14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

Ashlikhatul Fuaddah by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
in Esai
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga ini sesungguhnya merujuk pada sesuatu yang jauh lebih damai, antrean panjang orang-orang yang berlomba mendapatkan takjil gratis atau murah di pinggir jalan, di depan masjid, di halaman kantor, atau di mana pun ada yang membagikannya.Video-video pendek tentang antrean ini menyebar cepat di media sosial, memancing komentar, tawa, dan tidak jarang perdebatan kecil tentang siapa yang “berhak” ikut antre.

Yang menarik bukan saja fenomenanya, melainkan reaksi masyarakat terhadapnya. Sebagian memujinya sebagai wujud kebersamaan yang mengharukan. Sebagian lain mencibir: ini solidaritas sungguhan atau sekadar konten? Pertanyaan itu sah diajukan. Tetapi barangkali ada pertanyaan yang lebih menarik untuk dijawab, dari sudut pandang komunikasi, apa yang sesungguhnya sedang terjadi di balik fenomena takjil war ini?

Mari kita mulai dari yang paling tampak: antrean itu sendiri. Dalam keseharian yang semakin individual dan terfragmentasi, antrean adalah salah satu dari sedikit momen di mana orang-orang yang tidak saling mengenal berdiri di ruang fisik yang sama, berbagi waktu yang sama, menuju tujuan yang sama. Sosiolog Erving Goffman menyebutnya sebagai focused interaction, situasi di mana dua orang atau lebih saling menyesuaikan kehadiran dan perhatian mereka secara langsung.

Antrean takjil menciptakan kondisi itu. Di sana, orang-orang yang sehari-hari berpapasan tanpa saling menatap tiba-tiba menjadi tetangga antrean, berbagi senyum, mengobrol ringan tentang cuaca atau tentang seberapa panjang barisan di depan mereka, kadang tertawa bersama ketika stok habis sebelum giliran tiba. Ini bukan komunikasi yang dalam atau bermakna secara personal, tetapi ia adalah komunikasi “komunal” yang dalam konteks masyarakat perkotaan yang semakin anonim, justru memiliki nilai yang tidak bisa diremehkan.

Dimensi kedua yang menarik adalah peran media sosial dalam memperluas dan memperkuat fenomena ini. Takjil war tidak akan menjadi “war” tanpa TikTok dan Instagram Reels. Video seseorang yang antusias berlari menuju meja pembagian takjil, atau wajah kecewa yang sudah kehabisan, mengundang tawa dan empati secara bersamaan dari jutaan penonton yang tidak hadir di lokasi.

Dalam teori komunikasi massa kontemporer, ini adalah contoh nyata dari apa yang Henry Jenkins (2006) sebut sebagai participatory culture, budaya partisipasi di mana batas antara penonton dan peserta menjadi kabur. Orang-orang yang menonton video takjil war tidak hanya menjadi konsumen konten, banyak dari mereka kemudian termotivasi untuk ikut serta, baik sebagai penerima takjil maupun sebagai pembagi. Siklus ini menciptakan apa yang dalam kajian komunikasi disebut sebagai media-driven social participation, keterlibatan sosial yang dipicu dan diperkuat oleh konsumsi media.

Menggerakkan

Lalu bagaimana dengan pertanyaan yang sering muncul “Apakah ini solidaritas yang tulus, atau sekadar mencari konten? Pertanyaan itu mungkin kurang produktif jika dikemukakan sebagai oposisi biner. Dalam pendekatan Uses and Gratifications, manusia menggunakan media dan berpartisipasi dalam aktivitas sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan sekaligus, dan kebutuhan-kebutuhan itu tidak selalu saling mengecualikan.

Seseorang bisa sekaligus ingin berbagi takjil karena empati dan ingin mendokumentasikannya untuk media sosial. Seseorang bisa sekaligus menikmati gratisnya takjil dan menikmati pengalaman sosial antrean bersama orang lain.

Yang lebih menarik untuk diamati adalah bagaimana fenomena ini menggerakkan distribusi sumber daya secara organik. Di banyak kota, informasi tentang lokasi pembagian takjil gratis menyebar melalui jaringan media sosial dan grup-grup komunitas. Ini adalah contoh dari komunikasi jaringan (network communication) yang bekerja secara efektif, pesan bergerak cepat melalui simpul-simpul hubungan sosial, menggerakkan orang untuk hadir di titik-titik tertentu dalam kota. Masjid yang biasanya hanya dikenal oleh warga sekitarnya tiba-tiba menjadi titik temu lintas komunitas karena unggahan seorang pengunjung yang menyebar secara viral.

Ruang Baru Komunal

Ada satu aspek dari takjil war yang menurut saya paling signifikan secara komunikasi dan sering luput dari perhatian. Ia adalah salah satu dari sedikit fenomena yang berhasil menembus batas-batas sosial yang biasanya tidak mudah ditembus.

Di antrean takjil, mahasiswa berdiri di samping ibu rumah tangga. Karyawan kantoran berbaur dengan tukang ojek. Anak muda dari berbagai latar berbagi pengalaman menunggu yang sama. Dalam masyarakat yang semakin terpolarisasi, secara ekonomi, secara politik, secara kultural, momen-momen lintas batas seperti ini memiliki nilai komunikasi yang sesungguhnya sangat tinggi. Erving Goffman menyebut momen-momen di mana orang dari status berbeda berbagi ruang dan pengalaman yang setara sebagai leveling moments, situasi yang sementara meratakan hierarki sosial dan memungkinkan terjadinya kontak yang lebih manusiawi.

Takjil war tentu bukan solusi atas persoalan kesenjangan sosial. Ia juga bukan indikator tunggal bahwa solidaritas masyarakat sedang baik-baik saja. Namun, membacanya semata sebagai “konten receh” atau “tren musiman” juga terlalu tergesa-gesa.

Dari kacamata komunikasi, takjil war adalah fenomena yang menunjukkan bagaimana media sosial, ritual keagamaan, dan kebutuhan manusia akan koneksi sosial bekerja bersama-sama untuk menciptakan ruang-ruang baru pertemuan komunal.

Ruang itu mungkin ramai, mungkin sesak, mungkin tidak selalu tulus sepenuhnya, tetapi ia ada. Dan di kota-kota besar yang semakin individualistis, keberadaan ruang seperti itu, dalam bentuk apa pun, adalah sesuatu yang patut kita perhatikan dengan lebih serius. [T]

Penulis: Ashlikhatul Fuaddah
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulan puasaMuslimRamadanRamadhantakjil
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

Next Post

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

Ashlikhatul Fuaddah

Ashlikhatul Fuaddah

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co