7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Vincent Chandra by Vincent Chandra
January 30, 2026
in Ulas Rupa
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Print-Mapping: Decolonial Axis -- a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan kepada para pengguna jalan di Bois de Vincennes, Paris. Tepat 2 hari sebelum sebuah gelaran monumental yang mempertontonkan rupa dan kebudayaan negeri-negeri jajahan serta keangkuhan penjajah bernama Paris Colonial Exposition 1931 dimulai.

Alasan utama para seniman surealis–Aragon, André Breton, René Char, dan Paul Éluard, dkk–dan sekutu komunisnya mengecam pameran tersebut selain memperjuangkan sikap anti kolonialisme, juga disebabkan para koloni imperialis telah menutup rapat kekerasan, kerja paksa, dan perlawanan rakyat jajahan yang terjadi serta mereduksi kehidupan mereka menjadi objek tontonan. Kritik itu berhadapan langsung dengan wajah megah Anjungan yang dibuat oleh koloni Belanda, sebuah paviliun seluas 600m² berarsitektur campuran gonjong Minang yang berpadu dengan ukiran Jawa, lalu dua buah atap Meru yang bertengger di puncak atap, serta sebuah Candi Bentar setinggi 50 meter. Di dalam anjungan tersusun ratusan koleksi pusaka budaya nusantara dan Bali–arca, perhiasan, kain gringsing, lukisan, dan ukiran-ukiran kayu.

Pada malam 28 Juni 1931, bersamaan dengan koleksi yang dipamerkan, Anjungan Belanda terbakar musnah. Pers Prancis heboh, beragam spekulasi tentang penyebabnya bermunculan. Pusaka budaya, tetap hangus tak tergantikan. Meski demikian, dalam waktu singkat paviliun baru berhasil direkonstruksi dengan pinjaman koleksi dari berbagai institusi dan kembali dibuka pada bulan Agustus 1931.

Pembabakan singkat diatas adalah salah satu peristiwa historis yang menyisakan banyak tanda tanya sekaligus titik tolak bagi proses kreatif Agung Pramana. Paris Colonial Exposition 1931, atau bahkan yang lebih awal lagi World Exhibition Paris tahun 1900–menghadirkan koleksi yang dikumpulkan pada masa kolonial oleh pejabat pemerintahan dan misionaris yang kemudian menjadi cikal bakal koleksi Tropenmuseum Amsterdam–sebagai satu tonggak sejarah yang mempromosikan kebudayaan Bali membawa Agung masuk kepada pergulatan tentang klaim identitas, representasi, dan semangat dekolonial untuk membaca ulang sejarah. Jangan salah paham, ia tidak hanya sedang meratapi hilangnya artifak-artifak dalam anjungan megah Belanda itu. Sebagai perupa ia lebih tertarik untuk bertanya, “Bagaimana posisi atau status benda itu di sana? Siapa yang berhak untuk mengklaim kembali? Bagaimana ia harus membaca kembali sejarahnya?”.

Untuk merunut persoalan tersebut, ia memetakan hasil interogasinya melalui sebuah project yang ia namai “Print‑Mapping: Decolonial Axis”. Kata “axis” dalam judul project ini bermakna metaforik sebagai poros konseptual Agung Pramana. Titik temu yang mengaitkan praktik cetak grafis (printmaking) sebagai medium reproduksi dan manipulasi visual dengan upaya mencipta pemetaan ulang sejarah, jalur perpindahan objek, mekanisme administratif, dan cara representasi Bali.

“Menjarah Balik British Museum IV”, Agung Pramana, edition 1/4, screen print, cyanotype, 297mm x 420mm, 2024

Agung mengumpulkan potongan foto pameran lama, denah paviliun, label inventaris, dan foto arca dari arsip digital. Bahan‑bahan itu ‘dimutilasi’, susun ulang, beri layer warna tegas, lalu dicetak berlapis menggunakan teknik screenprint dan cyanotype, tidak jarang pula kombinasi antar keduanya. Alhasil, project ini melahirkan berlembar‑lembar cetak yang berfungsi sebagai “peta”, arsip yang dibuka, dan komentar visual terhadap pembacaan sejarah yang seringkali eurosentrik, meromantisasi kolonialisme dan mengecilkan kekerasan yang menyertainya.

