperti Selat Hormuz menjadi nadi distribusi minyak global. Ketika stabilitas kawasan terganggu, harga energi melonjak, inflasi meningkat, dan pasar keuangan bereaksi.

Di sinilah dampak konflik terasa hingga ribuan kilometer jauhnya. Negara seperti Indonesia, yang tidak terlibat langsung secara militer, tetap merasakan konsekuensinya melalui kenaikan harga minyak, tekanan nilai tukar, dan ketidakpastian pasar.

Harga emas biasanya naik saat konflik meningkat. Investor mencari aset aman. Rupiah bisa melemah jika arus modal keluar. Subsidi energi membengkak. Inflasi merayap naik. Perang di satu wilayah dapat menjadi beban ekonomi bagi masyarakat di belahan dunia lain.

Pelajaran pentingnya: di era globalisasi, tidak ada konflik yang benar-benar lokal.

PBB dan Batas Kekuatan Diplomasi

Banyak orang berharap lembaga internasional mampu mencegah perang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memang dibentuk dengan tujuan menjaga perdamaian dunia. Melalui Dewan Keamanan, resolusi gencatan senjata dapat dikeluarkan, sanksi dapat dijatuhkan, dan misi penjaga perdamaian dapat dikirim.

Namun realitas politik membatasi peran tersebut. Di United Nations Security Council, lima anggota tetap memiliki hak veto. Ketika konflik melibatkan kepentingan langsung negara besar, resolusi tegas sering terhenti oleh veto.

PBB sering berperan sebagai forum dialog dan penyalur bantuan kemanusiaan. Ia mampu menurunkan tensi, tetapi jarang mampu memaksa kekuatan besar menghentikan konflik jika kepentingan strategis mereka dipertaruhkan.

Ini bukan kegagalan total, tetapi refleksi dari sistem internasional yang masih berbasis keseimbangan kekuatan.

Perang dan Kesadaran Kolektif

Jika kita melihat konflik dari perspektif psikologis dan spiritual, misalnya melalui gagasan Map of Consciousness yang diperkenalkan oleh David R. Hawkins dalam Power vs. Force, perang sering muncul dari tingkat kesadaran kolektif yang didominasi oleh ketakutan, kemarahan, dan kebanggaan nasional.

Ketika narasi publik dibangun atas dasar ancaman dan balas dendam, ruang dialog menyempit. Retorika menjadi lebih keras. Kompromi dianggap kelemahan. Di titik ini, diplomasi rasional sulit berkembang.

Sebaliknya, perdamaian membutuhkan keberanian politik—bukan sekadar untuk melawan musuh, tetapi untuk menghadapi opini domestik yang mungkin tidak sabar terhadap kompromi.

Meskipun pendekatan ini bukan analisis ilmiah hubungan internasional, ia memberi refleksi penting: konflik besar sering kali berakar pada kondisi psikologis kolektif, bukan hanya perhitungan material.

Indonesia dan Posisi Bebas Aktif

Bagi Indonesia, konflik global menjadi ujian ketahanan ekonomi dan sosial. Politik luar negeri bebas aktif memberi ruang untuk menjaga netralitas dan mendorong dialog. Namun netralitas tidak berarti kebal terhadap dampak.

Kenaikan harga minyak dapat membebani APBN. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor. Ketidakpastian global dapat menunda investasi. Bahkan isu Timur Tengah bisa memicu polarisasi opini di dalam negeri.

Pelajaran pentingnya adalah memperkuat fondasi domestik: diversifikasi energi, ketahanan pangan, stabilitas fiskal, dan literasi publik agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi ekstrem.

Konflik global mengajarkan bahwa stabilitas nasional bukan hanya soal militer, tetapi juga soal ketahanan ekonomi dan kedewasaan sosial.

Apakah Perang Dipicu oleh Keserakahan?

Keserakahan sering disebut sebagai akar perang. Memang, perebutan sumber daya dan dominasi ekonomi memainkan peran penting dalam sejarah konflik. Namun menyederhanakan perang sebagai akibat keserakahan semata mengabaikan dimensi lain yang tak kalah kuat: rasa takut kehilangan pengaruh, ancaman terhadap identitas, dan kebutuhan mempertahankan legitimasi kekuasaan.

Perang modern biasanya merupakan hasil interaksi kompleks antara kepentingan ekonomi, kalkulasi keamanan, dan dinamika domestik. Elite politik bisa memanfaatkan konflik untuk konsolidasi kekuasaan. Industri tertentu mungkin diuntungkan. Tetapi faktor-faktor tersebut beroperasi dalam sistem internasional yang kompetitif.

Dengan kata lain, keserakahan mungkin menjadi bahan bakar, tetapi ketakutan sering menjadi pemantik.

Jalur Menuju Perdamaian

Upaya damai membutuhkan beberapa langkah mendasar:

  1. De-eskalasi militer untuk mencegah salah perhitungan.
  2. Dialog langsung maupun jalur belakang agar kompromi dapat dinegosiasikan tanpa tekanan publik berlebihan.
  3. Jaminan keamanan timbal balik, sehingga tidak ada pihak merasa terancam eksistensial.
  4. Pengamanan jalur perdagangan internasional, demi stabilitas ekonomi global.
  5. Pengurangan perang proksi, yang sering memperpanjang konflik regional.

Perdamaian jarang tercapai melalui kemenangan mutlak. Ia biasanya lahir dari kesadaran bahwa biaya konflik telah melampaui manfaatnya.

Pelajaran untuk Kita Semua

Perang mengajarkan bahwa dunia terhubung secara mendalam. Ketika satu kawasan bergolak, seluruh sistem merasakan dampaknya. Harga emas naik, pasar saham bergejolak, mata uang melemah, dan masyarakat biasa menanggung beban inflasi.

Namun pelajaran yang lebih dalam bersifat moral dan reflektif.

Pertama, kekuasaan tanpa kebijaksanaan cenderung menciptakan siklus konflik. Dominasi mungkin memberi keuntungan jangka pendek, tetapi stabilitas jangka panjang membutuhkan legitimasi dan kepercayaan.

Kedua, ketakutan kolektif dapat lebih berbahaya daripada ambisi. Narasi ancaman yang terus-menerus diperkuat akan menutup ruang empati dan dialog.

Ketiga, masyarakat sipil memiliki peran penting. Opini publik yang kritis dan rasional dapat mendorong pemimpin untuk memilih diplomasi daripada eskalasi.

Keempat, ketahanan domestik adalah kunci menghadapi gejolak global. Negara yang ekonominya kuat, masyarakatnya dewasa, dan institusinya stabil akan lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

Menatap Masa Depan

Konflik antara negara besar dan regional mungkin tidak akan hilang dari panggung dunia. Sistem internasional masih didasarkan pada keseimbangan kekuatan. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa dialog dan kompromi dapat mencegah perang besar berkepanjangan.

Kita hidup di era di mana senjata semakin canggih, tetapi dampaknya semakin luas. Perang modern bukan hanya soal garis depan, tetapi juga soal pasar keuangan, siber, energi, dan opini publik.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari setiap konflik adalah kesadaran bahwa perdamaian bukan kondisi alami; ia harus diusahakan. Ia membutuhkan keberanian untuk menahan diri, kebijaksanaan untuk memahami perspektif lawan, dan kerendahan hati untuk menerima bahwa tidak semua pertarungan harus dimenangkan.

Perang mungkin tentang kekuasaan.
Tetapi masa depan umat manusia bergantung pada kemampuan kita mengelola kekuasaan itu dengan tanggung jawab.

Dan mungkin, di situlah pelajaran untuk kita semua. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaanperang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Next Post

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co