2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

Hartanto by Hartanto
February 3, 2026
in Ulas Rupa
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata –  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya Suci Nyepi dan Dharma Santi Nasional.

Menariknya, perhelatan ‘reliji’ itu dilaksanakan di panggung terbuka Rayamana Candi Prambanan, Yogya. Acara itu dihadiri pula oleh Presiden RI,  K.H Abdulrahman Wahid. Hadir pula ibu negara Sinta Nuriyah.

Sebelumnya, Buldanul Khuri, mantan bos penerbit Bentang – mengajak saya beli tanah di dekat Candi tersebut. Alasannya sangat romantik. Manakala membuka cendela saat bangun tidur – terhampar pemandangan Candi yang indah. Produk Budaya, masa lalu.

Alasannya, seorang sutradara film Indonesia yang terkenal, sudah memiliki sebidang tanah di dekat Candi Prambanan itu. Artinya, kita bisa bertetangga dengannya – dan tiap pagi bisa ngopi bareng sembari menikmati pisang goreng produk penduduk setempat.

Putu Fajar Arcana

Akhirnya, cita-cita romantik itu urung terlaksana. Pasalnya, ada aturan, hanya pada jarak tertentu yang diperbolehkan memiliki tanah di dekat situs Budaya. Hal itu, dibatasi oleh zonasi pelestarian (zonasi inti, penyangga, pengembangan) yang diatur dalam UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan peraturan daerah setempat, yang membatasi radius pembangunan. 

Selanjutnya, saya jadi ingat guru sejarah waktu saya bersekolah di SMP Bintang Laut Surakarta. Pak Karino namanya. Beliau punya kemampuan bercerita yang luar biasa. Setiap pelajaran sejarah, pak Karino hanya bercerita. Sepanjang jam pelajaran beliau hanya bercerita, dari materi pelajaran.

Dengan demikian, kami dibuat tertarik mengikuti alur ceritanya. Semua murid bergairah menyimak cerita tersebut. Sesekali, pak Karino menyisipkan humor-humor segar, hingga kita tak mengantuk mendengar ceritanya. Beliau juga tak pernah memerintahkan para murid untuk menulis catatan. Semua kembali ke inisiatif masing-masing.

Kemampuan monolog Pak Karino memang tak sehebat  Butet Kertarejasa yang mendapat julukan ‘Raja Monolog’ oleh Romo YB Mangunwwijaya. Romo Mangun memberi gelar itu, manakala Butet diundang ke SD Mangunan di Desa Kalasan untuk memberi wawasan pada guru-guru, soal monolog. Kendati demikian, para siswa senang dengan cara mengajar Pak Karino.

Salah satu materi yang menarik bagi saya adalah manakala Rakai Pikatan (847–855) mendirikan istana Mamratipura dan bangunan suci siwagraha (Candi siwa). Itu, menurut pak Karino tertulis di ‘Prasarti Wantil’ dan ‘Prasast siwagraha’, 12 November 856. Juga di prasasti Prasasti Mantyasih, dan Prasasti Wanua Tengah III.

Berdasarkan ciri-ciri yang digambarkan dalam prasasti tersebut, pak Karino menjelaskan – ‘Candi Siwa’ identik dengan salah satu candi utama pada komplek Candi Prambanan. Dengan demikian, bangunan utama pada komplek tersebut dibangun oleh Rakai Pikatan. Sedangkan candi kecil-kecil lainnya mungkin dibangun pada masa raja-raja selanjutnya, dikemudian hari.

Menurut pak Karino, ‘Prasasti Wantil’ juga menyebutkan bahwa Rakai Pikatan alias Rakai Mamrati turun takhta menjadi brahmana bergelar ‘Sang Jatiningrat’ pada tahun 856. Takhta Kerajaan Medang kemudian dipegang oleh putra bungsunya, yaitu Dyah Lokapala alias ‘Rakai Kayuwangi’.

Begitulah kisah-kisah saya dengan candi Prambanan. Lebih lanjut, saya ingin memadankan riwayat konstruksi Candi Prambanan tersebut dengan karya rupa Fajar Arcana yang bertajuk ‘Prambanan Reconstructions’.

Karya ini dipamerkan dalam rangka Prambanan Shiva Festival selama satu bulan diawali dengan perayaan Shivaratri, pada 17 Januari 2026, di kompleks Candi Prambanan yang berada di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ribuan umat Hindu dari berbagai daerah akan merayakanpemujaan DewaShiva serta diakhiri dengan upacara Mahashivaratri pada tanggal 15 Februari 2026.

Putu Fajar Arcana mantan wartawan Harian Umum Kompas ini dikenal sebagai sastrawan, sutradara teater, kurator, dan perupa yang mengangkat tema spiritualitas, politik, dan sejarah dalam karya-karyanya. Ia sering menggunakan pendekatan naratif dan reflektif, baik dalam tulisan maupun visual, untuk membangkitkan kesadaran akan nilai-nilai budaya dan perjuangan batin.

Karya lukis Putu Fajar Arcana yang terbuat dari kopi lungsuran sesaji ini terdiri dari 4 panel. Kata Fajar, ini merupakan studi arsip-arsip tentang Prambanan sejak awal penemuan reruntuhannya.

Menurut saya, karya ini  menampilkan tafsir visual yang mendalam terhadap warisan spiritual dan arsitektural Nusantara, dengan pendekatan simbolik dan atmosferik yang khas. Gaya lukisannya menggabungkan elemen realisme dan abstraksi untuk membangkitkan suasana kontemplatif dan naratif.