Dalam praktiknya ini, Agung bertindak sebagai pembaca ulang yang menyingkap narasi yang tersembunyi dan jarang diangkat, serta membalikkan hierarki pusat‑pinggiran dengan menempatkan pengalaman dan konteks lokal sebagai sumber tafsir yang sah.

Agung Pramana (b.1998), memulai studinya pada seni cetak grafis secara otodidak, lalu secara konseptual dikembangkan di kampus, hingga akhirnya berkarir secara profesional setelah bergabung dengan DEVFTO Printmaking Institute (2021 – sekarang) yang turut membentuk metode praktiknya yang sarat teknis sekaligus berbasis riset. Sejak awal berkarya, ia banyak menaruh perhatiannya pada persoalan perspektif historis, relasi antarbudaya, dampak pariwisata, dan konsekuensi kolonialisasi terhadap kesenian dan masyarakat. Secara formal ia tertarik untuk menggabungkan nilai estetika ‘pop art’ dengan estetika tradisional yang melekat pada visual Bali.

Tampilan karya-karya Agung Pramana pada malam opening pameran, di Sika Gallery

Ide-ide tentang identitas ke-Bali-annya serta kompleksitas sejarah yang ia minati sesungguhnya sudah lama berputar di kepalanya. Bermuara pada tahun 2024 lalu, keresahannya yang paling dalam terhadap praktik kolonial yang ia anggap menciderai status heritage Bali akhirnya mewujud dalam 6 seri karya yang ia namai “Looting Back from British Museum”. Empat seri diantaranya kemudian mendapatkan respon baik dari seorang kurator Prancis yang memamerkannya di Tali Art Gallery Malaysia, bersama dengan sejumlah seniman Internasional.

Sebagai catatan kaki: seorang arkeolog kontemporer eropa sendiri, Dan Hicks, pernah menulis refleksi tentang praktik penjarahan yang melibatkan British Museum. Ia menyatakan, “kita harus serius memandang penjarahan… bukan sekadar sebagai efek samping dari imperium, tetapi sebagai teknologi sentral kolonialisme yang mengeksploitasi sumber daya dan menggunakan kekuatan militer… Museum-museum besar yang menyebut diri “museum kebudayaan dunia” sering terlibat dalam kekejaman ini, dan keterlibatan itu belum sepenuhnya berakhir hingga sekarang, baik lewat koleksi maupun praktik perolehan barang. Pemahaman kita tentang perampasan perlu diubah: jangan lagi memisahkan secara kaku antara benda bergerak seperti patung atau perhiasan dan tanah yang dianggap “tidak bisa dipindahkan.”

Seri “Looting Back from British Museum” ini menurut saya menjadi seri penting dalam perkembangan gagasan Agung hari ini.

Meskipun pada akhirnya setelah melalui berbagai proses diskusi dengan rekan perupa sejawatnya, Agung kemudian memilih untuk menahan kebanalannya dalam memberi pernyataan. Namun dalam karya-karyanya saat ini kita masih bisa melihat spirit dan konsistensinya pada pemberontakan terhadap narasi sejarah yang eurosentrik tadi. Sehingga korpus karya yang ia hadirkan dalam project tunggalnya kali ini saja, kita bisa melihat bagaimana sikap Agung semakin dewasa dalam melihat dan menata masa lalu.

“Restructuring Singaraja Statue”, Agung Pramana, edition 1-6, screen print, cyanotype, 300mm x 300mm, 2025

Secara visual, saya membaca karya-karya Agung bekerja pada dua level yang kemudian secara organik membentuk pola kerjanya.

Pertama, pemenggalan gambaran semisal arca dewa-dewi, wayang, keris, atau pusaka budaya Bali lainnya yang masih dapat dikenali bentuknya. Umumnya fragmen-fragmen itu dikomposisikan baik dengan mengutak-atik orientasi, duplikasi, atau diberi efek visual distorsi melalui kerja manipulasi digital. Teknik ini dapat dibaca sengaja digunakan Agung untuk menunjukkan bahwa benda-benda tersebut telah mengalami transformasi bentuk dan makna yang kompleks. Katakanlah posisi objek itu sendiri, yang bergeser dari konteks ritual ke konteks profan, dari tanda sakral ke tanda estetis.

