14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

Ashlikhatul Fuaddah by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
in Esai
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari balik selimut tipis, telinga saya selalu menangkap bunyi yang sama setiap Ramadan: kentongan dipukul berulang, diikuti teriakan anak-anak yang setengah mengantuk namun tetap bersemangat, “sahur… sahur… sahur!”

Suara itu bukan sekadar alarm. Ia adalah tanda bahwa di luar sana, ada orang-orang yang rela keluar dalam gelap, berjalan dari ujung gang ke ujung yang lain, hanya untuk memastikan tetangganya tidak ketiduran dan melewatkan sahur.

Kini, tradisi itu semakin jarang saya dengar. Di banyak perumahan dan kompleks perkotaan, sahur keliling sudah lama menjadi kenangan. Yang menggantikannya adalah alarm ponsel yang disetel masing-masing, notifikasi dari aplikasi jadwal imsakiyah, atau paling ramai sebuah pesan di grup WhatsApp keluarga: “Sahur udah siap!” Fungsional, memang. Tetapi ada sesuatu yang diam-diam ikut hilang bersamanya, sesuatu yang tidak mudah dicarikan penggantinya.

Dalam kajian komunikasi, tradisi sahur keliling sesungguhnya jauh lebih kaya dari sekadar fungsi praktisnya sebagai “pengingat waktu”. Jika ditelaah melalui perspektif Komunikasi Ritual yang dikembangkan James W. Carey (1989), komunikasi tidak semata berfungsi untuk menyampaikan informasi (transmission view), melainkan juga untuk membangun, memelihara, dan memperbarui realitas sosial bersama (ritual view). Sahur keliling bukan sekadar cara menyampaikan pesan “sudah masuk waktu sahur”; ia adalah ritual yang setiap malamnya menegaskan kembali bahwa kita adalah satu komunitas; kita menjalani Ramadan ini bersama-sama.

Anak-anak yang berlarian dengan kentongan di tangan tidak hanya menjalankan fungsi komunikasi informatif. Mereka sedang berpartisipasi dalam sebuah ritual komunal yang mempertegas rasa memiliki terhadap kampung dan tetangga. Ketika seorang bapak membuka pintu dan tersenyum kepada rombongan bocah yang lewat, di situ terjadi pertukaran makna yang melampaui kata-kata. Ia sedang mengatakan: “Saya mengakui kehadiran kalian dan saya bagian dari komunitas yang sama dengan kalian.”

Hilangnya Interaksi Antargenerasi

Yang membuat saya paling tertegun adalah bukan hilangnya kentongan itu sendiri, melainkan hilangnya interaksi antargenerasi yang selama ini ia ciptakan. Tradisi sahur keliling adalah salah satu dari sedikit ruang di mana anak-anak secara langsung terlibat dalam kehidupan ritual komunitas orang dewasa. Mereka tidak hanya menonton, mereka berperan. Mereka yang membangunkan, mereka yang mengelilingi, mereka yang menjadi “suara kampung” di tengah malam.

Dalam teori komunikasi antargenerasi, transfer nilai dan norma sosial paling efektif terjadi bukan melalui pengajaran formal, melainkan melalui partisipasi bersama dalam praktik-praktik kehidupan sehari-hari. Sahur keliling adalah salah satu wahana itu: anak-anak belajar bahwa Ramadan bukan hanya urusan ibadah pribadi, bahwa ada tanggung jawab sosial yang melekat pada bulan itu, bahwa kampung adalah ruang hidup bersama yang perlu dijaga dan dirawat secara aktif.

Ketika tradisi itu digantikan oleh alarm ponsel, anak-anak kehilangan pengalaman itu. Ramadan menjadi urusan yang lebih privat, lebih individual, lebih terkurung dalam batas dinding rumah masing-masing.

Tentu saja ada alasan-alasan yang masuk akal mengapa tradisi ini memudar. Perumahan modern dengan tembok tinggi dan portal keamanan tidak ramah terhadap anak-anak yang berkeliling di malam hari. Jam tidur yang semakin larut membuat terbangun pukul tiga terasa lebih berat. Orang tua yang khawatir akan keamanan anak-anak enggan membiarkan mereka keluar dalam gelap. Semua alasan itu valid dan dapat dipahami.

Namun di sisi lain, kita perlu jujur mengakui bahwa sebagian dari “kepraktisan” yang kita pilih itu datang dengan harga yang tidak kita sadari sedang kita bayar: melemahnya jaringan komunikasi komunal yang selama ini menjadi perekat kehidupan sosial di lingkungan kita.

Sahur Keliling yang Berharga

Di beberapa kampung yang masih menjaga tradisi sahur keliling, ada sesuatu yang berbeda dan terasa. Tetangga yang biasanya hanya bertegur sapa sekilas tiba-tiba terhubung kembali oleh bunyi kentongan yang sama-sama mereka dengar.

Anak-anak dari berbagai rumah yang mungkin jarang bermain bersama di siang hari, di malam Ramadan menjadi satu regu yang kompak mengelilingi kampung. Ada tawa kecil di kegelapan, ada langkah-langkah yang terdengar di jalan yang sunyi, ada kehidupan yang berdenyut di luar jadwal yang biasanya.

Erving Goffman pernah menulis bahwa kehidupan sosial manusia sangat bergantung pada kehadiran fisik bersama, momen-momen di mana tubuh-tubuh berada di ruang yang sama, berbagi pengalaman yang sama secara langsung. Di era ketika semakin banyak interaksi kita pindahkan ke layar, momen-momen kehadiran fisik seperti sahur keliling menjadi semakin langka dan karenanya semakin berharga.

Mungkin kentongan itu tidak akan kembali berbunyi di gang-gang perumahan modern. Mungkin alarm ponsel memang sudah cukup efisien untuk membangunkan kita. Tetapi yang tidak bisa digantikan oleh alarm mana pun adalah rasa bahwa ada tetangga yang peduli, ada komunitas yang menjaga, ada suara-suara di luar sana yang hadir bukan karena kewajiban melainkan karena memang begitulah cara orang-orang itu mencintai kampung dan sesama penghuninya.

Sahur keliling bukan sekadar tradisi yang indah untuk dikenang. Ia adalah pengingat bahwa komunikasi yang paling bermakna sering kali bukan yang paling canggih, bukan yang paling efisien, melainkan yang paling manusiawi. [T]

Penulis: Ashlikhatul Fuaddah
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulan puasaIslamMuslimRamadanRamadhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

Next Post

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Ashlikhatul Fuaddah

Ashlikhatul Fuaddah

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co