2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

Ashlikhatul Fuaddah by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
in Esai
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

Ashlikhatul Fuaddah

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari balik selimut tipis, telinga saya selalu menangkap bunyi yang sama setiap Ramadan: kentongan dipukul berulang, diikuti teriakan anak-anak yang setengah mengantuk namun tetap bersemangat, “sahur… sahur… sahur!”

Suara itu bukan sekadar alarm. Ia adalah tanda bahwa di luar sana, ada orang-orang yang rela keluar dalam gelap, berjalan dari ujung gang ke ujung yang lain, hanya untuk memastikan tetangganya tidak ketiduran dan melewatkan sahur.

Kini, tradisi itu semakin jarang saya dengar. Di banyak perumahan dan kompleks perkotaan, sahur keliling sudah lama menjadi kenangan. Yang menggantikannya adalah alarm ponsel yang disetel masing-masing, notifikasi dari aplikasi jadwal imsakiyah, atau paling ramai sebuah pesan di grup WhatsApp keluarga: “Sahur udah siap!” Fungsional, memang. Tetapi ada sesuatu yang diam-diam ikut hilang bersamanya, sesuatu yang tidak mudah dicarikan penggantinya.

Dalam kajian komunikasi, tradisi sahur keliling sesungguhnya jauh lebih kaya dari sekadar fungsi praktisnya sebagai “pengingat waktu”. Jika ditelaah melalui perspektif Komunikasi Ritual yang dikembangkan James W. Carey (1989), komunikasi tidak semata berfungsi untuk menyampaikan informasi (transmission view), melainkan juga untuk membangun, memelihara, dan memperbarui realitas sosial bersama (ritual view). Sahur keliling bukan sekadar cara menyampaikan pesan “sudah masuk waktu sahur”; ia adalah ritual yang setiap malamnya menegaskan kembali bahwa kita adalah satu komunitas; kita menjalani Ramadan ini bersama-sama.

Anak-anak yang berlarian dengan kentongan di tangan tidak hanya menjalankan fungsi komunikasi informatif. Mereka sedang berpartisipasi dalam sebuah ritual komunal yang mempertegas rasa memiliki terhadap kampung dan tetangga. Ketika seorang bapak membuka pintu dan tersenyum kepada rombongan bocah yang lewat, di situ terjadi pertukaran makna yang melampaui kata-kata. Ia sedang mengatakan: “Saya mengakui kehadiran kalian dan saya bagian dari komunitas yang sama dengan kalian.”

Hilangnya Interaksi Antargenerasi

Yang membuat saya paling tertegun adalah bukan hilangnya kentongan itu sendiri, melainkan hilangnya interaksi antargenerasi yang selama ini ia ciptakan. Tradisi sahur keliling adalah salah satu dari sedikit ruang di mana anak-anak secara langsung terlibat dalam kehidupan ritual komunitas orang dewasa. Mereka tidak hanya menonton, mereka berperan. Mereka yang membangunkan, mereka yang mengelilingi, mereka yang menjadi “suara kampung” di tengah malam.

Dalam teori komunikasi antargenerasi, transfer nilai dan norma sosial paling efektif terjadi bukan melalui pengajaran formal, melainkan melalui partisipasi bersama dalam praktik-praktik kehidupan sehari-hari. Sahur keliling adalah salah satu wahana itu: anak-anak belajar bahwa Ramadan bukan hanya urusan ibadah pribadi, bahwa ada tanggung jawab sosial yang melekat pada bulan itu, bahwa kampung adalah ruang hidup bersama yang perlu dijaga dan dirawat secara aktif.

Ketika tradisi itu digantikan oleh alarm ponsel, anak-anak kehilangan pengalaman itu. Ramadan menjadi urusan yang lebih privat, lebih individual, lebih terkurung dalam batas dinding rumah masing-masing.

Tentu saja ada alasan-alasan yang masuk akal mengapa tradisi ini memudar. Perumahan modern dengan tembok tinggi dan portal keamanan tidak ramah terhadap anak-anak yang berkeliling di malam hari. Jam tidur yang semakin larut membuat terbangun pukul tiga terasa lebih berat. Orang tua yang khawatir akan keamanan anak-anak enggan membiarkan mereka keluar dalam gelap. Semua alasan itu valid dan dapat dipahami.

Namun di sisi lain, kita perlu jujur mengakui bahwa sebagian dari “kepraktisan” yang kita pilih itu datang dengan harga yang tidak kita sadari sedang kita bayar: melemahnya jaringan komunikasi komunal yang selama ini menjadi perekat kehidupan sosial di lingkungan kita.

Sahur Keliling yang Berharga

Di beberapa kampung yang masih menjaga tradisi sahur keliling, ada sesuatu yang berbeda dan terasa. Tetangga yang biasanya hanya bertegur sapa sekilas tiba-tiba terhubung kembali oleh bunyi kentongan yang sama-sama mereka dengar.

Anak-anak dari berbagai rumah yang mungkin jarang bermain bersama di siang hari, di malam Ramadan menjadi satu regu yang kompak mengelilingi kampung. Ada tawa kecil di kegelapan, ada langkah-langkah yang terdengar di jalan yang sunyi, ada kehidupan yang berdenyut di luar jadwal yang biasanya.

Erving Goffman pernah menulis bahwa kehidupan sosial manusia sangat bergantung pada kehadiran fisik bersama, momen-momen di mana tubuh-tubuh berada di ruang yang sama, berbagi pengalaman yang sama secara langsung. Di era ketika semakin banyak interaksi kita pindahkan ke layar, momen-momen kehadiran fisik seperti sahur keliling menjadi semakin langka dan karenanya semakin berharga.

Mungkin kentongan itu tidak akan kembali berbunyi di gang-gang perumahan modern. Mungkin alarm ponsel memang sudah cukup efisien untuk membangunkan kita. Tetapi yang tidak bisa digantikan oleh alarm mana pun adalah rasa bahwa ada tetangga yang peduli, ada komunitas yang menjaga, ada suara-suara di luar sana yang hadir bukan karena kewajiban melainkan karena memang begitulah cara orang-orang itu mencintai kampung dan sesama penghuninya.

Sahur keliling bukan sekadar tradisi yang indah untuk dikenang. Ia adalah pengingat bahwa komunikasi yang paling bermakna sering kali bukan yang paling canggih, bukan yang paling efisien, melainkan yang paling manusiawi. [T]

Penulis: Ashlikhatul Fuaddah
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulan puasaIslamMuslimRamadanRamadhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

Next Post

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Ashlikhatul Fuaddah

Ashlikhatul Fuaddah

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co