Lalu level yang kedua, Agung tampak selalu menempatkan fragmen objek tersebut diatas tampilan grafis yang sifatnya terstruktur. Ia bisa berupa grid, floor plan, motif halftone, dan potongan stempel yang sengaja dikaburkan hingga menjelma sebagai latar karya. Kehadiran elemen-elemen tersebut bisa dimaknai untuk menegaskan bahwa kehadiran artifak yang ia sorot selalu disertai catatan dan prosedur yang menentukan statusnya.

Marlowe Bandem (kiri) yang meresmikan pameran dan penulis

Soal teknik dan warna, yang menyita perhatian ialah pilihan Agung memadukan cyanotype dengan cetak sablon yang menghasilkan warna‑warna mencolok—magenta, oranye, hijau neon, biru pekat—yang dapat dimaknai sebagai upaya memberontak pembacaan khas “museum” yang tenang dan netral. Alih‑alih netral, palet warna yang ia gunakan sendiri telah menegaskan adanya upaya Agung dalam melakukan kritik secara sublim. Penggabungan manipulasi digital dengan keahlian cetak manual misal pemisahan warna, kepresisian, serta kompleksitas lapisan saring, menunjukkan bagaimana medium cetak dapat menjadi alat kritik. Tidak hanya sekadar mereproduksi arsip, tetapi membuka retakan cerita di dalamnya.

Namun bila menyoal kreativitas gagasannya, hati kecil saya menyimpan kekhawatiran bahwa praktik Agung berisiko terjebak dalam pengulangan metode yang, jika tak disubversi, bisa berujung pada kebuntuan konseptual. Mengandalkan arsip digital memang akan memudahkan akses, tetapi sekaligus menimbulkan keterbatasan. Foto tanpa metadata, label tanpa konteks, atau jejak pamer tanpa catatan provenance seringkali dapat menyesatkan.

Agung Pramana dan Marlowe Bandem

Tampilan karya-karya Agung Pramana pada malam opening pameran, di Sika Gallery

Oleh karena itu tantangan yang perlu diakui Agung sendiri adalah memperdalam kerja arsip melalui penelusuran sumber gambar, verifikasi catatan inventaris, dan mempertanyakan praktik institusi yang mengoleksi dan memamerkan. Menggeser posisi dari ‘pengguna arsip’ menjadi ‘arsiparis’ bukan hanya menambah akurasi sejarah, ia juga memberi legitimasi etis pada karya yang mengangkat pertanyaan berat tentang hak, kepemilikan, dan tanggung jawab.

Pada akhirnya dalam pameran ini, karya-karya Agung secara konsisten ingin mengusulkan sebuah praktik sederhana nan penting. Yakni bagaimana kita melihat arsip bukan sebagai kebenaran mutlak, melainkan sebagai medan kerja yang bisa dibaca ulang, digugat, dan dipetakan ulang. Saya jadi berandai-andai. Jika Aragon dan kawan-kawan surealis hidup sezaman dengan Agung sekarang, mungkin ia akan mengajak mereka berdiri di depan jalan Sanggingan sambil membawa selebaran dengan semboyan: “De ngugu pencoleng mebaju gagah!” (jangan percaya pada pencuri berbaju gagah!), sebagai ajakan untuk bebas dari imperialisme dan mental-mental terjajah.

Jimbaran, Desember 2025

Daftar Bacaan:

  • Monumen Palais de la Porte Deere

https://monument.palais-portedoree.fr/en/the-colonial-context/the

-colonial-exposition-of-1931

  • Historia

https://www.historia.id/article/memamerkan-negeri-jajahan-pn27 p

  • Biografi Agung Pramana https://taliartgallery.com/index.php/agung-pramana/
  • Dan Hicks, The Brutish Museums, The Benin Bronzes, Colonial Violence, and Cultural Restitution, Pluto Press, 2020
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Next Post

Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat ‘Tetaman’ ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat ‘Tetaman’ ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat 'Tetaman' ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co