2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 3, 2026
in Esai
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Dunia yang Selalu Berulang

SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola yang sama terus berulang: perebutan pengaruh, ketakutan akan ancaman, dan perjuangan mempertahankan identitas. Dalam konteks hari ini, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat bukan sekadar peristiwa regional. Ia adalah cerminan dinamika global yang lebih besar—tentang bagaimana kekuasaan dipertahankan, ditantang, dan dinegosiasikan.

Konflik semacam ini jarang berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan kepentingan energi, rivalitas ideologis, keamanan regional, hingga pertarungan pengaruh antara kekuatan besar seperti China dan Rusia. Dunia modern yang terhubung secara ekonomi membuat setiap percikan konflik memiliki gema global.

Namun pertanyaannya lebih dalam: apakah perang selalu soal keserakahan? Ataukah ia lebih sering lahir dari ketakutan kolektif yang tak terselesaikan?

Ketakutan dan Ambisi: Dua Wajah Kekuasaan

Dalam analisis geopolitik klasik, negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional. Keamanan, stabilitas, dan kelangsungan rezim menjadi prioritas utama. Ketika satu pihak merasa terancam—baik secara militer, ekonomi, maupun ideologis—reaksi defensif sering kali berubah menjadi ofensif.

Di sinilah ketakutan dan ambisi bertemu.

Ketakutan melahirkan kebijakan preventif. Ambisi melahirkan ekspansi pengaruh. Keduanya saling memperkuat. Negara yang merasa terancam akan memperkuat militernya; negara lain membaca itu sebagai ancaman baru. Siklus ini disebut sebagai security dilemma—dilema keamanan—yang sering menjadi akar konflik modern.

Dalam konteks Timur Tengah, ketegangan tidak hanya soal dua negara. Ia melibatkan aktor regional lain seperti Israel dan Arab Saudi, yang memiliki kepentingan strategis masing-masing. Persaingan pengaruh di kawasan ini telah berlangsung selama puluhan tahun, dan setiap eskalasi militer membawa risiko meluasnya konflik melalui jaringan aliansi dan proksi.

Energi, Jalur Perdagangan, dan Realitas Ekonomi

Sering kali perang dipahami sebagai pertarungan ideologi. Namun realitasnya, ekonomi memainkan peran sentral. Timur Tengah adalah jantung produksi energi dunia. Jalur pelayaran seperti Selat Hormuz menjadi nadi distribusi minyak global. Ketika stabilitas kawasan terganggu, harga energi melonjak, inflasi meningkat, dan pasar keuangan bereaksi.

Di sinilah dampak konflik terasa hingga ribuan kilometer jauhnya. Negara seperti Indonesia, yang tidak terlibat langsung secara militer, tetap merasakan konsekuensinya melalui kenaikan harga minyak, tekanan nilai tukar, dan ketidakpastian pasar.

Harga emas biasanya naik saat konflik meningkat. Investor mencari aset aman. Rupiah bisa melemah jika arus modal keluar. Subsidi energi membengkak. Inflasi merayap naik. Perang di satu wilayah dapat menjadi beban ekonomi bagi masyarakat di belahan dunia lain.

Pelajaran pentingnya: di era globalisasi, tidak ada konflik yang benar-benar lokal.

PBB dan Batas Kekuatan Diplomasi

Banyak orang berharap lembaga internasional mampu mencegah perang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memang dibentuk dengan tujuan menjaga perdamaian dunia. Melalui Dewan Keamanan, resolusi gencatan senjata dapat dikeluarkan, sanksi dapat dijatuhkan, dan misi penjaga perdamaian dapat dikirim.

Namun realitas politik membatasi peran tersebut. Di United Nations Security Council, lima anggota tetap memiliki hak veto. Ketika konflik melibatkan kepentingan langsung negara besar, resolusi tegas sering terhenti oleh veto.

PBB sering berperan sebagai forum dialog dan penyalur bantuan kemanusiaan. Ia mampu menurunkan tensi, tetapi jarang mampu memaksa kekuatan besar menghentikan konflik jika kepentingan strategis mereka dipertaruhkan.

Ini bukan kegagalan total, tetapi refleksi dari sistem internasional yang masih berbasis keseimbangan kekuatan.

Perang dan Kesadaran Kolektif

Jika kita melihat konflik dari perspektif psikologis dan spiritual, misalnya melalui gagasan Map of Consciousness yang diperkenalkan oleh David R. Hawkins dalam Power vs. Force, perang sering muncul dari tingkat kesadaran kolektif yang didominasi oleh ketakutan, kemarahan, dan kebanggaan nasional.

Ketika narasi publik dibangun atas dasar ancaman dan balas dendam, ruang dialog menyempit. Retorika menjadi lebih keras. Kompromi dianggap kelemahan. Di titik ini, diplomasi rasional sulit berkembang.

Sebaliknya, perdamaian membutuhkan keberanian politik—bukan sekadar untuk melawan musuh, tetapi untuk menghadapi opini domestik yang mungkin tidak sabar terhadap kompromi.