Karya lukis Putu Fajar Arcana yang ditampilkan dalam format empat panel ini membentuk sebuah narasi visual yang menggugah tentang spiritualitas, arsitektur, dan jejak budaya Nusantara.

Dengan pendekatan yang menggabungkan teknik sapuan tinta dan warna transparan, Arcana tidak sekadar merepresentasikan objek, tapi juga menghidupkan suasana batin dan memori kolektif yang melekat pada struktur candi dan patung sakral.

Keempat panel lukisan menyiratkan sebuah perjalanan batin yang melintasi ruang dan waktu. Struktur candi yang menjulang dan patung-patung yang diam menyimpan makna lebih dari sekadar bentuk fisik.

Itu semua  menjadi simbol transendensi, penghubung antara dunia material dan spiritual. Dalam konteks ini, Arcana mengajak penikmaT untuk tidak hanya melihat, tetapi mengalami kehadiran spiritual yang terpancar dari batu dan tanah.

Dalam analisis visual, karya Arcana ini dapat dibaca melalui beberapa pendekatan teori.  Mengacu pada teori ‘afek’ dari Brian Massumi, lukisan Arcana menciptakan pengalaman afektif melalui warna dan tekstur. Sapuan warna yang tidak sepenuhnya realistis membangkitkan emosi dan kenangan, bukan sekadar representasi. Begitulah kepiawaian Fajar dalam memperginalan material ‘kopi lungsuran’.

Brian Massumi adalah seorang filsuf dan teoritikus sosial asal Kanada yang dikenal luas karena pemikirannya tentang ‘afek’, ‘virtualitas’, dan ‘politik mikro’. Ia lahir tahun 1956 di Lorain, Ohio, dan kini menjadi profesor di Université de Montréal.

Melalui pendekatan semiotik, struktur candi dan patung menjadi tanda yang merujuk pada nilai-nilai spiritual dan historis. Roland Barthes menyebut ini sebagai “mythologies” – objek budaya yang mengandung ‘narasi ideologis’ dan ‘spiritual’.

Roland Barthes adalah seorang kritikus sastra, filsuf, dan semiolog asal Prancis yang lahir pada 12 November 1915 di Cherbourg dan wafat pada 26 Maret 1980 di Paris. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam perkembangan ‘strukturalisme’ dan ‘post-strukturalisme’, terutama melalui kajian ‘semiotika’ (ilmu tanda) dan teori sastra.

Ia adalah tokoh kunci dalam teori sastra dan ‘semiotika’ yang mengubah cara kita memahami teks, gambar, dan budaya. Pemikirannya tentang tanda, mitos, dan peran pembaca tetap menjadi fondasi penting dalam kajian budaya dan seni hingga kini.

Format 2×2 pada karya Fajar ini membentuk ‘narasi sekuensial’ atau dialog antar panel. Ini mengingatkan pada teori ‘naratif visual’ dari Scott McCloud, di mana setiap panel berfungsi sebagai “frame” dalam alur cerita yang tidak ‘linear’ namun saling berhubungan.

Scott McCloud adalah figur sentral dalam teori komik modern. Ia berhasil menjembatani dunia kreator dan akademisi dengan karya yang menjelaskan komik sebagai seni yang serius, kompleks, dan penuh potensi.

Scott McCloud menekankan bahwa panel dalam komik bukan sekadar bingkai gambar, melainkan ‘jendela waktu’ yang mengatur ‘ritme’, ‘narasi’, dan ‘pengalaman pembaca’. Panel berfungsi untuk membagi, menghubungkan, dan memberi makna pada urutan gambar melalui apa yang ia sebut sebagai ‘closure’ (penutup).

Karya ini juga dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap ‘pelupaan budaya’. Di tengah ‘modernitas’ dan ‘digitalisasi’, Arcana mengingatkan bahwa ‘akar spiritual’ dan ‘arsitektural’ kita menyimpan kekuatan untuk menyembuhkan dan menyatukan.

Menelisik lebih dalam soal hubungan karya Fajar, dengan Gus Dur, Buldan, Pak Karino, dan Butet Kertarejasa dalam konteks Prambanan adalah bagian dari gerakan seni dan budaya yang mengajak masyarakat untuk melihat candi bukan hanya sebagai ‘situs arkeologi’, tetapi sebagai ruang hidup, ruang pertunjukan, dan ruang refleksi kebangsaan. Ketiganya mewakili suara seniman dan budayawan yang menekankan pentingnya keterlibatan publik dalam menjaga, merayakan, dan menghidupkan situs purba seperti Prambanan.

Lebih lanjut – Karya lukis Putu Fajar Arcana ini bukan sekadar ‘representasi visual’, bisa saya ‘interpretasikan’ sebagai sebuah ‘portal’ menuju pemahaman yang lebih dalam tentang ‘spiritualitas’, sejarah, dan identitas. Melalui teknik visual yang ‘atmosferik’ dan ‘narasi tematik’ yang ‘reflektif’, Putu Fajar Arcana mengajak kita untuk menyibak lapisan-lapisan makna yang tersembunyi dalam batu, patung, dan lanskap Nusantara. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Candi PrambananPutu Fajar ArcanaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Integritas dan Konsistensi: Bekal Bergizi Gratis untuk Maju Berpolitik

Next Post

Bahaya Medsos Tanpa Negara — Sebuah usulan

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Bahaya Medsos Tanpa Negara — Sebuah usulan

Bahaya Medsos Tanpa Negara -- Sebuah usulan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co