4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
in Esai
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran besar. Siang harinya ia duduk berjam-jam di kelas, sore dihabiskan dengan gawai. Di rumah, makan malam serba praktis karena orang tua lelah bekerja. Tanpa terasa, lingkar perut perlahan bertambah. Tekanan darah mulai naik. Gula darah merangkak pelan.

Inilah wajah obesitas hari ini—bukan drama, tetapi nyata.

Setiap 4 Maret, dunia memperingati World Obesity Day yang diprakarsai oleh World Obesity Federation. Data dari World Health Organization menunjukkan tren obesitas global terus meningkat pada anak maupun dewasa. Hal ini tentunya bukan lagi isu kosmetik, yang mencakup estetika dan penampilan saja, melainkan pintu masuk berbagai penyakit tidak menular yang membebani keluarga dan negara.

Obesitas kini diakui sebagai penyakit kronis yang kompleks, yang bukan semata-mata hasil dari kurangnya kemauan individu untuk mengatur makan atau berolahraga. Faktor genetik, lingkungan obesogenik, sistem pangan modern, urbanisasi, paparan iklan makanan ultra-proses, hingga ketimpangan sosial berkontribusi besar terhadap peningkatan prevalensinya. Dalam konteks global, laporan dari World Health Organization menunjukkan bahwa angka obesitas terus meningkat baik pada kelompok dewasa maupun anak-anak. Kondisi ini memperbesar risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung koroner, hingga beberapa jenis kanker.

Obesitas dan Paradoks Gizi Modern

Menariknya, banyak negara berkembang menghadapi fenomena double burden of malnutrition—kekurangan gizi dan kelebihan gizi (obesitas) terjadi secara bersamaan dalam satu populasi, bahkan dalam satu rumah tangga. Pola konsumsi tinggi energi namun rendah zat gizi mikro menjadi ciri umum masyarakat urban dan semi-urban. Makanan cepat saji dan minuman berpemanis semakin mudah diakses dibandingkan pangan segar lokal.

Di sisi lain, perubahan gaya hidup akibat digitalisasi turut meningkatkan perilaku sedentari. Anak-anak dan remaja menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dibandingkan aktivitas fisik di luar ruangan. Lingkungan yang kurang ramah pejalan kaki, minimnya ruang terbuka hijau, serta sistem transportasi yang tidak mendukung mobilitas aktif semakin memperburuk situasi.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Obesitas juga membawa beban ekonomi yang signifikan. Biaya pengobatan penyakit terkait obesitas menyedot anggaran kesehatan nasional. Produktivitas kerja menurun akibat komplikasi kesehatan jangka panjang. Lebih jauh lagi, stigma terhadap individu dengan obesitas seringkali memperburuk kondisi psikologis mereka, menciptakan lingkaran setan antara stres emosional dan pola makan tidak sehat.

Pendekatan yang hanya menekankan “diet dan olahraga” ternyata tidaklah cukup. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistem: kebijakan fiskal terhadap minuman berpemanis (misalnya penerapan pajak khusus), regulasi pemasaran makanan kepada anak (tidak menggunakan bahasa promosi yang menggiring atau menjebak), pelabelan gizi yang jelas (dan tentunya harus mudah dipahami), hingga integrasi edukasi gizi dalam kurikulum sekolah.

Peran Strategis Sektor Kesehatan dan Pendidikan

Tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam melakukan skrining dini, konseling berbasis bukti, serta pendampingan berkelanjutan. Hasil skrining juga sebaiknya disampaikan kepada sasaran. Sehingga intervensi klinis dapat dilaksanakan berjalan beriringan dengan pendekatan promotif-preventif berbasis komunitas. Sekolah, keluarga, dan tempat kerja menjadi arena strategis untuk membangun budaya makan sehat dan aktif bergerak.

Dalam konteks pendidikan tinggi kesehatan, penguatan kurikulum berbasis life-course approach menjadi krusial. Obesitas perlu dipahami sejak periode prakonsepsi, kehamilan, masa anak, remaja, hingga dewasa dan lansia. Pencegahan obesitas tidak bisa dilakukan secara parsial dan sesaat.

Dari Kesadaran Menuju Komitmen

World Obesity Day 2026 seharusnya tidak berhenti pada kampanye simbolik, melainkan perlu diterjemahkan menjadi komitmen lintas sektor: pemerintah, akademisi, organisasi profesi, industri pangan, dan masyarakat sipil. Pendekatan pentahelix menjadi relevan untuk memastikan intervensi yang komprehensif dan berkelanjutan. Kita perlu menggeser narasi dari menyalahkan individu menjadi memperbaiki sistem. Dari sekadar slogan “kurangi makan, perbanyak olahraga” menjadi kebijakan konkret yang menciptakan lingkungan sehat. Dari pendekatan kuratif menuju pencegahan berbasis bukti.