Meskipun pendekatan ini bukan analisis ilmiah hubungan internasional, ia memberi refleksi penting: konflik besar sering kali berakar pada kondisi psikologis kolektif, bukan hanya perhitungan material.

Indonesia dan Posisi Bebas Aktif

Bagi Indonesia, konflik global menjadi ujian ketahanan ekonomi dan sosial. Politik luar negeri bebas aktif memberi ruang untuk menjaga netralitas dan mendorong dialog. Namun netralitas tidak berarti kebal terhadap dampak.

Kenaikan harga minyak dapat membebani APBN. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor. Ketidakpastian global dapat menunda investasi. Bahkan isu Timur Tengah bisa memicu polarisasi opini di dalam negeri.

Pelajaran pentingnya adalah memperkuat fondasi domestik: diversifikasi energi, ketahanan pangan, stabilitas fiskal, dan literasi publik agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi ekstrem.

Konflik global mengajarkan bahwa stabilitas nasional bukan hanya soal militer, tetapi juga soal ketahanan ekonomi dan kedewasaan sosial.

Apakah Perang Dipicu oleh Keserakahan?

Keserakahan sering disebut sebagai akar perang. Memang, perebutan sumber daya dan dominasi ekonomi memainkan peran penting dalam sejarah konflik. Namun menyederhanakan perang sebagai akibat keserakahan semata mengabaikan dimensi lain yang tak kalah kuat: rasa takut kehilangan pengaruh, ancaman terhadap identitas, dan kebutuhan mempertahankan legitimasi kekuasaan.

Perang modern biasanya merupakan hasil interaksi kompleks antara kepentingan ekonomi, kalkulasi keamanan, dan dinamika domestik. Elite politik bisa memanfaatkan konflik untuk konsolidasi kekuasaan. Industri tertentu mungkin diuntungkan. Tetapi faktor-faktor tersebut beroperasi dalam sistem internasional yang kompetitif.

Dengan kata lain, keserakahan mungkin menjadi bahan bakar, tetapi ketakutan sering menjadi pemantik.

Jalur Menuju Perdamaian

Upaya damai membutuhkan beberapa langkah mendasar:

  1. De-eskalasi militer untuk mencegah salah perhitungan.
  2. Dialog langsung maupun jalur belakang agar kompromi dapat dinegosiasikan tanpa tekanan publik berlebihan.
  3. Jaminan keamanan timbal balik, sehingga tidak ada pihak merasa terancam eksistensial.
  4. Pengamanan jalur perdagangan internasional, demi stabilitas ekonomi global.
  5. Pengurangan perang proksi, yang sering memperpanjang konflik regional.

Perdamaian jarang tercapai melalui kemenangan mutlak. Ia biasanya lahir dari kesadaran bahwa biaya konflik telah melampaui manfaatnya.

Pelajaran untuk Kita Semua

Perang mengajarkan bahwa dunia terhubung secara mendalam. Ketika satu kawasan bergolak, seluruh sistem merasakan dampaknya. Harga emas naik, pasar saham bergejolak, mata uang melemah, dan masyarakat biasa menanggung beban inflasi.

Namun pelajaran yang lebih dalam bersifat moral dan reflektif.

Pertama, kekuasaan tanpa kebijaksanaan cenderung menciptakan siklus konflik. Dominasi mungkin memberi keuntungan jangka pendek, tetapi stabilitas jangka panjang membutuhkan legitimasi dan kepercayaan.

Kedua, ketakutan kolektif dapat lebih berbahaya daripada ambisi. Narasi ancaman yang terus-menerus diperkuat akan menutup ruang empati dan dialog.

Ketiga, masyarakat sipil memiliki peran penting. Opini publik yang kritis dan rasional dapat mendorong pemimpin untuk memilih diplomasi daripada eskalasi.

Keempat, ketahanan domestik adalah kunci menghadapi gejolak global. Negara yang ekonominya kuat, masyarakatnya dewasa, dan institusinya stabil akan lebih tahan terhadap guncangan eksternal.

Menatap Masa Depan

Konflik antara negara besar dan regional mungkin tidak akan hilang dari panggung dunia. Sistem internasional masih didasarkan pada keseimbangan kekuatan. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa dialog dan kompromi dapat mencegah perang besar berkepanjangan.

Kita hidup di era di mana senjata semakin canggih, tetapi dampaknya semakin luas. Perang modern bukan hanya soal garis depan, tetapi juga soal pasar keuangan, siber, energi, dan opini publik.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari setiap konflik adalah kesadaran bahwa perdamaian bukan kondisi alami; ia harus diusahakan. Ia membutuhkan keberanian untuk menahan diri, kebijaksanaan untuk memahami perspektif lawan, dan kerendahan hati untuk menerima bahwa tidak semua pertarungan harus dimenangkan.

Perang mungkin tentang kekuasaan.
Tetapi masa depan umat manusia bergantung pada kemampuan kita mengelola kekuasaan itu dengan tanggung jawab.

Dan mungkin, di situlah pelajaran untuk kita semua. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaanperang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Next Post

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co