Kabar baiknya: obesitas bisa dicegah, dan pencegahan selalu dimulai dari langkah kecil—yang bila dilakukan bersama, berubah menjadi gerakan besar.

Mari kita lakukan perubahan sistemik memang penting, tetapi fondasinya ada di rumah. Beberapa hal kecil yang dapat dilakukan antara lain :

  • Ubah isi gelas, bukan hanya isi piring.

    Mengganti minuman manis dengan air putih atau infused water adalah langkah sederhana yang langsung menurunkan asupan gula harian. Satu gelas minuman berpemanis (teh, kopi, syrup, jus dan yang lainnya) yang dihilangkan setiap hari dapat mengurangi ribuan kalori dalam sebulan.

    • Atur ulang tampilan dapur.

    Menyimpan cemilan buah di meja makan, sebagai pengganti biskuit atau keripik. Penataan visual memengaruhi pilihan makan secara tidak sadar.

    • Terapkan “jam makan tanpa gawai.”

    Makan sambil menonton atau bermain ponsel meningkatkan risiko makan berlebihan. Makan sadar (mindful eating) membantu mengenali rasa kenyang.

    • Gerak 30 menit, tanpa harus ke gym.

    Melakukan aktivitas berjalan kaki keliling kompleks, bersepeda bersama anak, berkebun, atau kerja bakti lingkungan sudah cukup untuk memulai. Hal yang dilakukan secara konsistens jauh lebih penting daripada intensitas ekstrem.

    • Bekal dari rumah.

    Membawakan anak bekal sederhana—nasi, lauk protein, sayur, dan buah—mengurangi paparan jajanan tinggi gula, garam, dan lemak.

    Langkah-langkah ini tampak kecil. Tetapi bila dilakukan oleh jutaan keluarga, dampaknya luar biasa. Pada akhirnya World Obesity Day 2026 adalah panggilan untuk bertindak, bukan nanti, bukan besok, tapi sekarang. [T]

    Penulis: I Putu Suiraoka
    Editor: Adnyana Ole

    Tags: giziobesitas
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

    Next Post

    ‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

    I Putu Suiraoka

    I Putu Suiraoka

    Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

    Related Posts

    Menara Gading di Pasar Kerja

    by I Wayan Renaldi Bayu Permana
    October 3, 2026
    0
    Menara Gading di Pasar Kerja

    LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

    Read moreDetails

    Small Is Beautiful untuk Orang Bali

    by Angga Wijaya
    October 3, 2026
    0
    Small Is Beautiful untuk Orang Bali

    BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

    Read moreDetails

    Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

    by Agung Sudarsa
    October 3, 2026
    0
    Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

    ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

    Read moreDetails

    Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    October 3, 2026
    0
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

    SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

    Read moreDetails

    Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

    by Vito Prasetyo
    October 2, 2026
    0
    Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

    KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

    Read moreDetails

    Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

    by Ari Murdimanto
    October 2, 2026
    0
    Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

    Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

    Read moreDetails

    Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

    by Tri Nugroho Adi
    October 2, 2026
    0
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

    SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

    Read moreDetails

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    by I Wayan Yudana
    October 1, 2026
    0
    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

    Read moreDetails

    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    by Teguh Wahyu Pranata
    October 1, 2026
    0
    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

    Read moreDetails

    Manusia Purba di Kota Denpasar

    by Angga Wijaya
    October 1, 2026
    0
    Manusia Purba di Kota Denpasar

    SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

    Read moreDetails
    Next Post
    Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

    ‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Menara Gading di Pasar Kerja
    Esai

    Menara Gading di Pasar Kerja

    LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

    by I Wayan Renaldi Bayu Permana
    October 3, 2026
    Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
    Pendidikan

    Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

    SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

    by tatkala
    October 3, 2026
    Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
    Kuliner

    Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

    MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

    by Rusdy Ulu
    October 3, 2026
    Small Is Beautiful untuk Orang Bali
    Esai

    Small Is Beautiful untuk Orang Bali

    BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

    by Angga Wijaya
    October 3, 2026
    Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
    Esai

    Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

    ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

    by Agung Sudarsa
    October 3, 2026
    Mimpi Ibu Menjadi Manusia
    Buku Tatkala

    Mimpi Ibu Menjadi Manusia

    Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

    by Buku Tatkala
    October 3, 2026
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
    Esai

    Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

    SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    October 3, 2026
    Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
    Esai

    Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

    KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

    by Vito Prasetyo
    October 2, 2026
    Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
    Esai

    Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

    Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

    by Ari Murdimanto
    October 2, 2026
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

    SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

    by Tri Nugroho Adi
    October 2, 2026
    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
    Esai

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

    by I Wayan Yudana
    October 1, 2026
    Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
    Kuliner

    Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

    Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

    by Rusdy Ulu
    October 3, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co